
.
.
.
"Chely-chan, yakin mau pulang sendiri?"
Chely tersenyum. "Tentu."
"Ya sudah, hati-hati di jalan..." Indah dan Wulan melambaikan tangan.
Chely menghela nafas, hari ini ia pulang sendiri. Biasanya Chely pulang bersama ke tiga sahabatnya. Tena, hari ini club karate, Wulan dan Indah akan belanja. Jadilah... Ia sendiri.
Koridor masih ramai, apalagi ini jam pulang sekolah. Desak-desakan di koridor sudah menjadi hal yang biasa. Dan Chely, benci itu!
'Akhirnya…' Batinnya menghela nafas lega saat keluar dari koridor.
Kini Chely sudah berada di lapangan parkir luas Nada Gakuen. Alis Chely mengernyit, melihat di gerbang banyak sekali siswi yang mengerubungi sesuatu. Singkatnya sih mirip semut mengerubungi gula.
Manik lavendernya menyipit, mencoba memperjelas apa yang ia lihat. 'Kuning?' Batinnya heran. Karena itu yang dia lihat.
Deg!
'Itu, itu, Nami-san!' Manik lavendernya membulat, kala kepala kuning itu menoleh kearahnya lengkap dengan senyum miring.
"Ya ampun, bagaimana ini?" Iya, tiga hari ini Chely takut bertemu Bilton. Bertemu pandang saja enggan apalagi berhadapan. Dan lagi, jika bertemu pandang tatapan manik sapphire itu seperti berkata 'Urusan kita belum selesai Bakpao.'
Chely bergidik ngeri. Iya, ia mengaku salah, karena mengatai 'kitsune', ya ampun mana dia tahu kalau Bilton akan menaruh dendam, dan itu juga pemuda pirang itu dulu yang mulai. Tahu begini, Chely tidak akan meladeni perkataan Chely waktu di perpustakaan.
"Ayo Chely, kau pasti bisa melewatinya." Mana kerumunan itu di depan gerbang lagi!
Hahh... Tentu saja Bilton dikerumuni, Bilton itu jenius, tampan, ketua X5 lagi! Dan, Chely berurusan dengannya.
Chely menghela nafas mengingat betapa perfectnya Bilton. Dengan takut-takut ia melangkah ke gerbang.
...
Bilton berdecak sebal. Lagi-lagi ia dijadikan umpan oleh sahabatnya.
'Awas kalian.' Tubuhnya masih saja di himpit sana-sini. Dalam hati ia mengutuk Orlan yang langsung kabur dengan motor sportnya, jangan lupakan Maykel dan Aron yang kabur dengan mobilnya. Dan Rio, hahh... Kalau pemuda itu club melukis. Jadi, ia ketinggalan saat teman-temannya kabur.
'Kuso!' Manik sapphire Bilton menatap tajam salah satu siswi yang memeluk lengannya.
"Lepas!"
"Bilton-kun galak sekali." Ucap siswi itu manja.
"Bilton-kun terimalah surat cinta ku."
"Bil-kun, ini coklat dari ku."
"Bilton-kun ayo kita kencan!"
Telinga Bilton serasa berdengung mendengar panggilan yang entah kenapa terdengar alay. "Ku bilang lepas!" Tidak berhasil. Ia kalah jumlah, benar kata Maykel, fans mereka tambah ganas.
Manik sapphire Bilton bergulir, ia menatap ke arah depan. Bibir tipis Bilton tersenyum miring. Gadis yang telah mengatainya 'kitsune' ada beberapa meter dihadapannya. Jika di lihat, Chely. Gadis itu seperti sedang panik. Mungkin ia takut bertemu dengannya. Bilton akui tiga hari setelah kejadian 'bakpao' ia selalu menatap tajam sang gadis. Dan, mungkin gadis itu takut padanya.
Bilton semakin melebarkan seringainya, saat melihat 'bakpaonya' mendekat.
"Pe-permisi-permisi." Dengan kepala tertunduk, Chely melewati kerumunan. Dalam hati ia merapalkan do'a-do'a supaya Bilton tidak melihatnya. Secara, inikan kerumunan.
