Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode 2


__ADS_3

"X5, siapa?" Gumam Chely.


"Kau tidak mengenal mereka Chely-chan?"


Chely menoleh ke arah Tena. "Ku-kurasa..."Lalu ia menaruh telunjuk didagunya, pose berfikir.


"Chely-chan kawaii sekali..." Tanpa bisa di tahan tangan Tena terangkat dengan refleks mencubit pipi gembil Chely.


Chely cemberut. "Itaii... Tena-san." Ia mengelus pipi gembilnya.


"Sini aku kenalin."


"Memang Tena-san kenal?"


Tena tertawa. "Tidak."


"Huh?"


"Setidaknya aku tahu, dari pada Chely-chan kuper."


Chely mengerucutkan bibirnya. "Hai.. Hai.."


"Sini Chely-chan."


Chely menggeser kursinya menjadi merapat dengan kursi Tena. "Nani?"


Telunjuk Tena terangkat. "Itu, yang itu."


Alis Chely mengernyit. "Yang mana?" Manik lavendernya memandang ke arah 'sesuatu' yang di tunjuk Tenten. "A-ah ya. Siapa itu?"


"Yang itu namanya Orlan Nara." Kedua gadis tersebut memandang ke arah pemuda berambut nanas.


Chely menganggukan kepala paham. "Kasihan, dia mengantuk."


"Dia memang selalu begitu." Tena menoleh ke arah Chely. "Tapi jangan salah. IQ dia itu 200 loh."


"Hah?" Tena hanya tertawa mendengar respon sahabat barunya itu.


"Rio-kun i love you..." Suara toa dari salah satu siswi membuat mereka mengalihkan pandangannya.


"Itu siapa?" Chely memperhatikan seorang pemuda berkulit pucat yang sedang tersenyum aneh.


"Namanya Rio Mura. Dia jago menggambar."


"Hebat..."


"Nah, kalau yang itu Aron Uchi."


"Dia me-menyeramkan."


Sepertinya hari ini Tena banyak tertawa oleh kelakuan sahabat indigonya. "Benarkah?"


Chely mengangguk.


"Aku bilangin nih."


"Tena-san kan tidak mengenal mereka. Ja-jadi_"


"Dia salah satu anggota karate terbaik tahun in_"


"Tena-san..." Chely memasang muka memelas andalannya.


"Aku bercanda..."


Mereka kembali mengalihkan pandangannya ke pintu kelas. Dimana menampilkan seorang pemuda berambut coklat. "Itu Maykel Zuka."


"Humm.." Gumam Chely. "Kenapa empat?"


"Huh?" Tenten menoleh.


"Katanya X5. Berarti seharusnya be-berlima."


"Kau benar. Yang tidak ada itu ketuanya."


"Ketua?"


"Ya. Namanya Bil_"


"Kyyyaaa Bilton-kun..."


"Tampannya.."


"Keren..."


"Bi-Bilton?"


"Ya. Namanya Bilton."


"Na-Nami Bilton." Chely menatap ke arah pemuda berambut pirang yang sedang berjalan santai di depan kelas.


"Memang itu nama lengkapnya."


"..." Chely terus memandangi pemuda bernama Bilton tersebut. Di dalam pikirannya berkecamuk, sakit apa dia, pikirnya. Tanpa di sangka Bilton menoleh kearahnya dengan senyum miring.


Chely berkedip dengan wajah dihinggapi rona merah, ia lalu memalingkan pandangannya ke arah jendela. Sedangkan Bilton duduk di bangku jajaran kedua dari depan dengan Maykel. Tepatnya bangku samping Chely dan Tena.


.


.


"Rasanya aku merindukan tempat ini..." Pemuda penyuka anjing tersebut tersenyum lebar. Dengan mata yang terfokus pada pemandangan Nada Gakuen yang sedang ia lihat dari atap sekolah.


"Kenapa kita ke atap? Masuk kan sebentar lagi." Rio, mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca, lalu melirik ke arah teman-temannya.


