Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode18


__ADS_3

.


.


.


Suasana ramai basecamp X5 memang sudah biasa, apa lagi jika penyebabnya adalah keberisikan Inu dan Zombie yang bermain play station.


Jujur saja, hal itu tidak memicu Bilton untuk menghentikan lamunan panjangnya. Ia masih betah dengan pemikirannya saat ini. Entah apa yang dipikirkannya, yang pastinya, meskipun kini ia tengah bermain billiard dengan Aron, tapi fokusnya bukan pada billiard dihadapannya.


"Dobe?"


Pukulan yang tidak bisa di bilang pelan dari tongkat billiard Aron, membuat Bilton menoleh. "Hn?"


"Giliran mu."


Bilton mengangguk.


"Sial." Desisnya saat bola incarannya gagal masuk.


Aron menyeringai. "Ini sudah kelima kalinya kau gagal."


"Urusai Teme." Bilton melengos ke arah lemari es. "Ambil." Ia melemparkan satu kaleng soda.


"Hn."


Bilton melangkah ke arah sofa panjang, tanpa permisi ia menyingkirkan kaki Orlan dari sana. Si Nanas yang kini tertidur refleks bangun karena kakinya disingkirkan secara asal. Sedangkan yang menyingkirkan, dengan santainya duduk.


"Pengganggu." Orlan duduk di samping Bilton. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut karena bangun mendadak.


Sama sekali tidak peduli dengan semburan Orlan, Bilton membuka penutup kaleng sodanya, bukannya meminumnya ia malah memandangi kaleng digenggamannya.


"Rio! Kau curang!"


"Aku tidak curang. Enak saja."


"Lalu?! Kenapa aku kalah terus?!"


Rio memutar bola matanya. "Karena kau bodoh."


Maykel menoleh, ia memberikan tatapan tajamnya. "Sialan! Aku kurang beruntung."


"Keberuntungan memang tak pernah berpihak pada mu."


"Keberuntungan ku belum datang."


"Dan takkan pernah datang."


"Sialan k_ eh."


Rio menatap heran Maykel, jarang-jarang si Inu berhenti di tengah perdebatan. "Apa?"


"Kenapa tak ada yang menghentikan atau memojokkan ku?"


Alis Rio mengernyit, ia tidak mengerti dengan pertanyaan Maykel yang menurutnya gaje.


"Bilton, kemana dia?" Maykel celingak-celinguk.


Rio berkedip, benar kata Maykel. Biasanya Bilton akan memojokkan atau menghentikan perdebatannya dengan Maykel. Dan membiarkan teman penyuka anjingnya itu galau.


Maykel mengernyit, melihat sahabat pirangnya duduk dengan memandang keleng soda digenggamannya. "Bilton?"


"..."


"Bilton?!"


"..."


"Biltom?!"


"..."


Lama-lama Maykel jengah juga memanggil si pirang, bukannya Bilton menoleh. Malah suaranya yang habis.


"Dobe?"


Tepukkan dipundaknya membuat Bilton tersadar. "Apa?" Bilton menoleh ke arah Aron yang menepuknya dari samping.


Aron mengendikkan dagu ke arah Maykel.


Bilton mengikuti isyarat Aron. "Kenapa Maykel?" Alisnya mengernyit, melihat semua penghuni basecamp menatapnya aneh. "Apa?"


"Kau... Kenapa?"


"Aku kenapa?"


Maykel mendekat, ia duduk berhadapan dengan sofa Bilton. "Kau baik-baik saja?"


Bilton mengangguk. "Tentu." Ia meneguk minuman kalengnya dalam satu kali tegukkan karena sodanya sudah hilang.


"Aku merasa kau tidak baik-baik saja."


Bilton menoleh, ia menatap Orlan disampingnya dengan alis mengernyit. Ia tertawa hambar. "Memang aku kenapa?"


"Kau berubah?"


"Apa maksud mu, Rio?"


"Apakah ini karena kedatangan Miku?"


