Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode 3


__ADS_3

Rumah Nami


.


.


.


Cahaya matahari menerobos lewat jendela kamar tidur dengan warna hitam orange yang mendominasi. Tapi, hal itu tidak membuat pemuda bersurai pirang menampakan tanda-tanda akan bangun.


Malahan, pemuda tersebut malah menyamankan diri dengan memeluk gulingnya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 06:20.


Tap... Tap... Tap...


Suara langkah kaki menggema di koridor menuju pintu kamar. Maklum, suasana sedang sepi.


Sampai_


Brakk...


"Bilton Nami! Bangun!" Bilton masih tak bergeming. Hal tersebut sukses membuat mata Kushi berkilat tajam.


Wanita berambut merah itu melangkah mendekat ke ranjang Bilton, dan_


Srett


Kushi menarik selimut Bilton.


"Ngghhh..." Lenguhnya. Lalu, ia menarik selimut kembali.


Dan sukses membuat sang Ibu geram. "Anak ini!"


Tanpa aba-aba Kushi melangkah lebih dekat ke ranjang Bilton dengan kaki yang dihentakan.


Srett.


Tanpa rasa kasihan Kushi mejewer telinga sang anak. Lalu_


"BILTON! CEPAT BANGUN. INI SUDAH SIANG." Setelahnya Kushi menjauh. Lalu ia berhitung dalam hati.


1


2


3


Dan_


"Apa yang Kaa-chan lakukan? Bagaimana jika gendang telinga ku pecah?" Tanpa mempedulikan kepalanya yang berdenyut akibat bangun mendadak, Bilton langsung bangun lalu mengelus telinganya akibat suara 'merdu' sang Ibu.


Kushi tersenyum manis. "Tinggal periksa." Katanya sambil mengangkat bahu cuek. Tapi, sedetik kemudian senyum manis itu menghilang, digantikan dengan mata yang berkilat tajam. "Cepat mandi Baka! Atau kau mau terlambat?!"


Bilton menguap. "Terlambat?"


"Ini sudah pukul 06:25 Baka!" Kushi jadi geram sendiri akibat sikap santai Bilton.


Bilton membaringkan tubuhnya kembali di kasur king sizenya. "Oh... Pukul 06:25."


"..."


"Pukul 06:25?!" Bilton kembali terduduk di tempat tidurnya.


"Ya, kenapa?" Jawab Kushi santai.


Pemuda bersurai pirang itu melempar selimut orangenya sembarang arah. "Kenapa Kaa-chan tidak bilang?" Ia langsung pergi ke kamar mandi.


Blam.


"Bisa-bisanya ia bersikap cool di depan semua orang. Sikap cerobohnya saja bahkan belum hilang." Wanita berambut merah itu memungut selimut Bilton lalu menaruhnya di kasur.


...


Mobil Ferrari F12 Berlinetta kuning itu di setarter oleh sang pemilik. Siapa lagi kalau bukan Bilton Nami sang pangeran Nada Gakuen.


Bilton melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. "06:55." Bukannya takut terlambat, Bilton malah mengangkat bahu, cuek.


Setelahnya pemuda pirang itu menyampirkan blazer abu-abunya di kursi yang ia duduki, sehingga sekarang ia hanya mengenakan kameja putih dan dasi hitam yang terikat tidak rapi.


Brummm...


Bilton menjalankan mobil itu keluar Mashion Nami dengan santai. Manik sapphire miliknya hanya terfokus pada jalanan dihadapannya. Sampai ia melihat 'sesuatu' di depan halte yang membuat bibir tipis itu menarik senyum miring.


Tanpa berpikir dua kali, pemuda bersurai pirang itu menghentikan mobilnya.


Ckitt.


"Mau numpang, eh?" Senyum miring hadir di bibir Bilton.


Sedangkan seseorang dihadapannya hanya membulatkan matanya.


.


.


.


Rumah Hyuu


.


.


"Nee-chan, bangun!" Gadis bersurai coklat itu berteriak sambil mengetuk pintu bercat putih yang bertuliskan ' Chely Room'.


"Ck, Nee-chan lama sekali, sedang apa dia?" Tangan Hana meraih kenop pintu. Dan_


Ceklek.