"Ya. Jika di kelas aku bisa tidur." Sejenak pemuda berambut nanas yang sedang tiduran menguap. "Tanyakan saja pada si Inu."


"Hm. Aku jadi malas ke kelas." Aron memasukan ponsel ke dalam saku celana.


"Kalian ini memang tidak bisa berbasa basi." Ia memejamkan matanya sejenak. Kemudian melirik ke arah pemuda blonde disebelahnya. Bilton, pemuda itu sedang berdiri menyandar di pagar pembatas, tangan tan itu dimasukan ke dalam saku celananya, tapi mata sapphirenya menerawang ke arah depan. Entah apa yang dipikirkannya. "Bilton." Suara Maykel berubah menjadi serius.


Si pirang menoleh. "Hm."


"Kau... Tadi bersama siapa?" Semua orang menoleh ke arah Bilton yang saat ini menatap datar Maykel.


"..."


"Maksud mu gadis yang tadi?"


"Hmm..." Tanpa menoleh ke arah Rio, Maykel menggumam.


"Aku tidak tahu."


"Hah?" Maykel cengo. 'Aku kira dia kenal.'


Lagi-lagi semua orang di sana menghela nafas. Memang sulit sekali menantikan perubahan seseorang, pikir mereka.


Orlan berdecak. Kemana sahabat pirangnya yang ceria dan hangat itu? "Ayo ke kelas." Ia beranjak dari kursi panjang yang ditidurinya.


"Baiklah..." Jawab Maykel lesu. Karena respon pendek Bilton.


Satu persatu dari mereka pun beranjak meninggalkan atap sekolah. Kecuali_


"Kau tidak ikut."


"Kau saja duluan, Maykel."


"Baiklah."


"..."


Hening, sangat hening. Hanya suara anginlah yang menemani pemuda blonde tersebut. Mata sapphire itu ia pejamkan, menikmati angin yang sedang menerbangkan helaian pirangnya.


Bilton membuka matanya. 'Dia siapa?' Pikirannya menerawang pada seorang gadis berambut indigo yang tadi pagi meminjamkan pundaknya.


'Kenapa sentuhannya sangat nyaman? Bahkan melebihi Kaa-chan. Suara, sentuhan...' Semua itu terus terpikirkan oleh Bilton. Memang benar saat bersama gadis Hyuu tadi, alexithymia Bilton menjadi cepat pulih.


'Aku harus mencobanya kembali. Jika benar dia berpengaruh pada penyakit ku, maka aku akan menanyakannya pada Rekson-san.' Bilton lalu beranjak menjauhi pagar pembatas menuju pintu.


...


"Kyyyaaa mereka datang!"


"Mereka tambah buas saja." Rio hanya menanggapinya dengan senyum palsu.


Maykel merinding, lalu bersembunyi di balik punggung Aron. "Aku takut di keroyok."


Sedetik kemudian Maykel mengelus perutnya. "Kau kejam sekali Ar.." Ucapnya setelah menerima sodokan yang tidak bisa di bilang ringan dari Aron.


Aron menyeringai. "Rasakan."


"Jadi_"


"Hm?"


"Apa?"


"Hooaamm."


"Siapa yang akan masuk duluan?"


"Aku tidak mau."


"Merepotkan."


"..."


"Bagaimana kalau_" Maykel mengangkat sudut bibirnya membentuk seringai jahil. "Kau saja, Rio."


Rio tersenyum hingga matanya menyipit. "Tidak, terima kasih. Lagi pula tadi aku yang memberi pertanyaan."


Aron memutar bola matanya bosan. "Bisakah kau tidak tersenyum aneh, dan_"


"Ucapan mu tadi tidak terdengar seperti rasa syukur." Aron menyeringai ke arah Orlan yang sudah berhasil memotong ucapannya dengan tepat.


"Merepotkan, aku saja yang masuk." Pemuda berambut nanas itu pun masuk dengan wajah mengantuk.


"Ya, aku juga."

__ADS_1


"Hm."


"Hoi! Tunggu aku."