"Hyuu."
Deg!
Suara baritone nan tegas itu membuat suasana hening. Tanpa mereka sadari sang gadis yang di panggil lemas seketika.
"Bilton-kun mau kemana?" Shizuka, siswi yang masih memeluk lengan Bilton itu semakin mempererat pegangannya, kala Bilton mencoba melangkah.
Bilton menoleh, sapphirenya berkilat tajam. "Lepas!" Dalam sekali hentakan pelukan sepihak itu terlepas.
Tap.
'Ka-Kami-sama, bagaimana ini?!'
Tap.
"Hyuu!"
Deg!
'Lindungi aku Kami-sama.'
Chely menoleh. "Y-ya."
"Kau_"
"A-ano, Nami-san, a-aku duluan, Na-Nando-nii menunggu ku. Jaa..." Setelah mengatakan itu Chely mengambil langkah seribu.
Bilton mengernyitkan alis, hatinya tambah bergemuruh melihat Chely menghindarinya. 'Perasaan apa ini? Dan siapa Nando?' Tangan kanan Bilton memegang dada kirinya, dimana jantungnya terasa lemas.
"Bilton-kun tak apa?"
Sentuhan dibahunya yang membuat ia merinding seketika, membuatnya menoleh. "Apa?!"
Sontak hal itu membuat semua siswi kaget.
"Minggir!" Pemuda pirang itu masuk ke mobilnya, tanpa babibu ia langsung menstater. Dan_
Brummm
Mobil sport itu meninggalkan lapangan parkir.
"Siapa siswi tadi?"
.
.
.
Tap… Tap... Tap...
Chely menarik nafas dalam. Lega, sangat... Lega. Meskipun lelah. Berlari dari sekolah ke halte bus itu cukup jauh, jika jalan kaki dapat di tempuh selama 5 menit. Ini Chely berlari! Dan ia payah dalam bidang itu.
"Arigatou Kami-sama." Gumamnya. Saat mengingat betapa leganya saat keberhasilannya menghindari ketua X5.
Chely bergidik ngeri, entah apa yang akan terjadi jika ia tidak berhasil menghindari Bilton. Dibullykah? Chely menggeleng, atau di_
"Hyuu?"
"Chely pasti kau terlalu takut pada Nami-san, sehingga berhalusinasi." Manik lavendernya masih menatap ke depan.
"Hyuu?"
"Tuh kan_"
"Bakpao?"
Chely menoleh, manik lavendernya membulat. "Na-Nami-san? Se-sedang apa?" Ya ampun! Sebegitu seriuskah Chely melamun? Sampai suara mobil yang berhenti pun ia tidak mendengarnya? Bahkan, Bilton sudah berdiri dihadapannya.
"Oh, jadi ini rumah 'Nando-nii'?" Manik sapphire Bilton melihat-lihat halte bus yang masih sepi, seakan-akan halte bus itu adalah bangunan langka.
Chely, sudah pasti wajahnya memerah menahan malu. Kenapa Bilton menyindirnya? Ck, mulut pedas.
"Na-Nami-san, sedang apa di sini? Ke-kenapa tidak pulang?"
"Ingat urusan kita Bakpao."
Tuh kan!
"U-urusan apa?"
Bilton melangkah mendekat, sontak Chely yang melihatnya mundur.
"Kau mengatai ku."
Benar dugaannya, Bilton masih ingat hal itu.
"Ta-tapi Nami-san ju-juga mengatai ku."
Bilton tersenyum miring. Jika dekat dengan gadis ini hatinya selalu tenang seakan... Beban hidupnya hilang. 'Perasaan apa ini?'
"Kau, berani melawan ku?"
Lagi–manik lavender Chely terbelalak. "Bu-bukan be_"
Pemuda pirang itu mencengkram pergelangan tangan Chely. "Kau lupa siapa aku?"
Mana Chely lupa siapa dia, dia adalah Bilton Nami, ketua X5, cucu Tsuna Nami, pewaris Nami Corp.
"A-ano_"
"Kau, harus membayarnya."
