Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode 10


__ADS_3

.


.


.


"Aku minta nomor ponsel mu."


"..." Chely berkedip. Apa... Ia tidak salah dengar, Bilton Nami orang yang dingin, jutek, dan... Cuek, minta nomor ponselnya?


"Bakpao?"


"Ha-hai? U-untuk apa nomor ponsel ku?"


Bilton berdecak. "Tentunya bukan untuk menagih hutang, kan?" Ia mengucapkannya sedikit jengkel. Entah kenapa... Bilton jadi salah tingkah.


Kembali, manik lavender dengan bulu mata lentik milik sang gadis berkedip. Pipinya menggembung. "A-aku tidak punya hutang pada Nami-san."


Tuh, kan! Terlalu polos!


"Biar nanti aku mengajak mu latihan, mudah menghubungi."


Senyum Chely mengembang, saat mendengar alasan logis pemuda yang meminta nomor ponselnya. "Kenapa tidak bilang dari tadi." Ia mengambil ponsel silver yang sudah disodorkan Bilton.


"..."


"Ini." Ucapnya setelah selesai mengetikkan nomor ponselnya.


"Hn." Gumaman tidak jelas itu sebenarnya penuh makna. Dalam kata lain ia sedang menyembunyikan senyuman tertahannya. Entah kenapa Chely selalu saja ingin tersenyum saat dekat dengan gadis 'bakpao'.


'Kenapa dengan perasaan ku?'


"Oh, ya. A-aku duluan ya? Jaa..." Chely berlalu meninggalkan Bilton yang sedang menenangkan detak jantungnya.


Hening.


Hanya suara angin yang berhembus dari jendela terbuka dari belakang tubuh Bilton.


"Ck, aku benar-benar sudah gila?" Umpatnya seraya mengacak surai pirangnya.


Siapa yang tidak akan merasa gila, jika ia tidak punya perasaan. Dan sekalinya ia merasakan perasaan kebingungan.


.


.


.


Jujur saja, bibir tipisnya masih saja melengkung sejak ia turun dari mobil. Perutnya seperti ada yang menggelitik, sehingga ia—Bilton–selalu saja merasa geli. Tangan tannya memegang permukaan baju bagian dada kirinya untuk merasakan jantung yang berpacu dua kali lebih cepat.


'Kuso, kenapa dengan ku? Si Bakpao selalu saja membawa dampak buruk pada jantung ku.'


"Kau kenapa Bil-chan?"


"Astaga. Kaa-chan sedang apa?" Seketika fantasy tentang gadis Hyuu yang Bilton bayangkan sirna. Digantikan dengan ekspresi kaget, tepatnya saat ia melihat wajah Kushi hanya berjarak 10 cm dari wajahnya.


Kushi memundurkan wajahnya. "Tidak. Hanya mengecek keadaan mu saja." Itu memang tujuannya. Sebenarnya ia sangat khawatir, melihat putranya yang nampak seperti orang... Bodoh, berdiri di pintu utama dengan alis mengernyit, dan kadang tersenyum, juga tangannya yang mencengkram dada kirinya. Kushi hanya khawatir penyakit Bilton akan kambuh.


"Lho, aku kenapa?"


Kushi berdecak. "Kau ini... Tadi, Bil-chan aneh, kadang tersenyum, mengernyitkan alis, dan memegang dada kiri. Apa kambuh?"


"Bukan." Bilton menggeleng.


"Lalu?"


"Ada deh."


Dan_


Cup.


Ia malah mengecup pipi sang Ibu.


"Tadaima."


Wanita cantik itu tersenyum. "Okaeri."


Bilton melangkah menuju ruang makan. Ia membuka lemari es lalu mengambil orange jus favoritnya. "Tou-chan belum pulang?" Bilton menoleh ke arah sang Ibu yang sedang memakan cookies yang baru dibuatnya.


"Belum. Lagi pula masih 2 jam lebih lagi untuk pulang."


Bilton menganguk. "Hn. Aku ke kamar dulu."


"Ya."


"..."


"Aku tidak yakin dia baik-baik saja." Manik violetnya menatap punggung Bilton yang menaiki tangga.


.


.


.