"Aron... Apa yang kau katakan?"


Aron menyeringai. "Justru, aku ingin mendengar apa yang akan kau katakan sebagai jawabannya."


"..."


"Apa perasaan mu masih sama padanya?"


"Orlan?!"


"Apa?" Orlan menatapnya malas. "Jangan sakiti Chely. Ingat apa yang Miku lakukan pada mu."


Bilton menunduk, ia menghela nafas dengan tangan yang menjambak rambut bagian depannya. "Aku_ sialan! Aku tidak bisa mengatakkannya sekarang. Ini bukan waktu yang tepat."


Sekarang giliran Orlan yang menghela nafas. "Kita percaya pada mu."


...


Bruk.


"Sialan!" Bilton mengacak frustasi surai pirangnya. Ia pusing, kedatangan Miku membuat kepalanya nyeri. Dan rasa 'itu' datang, tapi mengingat perkataan orang 'itu', ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sialan!" Bilton berguling, ia menatap ponselnya yang tergeletak di ranjang. Kalau di pikir-pikir sejak tadi sepulang sekolah ia tidak menghubungi Chely.


'Apa mungkin Chely selingkuh?' Kepalanya menggelang. "Ah, mungkin dia belajar."


Bilton langsung mengambil ponselnya, ia duduk di ranjang. Jemarinya mencari tombol kontak.


Hime Calling.


.


.


.


19.30


Itulah yang Chely lihat di jam dinding kamarnya. Baru saja ia belajar selama 45 menit, tapi rasanya kepalanya seakan mau pecah melihat rumus fisika, belum lagi soal latihannya.


Bibirnya mengerucut. "Aku pusing."


Chely mengambil boneka beruang yang diletakkan di meja belajarnya. Ia memeluknya. Lalu menjewer telinga si boneka. "Dia menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!"


Drrrtttt... Drrrtttt...


Chely melongkok ke arah meja, ponselnya menyala dengan getaran bertanda sebuah panggilan. Ia mengambil ponselnya. "Video call dari Bilton-kun?"


Chely memencet tombol call. Boneka beruangnya sedikit di geser.


"Hallo?"


"Formal sekali." Bilton duduk bersandar di kepala ranjang.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Selamat malam sayang. Good night Baby. What are you doing? Saranghae."


Bibir Chely mengerucut. "Lebay. Dan lagi... Sejak kapan Bilton-kun bisa bahasa Korea?"


Bilton mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang otak jenius ku tidak bisa?"


"Iya... Iya..." Chely meletakkan ponselnya agar bersandar pada buku. Jadi ia tidak usah memegangnya. Tangannya terulur mengambil pensil.


"Kau sedang apa?" Bilton mendekat ke arah kamera ponselnya, mencoba melihat apa yang dilakukan Chely. "Iss... Ternyata kau belajar. Rajinnya..."


Chely yang tengah mengisi soal mengangguk. "Tentu saja." Ia angkat kepalanya. "Bilton-kun tidak belajar?"


"Ah, tentu saja aku juga mau. Aku akan menang."


Bibir Chely mengerucut. "Jangan bilang begitu, siapa tahu kalah."


Bilton tertawa. "Tidak ada kata kalah dalam kamus ku, apa lagi dikatai kalah oleh orang berpipi bakpao seperti mu."


"Aku juga tak akan kalah."


"Wah.. Wah... Kau takut dengan permintaan ku ya? Dan sepertinya kau juga sudah menyiapkan permintaan yang sulit."


Glek.


Chely menelan ludahnya. Ia memang takut dengan permintaan Bilton. Wajah manisnya di buat garang, yang justru membuat Bilton ingin tertawa.


"Te-tentu, aku sudah siapkan permintaan ku. Ku harap Bilton-kun tidak takut."


Kembali, Bilton tertawa. "Takutnya..."


Chely mengernyit, melihat Bilton menghilang dan malah menampilkan warna putih yang ia yakini adalah langit-langit kamar. "Bilton-kun kemana?"


