
.
.
.
Kepala pirangnya direbahkan di atas meja, ia menghela nafas. Biasanya saat merebahkan kepala ke arah kanan, Bilton selalu melihat gadis Bakpao sedang berkutat dengan novel tebalnya, tapi tidak dengan kali ini. Dengan kata lain, Chely tidak sekolah. Pasti ini karena kejadian kemarin, pikirnya.
Bilton mengubah posisinya tidur dengan tangan sebagai bantal. Ia tenggelamkan kepala pirangnya. 'Kenapa aku jadi ingin bertemu dengannya? Apa dia baik-baik saja? Panasnya sudah turun atau belum? Badannya masih lemas atau tidak?'
'Sial apa yang kupikirkan?!' Diacaklah surai pirangnya.
"Ck." Kembali Bilton berdecak saat merasakan badannya panas-dingin. Ia juga sakit, tapi tetap saja sekolah tentunya setelah minum paracetamol pemberian Ibunya. Tujuan utamanya sekolah untuk melihat si Bakpao, tapi! Gadis berpipi tembam itu malah tidak sekolah. 'Awas kau...'
"Kitsune!" Suara cempreng seseorang membuat kepala pirang Bilton terangkat.
"Apa?!" Ucapnya ketus. Ia menatap Maykel yang duduk dihadapannya dengan kursi yang dibalikkan, sehingga tangannya memeluk punggung kursi.
"Wow–" Bukannya menjawab pertanyaan Bilton, Maykel malah berwajah kaget sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Alis Bilton mengernyit. Tumben tidak ke atap, pikirnya. Ini memang sedang istirahat dan kelas jadi sepi. Hanya di isi X5. "Kau kenapa sih?"
"Kau... Mirip Badoerukitsune." (Badut rubah)
Twich, perempatan muncul di kening Bilton. Ia akui hidungnya kini memerah karena flu. "Tsch, minikui Inu." (Anjing jelek)
"Pantas cuaca cerah." Kepalanya menoleh ke arah pemuda pucat. Rio berjalan santai, onyxnya menatap ke arah jendela dengan senyum aneh.
Alis pirang Bilton terangkat, ia heran dengan sahabatnya yang jadi sedikit aneh. "Musim semi cuaca memang selalu cerah Zombie."
Rio menoleh, ia tersenyum aneh. "Ku kira ini terjadi karena kau memakai blazer rapi hari ini." Ia duduk di samping Bilton.
Sapphirenya menatap tajam Rio. Bilton memang memakai blazer dengan rapi–dikancingkan–karena ia merasa dingin kali ini, jika mengenakan jaket di tambah blazer rasanya ribet sekali. "Apa? Masalah buat mu?"
Rio menggeleng. "Calm down, aku hanya tanya."
"Kau kenapa bisa sakit?"
Bilton berkedip. Entah sejak kapan Orlan ada dihadapannya. "Kehujanan."
"Alasannya?"
Kepala pirangnya menoleh ke arah bangku samping, tempat Aron duduk kali ini. "Pulang club, kesorean, berteduh di kelas dengan Chely, pulang malam, kehujanan, dan tamat."
"Tunggu!"
"Apa?" Sapphire Bilton melirik Orlan malas.
"Kau.. Tadi bilang Chely?"
Deg!
'Shit, aku keceplosan! Mulut sialan!'
"Kau tadi bilang, kan?"
"Tidak."
"Iya, tadi kau bilang Chely."
"Tidak."
"Kau bilang tadi terjebak dengan Chely!"
"Tidak."
"Shut up! You look stupid!" Suara Aron meninggi. Ia jengah melihat Bilton dan Orlan yang bertengkar layaknya percakapan polisi dengan ******* yang di interogerasi.
"Astaga! Kami-sama!" Semua menoleh ke arah Maykel. Si Drama Queen di X5, sedang menutup mulutnya dengan tangan, jangan lupakan bola matanya yang hampir keluar. "Apa yang kau lakukan dengan Chely-san saat hujan, Kitsune?!"
"Aku ti–"
"Pasti ia memaksa Chely-san untuk saling menghangatkan." Sai tersenyum aneh.
"Ya ampun... Kau akan menikah muda Bilton." Aron menyeringai.
"Kita akan punya keponakan." Orlan juga tanpa di sangka menyeringai mengejek.
"Ku harap keponakan ku tidak seperti Ayahnya yang menyebalkan." –Maykel.
"Mesum."–Rio.
"Baka."–Aron
"Jelek." –Orlan.
Twich, kembali perempatan muncul di kening Bilton. Bisa-bisanya mereka mengatainya menyebalkan, mesum, jelek, dan yang paling parah bodoh! Ia sangat benci dikatai itu. "Urusai! Kalian tidak tahu apapun!" Ucapnya ketus.
Srettt
Ia beranjak dari kursinya. Entah kenapa ia selalu kesal saat sahabatnya membicarakan Chely.
Blam!
Pintu kelas di banting.
"Bilton jadi tempramental akhir-akhir ini."
Orlan mengangguk. "Semenjak kenal dengan Chely-san, ia jadi lebih sedikit ekspresif."
"Ku harap ini salah satu kemajuan penyakitnya."
.
.
.
.
"Bilton! Bilton! Biltoooonnnn!" Seperti halnya di hutan, Kushi terus berteriak. Ia berdecak, "Kemana anak itu?!"
"Jika ketemu awas kau..." Desisnya sambil berkacak pinggang, ia lalu naik ke lantai atas. Dimana kamar putra tunggalnya berada.
...