"Karena besok tidak ada tugas, lebih baik aku latihan saja." Chely mengambil ponsel yang ia taruh di ranjang. Jemarinya mengklik salah satu aplikasi yang menyimpan lirik lagu duetnya bersama Bilton.


Gadis bersurai indigo itu tengkurap di ranjang. Alisnya mengernyit. "Lagunya... Romantis?"


Pikirannya nenerawang. "Kenapa romantis? Ku kira lagunya akan yang galau." Ia terkikik geli, iya... Awalnya Chely tidak percaya dengan lagu yang bisa dikatakan romantis yang akan dinyanyikannya. Mengingat ekspresi datar Bilton.


"Nanti... Ekspresi Nami-san akan seperti apa ya?"


"Ekspresinya harus seperti jatuh cinta." Kepala indigonya mengangguk. " Ya. Jatuh cinta." Wajahnya tanpa sadar memanas.


"Aaa... Entah kenapa aku jadi malu." Tangan putihnya menutup wajah memerahnya. "Ja-jatuh cinta pada Nami-san ya...?" Untuk menghilangkan rasa malunya, Chely lebih memilih berguling-guling di atas ranjang.


"Tapi i-inikan akting. Umm... Hanya akting." Ia menghentikan acara bergulingnya. Sekarang, tubuh mungilnya terlentang.


Drrrttt... Drrrttt...


"Eh?" Ia kembali keposisi awal—tengkurap–tangannya mengambil ponsel berwarna putih.


"Pesan? Tapi... Dari siapa?"


From: +81-520-xxx-xx


To: Me


Ini nomor ponsel ku.


Singkat, padat, dan... Tidak jelas. Alis Hinata mengernyit. "Siapapun akan tahu jika pesan di kirim dengan nomor ponsel. Ta-tapi... 'Ku' itu siapa?"


From: Me


To: +81-645-xxx-xx


Maaf, tapi ini siapa?


Send


"Mungkin orang iseng."


.


.


.


From: Me


To: Bakpao


Maaf, tapi ini siapa?


Pemuda yang mendapatkan pesan hanya menghela nafas.


To: Bakpao


From: Me


Naruto Namikaze. Dasar! Bakpao pelupa.


Send


Manik sapphirenya tak henti-henti menatap ponsel digenggaman. Bukannya menunjukan akan adanya tanda pesan masuk, ia malah melihat jam digital dengan angka 20.43.


Bilton berdecak. "Apa ia sudah tidur?" Kepalanya menggeleng. "Tidak mungkin."


Padahal ini sudah lewat 3 menit saat ia mengirim pesan pada Chely, tapi tak kunjung ada balasan juga. Tapi, saat ia mengirim pesan pertama langsung di balas, nah! Ini! "Apa dia takut pada ku?"


"Kuso!" Ia mengacak surai pirangnya. Bilton akui, sebulan saling kenal dengan gadis Hyuu itu sangat tidak berkesan dengan baik. Mulai dari Bilton yang selalu menggodanya bahkan sampai memberikan julukan Bakpao.


"Ck. Maunya apa sih?" Dengan tak sabaran ia menekan tombol call.


Bakpao calling.


Tut... Tut... Tut...


"Mo-moshi-moshi." Suara Chely terdengar gugup.


"Kenapa tidak kau balas pesan ku, hah?


"Nami-san?"


"Hn?" Bilton tersenyum tipis membayangkan ekspresi kaget Chely. Aaa... Pasti lucu.


'Apa yang ku pikirkan!' Kepalanya menggeleng.


"Aku ta-tadi dari kamar mandi, dan tahunya ponsel ku be-berbunyi."


"Hn." Entah apa yang ia rasakan, tapi... Bilton merasa lega, mendengar jawaban jujur dari bibir mungil Chely.

__ADS_1


"Ma-mau apa?"


Bilton berdecak. "Tsch, terserah ku lah." Entah kenapa ia ingin berlama-lama mendengar suara lembut si gadis Bakpao.


"Umm..."


"..."


"..."


"Kau masih disana?"


"Ha-hai."


"Besok kita latihan."


"Hai. Tapi diman_"


Klik.


Kembali ia tersenyum tipis, saat memikirkan ekspresi gadis berpipi tembam yang ia putuskan begitu saja teleponnya. "Pasti pipinya menggembung." Alisnya mengernyit. "Kuso! Kenapa aku memikirkannya. Dia itu merepotkan."