5 detik kemudian Bilton kembali dengan buku di tangan kanannya. "Ayo belajar." Ia mengubah posisinya menjadi telungkup di ranjang, ponselnya dibiarkan bersandar pada bantal. Dengan buku dihadapannya.


"He? Belajar?"


"Kau ini. Tentu saja sambil video call."


Chely mengangguk. Ia menatap Bilton yang mengerjakan soal dengan wajah tenang namun serius, sekarang ia baru sadar bahwa kekasihnya itu jenius. Kepala indigonya menggeleng. 'Ayo belajar! Fighting Chely!'


5 menit...


10 menit...


Chely ingin menangis, ia belum selesai dengan 1 soal yang dikerjakannya 10 menit yang lalu. Dengan isengnya, lavender Chely melirik buku Bilton. 'Sudah lembar kelima.'


Padahal seingat Chely, Bilton baru saja di lembar pertama, tapi sudah lembar kelima. Ia saja masih di lembar ketiga. "Bi-Bilton-kun?"


"Hm?" Gumamnya masih sibuk mengerjakan soal.


"A-ano_"


"Hm?"


"Bilton-kun?"


Sedikit gerutuan Chely dengar, namun setelahnya Bilton menatapnya. "Apa?"


Ragu-ragu Chely menunjuk salah satu soal. "Ya-yang ini sulit."

__ADS_1


"..."


"..."


"Astaga Chely, bukankah kita ini musuh? Kau mau aku mengerjakannya?"


Hampir saja air mata Chely menetes. "Bilton-kun pelit!"


Klik.


"Aish... Apa dia marah?"


Hime Calling.


"Sorry the number_"


"Shit!"


Hime Calling


"Sorry the number_"


"Shit. Malah diabaikan."


Sudut bibir tipis Bilton tertarik. "Manis sekali, kita lihat, siapa yang menang." Jemarinya mengambil ponselnya kembali.


To: Hime.


From: Me.


Jangan marah-marah terus, nanti kau lupa belajar. Fighting! Jika penasaran dengan jawabannya kukirimkan fotonya. Jangan marah maafkan aku, ingat! Jangan tidur terlalu malam. Satu lagi yang harus kau ketahui... Saranghae. Ku kira kau masih suka Oppa ganteng, jadi aku belajar bahasa Korea^^


Send


Disebrang sana, Chely tersenyum.


To: Bilton-kun.


From: Me.


Arigatou. Naddo saranghae... (Aku juga mencintai mu)


Send


.


.


.


.


Pagi ini adalah pagi Bilton tanpa Chely, untuk itulah wajah tampannya ia tekuk sedari tadi. Setirnya ia putar ke kanan, mencari tempat parkir untuk mobil sportnya.


Bilton menyisir helaian pirangnya ke belakang. "Awas kau." Desisnya. Tangannya merogoh saku celananya, mengambil ponsel silver kesayangannya.


Saking sayangnya Bilton terhadap ponselnya, ia tidak mengizinkan siapapun menyentuhnya, baik itu orang tuanya, sahabatnya. Kecuali Chelynya.


Bibirnya mencebik kesal. Membaca pesan pukul 06.15.


From: Hime.


To: Me.


Bilton-kun jangan menjemput ku hari ini. Aku sudah di sekolah, semalam aku ketiduran dan tak jadi belajar. Jadi kuputuskan belajar di sekolah, dan jangan menelepon ku. Ponsel ku low.


Benar saja, saat Bilton meneleponnya malah wanita operator yang menjawab. Bilton yang tadinya akan segera berangkat, namun ia urungkan karena masih pakai handuk. Alhasil, selama 45 menit setelah mendapat pesan dihabiskan Bilton untuk menggerutu.


Hime Calling.


"Sorry the number_"


"Iss! Urusai!"


Klik.