Punggung yang bersandar di lengan sofa, kaki jenjangnya berselonjoran di sofa hitam kamarnya. Jangan lupakan headphone putih yang bertengger manis di kepala pirang Bilton, juga jemarinya menggeser-geser layar iPod putih.
Karena hari ini hari minggu, dan ia sudah mandi terbukti dari pakaiannya kaos putih pendek serta celana jeans selutut, Bilton juga sudah sarapan, demamnya juga sudah turun. Jadi rencananya kali ini hanya satu! Ber-san-***. Ah... Memang sangat menggiurkan.
Brak!
"Astaga! Anak ini..." Amarah Kushi makin memuncak. Melihat Bilton yang nampak tidak mendengar suara pintu di buka kasar juga teriakkannya. Meski memunggungi pintu harusnya putranya itu menoleh jika pendengarannya masih berfungsi.
"Pantas saja mendadak tuli!" Manik violet Kushi berbinar. "Aku ada ide." Bibirnya membentuk seringai menakutkan.
"Eh?" Alis pirang Bilton mengernyit, saat suara lagu yang didengarnya dengan volume keras mendadak berhenti. Sapphire birunya menatap iPodnya. "Lho? Kenapa tidak ada lambang headphone tersambung."
Tangannya mencoba membenarkan letak kabel headphone yang terhubung pada iPod. "Lho? Apa ini?"
Bilton semakin heran, saat melihat kabel putih yang melambai-lambai di dekat telinganya. Tangannya terangkat ia menyentuh kabelnya.
"Astaga!" Pekiknya saat menyadari bahwa kabel putih yang melambai itu adalah kabel headphonenya–yang telah terpotong menjadi dua.
"Kaget ya Bil-chan?"
Glek.
Susah payah Bilton menelan ludahnya, kepalanya menoleh ke arah kanan. Disana, dengan senyum manis namun horor di mata Bilton, Kushi berdiri dengan tangan kanan mengacungkan gunting hitam.
Dengan ogah-ogahan Bilton melepas headphonenya. "Kaa-chan mau apa?"
"Astaga bocah..." Sepertinya Kushi sudah di ambang kesabarannya.
"Aw... Itaii Kaa-chan." Pekik Bilton saat Kushi menjewer telinganya.
"Kaa-chan sudah memanggil mu dari tadi, dan kau tidak dengar, hah?!"
"Kaa-chan lepaskan dulu." Jewerannya terlepas, Bilton menghela nafas lalu mengusap telinganya yang terasa panas. "Maaf, aku tidak dengar. Memang Kaa-chan mau apa memanggil ku?"
"Antar Kaa-chan ke mall."
"Apa?!"
"Berani kau berteriak lagi?!"
"Tidak. Maaf." Apa ia tidak salah dengar, Ibunya yang cantik ini minta di antar ke mall? Bilton'kan paling malas berurusan dengan tempat yang namanya mall. Ia jarang kesana, bukan, bukan karena tidak punya uang, ia hanya malas di tatap 'lapar' oleh kaum Hawa yang mendatangi mall. "Kenapa tidak menyuruh Tou-chan saja?"
"Kau lupa? Tou-chan mu itu sedang dinas di Okinawa."
Bilton memang lupa.
Dan ia malas ke mall.
Ia menghela nafas. "Kapan berangkat?"
"Sekarang."
"Apa?"
"Hu'um."
Apa boleh buat, sepertinya Bilton juga harus ikut, ia butuh headphone baru. "Baik. Aku siap-siap dulu." Ia beranjak dari duduknya.
Kushi tersenyum. "Baik, Kaa-chan tunggu."
"Hn."
Ceklek.
Kali ini pintu di tutup dengan pelan.
"Mau apa sih pagi-pagi begini ke mall?" Sapphire biru Bilton menatap jam dinding, sekarang waktu menunjukkan pukul 09.30
Ceklek.
"Eh?" Bilton menoleh ke arah pintu. Bisa ia lihat kepala Kushina yang menyembul.
"Pakai mobil Kaa-chan ya?"
"Baiklah, terserah Kaa-chan."
'Kenapa seperti ada maksud lain saat di suruh memakai mobil Kaa-chan.'
.
.
.
Tokyo Mall. Salah satu tempat teramai di Jepang, biasanya paling banyak dikunjungi baik bagi para turis sekalipun, tempatnya yang strategis membuatnya semakin menarik. Gedung dengan lantai bertingkat inilah tujuan Bilton.
"Bil-chan, cepat. Nanti barang branded incaran Kaa-chan ke buru habis."
Tuh, kan! Ibunya mau belanja!
"Iya.. Iya.." Dengan wajah tertekuk Bilton memarkirkan mobil merah mungil Ibunya.
Blam!
"Astaga..." Bilton hanya mengelus dada saat Kushi membanting pintu dengan tak sabaran. "Sebegitu besarkah nafsu Kaa-chan untuk shopping?"
.
.
Sudah Biltin duga. Feelingnya tidak meleset.
Kushi...
Ibunya, sekarang mengabaikannya. Dan malah memilih-milih barang brandednya. Yang ternyata sebuah dress mewah.
Yang paling parah, ia malu harus masuk butik yang isinya hampir pakaian wanita semua. Oh, jangan lupakan tatapan genit. Isss...
Lebih baik Bilton keluar, lihat-lihat dan beli headphone.
Diiringi helaan nafas juga gerutuan dalam hati, Bilton keluar butik. Banyak pasang mata yang memperhatikannya, padahal ia hanya mengenakan kaus putih polos dilapisi jaket hitam dan jeans hitam yang sangat pas di kaki jenjangnya, jangan lupakan sepatu kets putih. Meski begitu, pesona Bilton Nami memang sangat kuat, buktinya ia mendapat tatapan jahil disana-sini.