...


Bilton melangkahkan kakinya dengan santai di koridor sekolah. Kedua tangan tannya dimasukan ke dalam saku celana, mata sapphire itu memandang datar ke arah depan.


'Mereka masih di luar.' Batinnya saat melihat temannya sedang berkumpul beberapa meter dihadapan pintu kelas.


Bibir tipis Bilton menyeringai kala melihat sahabat Inunya bersembunyi di belakang Aron. 'Pengecut.'


Kemudian ia melangkahkan kaki jenjangnya ke arah pintu kelas 2-1. Terdengar suara teriakan para siswi yang meneriakan nama temannya dan tentunya nama Bilton sendiri.


"Rio-kun i love you..."


"Kyyyaaa Bilton-kun..."


"Tampannya.."


"Keren..."


'Urusai!' Si pirang menggerutu dalam hatinya.


Tanpa memperdulikan teriakan memekakan telinga tersebut, Bilton terus melangkahkan kakinya. Sampai manik sapphire pemuda pirang itu bertemu pandang dengan manik lavender yang menatap ia tanpa berkedip.


'Ah, i got you.' Batin Bilton. Ia tersenyum miring melihatnya. Ternyata misi Bilton untuk mencari tahu sang gadis sangat mudah.


Sedetik kemudian sang gadis memalingkan wajah meronanya. Sedangkan Bilton hanya melebarkan senyum miringnya.


Bilton lalu duduk di bangku ke dua dari depan di samping Maykel. Letak bangku yang ia duduki ternyata bersebelahan dengan gadis berambut indigo tersebut, tapi terhalangi oleh gadis berambut cepol.


...


Sekali lagi, Chely melirik jam tangan putih di tangan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul 08:20, sudah lebih dari lima puluh menit tapi Sensei yang dinantikan belum datang juga.


Dampak dari belum hadirnya si Sensei seperti biasa, yaitu kelas ribut. Untuk mengusir rasa bosannya Chely mengedarkan pandangan ke arah penjuru kelas, ada yang tidur, menggoda anggota X5 yang tentunya dihiraukan. Saling melempar kertas, itu kegiatan yang dilakukan oleh Maykel dan Lee, mendengarkan musik, bergosip, dan menggambar.


Sampai lavendernya terpaku pada satu orang, yaitu pemuda berambut pirang yang sedang membaca komik.


'Dia, berbeda.' Batin Chely.


.


Lembar demi lembar komik di buka jemarinya. Seakan-akan tak terganggu dengan suara ribut di kelas, Bilton hanya fokus membaca komik keluaran terbaru yang baru ia beli.


Tapi, saat Bilton berniat membuka lembar berikutnya kegiatan itu harus berhenti. Kenapa? Karena ia merasakan ada orang yang sedang memandangnya. Tanpa bepikir dua kali, Bilton menengok ke arah samping.


Sapphire dan lavender bertemu.


Bilton menatap ke arah mata lavender yang meneduhkan itu. Entah kenapa Bilton sangat suka saat melihat mata itu, ia akui saat pertama kali melihat gadis itu, dia mirip dengan 'seseorang'. Ya, 'seseorang'.


Sayang, sang gadis mengalihkan pandangan terlebih dahulu.


'Aku ingin melihat mata mu lebih dekat.'


Ceklek.


Seketika semua penghuni kelas yang berkeliaran duduk rapi dibangkunya.


Tap... Tap... Tap..


Suara langkah kaki menggema dilantai kelas 2-1. Seorang pria masuk ke dalam kelas lalu ia berdiri di depan kelas.


"Ohayou minna-san."


"Ohayou mo Sensei."


"Perkenalkan nama Sensei Renra Hata, wali kelas yang akan mendampingi kalian satu tahun ke depan. Ada yang ditanyakan?"


"Ya?" Pandangan Renra teralih pada siswa berambut mangkuk.


Lee menurunkan tangannya. "Kenapa Sensei terlambat?"