Bilton mengambil blazernya di kursi samping, ia memakainya tanpa dikancingkan, setelah di rasa rapi menurutnya. Ia keluar, di sambut teriakkan fans yang sangat mengganggu.


Sapphirenya menjelajahi lapangan parkir. Ia mencari teman-temannya, namun yang di lihat hanya kendaraannya saja.


Zombie Calling.


Tut... Tut... Tut...


"Yo, Kitsune?"


"Dimana?"


"Sarapan."


"Baik, aku kesana."


Klik.


Bilton tidak bodoh, saat Rio mengatakan sarapan. Sudah pasti jawabannya kantin.


"Bilton-kun?"


Bilton menoleh ke arah sumber suara.


"Kau_" Suara Bilton tercekat.


Mata orang itu berbinar. "Ini aku Miku. Bilton-kun ingat, kan?"


Mana mungkin Bilton lupa.


Bilton menatap Miku dengan pandangan, entahlah. Terlalu banyak arti dalam tatapannya. "Hn." Ia melengos ke gedung utama.


Miku mengernyit. "Kenapa responnya dingin sekali?" Ia tersenyum. "Tak apa, itu malah membuatnya semakin keren." Miku mengejar Bilton yang sudah jauh.


"..."


"Sudah sarapan?"


"..."


"Bilton-kun, kau ini kenapa?"


Tap.


Langkah Bilton berhenti. "Jangan ikuti aku!" Nafasnya terengah.


Miku terdiam di belakang si pemuda. Ia kaget, Bilton tak pernah membentaknya. "Bi-Bilton...kun?"


Sapphire Bilton terpejam. 'Sial! Aku kelepasan.' Ia menarik nafasnya dalam-dalam. "Pergilah, sebentar lagi bel." Setelahnya, Bilton kembali melangkah.


Miku berkedip. "Bilton-kun! Kau mengagumkan!"


.


.


"Soal fisika membuat rambut ku rontok." Indah menatap helaian pirangnya yang saat ini ia genggam.


"Jidat ku tambah lebar saja."


"Aku jadi lupa cara mencepol rambut."


Chely tertawa melihat tingkah sahabatnya, meski mengeluh mereka tetap saja belajar.


"Aku lelah. Semalam aku begadang." Wulan menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia melirik jam tangan merah muda ditangannya. 07.00. "Bahkan ini terhitung masih pagi untuk mengatakan kata lelah."


Tena mengangguk. "Aku juga lelah." Mereka memang sengaja datang pagi untuk belajar.


"Chely-chan?"


"Ya Wulan-chan?"


Wulan memajukan tubuhnya ke arah meja, mendekati Chely yang dihadapannya. "Bilton-san benar-benar pelit?"


Cheky cemberut. "Iya, semalam kami belajar bersama di_"


"Jangan bilang di kamar Bilton-san?!"


Bletak


"Forhead! Apa yang kau lakukan?!"


"Jangan memotong pembicaraan orang."


Indah menatap Wulan garang. Tentunya dihiraukan.


"Lanjutkan Chely-chan." Tanpa mempedulikan keributan Wulan dan Indah. Tena dengan wajah serius menatap lavender Chely.


"Ponsel, sambil video call. Sa-saat ku tanya salah satu soal. Dia malah marah, dan langsung ku matikan."


Indah mengangguk. "Aku setuju, Bilton-san pelit." Ia menghela nafas. "Tahu begini aku setuju saat Rio-kun mengajak ku belajar bersama."


"Apa?!"


"A-apa?" Indah gelagapan.


"Kau bilang apa Pig?!" Wulan mengguncang bahu Indah yang duduk didepannya.


"I-iya, belajar bersama."


"Indah kau hutang penjelasan pada kami." Semua mengangguk menyetujui perkataan Tena.


Indah hanya nyengir kuda.


.


.


"Yo! Kitsune!" Maykel melambaikan tangannya, saat melihat Bilton kebingungan di depan pintu kantin. Meski masih pagi, tapi kantin sudah ramai.