"Ck." Umpatan ini entah sudah yang keberapa kalinya ia ucapkan. Alisnya menukik, bibirnya mencebik sebal, juga sapphire birunya yang hampir keluar. "Dia... Sedang apa disini?"
Dengan langkah cepat, Bilton mengikuti orang itu ke dalam toko aksesoris.
...
"Yang mana ya...?" Telunjuk lentiknya Chely taruh di dagu, lavendernya berbinar melihat banyak sekali ikat rambut dihadapannya.
Ya, saat ini ia sedang ada di Tokyo Mall. Salah satu pusat belanja di Jepang. Tujuannya kesini tentu saja membeli ikat rambut. Yang dulunya di ambil Bilton, dan sekarang entah kemana. Ah! Memikirkan Bilton, Chely jadi ingat kejadian jum'at lalu, yang selalu membuatnya berdebar, juga ia lupa belum mengucapkan terima kasih.
"Yang ini saja..." Tangannya bergerak meraih ikat rambut yang tersusun rapi di rak.
"Jangan!"
"Eh?" Refleks Chely berbalik, lavendernya membulat. "Bilton-san?"
Disana. Dengan Alis tertekuk, juga sapphire yang melotot Bilton berdiri tiga langkah di belakang Chely.
Tap. Satu langkah.
"Sedang apa disini?"
"A-aku_"
Tap. Dua langkah.
"Ku tanya, kau sedang apa?"
"Aku se-seda_"
Tap. Satu langkah. Sekarang posisi Chely terhimpit oleh rak juga tubuh Bilton.
"Bi-Bilton-san?"
Bukannya menjawab, Bilton malah mengangkat sebelah alis pirangnya. Sapphire birunya meneliti penampilan Chely. Flat shoes putih berpita mungil menghiasi kaki Chely, dress merah muda tanpa lengan di atas lutut dihiasi bunga di dada kirinya, dan pita besar dipinggangnya, juga tas selempang putih.
'Cantik. Tapi_'
"Sedang apa disini?"
Sekarang giliran alis Chely yang menukik. Bukankah sudah jelas, jika orang ke mall sudah pasti mau belanja, dan Bilton malah tanya tujuannya. "Aku mau bel_"
"Seharusnya kau itu di rumah sakit, bukannya di mall."
"Huh?"
"Kau waktu jum'at sakit, kan?"
Chely mengangguk.
"Lalu sedang apa disini? Bukannya diam di rumah atau periksa kau malah belanja."
"Itu aku_"
"Ah, aku tahu. Sekarang mall itu rempat berobat, bukannya tempat belanja."
"Bukan beg_"
Tak!
"Ugghh..." Tangan Chely mengusap keningnya yang di sentil Bilton. Sudah cerewet, kasar lagi.
"Ku harap kau punya alasan yang logis datang kesini."
Bibir Chely mengerucut. "Ma-makanya dengar dulu."
Alis Bilton terangkat. "Hn?"
"Pertama-tama, a-arigatou karena telah menolong ku."
"Ya."
"Kedua, aku sudah periksa." Mana mungkin Nando Hyuu membiarkan aduk kesayangannya sakit. Waktu itu, pukul 10 malam, saat Nando dan Tetsu pulang lembur mereka langsung dikejutkan dengan laporan Hana, yang mengatakan bahwa Chely sakit. Langsung saja ia–Nando–menelepon Dokter pribadi kediaman Hyuu.
"Da-dan, yang ketiga... A-alasan ku disini. Adalah belanja."
"..."
Chely berkedip. Saat Bilton tidak meresponnya. Ia berbalik ke arah rak yang sempat ia belakangi, lavendernya kembali berbinar melihat ikat rambut berwarna ungu dengan pita diatasnya.
"Eh?"
"Jangan ambil." Tangan Bilton refleks memegang lengan Chely. Jadi posisi mereka terlihat seperti Bilton yang memeluknya dari belakang.
Chely berbalik, pegangannya terlepas. Ia mendongak. "Ke-kenapa sih?"
Bisa Bilton lihat si Bakpao berwajah jengkel. Tangannya terangkat mencubit pipi Chely. "Ku bilang jangan, ya jangan. Bakpao."
Chely merona. Cubitan pada pipinya terlepas. "Tapi aku mau beli."
'Keras kepala.' Simple, alasan Bilton tidak ingin Chely mengikat rambutnya hanya satu. Ia hanya tidak mau leher Chely yang terekspos di lihat orang lain
__ADS_1
"Haruskah aku membeli seluruh ikat rambut di mall ini? Agar kau tak bisa membelinya?"
"..." Chely berkedip. Untuk apa Bilton membeli seluruh ikat rambut? Apa ia akan memakainya? Pfftt.. Entah kenapa Chely merasa geli sendiri, membayangkan Bilton memakai ikat rambut.
Tak!
"Jangan berpikiran macam-macam."
Chely cemberut sambil mengusap keningnya.
"Bilton-san menyebalkan!"
Sapphire Bilton melotot. "Apa kata mu?! Berani kau bilang begitu?!"
Chely gelagapan, tak ia sangka bahwa Bilton akan marah. "Ma-maaf, habisnya sih... Bilton-san'kan orang yang mengambil ikat rambut ku_"
'Ah, benar juga.'
"–ja-jadi seharusnya sekarang tak melarang ku untuk membelinya. O-orang ini uang ku."
"Pokoknya tidak ya tidak!"
Pipi Chely menggembung, bibirnya mengerucut. "Su-sudah ah, aku mau pulang." Dengan sebal, ia berbalik.
Deg!
'Hinata tidak boleh pulang.'
"Tunggu." Bilton menarik lengan Chely.