"Maafkan Sensei, Sensei ada urusan lain." Renra tersenyum hingga matanya menyipit. Lalu diedarkanlah pandangannya kembali. Matanya bertemu pandang dengan sapphire yang sama dengan mantan atasannya.


Kakashi menyeringai yang di balas tatapan datar Bilton.


'Terlambat? Keh, alasan.'


"Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini."


.


.


.


.


Tiga hari sudah Chely menjadi penghuni kelas 2-1. Banyak yang didapatnya tahun ajaran ini, teman baru, pelajaran baru, Sensei baru, dan bahkan pemuda pirang yang misterius. Misterius. Ya, sangat misterius untuk ukuran seorang manusia. Meskipun ia termasuk anggota X5, geng terkenal. Tapi Bilton tetap penyendiri. Bisa disimpulkan Bilton orang yang dingin.


Jika mereka bertemu pandang, Bilton selalu memandang Chely dengan pandangan dingin. Tidak lupa senyum miringnya.


Kepala Chely menggeleng. 'U-untuk apa aku memikirkannya?' Batinnya. Lalu ia mengambil earphone dari rok seragamnya, dipasangkanlah pada ponsel pintarnya, jari-jemari lentik Chely menggeser layar ponsel.


Kepalanya menunduk kembali, sambil jemarinya menggeser layar ponsel, untuk mencari lagu yang akan diputarnya setelah lagu ini. Disertai dengan mungil yang menyenandungkan lagu favoritnya.


Kaki Chely melangkah ke depan, tapi ada sepasang kaki bersepatu hitam orange yang menghalanginya.


'Mungkin mau lewat.' Chely mencoba berpikir positif.


"Eh?" Gumamnya. Saat ia melangkah ke kiri, sepasang kaki itu pun begitu. Ke kanan pun sama.


Chely mendongkakan kepalanya. Manik lavendernya membulat. "Ka-kau..."


"Hm." Bilton, pemuda tersebut mendengus geli dalam hati, lihat! Betapa menggemaskannya ekspresi gadis dihadapannya ini. Bibir mungilnya membulat membentuk huruf 'o', jangan lupakan manik lavendernya yang juga melotot. Bibir Bilton tersenyum miring.


"Pe-permisi a-aku mau lewat." Chely melangkahkan kakinya namun pemuda pirang itu memajukan langkahnya. Dan terjadilah_


Duk.


"A-aw." Chely mengelus dahinya yang terasa pening, akibat membentur dada bidang dihadapannya.


"..." Ada perasaan geli dalam hati Bilton. Sehingga ia ingin sekali menarik sudut bibirnya atau bahkan tertawa.


'Perasaan apa ini?' Alis Bilton mengernyit.


"Si-silahkan." Chely menggeser menjadi berdiri di samping. Ia pikir, mungkin Bilton ingin lewat. Tapi_


Tap.


"Eh?" Tapi pemuda pirang itu malah mengikuti Hinata.


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Empat langkah.


Duk.


'Ba-bagaimana ini?!' Jeritnya dalam hati. Saat langkahnya tertahan oleh tembok dibelakangnya.


Dengan wajah panik, Chely melihat ke arah Bilton, sekarang posisi mereka hanya berjarak satu langkah.


'Ma-masih ja_'


Tap.


Berhadapan! Sekarang mereka berhadapan. Bahkan wajahnya sudah berjarak sekitar 10 cm dari wajah Bilton.


Bilton menyeringai. Saat melihat wajah panik gadis dihadapannya. Perasaan geli dalam hatinya semakin bertambah. Dan itu semakin membuatnya bingung.


'Kenapa dengan ku?'


Panik. Ya, sangat panik. Apa lagi melihat seringai mengerikan Bilton. Chely terlalu berkutat dengan pikirannya sampai, ia tidak menyadari bahwa pemuda pirang itu telah mendekatkan wajahnya.


'Ka-Kami-sama!' Pekiknya setelah sadar dari lamunannya.


10 cm.


Chely panik.


8 cm.


Tambah panik.


6 cm.


Nafas pemuda pirang itu menerpa wajah Chely.