Bilton sudah kenal suara cempreng milik Maykel, ia langsung saja melihat ke arah si Inu yang melambaikan tangannya.


Sret.


Bilton duduk di samping Orlan.


"Kau mau sarapan?"


Bilton menggeleng. "Sudah."


Maykel mencibir. "Pasti hanya makan selembar roti."


"Toh aku kenyang." Tanpa permisi Bilton meminum soda didepannya.


"Beli sana, Dobe."


Bilton menyeringai. "Pelit sekali, kau mau aku memberi tahu_"


"Oke! Oke! Aku belikan." Sebelum beranjak dari duduknya Aron sempat memberikan tatapan tajamnya. "Cih, Rubah."


"Rubah bisa makan ayam Teme."


"Oi... Oi..." Bilton menatap Maykel yang berekspresi kepo. "Apa yang kalian rahasiakan?"


Bilton menyeringai, ia mengingat kejadian satu minggu lalu saat ia sedang main ke Mashion Uchiha. Ya, bermain play station dengan Aron. Saat itu Aron mengaku ingin ke kamar mandi, dan Bilton melihat ponsel sahabat Temenya yang tergeletak di ranjang tempatnya berbaring karena lelah. Ia sempat berkedip melihat sebuah notifikasi pesan singkat di ponsel Aron.


Sedikit menyeringai iseng, Bilton mengambil ponsel Aron dan membuka pesan yang di terima. Sapphire Bilton terbelalak.


From: Wulan

__ADS_1


To: Me


Iya, aku akan menemui mu besok.


Isi kepalanya mencoba mengingat orang bernama Wulan yang ternyata sahabat kekasihnya. Dan hari itu dihabiskan Bilton meledek Aron, dengan berat hati Aron terpaksa menceritakan bahwa ia sempat bertukar nomor ponsel seperti yang dilakukannya dengan Chely, bedanya ia dengan ehem! Sedikit paksaan.


"Ku harap kau keracunan." Sekaleng soda di taruh dengan manis dihadapan Bilton.


Bilton menyeringai. "Dan kau berharap rahasia mu ku bongkar." Ia mengambil sodanya dan meneguknya.


Aron berdecak. Jika saja ia tidak ceroboh waktu itu mungkin pesannya yang mengajak Wulan bertemu tidak akan ketahuan. Ingin sekali ia mencekik Bilton, kalau saja si Pirang Dobe tidak mengancamnya akan menyebarkan hubungan yang 'belum tentu benar' pada seluruh warga sekolah. Tentu itu hal yang mudah bagi ketua X5 yang notabene cucu Tsuna, pastinya ia bisa menggunakan web sekolah secara cuma-cuma.


"Astaga Rio!" Teriakkan Maykel mengalihkan semua yang ada di meja.


Rio tersenyum aneh. "Apa?"


"Ka-kau... Sedang pendekatan dengan Indah anak kelas kita?"


"Iya. Kenapa?"


"Pesan mu! Rio! Pesan mu!" Maykel menunjukkan pesan dari ponsel Rio yang ternyata sedang dipinjamnya.


Berbeda dengan respon Aron yang ketahuan Bilton, Rio malah bermuka polos. "Iya aku dekat dengannya. Berikan, dia membalas pesan ku." Tangannya mengambil ponsel yang berada di tangan Maykel.


Maykel berdecak.


Bilton mengangguk dalam lamunannya. Mungkin sahabatnya memang menjadi dekat dengan pasangan duetnya. Tapi apa kabar hubungan Orlan dan Maykel?


Ah.


Bilton juga tidak tahu.


"Bilton?" Orlan menguap dan memandang sapphirenya.


"Apa?"


"Apa yang akan kau lakukan dengan Miku?"


"..."


"Benar Dobe, apa yang akan kau lakukan? Kau tidak mungkin diam saja, kan?"


Bilton terdiam beberapa saat. Ia angkat suara. "Aku tahu apa yang kulakukan, aku harap jika aku butuh kalian datanglah."