"Huh?" Lavender Chely menatap lengannya yang di pegang Bilton.
"Sini dulu."
Chely menurut, ia mengikuti langkah kaki Bilton. Mereka mengitari rak, entah apa yang Bilton cari. Chely hanya menurut saja. Dan entah sadar atau tidak mereka masih berpegangan tangan.
"Nah, kau cocok memakai ini." Dengan semangat, dan perasaan senang–jika saja ia normal–Bilton mengambil jepit rambut berbentuk pita warna ungu. "Kemari." Ia menarik Chely, hingga kini posisi keduanya sangat dekat.
Chely memanas, pipinya juga merona. Entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat. Jujur ia senang Bilton berlaku manis padanya. 'Aku kenapa?'
Senyum di bibir tipisnya tak kunjung hilang, semakin dekat dengan si Bakpao, ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya, juga sensasi geli dan hangat yang selalu dirasakan Bilton saat dekat dengan Chely. 'Sial ada apa dengan ku? Perasaan apa ini?'
"Cantik." Meski itu gumaman, tapi Chely masih bisa mendengarnya. Pipinya makin merona jantungnya juga tak karuan.
"Sini." Kembali, Bilton menuntun Chely. Ia menarik si gadis menuju cermin yang di pajang di toko.
Mereka berdiri, dengan posisi Bilton di belakang dan Chely di depan. Sapphire dan lavender bertemu di cermin.
Bilton tersenyum tipis. "Aku lebih suka kau memakai ini."
"A-apa?"
"Tentu saja." Tangan Bilton terangkat, ia mencubit pipi tembam Chely. "Bakpao Baka."
Chely cemberut, tapi wajahnya masih saja merona. "A-aku tidak bodoh."
"Terserah kau, ayo kita pergi."
Chely berbalik. Ia memiringkan kepalanya. "E-eh, kemana?"
Tak!
"Ugghh..." Ini ketiga kalinya kening Chely di sentil oleh pemuda pirang yang selalu seenaknya. Jika saja Chely berani, ia juga ingin menjambak surai pirang Bilton. "Sa-sakit..."
Kedua bahunya di angkat. "Apa peduli ku."
Chely menggembungkan pipinya. "Ba-bagaimana jika nanti kening ku bengkak."
"Mana bisa, aku hanya menyentilnya. Bukan meninjunya."
"Ta-tapi sama saja..."
"Ayo bayar." Kembali, Bilton mengamit jemari Chely.
Senyum manis Chely mengembang, entah kemana kekesalannya yang tadi. Sekarang ia merasa senang, hatinya hangat sama seperti yang Bilton rasakan. Perlahan, Chely membalas tautan jemari Bilton.
Bilton menoleh, ia tersenyum tipis. Hatinya makin menghangat saja. 'Perasaan apa ini?'
...
Risih. Itu yang dirasakan Chely, semenjak keluar dari toko aksesoris, Chely terus saja mendapat pandangan dari orang-orang yang berada di mall.
Bilton juga risih, entah kenapa ia dan Chely terus dipandangi.
"Kau kenapa, Chely?"
Chely?
Ia rasa ini ketiga kalinya Bilton memanggil namanya dengan benar. Secara, Bilton selalu memanggilnya Bakpao. "U-um... Aku tidak apa-apa. Hanya saja a-aku risih dipandangi orang-orang."
"Pasti gara-gara itu."
Chely menoleh. "I...tu?"
Kepala pirangnya mengangguk. "Pasti karena pipi mu yang bulat itu. Sehingga menjadikan mu pusat perhatian."
"Ma-mana bisa lagi pula, pipi ku normal-normal saja."
"Menurut ku, pipi mu jauh dari kata normal."
Lagi, pipi Chely menggembung. Bilton yang melihatnya tersenyum tipis.
"Eh aku lupa."
Chely berkedip. "Apa?"
Si pirang mendekat, ia memegang lengan kanan Chely. Ditariklah tubuh mungil Chely mendekat.
Jantung Chely berdetak tak karuan. Saat Bilton menarik tubuhnya mendekat. Rasa hangat menjalar dihatinya, ini memang perasaan yang selalu Chely rasakan akhir-akhir ini saat dekat dengan Bilton. Sampai sekarangpun, Chely masih bingung dengan perasaan ini.
Makin paniklah ia kala wajah Bilton mendekat, mana ini di mall lagi!
Wajah tannya mendekat, tangan kanannya terangkat guna menyingkirkan poni Chely yang menutupi keningnya. Kening mereka berdua beradu, karena ulah Bilton.
Chely sendiri wajahnya sudah memerah.
Sapphire bertemu lavender. "Demam mu sudah turun. Syukurlah." Bilton menjauhkan keningnya, ia merapikan poni Chely. "Aku takut kau sakit lagi."
"..." Chely berkedip. Jantungnya tambah tak karuan melihat Bilton peduli padanya.
"Jangan sakit lagi ya." Seperti biasa, si pirang mencubit pipi tembam Chely.
Chely cemberut.
"Ayo temani aku."
"E-eh, kemana?"
Tanpa mempedulikan pekikan Chely karena tangannya di tarik sembarangan, Bilton melangkah dengan santai. "Kan tadi aku sudah menemani mu."
"Si-siapa yang minta ditemani? Aku tidak minta ditemani." Langkahnya beriringan dengan pemuda disampingnya.
"Jangan malu-malu tapi mau." Bilton tersenyum miring.
"A-aku tidak begitu!"
"Hn."
Chely menoleh. "Temani kemana?"
Sudut bibirnya tertarik. "Hotel."
"Bi-Bilton-san!"