"Tidak di kunci ternyata." Kaki Hana melangkah ke arah ranjang king size yang berseprai ungu.


"Nee-chan. Bangun!"


"Ngghhh..." Chely, gadis yang dibangunkan itu membuka kelopak matanya, menampakan manik lavender yang indah. "Jam berapa memangnya Hana-chan."


"06:20."


Manik lavender Chely terbelalak. "Apa? Kenapa tidak membangunkan Nee-chan?" Ia lalu beranjak dari kasur empuknya menuju kamar mandi.


"Dari tadi aku sudah berteriak di pintu kamar Nee-chan."


"Kalau begitu Nee-chan mandi dulu."Gadis bersurai indigo itu berlalu menuju kamar mandi


.


.


Tap... Tap... Tap...


Suara langkah kaki itu terdengar buru-buru. Rambut indigo yang di ikat pony tailnya juga melambai-lambai ke kanan dan ke kiri, karena sang pemilik sedang berlari.


Chely melirik ke arah jam tangan putih miliknya. "06:45." Gumamnya.


Manik lavender itu menatap ke depan. "Ada bus."


Tap... Tap... Tap...


Semakin dipajulah langkahnya dengan semangat, tidak sia-sia aku berlari, pikirnya.


Tapi_


Brummm...


Terlambat, bus 5 meter didepannya itu sudah berangkat.


"Tu-tunggu!" Namun, mana mungkin bus yang sudah menjauhi halte itu kembali.


Dengan lesu Chely lalu menunggu di halte bus. Bibir peach itu semakin ia gigit, tidak peduli jika nanti akan berdarah.


"Hahhh..." Chely jadi mengutuk kejadian semalam, ya, kejadian semalam, karena ia terlalu asyik membaca novel sampai malam, jadi ia terlambat bangun.


'Menyebalkan.' Batinnya.


Dan lagi, ingin minta di antar oleh siapa lagi? Nando dan Tetsu lembur dari kemarin. Supir pribadi, mengantarkan Hana, sekolah mereka memang beda arah dan letak sekolah Chely yang paling jauh. Atau bawa mobil sendiri? Ah, tidak, Chely masih sayang nyawa, mana mau dia tabrakan karena tidak bisa mengendarai mobil.


Kepala indigo itu melirik ke arah kanan. Ada mobil sport? Emm, sepertinya milik orang kaya, pikirnya.


Kepala Chely memandang kembali ke arah depan. Tapi_


"Mau numpang, eh?" Mobil sport itu berhenti tepat disampingnya dengan kaca mobil yang diturunkan.


Manik lavender Chely membulat. "Na-Nami-san?" Ia memperhatikan pemuda pirang yang duduk di kursi kemudi, penampilan pemuda itu bisa dikatakan, entahlah... Ia hanya mengenakan kameja putih beserta dasi hitam yang tak terikat rapi, untuk atasannya. Blazer abunya disampirkan oleh sang pemilik di kursi. Sedangkan bawahannya mengenakan celana hitam khas Nada Gakuen.


"Bagaimana?"


Manik lavendernya berkedip. "A-apa?"


"Mau ikut apa tidak?" Bilton jadi gemas sendiri dengan gadis ini.


"A-ah ti-tidak usah."


"Kau yakin?" Sebenarnya Chely tidak yakin sih, tapi mengingat kemarin pemuda itu ingin menciumnya Chely jadi takut.


"Te-tentu."


"Baiklah." Bilton mengangguk. "Ku pastikan Lidya-sensei akan menghukum mu."


Deg.


'Lidya-sensei.' Bagaimana Chely bisa lupa bahwa hari ini pelajaran ma-te-ma-ti-ka. Dan Lidyalah Senseinya. Jika ada murid terlambat entah itu siswa atau siswi akan di hukum mengerjakan 50 soal matematika. Dan, jangan lupakan hukuman untuk masuk ke sekolah, skot jump 25 kali bagi para siswi, push up 25 kali bagi para siswa, dan yang terakhir lari keliling lapangan 10 kali untuk siswa-siswi.


"Aku ikut." Chely masuk ke dalam mobil, lalu ia duduk di samping Bilton. Mau dimana lagi memang? Karena mobil ini hanya memiliki dua kursi.