"Pasti Kitsune!"


.


.


Ketegangan sangat kentara di kelas 2-1 yang sedang melaksanakan ulangan harian fisika dengan guru super killer se-Nada Gakuen. Hampir semua siswa merasa kepalanya pecah melihat soal yang mereka anggap susah. Ya, hampir karena X5 yang berisi manusia jenius berwajah tampan tidak merasakan itu.


Orlan, bahkan pemuda itu tidur di pojok kelas dengan tangan sebagai bantalnya. Aron juga dengan santainya mengerjakan soal layaknya sedang mengisi formulir. Rio si Pucat malah tersenyum aneh sambil mengerjakan soal. Hanya ada satu orang yang menderita, Maykel Zuka lah orangnya. Ia sibuk menggaruk belakang kepalanya yang mendadak serasa gatal.


Nah, kalau Bilton Nami si ketua malah sedang bersantai dengan tangan yang menopang dagu dan sapphire menatap kekasihnya. Sesekali tangannya mendorong lembar jawaban yang sepenuhnya sudah selesai, padahal waktu ujian masih lama.


"Kau yakin tidak mau nyontek?"


Chely menggembungkan pipinya dengan tangan yang sibuk mengisi soal. Entah sudah yang keberapa kalinya Bilton berkata demikian. "Tidak mau. Sana Bilton-kun kumpulkan."


Bilton tersenyum. "Kau yakin? Aku tidak pernah menyontekkan jawaban ku selama 17 tahun hidup ku. Ini kesempatan emas Chely."


"Tidak mau."


"Iss... Jual mahal sekali." Bilton kembali menahan tawa.


"Tuh, kan. Pensil ku patah." Lavender Chely menatap nanar pensilnya.


Bilton tersenyum. "Pakai pensil ku." Ia menyodorkan pensilnya.


"Arigatou." Tanpa menatap si empunya pensil, Chely mengisi kembali soalnya.


Bilton kembali menopang dagu. Ah, sebangku dengan kekasih sendiri memang enak. Kita bisa mengamatinya sepanjang hari, apa lagi saat ulangan kadang Bilton melihat pipi Chely yang menggembung, bibirnya mengerucut, dan kadang-kadang tangannya mencubit pipi tembamnya sendiri saat salah hitung. Manisnya...


"Chely?"


"Apa Bilton-kun?"


"Ayo nyontek pada ku?"


Bibirnya mengerucut. "Tidak mau. Aku akan menang."


"Terserah, permintaan ku itu sulit. Kau tak takut?"


Takut, Chely sangat takut. "Ti-tidak kok..."


"Oke terserah kau saja."


Mata Ibiki si killer menatap ke setiap sudut ruangan di meja gurunya. Ia sedang meneliti apakah ada murid yang masih berani menyontek setelah ia beri peraturan ketat.


Tatapannya berhenti di bangku empat dekat jendela, matanya memicing melihat cucu dari kepala sekolah mengganggu teman sebangkunya. Bikton memang selalu cari masalah saat pelajarannya, untung sekali nilai pemuda itu selalu bagus. Jika tidak Ibiki tak segan-segan akan menyuruhnya mengepel koridor lantai dua.


"Chely?"


"Hm...?"


"Tadi malam tidur jam berapa?"


Astaga! Demi apapun!


Pertanyaan konyol itu sangat tidak penting ditanyakan saat ujian! Dan Bilton baru saja menanyakannya.


Dengan pipi yang menggembung Chely mengangkat kepalanya. Sebelum itu_


"Bi-Bilton-kun awas."


Bilton menatap ke depan mengikuti arah pandang Chely. Dan_


Brak!


Penghapus papan tulis mendarat manis di belakang kelas. Untung refleks Bilton bagus, jika tidak ia pasti akan terkena lemparan penggapus hitam itu.


Tentunya pelakunya Ibiki yang sudah kesal melihat Bilton yang selalu mengajak Chely mengobrol.