"Tadinya sih, tapi aku sekarang mau cari headphone."
Chely mengangguk. Lavendernya menatap orang-orang yang berada di mall. Ada yang pilih baju, belanja, jalan-jalan atau bahkan kencan.
"Chely?"
"Ya?"
Bilton menoleh. Tangan mereka masih saling menggenggam. "Kau hanya mau beli ikat rambut saja ke mall."
"U-um... Itu, sebenarnya a-aku mau beli baju. Tapi ternyata sudah ada yang beli."
"Hn."
...
"Astaga! Kemana anak itu?!" Cengkraman pada tali paper bag mengerat, manik violet Kushi menyusuri setiap sudut mall. Di tengah ramainya mall, mana mungkin dia menemukan putra pirangnya itu.
"Dasar! Udah ngikut, dia malah menghilang."
"Jika ketemu... Awas kau..."
...
"Kau hanya mau beli itu?" Sapphire biru Bilton melirik jepit rambut yang di pakai Chely.
"I-iya. Arigatou."
"Hn."
Bilton sendiri sudah mendapat apa yang ia mau. Headphone hitam yang sekarang dibawanya dengan paper bag sedang.
"Disini rupanya kau bocah..."
Deg!
"Kaa-chan...?"
'Astaga! Bagaimana aku bisa melupakan Kaa-chan? Apa karena aku terlalu senang jalan dengan si Bakpao?'
Tap... Tap... Tap...
Dapat Bilton dengar, setiap langkah Kushi memendam emosi padanya. Apa Kaa-chan mencari ku dari tadi? Pikirnya.
Sampailah Kushi di depan Bilton. "Kemana saja kau bocah?!" Jika saja tangannya tak penuh dengan belanjaan, ingin sekali Kushi menjewer telinga putranya.
"Aku habis beli headphone."
"Sampai 3 jam?!"
'3 jam?! Astaga!'
"Kaa-chan juga belanja lama sekali."
"Kau?! Berani melawan Kaa-chan?!"
"A-ano_"
Sapphire dan violet yang tadinya bertatapan, sekarang mengalihkan pandangannya pada sosok mungil di samping Bilton.
Tatapan Kushi yang tadinya tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya, sekarang melembut menatap Chely. "Kyyyaaa Chely-chan!" Pekiknya, dengan tak sabaran Kushi memberikan enam paper bagnya pada Bilton.
"Astaga, Kaa-chan." Jika saja refleks Bilton tidak bagus. Sudah pasti ia akan jatuh ke belakang dengan paper bag Ibunya.
Tanpa mengindahkan semburan Bilton. Kushi mendekat ke arah Chely.
Grep.
Ia memeluk si gadis erat, seperti Chely akan hilang saat itu.
Chely berkedip, lavendernya menatap Bilton. Bisa dilihatnya kepala pirang Bilton mengangguk, mengisyaratkannya untuk balas memeluk Kushi.
Chely tersenyum, ia angkat kedua tangannya memeluk Kushi. Lavendernya terpejam. Chely merindukan pelukan seorang Ibu.
Bilton berkedip, bibirnya tersenyum tipis. 'Kenapa kau sangat senang sekali di peluk Kaa-chan?'
Pelukkan Kushi terlepas, sekarang digantikan dengan genggaman dikedua tangan Chely. "Apa kabar Chely-chan?"
Chely tersenyum manis. "Baik, Ba-san sendiri?"
'Bahkan bicaranya tidak gagap. Apa aku begitu mengerikan? Sehingga dia gagap didepanku?'
"Ba-san juga baik. Tapi... Semenjak Chely-chan tidak pernah main lagi, Ba-chan kesepian." Wajah Kushi berubah murung.
Bilton memutar bola mata bosan. 'Mulai deh.'
"E-eh? Begitukah? Maafkan aku Ba-san."
"Iya... Tidak apa-apa, lagi pula Chely-chan sudah dengan Ba-chan sekarang."
"U-um..." Kepala indigo Chely mengangguk lucu.
"Kyyyaaa lucunya!" Tanpa bisa di tahan, tangan Kushi mencubit pipi Chely gemas.
Bilton tersenyum tipis. 'Pasti pipi si Bakpao akan kempes, karena kebanyakan di cubit.'
"Chely-chan sudah makan?"
"Belum."
"Kita makan yuk? Inikan sudah masuk jam makan siang."
"Iya Ba-san."
Kushi menggandeng lengan Chely. "Ayo, kita cari restoran disini."
"Hai."
Tangan kanan yang tak menggandeng lengan Chely, digunakan Kushi untuk menepuk keningnya. "Astaga!" Kepalanya menoleh ke belakang. "Aku lupa, ayo Bil-chan. Jangan lupa bawa belanjaan Kaa-chan!"
Bilton mendengus. 'Jika dengan Chely, dia selalu lupa siapa anaknya.'
"Hn."
Chely sendiri berusaha menahan tawanya, bisa dibayangkan betapa menariknya wajah jengkel Bilton Nami, orang yang selalu cool terus out of character itu memang menarik.
'Awas kau Chely...' Jangan di sangka Bilton tidak tahu, bahwa Chely ingin menertawakannya.
...
Makan siang kali ini adalah makan siang paling menyenangkan menurut Chely, ia bahagia. Sudah 12 tahun ia ditinggalkan Ibunya, dan baru sekarang ia merasakan kehangatan dari seorang Ibu.
Kushi Nami, Ibu dari Bilton Nami–ketua X5, jenius, kapten basket, jutek, cuek, menyebalkan, dan dingin–adalah orang yang sangat berbeda dengan putranya. Ia orang yang ceria, hangat, dan pengertian.