.


Hening. Ini adalah perjalanan terhening menuju ke sekolah yang pernah Chely alami. Selain hening juga mendebarkan, kenapa? Chely takut, sangat takut jika pemuda pirang yang sedang mengemudikan mobil ini akan menciumnya.


Bukannya Chely narsis. Tapi... Untuk apa Bilton mendekatkan wajahnya seintim itu. Dan saat gagal karena terganggu bel, ia mengumpat.


'Hahhh...' Gadis bersurai indigo itu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Entah kenapa perjalanan ini terasa sangat panjang.


Tapi, ia malah melihat pantulan wajah seorang Bilton Nami. Chely akui dia memang tampan, matanya sapphire, rambut pirang yang berantakan, dasi dan pakaiannya pun tidak rapi. Tapi, itu malah membuatnya semakin keren.


"Aku memang tampan. Tapi, bisakah kau berkedip." Chely bisa melihat bibir tipis itu menarik senyum miring. Memang, Chely menatap Bilton tanpa berkedip.


Manik lavendernya mengerjap jangan lupakan pipi gembilnya yang merona. "Si-siapa ya-yang tampan?"


"Kau. Ya tentu saja aku." Mulut Chely membulat, ternyata pemuda pirang ini bisa bercanda.

__ADS_1


"Ha-hanya Nando-nii yang pa-paling tampan." Chely memalingkan pandangannya ke depan.


Alis Bilton mengernyit, hatinya seperti tercubit saat mendengarnya.


'Perasaan apa ini?' Telinganya yang sudah sakit karena diteriaki sang Ibu sekarang tambah panas.


"Hm. Begitukah?" Bilton menghentikan laju mobil, karena sudah sampai di lapangan parkir Nada Gakuen yang hanya memakan waktu 15 menit jika memakai mobil.


Chely memberanikan diri menoleh ke arah Bilton. "Te-tentu."


"Ah, sayang sekali." Ucap Bilton kecewa meski wajahnya tetap datar. Ia melepaskan seatbelt ditubuhnya.


"Ka-kau ma-mau apa?" Chely panik, saat pemuda pirang itu mendekatkan tubuhnya.


"Tentu saja melanjutkan yang kemarin." Bilton tersenyum miring yang sudah menjadi khasnya. Baru saja Chely membahasnya. Dan, binggo!


'Di-dia masih ingat!' Tangan mungil Chely mencoba membuka pintu mobil.


"Di-di kunci?" Wajah panik Chely semakin nampak.


"Memang iya." Bilton semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Chely.


Chely gelagapan saat Bilton mendekatkan tubuh serta wajahnya, sekarang jarak wajah mereka sama seperti kemarin. 10 cm.


10 cm.


8 cm.


Bilton dapat merasakan nafas Chely menerpa wajahnya.


6 cm.


Wajah mereka semakin dekat.


4 cm.


Tes... Tes...


"Eh?" Bilton menatap ke arah manik lavender yang akhir-akhir ini disukainya. Mata itu, sekarang sedang mengalirkan cairan bening.


Entah kenapa hati Bilton terasa sesak melihatnya, rasanya seperti di remas tangan yang kasat mata. Ia tidak suka jika manik lavender itu meneteskan air mata.


'Perasaan apa ini?' Mereka masih bertatapan dalam posisi yang berjarak 4 cm.


Manik lavender sang gadis mengalirkan cairan bening. Chely takut dan terpojok, tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini, ia ingin kabur tapi pintu mobilnya di kunci oleh sang pemilik. Dan, cara ini berhasil, terbukti, pemuda pirang itu berhenti mendekatkan wajahnya. Dalam posisi 4 cm ini Chely dapat merasakan bahwa ia dan Bilton sedang berbagi nafas.


Alis Bilton mengernyit dan hal itu tak luput dari penglihatan Chely. "Ughh..." Tangan pemuda pirang itu menjambak rambutnya.


"Na-Nami-san kenapa?" Chely yang sudah panik tambah panik.


Kepala Bilton semakin berdenyut, nafasnya juga sesak. Sepertinya alexithymia Bilton kambuh. "I-itaii."


Tangan Chely mengusap pipi gembilnya yang ditetesi air mata. "Na-Nami-san."