"Nami! Keluar dari kelas sekarang!"


Langsung saja Bilton jadi pusat perhatian.


Bukannya takut, ia malah mencibir. "Aku jadi tidak bisa menatap mu. Aku tidur saja di atap jika sudah begini." Ia tersenyum. "Bye Dear." Ucapnya sambil mengambil lembar jawabannya meninggalkan wajah merona Chely.


"Ini Sensei." Dengan santainya Bilton menyerahkan jawabannya.


"Hn." Ibiki merampasnya, ia menghela nafas setelah melihat jawabannya yang ternyata lengkap. Lalu ia menatap punggung muridnya yang tenggelam di balik pintu. "Untung kau jenius."


.


.


"Bilton-kun!"


Naruto menoleh tanpa beranjak dari posisinya yang bersandar pada tembok. "Kau_"


"Iya, aku Miku." Ia tersenyum.


Bilton menoleh ke arah jendela kelas. Ia menatap Chely yang mengerjakan soal di kelas. Mungkin Miku selesai duluan, sedangkan X5 malah milih tidur di kelas. "Mau apa kau?"


Miku tersenyum. "Menemui mu. Akhir-akhir ini kau susah ditemui."


"Apa peduli mu?"


"Peduli ku? Tentu saja karena_"


"Bilton-kun?"


Bilton tersenyum. Ia melewati Miku. "Kau sudah selesai?"


Chely mengangguk. "Hu'um... Ayo makan siang, aku tidak bawa bekal."


"Iya, ayo kita makan. Pasti kau pusing, melawan ku itu memang melelahkan."


"Siapa bilang?" Bibir Chely mengerucut, ia menengok ke belakang tubuh Bilton. Lavendernya menatap seorang gadis berambut pirang pucat yang Chely yakini murid baru. Tapi ia belum pernah menyapa. Ia mendorong bahu Bilton. "Konnichiwa." Cheky tersenyum manis sambil membungkuk.


Bilton menegang, melihat Chely yang menyapa Miku dengan riang. Rahangnya mengeras. Ia berbalik.


Grep!


Tangannya memegang lengan Chely.


Chely menoleh, alisnya mengernyit. Sikap Bilton memang aneh dari kemarin.


"Konnichiwa." Suara Miku mengalihkan pandangan keduanya. Bibirnya mencibir sebal. Ia menatap penampilan Chely. "Jadi ini_"


"Chely, ayo kita makan." Ia menarik lengan Chely.


"Kami duluan, Miku-san."


"Cih!"


.


.


"Bilton-kun. Makan sayurnya."


"Tidak ini pahit."


"Nanti kau sakit."


"Tidak akan." Bilton kembali memindahkan sayuran pada makan siangnya ke piring Chely.


"Boleh aku makan disini? Tidak ada meja lain, semuanya sudah penuh."


Keduanya mendongak.


Chely tersenyum. "Silahkan."


Miku tersenyum. "Arigatou." Ia duduk dihadapan Bilton.


"Chely?"


"Hum?"


"Kau sudah selesai?" Ucapan Bilton membuat kunyahan di mulut Miku berhenti.


Chely menggeleng polos. "Makanan ku masih banyak."


"Habiskan." Ia menghela nafas kasar. Dengan kasar, Bilton menusuk daging dipiringnya. Lalu memasukkan kemulutnya.


"Ada nasi di bibir mu. Bilton-kun."


Bilton bergetar, saat tangan Miku menjulur membersihkan sudut bibirnya. Bahkan lavender Chely juga membulat.


Dengan tangan bergetar, Bilton menepis lengan Miku. "Apa yang kau lakukan?" Sapphirenya melirik Chely yang terkejut.


Miku tersenyum. "Tentu saja membersihkan bibir mu. Atau mau aku pakai bibir juga."


Deg!


"A-aku sudah selesai." Chely berdiri, ia meninggalkan Bilton yang mengeraskan rahangnya dan Miku yang tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2