Lagi–Chely tertawa kecil. Saat mendengar Kushi menceritakan masa kecil Bilton.
"Iya Chely-chan, Bil-chan sangat manja. Dia tidak mau masuk kamar mandi kecuali ada yang mengantarnya."
"Be-begitukah?"
"Bil-chan juga sangat suka memeluk boneka Tedy Bearnya, andaikan Chely-chan melihatnya. Dia sangat imut lho..." Manik violet Kushi berbinar.
Chely berkedip, kemudian ia tertawa kecil. Membayangkan Bilton Nami seorang yang berwajah cool, dingin, jutek, dan cuek tidak berani ke kamar mandi dan selalu memeluk boneka Tedy Bear. "Ba-san benar, pasti Bilton-san lucu sekali."
Keduanya tertawa bersama.
Twich, entah sudah berapa perempatan yang hinggap di kening Bilton. Ibunya, Kushi Nami. Tega pada putra tunggalnya. Masa iya Ibunya membuka aib Bilton yang notabene anak satu-satunya.
Ia menarik nafas dalam-dalam, entah kenapa jantungnya bergemuruh ada perasaan tidak suka saat Ibunya menjelek-jelekkannya di depan Chely.
Bilton mengangkat kepala pirangnya, ia sudah menyiapkan semburan pedas bagi kedua orang yang telah tega padanya.
Deg!
Jantungnya berpacu cepat, rasa marah dan kesalnya menguap. Ia juga tidak tahu kemana kedua perasaan aneh itu. Yang Bilton tahu, sekarang jantungnya berdetak cepat, ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya, ia suka perasaan ini. Dan perasaan ini muncul setiap ada Chely, gadis berpipi tembam yang selalu ia panggil Bakpao. Apa lagi sekarang, Bilton melihat Chely tertawa lepas dengan Ibunya. Ia tertegun, belum pernah melihat Chely tertawa seperti ini.
Tanpa sadar Bilton tersenyum. 'Cantik.'
"Eh, aku lupa!" Pekikkan Kushi menyadarkan Bilton.
"Apa? Belanjaan Kaa-chan? Kan sudah ku bawa." Sapphirenya melirik malas ke arah enam paper bag Kushi yang di taruh di samping kursinya. Tentu, di samping Bilton. Sedangkan Kushi sendiri duduk berdampingan dengan Chely.
Kepala Kushi menggeleng. "Bukan itu."
Bilton menghela nafas, ia menyeruput orange jusnya. "Lalu?"
"Kalian pacaran?"
"Uhuk... Uhuk..." Batuk itu berasal dari Bilton dan Chely. Bilton karena orange jusnya dan Chely karena jus anggurnya.
"E-eh, Chely-chan tidak apa-apa?"
Chely menggeleng. "Tidak apa, Ba-san." Lavendernya menatap Bilton yang kepayahan karena tersedak orange jus.
"Kalian ini kenapa sih?" Kushi menatap bergantian kedua orang ini.
"Kaa-chan kenapa bertanya seperti itu?"
"Yahh... Kan Kaa-chan hanya tanya, siapa tahu Kaa-chan benar, kan?"
"Ehem!" Bilton berdehem ringan, ia sedang menyembunyikan rasa gugupnya. "Menurut Kaa-chan?"
1
2
__ADS_1
3
"Kyyyaaa..." Dan teriakkanpun memenuhi setiap sudut restoran. "Ya ampun? Kami-sama, Chely-chan akan jadi menantu ku!" Kushi menarik Chely kepelukkannya.
Chely tersenyum kikuk. Ia menatap sapphire Bilton, yang di tatap hanya cuek-cuek saja. 'Apa yang Bilton-san katakan?'
"Chely-chan harus sering ke rumah Ba-chan ya?"
Chely tersenyum.
'Dia memang akan ke rumah kita Kaa-chan. Dan kupastikan akan menjadi Nyonya Nami.' Dalam hati Bilton menyeringai.
.
.
Bilton menghela nafas, entah kemana perhatian Ibunya saat ini. Ia–Kushi–malah asyik dengan Chely.
Kedua orang yang sangat kontras dengan perbedaan rambut itu, malah seenaknya menyuruhnya menjadi supir. Tidak! Bukan keduanya, tapi Kushi lah yang meyuruhnya.
Sapphire biru Bilton melirik spion depan. Chely. Gadis Bakpao yang selalu gagap, pemalu, itu sedang tertawa bersama Ibunya di kursi belakang.
Iya, Chely memang di ajak pulang bersama oleh Kushi. Awalnya Chely memang menolak, tapi mau bagaimana lagi. Ia–Chely–gadis lembut tidak tega melihat tatapan memelas Kushi. Jadilah Chely disini. Duduk di kursi belakang mobil merah Kushi.
Tanpa sengaja, sapphire dan lavender bertemu di kaca spion.
Chely tersenyum manis.
Tanpa bisa di tahan Bilton juga melakukan hal yang sama. Ia tersenyum tulus. Hatinya tenang dan ringan. Ini pertama kalinya ia merasakannya. 'Kenapa dengan ku?'
Bilton menunduk, ia sedang membuka paper bag berisi headphone barunya.
"Hey! Bocah!" Satu kacang didapatkan Bilton.
Ia mengangkat kepala, menatap Kushi dari kaca spion. "Apa lagi?" Dilihatnya Kushi sedang memakan satu bungkus kacang.
Kembali satu kacang yang dilemparkan Kushi mendarat manis dikepalanya. "Jangan dengarkan lagu saat menyetir, kau mau tidak fokus hah? Astaga Bil-chan kemana otak jenius mu. "
"Hn." Dengan ogah-ogahan Bilton kembali menaruh paper bag di kursi samping kemudi.