Chely tambah panik, saat wajah dengan tiga goresan di pipi itu mendekat. Inginnya sih, ia kabur. Tapi, pergelangan tangannya di tahan. "Na-Nami-san?"
"Hm?"
10 cm.
8 cm.
"Me-menjauhlah."
6 cm.
"O-onegai..."
4 cm.
2 cm.
Chely sudah pasrah.
0 cm_
Ckittt
Bibir keduanya berhenti di jarak 2 cm. Kegiatan mereka terhenti karena berhentinya sebuah bus di samping.
'Arigatou Kami-sama.'
Sapphire Bilton berkilat tajam. "Kuso!"
__ADS_1
"A-ano aku ma-mau pulang." Entah kekuatan dari mana. Tapi, Chely berhasil mendorong dada bidang Bilton dalam sekali hentakan.
Bilton, pemuda itu hanya menatap datar kepergian Chely. Perasaannya tambah di buat bimbang, selalu saja ada yang mencubit hatinya saat gadis Hyuu itu menghindarinya.
"Aku sudah gila!" Ia mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan.
.
.
.
Rumah Hyuu
.
.
"Tadaima..."
Hana menoleh. "Eh, Nee-chan. Pulang-pulang kok wajahnya pucat." Benar kata Hana, wajah Chely memang pucat.
Chely tersenyum ke arah Hana yang sedang menonton televisi sambil mengemil. "Hanya panas saja Hana-chan."
Hana menyipitkan matanya. "Bukankah seharusnya wajah Nee-chan memerah jika panas?"
Chely gelagapan, ia memang tak pandai berbohong. Ah, benar juga kata Imoutonya itu. Lagi pula wajahnya pucat itu karena mengingat kejadian ke dua kalinya ia akan di cium Bilton. Dan ia, takut itu.
Masa Chely harus bilang kejadian spesifiknya sama Hana, mana Hana itu mulut ember. Bisa-bisa ia mengadukannya pada Testu dan Nando, dua pria yang sangat overprotectif pada Chely. Jika... Itu terjadi, kalian sudah dapat menduga kejadian selanjutnya.
"Nee-chan?" Hana melambaikan tangannya di depan wajah Chely.
"Eh, y-ya Hana-chan?"
Hana cemberut. "Nee-chan kenapa mengabaikan ku?"
Chely tersenyum geli. "Imouto ku lucu sekali~" Tangan Chely refleks mencubit pipi Hana.
Hana melenguh. "Mou, Nee-chan sakit..." Ucapnya dengan tangan yang mengusap pipinya.
"Ya sudah Nee-chan ke kamar dulu."
.
.
.
Rumah Nami
.
.
Ckittt.
Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu menoleh ke arah mobil sport yang berhenti disampingnya.
"Tadaima." Bilton, pemuda yang baru keluar dari mobil itu langsung menghampiri Kushi.
Wanita bersurai merah itu tersenyum ke arah sang anak. "Okaeri."
"Kaa-chan sedang apa? Kenapa menyiram tanaman? Hebi-san memangnya kemana?"
Kushi tersenyum, meski pun dingin tapi Bilton akan cerewet jika menyangkut keluarganya. Apa lagi ibunya.
"Kaa-chan hanya ingin menyiram saja, Hebi-san ada."
Bilton mengangguk.
Cup.
Ia mengecup pipi sang Ibu, kebiasaanya saat berangkat dan pulang sekolah.
"Mana yang lain?"
Alis Bilton bertautan. "Siapa? Anak Kaa-chan, kan hanya aku."
Kushi memutar bola matanya. "Maksud Kaa-chan teman mu." Jeda. "Atau, kau mau punya adik lagi." Ia tersenyum menggoda.
Bilton bergidik ngeri membayangkan ia punya adik dengan perbedaan usia 17 tahun. "Ck, mana ku mau aku punya adik lagi. Dan, meski aku tidak meminta, aku yakin Kaa-chan dan Tou-chan selalu melakukan s_"
Bletak.
"Aw..."
"Mesum kau bocah."
Bilton tersenyum tipis. "Kaa-chan yang memulai."
Kushi menghela nafas. "Sudahlah... Mana teman mu?"
"Mereka meninggalkan ku."