4 cm.


Chely menutup matanya.


2 cm.


Nafas mint itu begitu dekat.


Dan_


0 cm_


"Kau. Tidak memberitahu orang lain, kan? Kejadian tiga hari yang lalu?" Suara baritone nan tegas itu mengalun di gendang telinga Chely. Tentunya Bilton berkata setelah melepaskan earphone Chely.


Chely membuka kelopak matanya dalam sekali hentakan. "Ti-tiga ha-hari yang lalu." Gagap Chely yang sudah agak menghilang kambuh lebih parah. Tentu saja lebih parah. Karena pemuda pirang ini belum menjauhkan kepalanya dari telinga Chely.


Untung koridor menuju perpustakaan ini sepi. Jika ada orang yang melihatnya bisa berpikir macam-macam. Dengan posisi Bilton yang meletakan kedua tangannya di sisi kepala Chely, kepalanya ia susupkan ke leher jenjangnya.


Sedangkan untuk Bilton sendiri, posisi ini membuat hatinya tenang. Apa lagi leher sang gadis yang terekspos karena rambutnya yang di ikat pony tail, membuat ia leluasa merasakan wangi lavendernya.


'Perasaan apa ini?' Lagi-lagi hatinya di buat bingung oleh sang gadis.


Bilton yang belum menjauhkan wajahnya mendengus. "Kau pelupa."

__ADS_1


"A-apa?" Chely berusaha mengingat kejadian tiga hari yang lalu. Tahun ajaran baru-jalan kaki-pemuda pirang-halte bus_ tunggu! Pemuda pirang? Ah, Chely ingat. Ia pernah menolong Bilton tiga hari yang lalu. Kenapa ia bisa melupakannya?


"Hm."


"Ti-tidak. Ha-hanya aku yang tahu."


"Bagus." Bilton menurunkan lengannya yang mengurung Chely tidak lupa menjauhkan wajahnya, tapi ia tidak memundurkan langkahnya, jadi jarak wajah mereka kembali seperti semula yaitu 10 cm. Namun, ada yang aneh saat ia menjauh dari sang gadis, perasaan geli dan tenang tersebut berkurang.


'Kenapa dengan ku?'


"A-ano bi-bisakah Nami-san menyingkir."


Bilton memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, bibir itu kembali menyeringai. "Kenapa?"


"A-ano_"


"Hm?"


"Na-nanti o-orang salah paham te-tentang posisi kita jadi_"


"Jadi?"


"Bi-bisakah Nami-san me-menjauh?


"Tidak."


"Hah?" Chely gelagapan menghadapi pemuda pirang dihadapannya. Manik lavender Chely kembali membulat, saat melihat Bilton mendekatkan wajahnya kembali. "Ka-kau ma-mau apa?"


"Menurut mu?"


10 cm.


8 cm.


6 cm.


Chely semakin gelagapan. Mana koridor ini sepi lagi!


4 cm.


2 cm.


0 c_


Tett... Tett... Suara bel menggema di koridor perpustakaan.


Hampir saja ke dua bibir itu bersentuhan.


"Kuso!" Umpatnya.


'Arigatou Kami-sama.' Chely menghela nafas lega.


Manik sapphire Bilton berkilat tajam. " Ingat! Urusan kita belum selesai. Hyuu." Setelah mengatakan itu ia melenggang pergi. Meninggalkan Chely yang kebingungan.


"U-urusan apa?"


.


.


.


"Kau curang Rio!" Telunjuk Maykel menunjuk Rio.


"Apa? Kaunya saja yang bodoh."


"Hey! Enak saja. Ini lagi, stik PSnya sudah tua." Maykel melempar stik PS yang di anggap penyebab kegagalannya itu ke sofa.


"Apa kau bilang?" Suara desisan itu membuat Maykel merinding.


Dengan takut-takut Maykel menolehkan kepalanya ke arah pemuda pirang yang sedang memegang stik billiard berwarna putih. " Ti-tidak ada, kau salah dengar Bilton." Ucap Maykel tergagap karena merasakan aura gelap Bilton.