"I-itaii..." Bilton menyandarkan kepalanya di pundak Chely.


"Sa-sakit? A-apanya?" Dengan refleks tangan Chely memegang kepala Bilton.


"Teruslah begitu." Tangan kiri Bilton menahan tangan kanan Chely.


"E-eh?" Dengan ragu Chely mengusap kepala Bilton dengan lembut.


Mereka masih bertahan di posisi itu selama beberapa menit. Jika di lihat posisi ini sangat intim, Bilton yang melingkarkan tangannya di pinggang Chely, juga kepala bersurai pirangnya yang bersandar di pundak mungil sang gadis. Sedangkan Chely hanya mengelus kepala Bilton. Yang ia sendiri tidak sadar bahwa elusan itu berpengaruh pada sakit Bilton.


.


.


Chely melihat pemandangan di luar jendela kelas. Chely merasa beruntung, tadi pagi ia tidak terlambat, melainkan Lidyalah yang terlambat masuk.


Tapi, konsentrasi pikiran Chely tidak ada di kelas, melainkan berada di lapangan parkir Nada Gakuen. Tepatnya di dalam mobil sport tadi.


.


.


.


Flashback


.


.


.


"Teruslah begitu." Tangan kiri Bilton menahan tangan Chely.


"E-eh?" Dengan ragu Chely mengusap kepala Bilton dengan lembut.


Mereka masih bertahan di posisi itu selama beberapa menit. Jika di lihat posisi ini sangat intim, Bilton yang melingkarkan tangannya di pinggang Chely, juga kepala bersurai pirangnya yang bersandar di pundak mungil sang gadis. Sedangkan Chely hanya mengelus kepala Bilton. Yang ia sendiri tidak sadar bahwa elusan itu berpengaruh pada sakit Bilton.


Pemuda bersurai pirang itu masih memeluk pinggang Chely erat, nafasnya yang tak beraturan menerpa leher jenjang Chely.


"Na-Nami-san?"


"Hm..." Gumam Biltpn.


"A-apa masih sakit." Chely masih mengelus kepala Bilton lembut.


Chely berkedip. "A-apa benar? Ma-maksud ku jika masih sakit, aku antar ke UKS."


Bilton menjambak rambut bagian depannya. "Tidak. Cepat keluar, sebentar lagi bel."


Chely tampak ragu dengan jawaban Bilton. Digigitlah bibir bawahnya. "Hai, a-arigatou."


.


.


.


Flashback End


.


.


.


Jujur saja, dari tadi Chely terus mencuri pandang ke arah bangku Bilton. Berharap pemuda yang dinantikan itu akan datang, tapi nihil, sampai sekarang menjelang istirahat sang pemuda belum juga nampak.


'A-apa ini semua gara-gara aku?'


'Dia sakit apa?'


'Kemana Nami-san?'


'Apa dia_'


"_ly-chan?


"Chely-chan?"


Chely menoleh. "Ah, ya Te-Tena-san?"


"Kau kenapa?"


Chely menggeleng.


"Yakin?"


"Hai."


"Kalau begitu ayo ke kantin."


Chely mengernyitkan alis. "Ka-kantin? Lalu, Sashi-sen_"


Tena menghela nafas. "Sashi-sensei dari 10 menit yang lalu sudah keluar. Makanya cepat aku lapar."


"Hah?"


...


Kelas saat ini sudah sepi karena hampir seluruh murid pergi ke tempat favoritnya. Seperti kantin, taman, atap sekolah, atau perpustakaan. Tapi, kelas 2-1 tidak sepenuhnya kosong. Masih ada empat pemuda tampan yang sedang berkumpul di sudut ruangan.


"Ck, kemana si Kitsune?" Maykel menjambak surai coklatnya frustasi.


"Dia tidak menghubungi mu Aron?" Rio yang sedang menggambar mengalihkan pandangannya ke arah Aron.


"Tidak." Memang, jika ia ada apa-apa orang yang terlebih dahulu dihubungi Bilton adalah Aron. Maklum, karena mereka sahabat sedari lahir. Dan para Orlan, Maykel, dan Rio memaklumi hal itu.


"Lan, kau coba telepon dia?"