Tapi, dalam pikirannya yang terdalam Bilton selalu memikirkan Chely. "Ah... Kau menyebalkan." Ia berbaring di kasur king sizenya. "Kenapa kau selalu menghantui ku, Bakpao? Dan kenapa dengan jantung dan perasaan hangat ini? Ini sangat merepotkan... Tapi ini sangat lebih baik dari pada alexithymia."


Sebelah lengannya ia gunakan untuk menutup sapphire birunya. "Aku ingin punya perasaan. Apa... Itu sulit?"


.


.


.


.


"Bagaimana? Kau sudah dapat lagunya Pig?"


Indah menghela nafas. "Belum... Rio-kun malah cuek-cuek saja..." Gadis berambut pirang yang duduk di samping Chely menenggelamkan wajah cantiknya pada lipatan tangan.


Seperti biasa, pagi ini Chely dan ke tiga sahabatnya; Indah, Wulan, dan Tena. Berkumpul di bangku Chely. Mumpung teman sebangku si indigo belum datang.


Wulan yang selalu nampak ceria juga memasang wajah menyedihkan. "Huwaaa..." Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku juga sama Pig! Aron-kun itu memang tampan. Tapi sifat cueknya itu lho..."


Indah yang masih membenamkan wajahnya mengangguk. "Apa lagi Rii-kun, ia hanya bisa tersenyum aneh."


"Masih mending kalian. Nah, aku?" Wulan yang menutup wajahnya kini membuka tangannya dan menoleh ke arah Tena. Begitupun dengan Indah yang langsung mendudukan tubuhnya dengan tegak, dan memandang Tena yang bermuka masam dengan antusias. Nah, kalau Chely, dia hanya menatap Tena dengan berkedip polos.


"Memang kenapa Tena-chan?" Indah yang tadinya lesu sekarang jadi antusias.


Wulan mengerling jahil. "Aaa... Pasti Tena-chan akan menyanyikan lagu romantis dengan Lee."


"Pfffttt... Apa benar?" Gadis berambut pirang itu membekap mulutnya yang akan mengeluarkan tawa.


"Eh–romantis?" Sekarang Chely yang buka suara.


Tena menghela nafas. "Jangan menyimpulkan seenaknya." Tiga kepala dengan warna merah muda, pirang pucat, dan indigo itu mengangguk. "Dia... Menyarankan lagu L'arc-en-Ciel – Finale."


Hening.


"Pfffttt..." Tawa Indah dan Wulan pecah. Di susul dengan tawa renyah Chely seraya menutup mulutnya. Tena? Jangan ditanya, ia sekarang sedang kesal, sudah ia duga, ini reaksi yang akan diberikan sahabatnya.


"Diamlah kalian!" Tena merajuk, ia membuang muka ke arah jendela.


"Ma-maaf... Ma-maaf..." Sambil meyeka air matanya, Chely meminta maaf.


"Pfffttt... Maafkan kami Tena-chan." Sebenarnya Indah masih ingin tertawa, terbukti dari tangannya yang masih memegang perutnya.


"Apa benar Lee mengajak mu menyanyikan lagu itu?" Wulan sebenarnya sudah tahu Lee itu konyol. Tapi, masa iya Lee menyuruh Tena menyanyikan lagu L'arc-en-Ciel – Finale yang notabene salah satu lagu film horor.


Tena mengangguk lesu. "Iya, dia sama saja mempermalukan ku."


"Oke.. Oke... Ternyata ada yang lebih baik dari kita Forhead."


Kepala merah muda Wulan mengangguk. "Bagaimana dengan Chely-chan?"


"E–eh?"


"Ya, ya, ya? Bagaimana Chely-chan?" Indah menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang di sangga dengan siku di meja.


'Itu pose kalau Indah-chan kepo.' Batin Chely.


"Iya, bagaimana Chely-chan?" Rupanya, Tena yang juga sudah selesai acara merajuknya, mengajukan pertanyaan yang sama dengan Indah dan Wulan.


Gadis Hyuu yang dipandangi ke tiga sahabatnya hanya menelan ludah susah payah. "A-ano e-eto, lagunya sudah dapat."


"Kyyyaaa lagu ap_?"