"Sudahlah Dobe, kita lanjutkan bermainnya."


"Tid_"


"Atau kau mau Kushi-baa-san marah, karena kita ribut?" Bilton, Aron, Maykel, dan Rio menoleh ke arah pemuda berambut nanas yang memejamkan matanya, jangan lupakan badannya yang terlentang di sofa panjang warna merah.


Memang, sekarang X5 sedang berkumpul dikediaman Nami. Tepatnya di ruangan dekat garasi yang di sulap menjadi sebuah basecamp mewah. Di dalam basecamp tersebut terdapat sebuah televisi 42 inchi, lemari es sedang, satu set sofa, meja billiard, area game, dan banyak lagi.


"Menyerah eh, Dobe?"


"Ck, enak saja. Aku haus ambil minum dulu." Bilton melengos ke arah lemari es.


Bilton membuka lemari es, lalu mengambil dua cola dingin. "Ini." Ia melemparkan satu minuman kaleng pada Aron.


"Hm." Pemuda raven itu membuka minuman kaleng digenggamannya.


Bilton lalu duduk di single sofa dekat Orlan.


"Orlan?"


Pemuda nanas itu membuka matanya. "Apa?"


"Tidak."


"Kau kenapa?" Terlihat pemuda yang selalu nampak mengantuk tersebut tidak puas dengan jawaban si pirang.


"Apa... Aku bisa sembuh?" Bilton masih menatap ke arah televisi yang sedang menampilkan video game terbaru dengan Maykel dan Rio yang memainkannya.


"Kau kenapa Dobe?" Aron yang merasakan adanya aura aneh di sofa mendekat.


"Entahlah." Bilton kembali meneguk cola dinginnya.


"Hahh..." Orlan menghela nafas. "Ku harap begitu."


"Kenapa kau tak minum obat?"


"Kau tahu sendirikan Teme. Obatnya belum ditemukan." Jeda sejenak. "Mustahil alexithymia bisa disembuhkan dengan obat."


"Kenapa tidak tanyakan saja pada Rekson-san?"


Bilton menoleh ke arah Aron. "Hm. Akan ku tanyakan."


"Ck, aku kalah lagi! Rio! Jangan menyenggol tangan ku!"


"Tangan mu Maykel yang selalu menyenggol ku!"


"Apa?!"


"Hei! Jangan berisik nanti_"


Brak.


"Bilton! Sudah Kaa-chan bilang jangan berisik! Kaa-chan sedang arisan!"


"..."


"..."


"..."


"..."


"Gomen. Kaa-chan."


"Jika kalian berisik, ku pastikan, aliran listrik ke sini akan ku cabut."


Blam.


Dengan satu kali hentakan Kushi membanting pintu.


"Kaa-san mu mengerikan Bilton." Maykel merinding.


"..."


"Dia mirip Kitsune betina." Tanpa merasa dosa Rio tersenyum aneh.


"Apa kau bilang Rio." Desis Bilton.


"Tidak."


"Aku akan mencekik mu Rio." Bilton beranjak dari duduknya. "Berikan Maykel." Ia merebut stik PS Maykel.


Bilton memang tidak sentimentil, tapi ia pernah belajar mengenai apa itu sentimentil, dari sahabatnya. Meski pun ia berlagak marah, tapi dalam hatinya hanya perasaan hampalah yang terasa.


"Tidak. Akulah yang akan membunuh mu."


Dan permainan pun di mulai...


.


.


.


.


To Be Continued.


Akhirnya episode 2 selesai^Δ^


Ohiya catatan ya :


Tou-san/Tou-chan : Ayah


Kaa-san/Kaa-chan : Ibu


Nee-san/Nee-chan : Kakak/Saudara perempuan


Nii-san/Nii-chan : Kakak/Saudara laki laki


Sensei : Guru


Kitsune : Rubah


Inu : Anjing

__ADS_1


Semoga bermanfaat^Δ^


__ADS_2