"Ah, pasti di kejar fans lagi." Tebak Kushi dengan tatapan menggoda. Tentu saja Kushi tahu anaknya selalu di kejar fans.
"Itu salah Kaa-chan dan Tou-chan."
"Haaah?"
.
.
.
.
Pagi. Entah kenapa terasa sangat cepat, mungkin karena kita terlalu betah tinggal di dunia. Itulah hal yang terpikirkan oleh gadis bersurai indigo.
Karena Chely mengalami hal itu, baru saja kemarin ia pulang dari sekolah ini. Tahu-tahunya ia sudah berada di sini lagi
–Nada Gakuen–
Suasana lapangan parkir yang ramai memang sudah biasa bagi Nada Gakuen, salah satu sekolah popular di Tokyo. Jangan heran, karena hanya murid dengan otak encer dan berdompet tebal saja yang bisa sekolah di sana.
Chely menolehkan kepala kanan-kiri, ia sedang mengamati suasana ramai yang tercipta pagi ini. Manik lavendernya terpaku pada satu titik. X5, geng yang berisi cowok-cowok keren itu sedang dikerubungi oleh siswi-siswi. Berbeda dengan kemarin, hanya–Bilton– saja yang dikerubungi, sekarang Aron, Orlan, Maykel, dan Rio juga ada.
Chely mengamati pemandangan 'X5 dikerubungi' dalam hati ia tersenyum geli, melihat Bilton yang nampak terganggu, Aron yang memasang wajah geram karena suara bising, Orlan dengan wajah mengantuknya sedang mengusir para gadis, Maykel, pemuda itu hanya menikmatinya dengan memamerkan gigi putih bertaring miliknya, dan Rio, pemuda itu malah tersenyum aneh.
"Mungkin itu karma bagi Nami-san." Gumamnya sambil melangkah menuju gedung utama.
Tanpa sepengetahuan Chely, pemuda pirang itu tersenyum miring.
"Hyuu!"
Deg!
...
"Kyyyaaa... Mereka keren sekali..."
"Tentu, apalagi Bilton-kun itu hanya milik ku tahu!" Shizuka, siswi kemarin yang Bilton bentak ternyata tak kapok. Buktinya, ia kembali memeluk lengan Bilton.
"Ck, lepas!" Bentakan Bilton tidak mempan.
"Ron-kun, tampan sekali." Aron mendelik saat salah satu siswi mencolek lengannya.
"Apa-apaan kau?!"
"Lan-kun, kerennya~"
"Menjauh dari ku!" Meski mengantuk, Orlan mendorong salah satu siswi.
"Ahhh... Hanya Maykel-kun dan Rio-kun saja yang ramah." Yang disanjung hanya menyengir dan tersenyum aneh.
Bilton gerah dengan suasana pagi yang tidak pernah berubah–selalu ramai– dalam hati ia menghela nafas. Kapan pagi ku akan tenang?, pikirnya.
Otak jeniusnya memutar, mencari cara bagaimana ia bisa kabur dari siswi ganas ini.
"Teme, Orlan, Rio, Maykel. Senyum kalian aneh."
Hening.
"Kyyyaaa Aron-kun tersenyum."
"Mana? Mana? Aku mau lihat!"
"Orlan~"
"Maykel-kun i love you."
"Rio-kun~"
Seketika, siswi yang mengerubungi Bilton beralih mengerubungi Aron, Orlan, Maykel, dan Rio
Dan... Kesempatan ini digunakan untuk kabur.
"Sialan kau Dobe!"
"Kitsune! Awas kau!"
Bilton menyeringai. 'Balas dendam ku berhasil.' Setelahnya ia melenggang pergi. Senyum di bibir tipisnya semakin nampak, kala melihat gadis bersurai indigo yang melangkah menuju gedung utama.
Tanpa babibu Bilton langsung menyusulnya. "Hyuu!"
Dengan patah-patah Chely menoleh. "Na-Nami-san?" Ekspresi kaget sangat kentara di wajah Chely. Melihat orang yang masih punya urusan dengannya ada dihadapannya.
"Hm." Bilton mengukir senyum miring di bibir tipisnya.