"Urusai Pig!" Dengan sigap, Wulan menutup mulut Indah.


"Lepas! Forhead!" Dilepaskanlah bekapan pada mulutnya.


"Lagu apa Chely-chan?


"Lagunya rahasia."


"Yahhh..." Indah, Wulan, dan Tena tambah berwajah menyedihkan.


"Kyyyaaa Bilton-kun!"


"Aron-kun, tampannya~"


"Orlan-kun..."


"Kami-sama! Itu Maykel-kun?!"


"Rio-kun aishiteru..."


"Rupanya obat kita sudah datang!"


"Ah! Kau benar Pig!"


"Ternyata disini hanya aku saja yang nggak beruntung? Oh... Kami-sama setelah ini aku harus sebangku lagi dengan Lee..." Tena mengusap kasar wajahnya.


Chely yang melihat Tena nampak sangat frustasi, tersenyum miris. "Ya-yang sabar Tena-chan."


"Arigatou Chely-chan." Gadis berambut cepol dua itu tersenyum ke arah Chely. Ia kembali menoleh, melihat Indah dan Wulan dengan tatapan malas. "Makan tuh! Aron-kun dan Rio-kun kalian!" Setelah mengatakan itu, Tena beranjak dari duduknya.


"Ih, dia marah." Meski mengatakan itu, manik aquamarine Indah terus saja menatap ke arah pintu kelas. Dimana, X5 sedang dikerubungi para fans ganas mereka.


"Umm..." Gumam Wulan. "Ayo ke bangku Pig!" Ia beranjak dari duduknya.


"Hu'um, jaa... Chely-chan." Indah beranjak dari duduknya. Kepalanya kembali menoleh ke arah Chely. "Lagi pula 'Pangeran Chely-chan' sudah tiba." Ia menatap Bilton yang berjalan ke arahnya.


"I-Indah-chan!" Teriak gadis yang pipinya merona. Indah dan Wulan sendiri sudah duduk dibangkunya masing-masing.


"Pagi-pagi sudah ngerumpi."


"Eh?" Kepala indigo Chely menoleh ke arah kiri, tepatnya bangku sebelah yang tadi diisi Indah. Ia berkedip, disana sudah ada penghuninya. "Nami-san?"


Bilton menoleh. "Hn?" Mereka bertatapan.


Entah kenapa, melihat Bilton ia jadi kesal sendiri. Chely ingat kejadian kemarin, saat ia menerima panggilan dari nomor asing, yang tak lain pemuda disebelahnya. Saat Chely angkat, ia malah langsung dimarahi. Dan Chely sempat tersenyum saat Bilton bilang besok–hari ini–akan latihan, pas ia tanya dimana sambungannya diputuskan, dasar tidak sopan! Dan... Apa katanya tadi? What? Ngerumpi? Karena kesal, Chely menggembungkan pipinya. "A-aku bukan ngerumpi."


Selalu saja ia dapat efek saat melihat pipi menggembung Chely, yaitu suatu tarikan di kedua sudut bibirnya–tersenyum tipis– "Kalau begitu kau tadi bergosip."


'Kenapa dengan perasaan ku?' Selain efek tersenyum, yang Bilton rasakan juga hatinya yang menghangat.


"Eh? Itu sama saja. A-aku tidak bergosip."


Bikton mengangguk. "Kau sedang membicarakan orang lain?" Wajahnya mendekat, dan Chely tidak menyadarinya.


Si gadis terdiam. Membicarakan orang lain? Ah, ya! Tadi ia dan ke tiga sahabatnya membicarakan Lee, Aron, Rio, dan bahkan Bilton juga. "Hai."


"Itu sama saja dengan bergosip. Ck, Bakpao Baka."


"Ta-tapi aku_" Perkataannya terhenti, saat Chely menyadari jarak wajahnya dan Bilton. 5 cm!


"Aku apa?"


"Na-Nami-san a-ano_" Chely tambah gelagapan. Untung sekarang kelas ribut, jika tidak ini akan jadi trending topik.


"Ano?" Pemuda pirang semakin mendekatkan wajahnya. Ia menempelkan pipinya yang memiliki tiga garis pada pipi putih tembab yang memerah milik Chely. Bilton jadi menyukai hal ini–jika saja ia normal–bermula dari kemarin ia menempelkan pipinya pada si Bakpao, rasanya hangat karena pipi Chely yang memanas. "Pipi mu hangat, aku jadi ingin terus menyentuhnya." Hangat, hati Bilton juga menghangat.