Orlan menguap. "Aku?" Jari telunjuknya menunjuk hidung mancungnya. "Kenapa tidak kau?"


Maykel mendelik. "Ponsel ku di sita Gaby-nee."


"Di sita?" Beo Rio.


"Ya, karena aku tidak mau mengantarnya belanja, jadi ponsel ku di sita."


Rio tersenyum. "Yokatta."


"Hey!_"


"Kalau kau Aron? " Bukannya pelit, Orlan hanya malas mengambil ponsel disakunya.


"Tidak bawa."


"Rio?" Orlan memandang ke arah pemuda berkulit pucat yang sedang menggambar.


"Di charger."


"Di?"


"Rumah."


"Hahhh..." Dengan wajah malas Orlan merogoh saku celananya. Diambilah ponsel hitam itu, jari Orlan memencet tombol kontak, sampai ia menemukan kontak dengan nama_


Bilton Kitsune.


Tut... Tut... Tut...


"..."


"Kau dimana?"

__ADS_1


"..."


"Baiklah. Kami ke sana."


"..."


Klik.


Orlan mematikan teleponnya.


"Bagaimana?" Maykel memandang lurus ke arah mata Orlan.


"Dia di UKS." Ucapnya sambil beranjak dari kursi. Diikuti temannya.


.


.


.


Sudah hampir tengah hari, tapi Bilton tidak mau beranjak dari ranjang UKS ini. Ia tidak peduli dengan pelajaran matematika Lidya, dan fisika Sashi. Toh, ia salah satu murid jenius di sini. Sekali lihat langsung ingat.


Bilton semakin penasaran dengan gadis bersurai indigo itu. Gadis itu seperti berhubungan dengan alexithymia Bilton. Baru kali ini Bilton merasakan hatinya tercubit bahkan geli. Dan rasanya sakit juga senang.


Drrrttt... Drrrttt...


Suara getaran ponsel disakunya membuyarkan lamunanya. Pemuda pirang itu merogoh ponselnya.


Orlan Nara Calling.


Kira-kira itulah yang dilihatnya di ponsel.


"Apa?"


"..."


"UKS."


"..."


"Hm."


Klik.


Percakapan singkat itu berakhir, Bilton merenung. Betapa beruntungnya aku punya sahabat seperti mereka. Pikirnya.


Ceklek.


Bilton menoleh ke arah pintu. Alisnya mengernyit heran. "Kau_"


Bletak.


"Aw..." Bilton mengelus sayang kelapa pirangnya.


"Baka! Kau benar-benar tidak sopan." Orang tersebut melipat tangan di depan dada, matanya menatap tajam pada pemuda yang sedang terduduk di ranjang.


Bilton menghela nafas. "Baa-chan mau apa?"


Tsuna, orang yang di panggil 'Baa-chan' tersebut, memutar bola matanya–bosan–. "Sok keren kau bocah."


"Aku memang keren."


"Aku dengar kau sakit. Memangnya kambuh lagi?"


"Dari mana Baa-chan tahu?"


Tsuna mendudukan diri di tepi ranjang. "Jangan balas pertanyaan dengan pertanyaan."


'Pasti Shizu-sensei.' Bilton ingat, saat pagi-pagi Sensei UKS itu masih ada tapi sekarang dia menghilang. 'Ck, mengadu.' Ya, memang saat Bilton tidur Shizu pergi keruangan Tsuna. Karena Bilton sempat melarangnya, dengan alasan 'Baa-chan tidak perlu tahu.'


"Hey bocah?!"


Sang cucu menatap malas sang Nenek. "Apa?"


"Apa sekarang masih sakit?" Tsuna menyentuh kening Bilton dengan punggung tangannya.


Bilton menyentuh tangan Tsuna, dan menurunkannya. "Tidak, Baa-chan."


"Yokatta."


Tatapan Bilton berubah serius namun tetap datar. "Baa-chan?"


"Hm..."


"Apa... Aku bisa sembuh?"


Hening, suara jarum jam, hanya itu yang bisa mengisi keheningan.


Sampai beberapa detik kemudian, Tsuna menghela nafas.


"Aku yakin kau bisa sembuh."


"..."


Kemudian Tsuna mengamati penampilan Bilton dengan mata yang menyipit. "Bocah?!"