.
.
.
.
Pria berambut abu-abu menghela nafas, sudah lebih dari 10 menit ruang kerjanya hening, bagaikan tak berpenghuni sama sekali. Padahal didepannya ada pasien tetapnya yang sudah Rekson urus selama 2 tahun. Jika saja ia tidak mengerti bagaimana keadaan pasiennya, ingin sekali ia marah. Tapi, percuma saja marah, pasti pasiennya akan berkata_
"Kau kenapa?"
Atau
"Kenapa Rekson-san membentak ku?"
Mending kalau di jawab, kalau tatapan datar yang diberikan, makin malaslah Rekson.
Rekson menarik nafas dalam-dalam ia sedang menenangkan emosinya, tangan yang tadinya memijat pangkal hidung sekarang diletakkan pada lengan kursi. Onyxnya menatap sapphire Bilton. "Masih butuh bantuan, eh?" Senyum sinis tersungging dibibirnya.
Wajah datar masih Bilton perlihatkan. 'Sinis sekali.' Iya Bilton mengerti, pasti Rekson marah padanya. Ia sudah melupakan Dokternya semala 3 bulan ini. Bulan kemarin saat akan menemui Rekson, malah Kuroko yang datang. Katanya Rekson masih di Osaka. "Sudah liburannya, eh?"
Astaga, anak ini!
Jika saja tidak ingat amanat Kishimoto, ingin sekali Rekson menjitak kepala Bilton. "Aku bukan sekedar liburan."
"Lalu?"
Posisi badannya di kursi agak di buat nyaman. "Aku menghadiri pertemuan penting. Bukannya melupakan seseorang yang sudah membantu ku selama 2 tahun ini." Rekson menatap sinis pemuda pirang dihadapannya.
Bilton memutar bola mata bosan. "Aku tidak melupakan mu."
"Ck." Sudah datar, tidak berperasaan, lidah beracun, itulah Bilton Nami. "Lalu, 2 bulan terakhir kau kemana?"
"Oh, itu."
Itu?!
Astaga! Rekson sangat khawatir, ia kira Bilton berobat ke luar negeri.
"Itu? Apa maksud mu."
"Malas."
Tidak sopan.
Menyebalkan.
Dasar bebal!
"Terserah. Lalu, kau mau apa kemari?"
"Aku mau berobat."
Kembali Rekson berdecak. "Aku tahu." Sepertinya ia harus mengalah, jika tidak. Perdebatan ini tak akan selesai. "Apa ada perkembangan?"
Bilton menghela nafas. "Sebenarnya, aku ragu mengatakannya."
"Katakan." Rekson lebih mendekat ke arah Bilton, ia menatap sapphire si pirang dengan alis menukik.
"Sebenarnya... Aku merasa aneh akhir-akhir ini."
"Aneh? Aneh bagaimana?" Jujur, Rekson makin tak sabaran mendengar pengakuan pasiennya.
"Kadang-kadang, jantung ku berdetak cepat, dan aku merasa tenang. Ada juga saat jantung ku lemas dan membuat aku tidak betah dalam keadaan itu. Pernah bahkan sering aku merasa hati ku seperti di remas oleh tangan yang tak kasat mata. Aku juga selalu ingin tersenyum atau bahkan tertawa, dan yang lebih gila aku tidak mau jika dihindari."
Rekson tertegun mendengar pengakuan Bilton. Selama 2 tahun ia menangani alexithymia Bilton. Si pirang jika di tanya apa yang dirasakannya selalu menjawab_
"Aku tidak merasakan apapun."
Atau
"Aku tidak peduli."
"Aku tidak tahu."
Dan yang paling parah_
"Aku tidak mau tahu."
Tapi ini! Apa yang dikatakan Bilton! Apa ini tandanya ia akan sembuh? Dengan senang hati Rekson akan menjawab IYA!
"Perasaan mu telah kembali."
"Apa?!" Bagaikan mendapat lotre 10 juta Yen, Bilton melotot.
"Ya, aku yakin perasaan mu telah kembali."
Perasaan ini...
Perasaan ini...
Jantung yang berdetak cepat, juga tarikkan dibibirnya yang tak bisa ia cegah, membuatnya tersenyum bahagia. Kali ini! Untuk pertama kalinya, tanpa si Bakpao Bilton tersenyum.
"Apa... Benar?"
"Tentu. Aku sangat yakin." Rekson juga ikut tersenyum. "Pasti kau masih bingung, kan?"
Bilton mengangguk.
"Tak apa, lambat laun. Kau akan mengerti." Ia beranjak dari duduknya. "Aku juga punya berita bagus untuk mu." Rekson melangkah menuju rak buku di samping.
"Apa itu?"
Tanpa menoleh ke arah Bilton, Rekson menjawab. "Aku di Osaka bukan sekedar liburan."
Bilton berdecak. "Lalu?"
Rekson berbalik, ia duduk kembali dikursinya. "Ini." Ia meletakkan buku berwarna coklat berukuran sedang di meja.
"Ini buku."
"Aku tahu."
"Apa gunanya buku ini?"
Anak ini!
"Aku ada pertemuan dengan Dokter-Dokter handal di Osaka. Saat itu aku membahas alexithymia."
"Apa?!"
"Bisakah kau tidak teriak?!" Rekson menutup ke dua telinganya.
"Hn. Maaf."
Ternyata masih saja dingin, pikirnya.
"Begini, waktu di Osaka. Hesse, asisten profesor komunikasi di College MU Seni dan Sains, aku bertemu dengannya. Aku bertanya tentang alexithymia, tanpa disangka, ia mendapatkan obatnya. Tapi, aku sedikit ragu apa kau bisa menemukannya atau tidak."