'Kenapa selalu saja hangat?'
"Ma-mau apa?"
"Ke kelas." Chely menghela nafas lega saat mendengarnya, tapi_ " Tentunya setelah menyelesaikan yang kemarin."
Deg!
Manik lavendernya melirik was-was pada Bilton. "Ya-yang mana?"
Bilton mendengus. "Ck, Baka!"
Chely mengerucutkan bibirnya.
"Tapi aku sedang bad mood."
__ADS_1
Mulut Chely membulat. "Oh ja_"
"Aku lakukan kapan-kapan saja."
Gadis berambut indigo menggerutu dalam hati. 'Menyebalkan!'
"Tak ku sangka kau menuruti ku."
"Hah?" Chely menoleh ke arah Bilton yang berjalan disampingnya.
Pemuda pirang itu menoleh. "Kau menggerai rambutmu." Ia menghentikan langkahnya.
Entah refleks atau apa Chely juga menghentikan langkahnya. Seharusnya ia lari, tapi entah kenapa Chely malah ikut berhenti. "Itu se-semua gara-gara Nami-san."
Bilton mengangkat sebelah alisnya. "Hm?"
"Si-siapa suruh mengambil ikat rambut ku." Pipi Chely menggembung sebal.
Rasa hangat di hati hampa Bilton semakin bertambah, apa lagi melihat Chely menggembungkan pipi tembamnya. "Kenapa tidak beli lagi?"
Mereka bahkan tidak menyadari orang-orang yang sedang menatap ke arah mereka berdua, sang pangeran Nada Gakuen yang selalu bersikap dingin, kini tengah mengobrol dengan gadis manis nan polos–Hyuu Chely –
"I-itu karena aku belum sempat."
Bilton mendengus. "Bilang saja tidak punya uang."
"E-enak saja."
"Begitu kah?"
Kepala indigo itu mengangguk lucu.
"Selain Baka dan miri 'bakpao' kau juga tidak punya uang." Ingin sekali Bilton mencubit pipi putih yang menggembung itu.
"Na-Nami-san~" Suara Chely terdengar merajuk.
"Hm?"
"Su-sudah ah, aku mau ke kelas." Gadis itu melangkah ke kelasnya dengan kaki yang dihentakan.
'Rasa apa ini?' Batin Bilton seraya mencengkram dada kirinya.
...
"Fyuhh... Akhirnya kita bebas juga." Maykel menusap keringat yang ada dipelipisnya dengan punggung tanga. Ia menghela nafas lega saat mengingat keberhasilannya untuk menghindari fans ganas mereka bersama temannya.
Rio tersenyum. "Fans kita ganas."
"Dan kau malah tersenyum." Dengus Orlan.
"Hm. Kau seperti bersyukur, padahal kita hampir mati terhimpit." Aron melirik malas Rio, yang selalu saja memasang senyum palsu dikeadaan genting pun.
Maykel, pemuda bersurai coklat itu meremas-remas jemari tangannya hingga terdengar bunyi yang patah tulang. "Ini semua gara-gara si Kitsune! Awas kau Kitsune! Kalau ketemu ku habisi dia!"
"Sepertinya kau harus menepati janji mu Inu-chan."
"Huh?" Ia menoleh ke arah Rio. "Apa?"
Rio mengendikan dagunya. "Itu Bilton."
Refleks Maykel menoleh. "Ah, sepertinya Dewi Fortuna berpihak pada ku, bersiaplah Bilton. E-eh_" Ucapannya terpotong karena ia merasa ada yang menarik kerah baju belakangnya. Maykel menoleh. "Apa sih?!"
Orlan menguap. "Kau tidak lihat?"
"Apa? Bilton? Tentu aku li_"
"Bukan itu." Kali ini Maykel menoleh ke arah Aron.
"Lalu?" Sepertinya ia mulai kesal dengan pertanyaan berputar-putar kawannya. Pertanyaannya yang berputar, atau kau yang bodoh Maykel?
"Orang yang bersamanya."