Bilton mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Apa? Baa-chan jangan teriak-teriak, telinga ku sakit." Entah kenapa hari ini telinganya selalu jadi korban.


"Dimana blazer mu?! Oh, Kami-sama! Lihatlah, betapa berantakannya diri mu. Kenapa dasinya tidak rapi? Dan lagi, lihat kamejanya?!" Tsuna menatap horor penampilan Bilton.


Bilton menghela nafas mendengar cerocosan Neneknya. "Blazer ku di mobil."


"Ambil!"


"Tidak mau!" Bilton membaringkan badan di kasur dengan posisi menghadap tembok, membelakangi Tsuna, ia juga menarik selimut hingga menutupi kepalanya. "Akukan sedang sakit."


Tsuna berdecak. "Masukan kameja mu dan benarkan dasi mu!"


"Malas."


"Terserah kau saja!" Tsuna beranjak dari ranjang.


Tap... Tap... Tap...


Tsuna melangkah menuju pintu keluar.


'Bocah, aku rindu kau yang ceria.'


Ceklek.


"Oh kalian." Wanita yang masih terlihat muda itu menatap ke arah empat pemuda yang berada di depan pintu UKS.


"Hai. Konnichiwa Tsuna-sama." Orlan, Aron, Rio, dan Maykel membungkuk sopan.


"Hm... Menjenguk Bilton?"


"Hai, apa Bilton ada di dalam?"


"Oh ada, kalau begitu aku pergi." Sang kepala sekolah itu melangkah menjauh dari UKS.


"Hai."


.


Ceklek.


Pemuda berambut nanas itu membuka pintu UKS yang berwarna putih. Matanya menjelajahi seisi ruangan yang hampir semuanya berwarna putih. Sampai, perhatiannya teralih pada gundukan selimut.


"Kitsune!" Suara Maykel berhasil memecah keheningan.


Bilton menurunkan selimut dan membalikan tubuhnya. Alisnya mengernyit.


"Kalian." Ia mendudukan diri di ranjang.


"Kambuh eh, Dobe?" Meskipun pertanyaan itu terdengar mengejek, tapi Bilton tahu bahwa sahabat Temenya itu khawatir.


Bilton menoleh ke arah Aron. "Tadinya. Tapi sekarang tidak."


"Aku tidak tanya keadaan mu yang sekarang."


Bilton berdecak.


"Kau mendingan Bilton?" Rio tersenyum ke arah arah Bilton.


"Kau terlihat senang aku di UKS, Rio." Ya, sebenarnya Bilton tahu, pemuda pucat itu selalu tersenyum aneh. Tapi, tidak bisakah ia tidak tersenyum aneh saat ia sedang terbaring di UKS?


"Ah, tidak."


"Mana Orlan?" Padahal tadi Orlan yang menanyakan keberadaannya, tapi pemuda nanas itu malah tidak ikut.


Maykel mengendikan dagu pada ranjang di sebelah.


"Itu." Bilton, Aron, dan Rio menoleh. Semua orang menatap malas ke arah pemuda berambut nanas yang sedang terbaring di ranjang UKS. Lengkap dengan mata terpejam dan tangan yang dijadikan bantal.


Bugghhh.


"Hey!" Orlan terbangun, akibat menerima lemparan tas hitam orange yang lumayan berat itu. Yang pastinya tas itu milik Bilton.


"Kau ke sini cuma mau tidur?"


Orlan menguap. "Ya. Bagaimana keadaan mu?"


"Buruk! Apa lagi melihat kau tidur."


"Oh... Maafkan aku." Katanya dengan wajah mengantuk.


"Bilton, kau mau masuk kelas? Sebentar lagi masuk."


Bilton menoleh ke arah Maykel. "Tidak. Aku mau tidur. Bilang pada Renra-sensei aku sakit." Ia kembali ke posisi semulanya–tertidur menghadap tembok dan selimut yang di tarik sampai kepalanya–


Aron menghela nafas. "Hm."


"Aku pergi, ayo Aron, Rio, Orlan? Kau mau ke kelas?"


"Hm..."


.


.


.


.


To Be Continued


Akhirnya Selesai juga episode 3 ^Δ^

__ADS_1


__ADS_2