"Apa maksud mu?"
"Alexithyimia bisa disembuhkan tanpa obat. Dangan kata lain, penyakit itu dapat disembuhkan dengan menyentuh atau memeluk dapat meringankan atau menyembuhkan ."
Bungkam.
Bilton tidak tahu harus berkata apa.
Sapphirenya melirik buku bersampul coklat di meja.
...
Menengahi Sayang Dampak Alexythymia Pada Hubungan
...
Baka! Baka! Baka!
Kenapa ia tidak sadar dengan judul bukunya, itu bermaksud bahwa kasih sayang berdampak pada penyakitnya.
"Aku mendapatkannya dari dia, itu buku terbitannya dan temannya."
"..."
Rekson mengerti, pasti Bilton bingung.
"Bilton?"
"Hn?" Sapphire biru Bilton menatap Rekson.
"Apa kau pernah di sentuh seseorang? Atau bahkan di peluk?"
"..."
"Aku yakin kau merasakan perasaan bukan kepada Kishimoto-san, Kushi-san, atau bahkan dengan kawan mu."
"..."
"Apa kau jatuh cinta? Dan punya orang yang kau suka?"
.
.
Bilton's POV
Blam!
Aku tidak peduli jika pintu mobil sport ku rusak. Segera saja aku duduk di kursi kemudi. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah tenang.
Tenang.
Dan tenang.
Ya, aku butuh itu.
Jujur, aku terkejut dan juga senang. Senang? Ya, sekarang aku tahu apa itu senang.
Mungkin ini berita bagus untuk Kaa-chan dan Touchan, jangan lupakan X5 sahabat ku yang paling hebat.
'Apa kau jatuh cinta? Dan punya orang yang kau suka?'
Sepuluh kata yang diucapkan Rekson-san selalu terngiang-ngiang dikepalaku.
Jatuh cinta?
Apa iya?
'Aku yakin kau merasakan perasaan bukan kepada Kishimotk-san, Kushi-san, atau bahkan dengan kawan mu.'
Rekson-san benar, aku tidak merasakannya pada Kaa-chan ataupun Touchan, yang paling parah pada sahabat ku. No! No! No!
Lalu pada siapa?
Perkiraan ku hanya dia.
Chely Hyuu.
Gadis berpipi Bakpao yang selalu ku goda.
Jantung ini selalu berdetak cepat saat dengannya juga hati ku yang merasa tenang. Kata Rekson-san itu nyaman dan gugup.
Jangan lupakan aku yang selalu tersenyum walau tipis atau bahkan rasa ingin tertawa. Katanya itu rasa senang yang kita rasakan.
Aku tidak ingin dihindari dalam kata lain, tidak ingin dia pergi. Itu posesif.
Tapi saat jantung ku lemas dan membuat ku tidak betah saat Chely jauh dari ku atau memuji orang lain, hati ku selalu panas. Oh ya, ada lagi, bahkan sering aku merasa hati ku seperti di remas oleh tangan yang tak kasat mata. Sial, saat ku tanya itu perasaan apa. Rekson-san malah menyeringai, dan menyuruh ku cari tahu sendiri.
Dasar mata empat!
Tapi, aku ragu. Apa ia akan punya perasaan yang sama seperti ku? Sikap ku selama ini tidak baik padanya.
"Ck." Aku berdecak, sungguh aku kesal. Kesal? Ya aku tahu apa itu kesal. Rasa di saat kita tidak mendapat apa yang kita inginkan tapi masih jauh dari kata marah. Itu juga kata Rekson-san dulu. Tapi sekarang aku marasakannya.
Tunggu? Kesal?
Apa jantung lemas, hati di remas, tidak betah, apa itu kesal?
Kepala ku menggeleng. Bukan! Itu bukan kesal! Lalu apa?!
"Shit! Baka!" Aku mengacak surai pirang ku.
Lalu ada lagi.
Perasaan aku yang selalu ingin bertemu dengannya,apa itu?
Jantung berdebar saat ia sakit.
Sial! Kenapa aku lupa menanyakannya. Mungkin aku terlalu syok atas kabar gembira yang Rekson-san sampaikan.
"Aku bingung..." Keluh ku sambil memukul setir mobil.
Kembali, aku mengingat wajah Chely. Gadis yang baru beberapa jam aku temui dan ku antar pulang.
Ya, sesudah dari mall dan mengantar Chely, aku langsung menerima telepon dari Kuroko-san, yang mengatakan bahwa anaknya–Rekson-san–sudah pulang.
Tanpa mengganti baju aku langsung menuju kediamannya, tentunya setelah mengantarkan Kaa-chan dan ganti mobil.
Tanpa disanga.
Aku menerima kabar gembira.
Ya, aku sembuh.
Meski aku masih bingung.
"Aku harap perasaan kita sama Chely, dan terima kasih telah membuat ku sembuh." Aku tersenyum, meski Chely tidak ada didepanku.
Ah, aku jadi ingin segera besok dan bertemu dengannya.
Eh, ada lagi. Kata Rekskn-san, sikap dingin ku diperkirakan sulit atau bahkan tidak akan hilang, karena sudah 2 tahun ini aku bersikap dingin.
Tapi tak apa, punya perasaan saja aku sudah senang.
"Aku harus menemuinya." Ya, agar tidak bingung. Aku harus menemui 'dia' orang yang sangat bisa membantu ku.
Segera saja aku menghidupkan mesin mobil ku dan tancap gas.
Bilton's POV End
.
.
.
.
To Be Continued
__ADS_1
A/N
Maaafff author lambat😟😟