Maykel terdiam. "Orang? Orang apa?" Kepala bersurai coklat itu menoleh ke arah depan, disana, beberapa meter dihadapannya ada Bilton sahabat Kitsunenya sedang bersama seorang gadis berambut indigo yang menggembungkan pipi tembamnya. Tunggu, indigo?
"Gadis itu, yang menolong Bilton."
"Apa?"
"Ya, Orlan, dia menolong Bilton waktu kambuh di halte."
Hening.
"Dia hutang penjelasan."
.
.
.
Rumah Nami
.
.
"Kau akan merusaknya Inu!" Bilton menatap tajam Maykel yang sedang menekan-nekan stik PS dengan kencang, tidak peduli jika nanti benda itu akan rusak.
"Mana ku peduli!"
Orlan, Aron, dan Rio hanya menghela nafas. Sepertinya Maykel masih dendam, pikir mereka.
Bilton menatap tajam Maykel. "Tentu aku peduli, toh itu aku yang membelinya."
Pemuda penyuka anjing itu semakin menekan-nekan tombol dengan kuat. "Sekarang, Bilton Nami perhitungan, eh?"
"Bukan. Bahkan dengan kekayaan ku aku bisa membeli pabriknya."
Semua menyeringai, minus Maykel yang sedang menelan ludahnya susah payah.
"Hanya saja itu uang jajan ku, dan aku membelinya karena ada seseorang yang merusaknya." Ekor matanya melirik ke arah Rio, yang di lirik hanya tersenyum tanpa dosa. Ternyata stik PS itu rusak saat di pakai tanding olehnya dan Rio. Tentu Rio yang merusaknya dan tidak mau menggantinya.
"Ck, terserah!" Sepertinya Maykel masih kesal.
Bletak.
"Aw... Apa yang kau lalukan?!" Ia mengelus sayang kepalanya yang di pukul oleh majalah yang sudah di gulung.
Bilton tersenyum miring. "Memberi mu pelajaran."
"Inu dan Kitsune memang tidak bisa diam ya?" Rio tersenyum aneh
"Diam kau Zombie!" Perkataan itu diucapkan Bilton dan Maykel.
Orlan menguap, dan sedikit membuka matanya yang terpejam. "Diamlah kalian, aku mau tidur."
"Tidak bis_"
"Inu-chan dan Dobe-kitsune memang cocok." Seketika mereka menoleh ke arah Aron yang sedang memainkan ponsel.
"Cih, aku normal!" Bilton dan Maykel masih kompak.
"Kau putus dengan Bilton, Aron?" Ucap Rio tanpa dosa.
Aron melotot. "Aku tidak pacaran."
"Mana mau aku dengan si Teme!"
Orlan menghela nafas. Kenapa Aron ikut-ikutan?, pikirnya.
"Siapa gadis yang tadi, Bilton?"
Hening.
"Ah, ya benar. Siapa gadis yang tadi Kitsune?" Begitu mudahnya Maykel melupakan masalah, pikir mereka.
"Ya, dia manis."
Bilton menatap tajam Rio.
"Urusai, Zombie!"
"Memangnya kenapa?"
Bukannya jawaban yang didapatkan Rio melainkan tatapan tajam dari Bilton. Jujur saja, ada perasaan tidak rela dalam hatinya saat mendengar Rio menyebutkan bahwa Chely manis.
'Perasaan apa ini?'
"Lalu, kau mengenalnya?" Pemuda pirang itu menoleh ke arah Aron.
"Tentu. Dia'kan teman sekelas kita."
Orlan menghela nafas. "Kau sudah bertemu Rekson-san?"
"Belum."
"Cepat temui dia."
"Hm."
.
.
.
.
To Be Continued
Yeayyy Selesaii^Δ^
Maaf atas keterlambatannya•membungkuk-membungkuk•
Ohiya boleh curhat gk?
sebenarnya akhir-akhir ini author lagi punya banyak masalah jadinya yahh begini kadang lupa nulis dan kadang lupa update
Gomen gomen•membungkuk•
tapi tenang saja itu gk bkalan berlangsung lama^Δ^
Dukung aku terus yaaa^Δ^
Like, Rate 5 dan vote aku yaa^Δ^
__ADS_1
nanti di feedback^Δ-