'Perasaan apa ini?'


"A-ano Na-Nami-san ja-jangan begini." Pipi Chely kembali merona, dan Bilton semakin nyaman menempelkan pipinya.


"Kenapa?"


"A-ano_"


'Hangat.'


"Baik." Ia menjauhkan wajahnya. "Ke taman belakang, nanti kita latihan."


"Ha-hai."


.


.


"Mau kemana Kitsune?" Tanya Maykel saat Bilton beranjak dari duduknya.


"Taman belakang."


Rio tersenyum aneh. "Kencan ya?"


"Bu_"


"Ya ampun Kitsune kita sudah besar." Maykel mengusap kepala Bilton, bagaikan seorang Bapak yang bangga terhadap keberhasilan anaknya.


"Tsch, apa yang kau lakukan, hah?" Tangan Bilton terangkat, menepis tangan Maykel kasar.


"Jangan salah tingkah gitu dong." Rio masih tersenyum palsu.

__ADS_1


"Senyum mu itu menjijikan Rio!"


"Terima kasih."


"Itu bukan pujian Zombie." Orlan hanya menguap malas melihat tingkah kekanakan sahabatnya.


"Ah, terima kasih Lan."


"Ck, lemot." Sepertinya Aron juga mulai kesal dengan tingkah Rio. Yang selalu menganggap ledekan sebagai pujian.


"Boleh aku ikut kencan ya?" Pemuda bersurai coklat dihadapan Bilton memberikan tatapan memelas.


Sontak Bilton yang melihatnya memasang muka jijik. "Apa-apaan kau ini Maykel?! Aku mau latihan bukannya kencan."


"Bagus kalau begitu!" Rio menaruh minat pada pernyataan Bilton.


Alis Bilton bertautan. "Bagus apanya?"


Tanpa mengindahkan pertanyaan Bilton, Rio menoleh ke arah Maykel lengkap dengan senyum palsunya. "Setelah Bilton dan Chely-san latihan, bagaimana kalau kita kencan dengan Chely-san?"


Sapphire biru milik Bilton menatap tajam Rio. "Mana bisa!"


"Ya bisalah!" Maykel menatap Bilton dengan seringai remeh.


Aron dan Orlan hanya menghela nafas melihat tingkah ke tiga sahabatnya.


"Kau!" Ia menggeram. Ada perasaan aneh dalam hatinya saat Chely disebut-sebut Maykel dan Rio.


"Apa?!"


"Tsch. Merepotkan!" Dengan langkah lebar, Bilton meninggalkan kelas yang sudah kosong.


"Apa dia... Tsundere?" Rio menatap punggung Bilton yang menghilang di balik pintu.


"Jika dia normal pastinya tsundere." Orlan berdiri dengan wajah mengantuk. "Ayo ke kantin."


"Hn."


"Ayo."


"Kantin? Bukankah disana banyak fans kita yang ganas."


Kepala nanas Orlan menoleh. "Jika begitu kau saja yang dijadikan umpan Inu-chan."


"Sialan kau Nanas!"


.


.


.


Lagi–entah untuk yang ke berapa kalinya, bibir mungilnya mengerucut. Manik lavender Chely melirik jam tangan di pergelangan kirinya. "Telat 5 menit." Ia menghela nafas. Selalu saja begini, padahal Bilton dulu yang buat janji dengannya.


"Memang kenapa kalau telat 5 menit?"


'Kuso! Untung efek sakitnya tidak seperti kemarin.' Bilton menggeleng, untuk menghilangkan sakit kepala agar tak sesakit kemarin.


Deg!


Dengan gerakan patah-patah, Chely menoleh. "Aaa... Bu-bukan apa-apa..."


"Hn." Bilton duduk di bangku sebelah Chely. "Ayo mulai. "


"Hu'um."


Bilton merogoh ponsel di saku celananya. Ia menekan aplikasi musik untuk memutar instrumental lagu yang kemarin malam ia download.


Sejenak Bilton menarik nafas.


.


Hidup hari demi hari, melawan dalam dunia ini- ketika sesuatu menjadi lebih berat


.


Bilton berkedip. 'Suaranya... Merdu sekali.' Memang suara Bilton sangat enak di dengar, tegas, baritone, dan lembut saat bernyanyi. Ia menarik nafas.


.


Ketika kau merasa seperti kau lah satu-satunya yang sendiri diantara orang yang tak terhitung banyaknya.


.


Bilton menoleh. Ia tersenyum tipis mendengar suara Chely yang lembut dan enak di dengar.


.


Ketika aku melihat matamu. Menatapku dengan cinta. Aku merasa istimewa


.


Chely juga menoleh. Mereka bertatapan, sapphire dan lavender bertemu.


.


Ketika kau genggam tanganku dalam kehangatanmu yang malu-malu, semua luka dalam diriku sembuh


.


Entah sadar atau tidak, keduanya tersenyum. Untuk yang pertama kalinya mereka melempar senyum dalam satu bulan saling kenal. Dan mereka menyanyikan reff lagu bersama.


.


When we're together, when we're together


...


"Bagus, pertahankan suara mu." Itu kata pertama yang Bilton ucapkan setelah mereka selesai bernyanyi.


"Hu'um..."


"..."


"..."


"..."


"Nami-san?"


"Hn?"


"Kenapa memilih lagu ini?"


Bilton terdiam. Ia sedang berpikir, Bilton juga tidak tahu kenapa memilih lagu ini. "Lalu menurut mu kita harus bernyanyi lagu anak-anak, hah?"


"Eh, maksud ku bukan be-begitu." Dalam hati Chely menghela nafas. Jika sudah menggunakan nada sembur begini, pasti Nami-san akan menyebalkan. Pikirnya.


"Lalu?" Sebelah alisnya terangkat.


"A-ah tidak jadi." Chely juga sebenarnya tidak menemukan lagu yang pas.


"Dasar Bakpao, selain tembam, gagap, dan pelupa, kau juga aneh."


"Apa?" Chely menoleh. Ingin sekali ia juga bilang pada pemuda disampingnya, 'Selain mirip Kitsune, Nami-san juga menyebalkan dan egois!' Tapi mana mungkin itu Hinata ucapkan.


"Tentu, itu ciri khas mu." Bilton menoleh lalu ia tersenyum tipis.


Sapphire dan lavender bertemu.


'Dia... Bilang ciri khas?' Pipi tembam gadis indigo dihadapan Chely menggembung. "Ma-mana bisa itu ciri khas."


"Tentu saja bisa. Satu lagi."


"Sa-satu lagi?"


Kepala pirang Bilton mengangguk. "Kau juga tidak punya uang."


"Ma-maksudnya?"


"Ikat rambut saja sampai tidak ke beli." Ia tersenyum tipis.


Manik lavender Chely membulat. "Nami-san, kembalikan i-ikat rambut ku!"


"Tidak bisa." Hati Bilton makin menghangat, jangan lupakan jantungnya yang berdetak dua kali lipat. 'Perasaan apa ini?'


"Ke-kemana ikat rambut ku?"


"Aku buang."


'Dia benar-benar menyebalkan!' Pipi Chely makin menggembung. Ia beranjak dari duduknya.


Sedangkan Bilton yang melihatnya hanya tersenyum tipis. Ingin sekali ia mencubit pipi putih yang menggembung itu.


"Itaii!" Pekikan itu berasal Bilton. Yang ternyata kakinya diinjak Chely karena kesal.


"Apa yang kau lakukan, hah?" Sambil sesekali meringis, Bilton memegang kaki kanannya yang di injak si gadis 'bakpao', ia sempat terdiam, mana mungkin kaki dan tubuh mungil Chely memiliki tenaga monster seperti ini.


"I-itu balasan dari ku." Setelah mengatakan itu, Chely melengos. Padahal ia sangat takut tadi saat menginjak kaki Bilton. 'Kami-sama, lindungi aku...' Sambil berlari dari taman belakang menuju kelas, Chely berdo'a dalam hati.


"Awas kau Bakpao." Ia meringis. "Kuso, tenaganya besar juga."


.


.


.


.


To Be Continued


Halooo^Δ^

__ADS_1


kok sunyi yaa🙁🙁


__ADS_2