
.
.
.
"Kenapa kau tidak hadir saat pelajaran ku?"
"Malas. Dan lagi, kau selalu telat."
Mata onyxnya memutar, pertanda ia bosan. "Ya, karena itulah kebiasaan ku."
"Hm." Orang yang menjadi lawan bicaranya menaruh sekaleng minuman soda di pagar pembatas atap sekolah, lalu ia mengambil ponsel disakunya.
"Kau kemana?" Pria itu melirik ke arah pemuda disampingnya.
"UKS." Matanya kembali memutar, pertanda ia bosan dengan jawaban yang singkat, padat, dan tidak enak di dengar.
"Bicaralah yang sopan dengan Sensei mu, Bilton Nami." Suara Renra menegas. Lalu, tanpa aba-aba_
Sret.
"Hey!"
"Apa?"
"Kembalikan ponsel ku!" Tangan Bilton berusaha mengambil ponsel yang disembunyikan Renra dipunggungnya.
"Tidak! Kau tidak sopan, beginipun aku Sensei mu."
Bilton menghela nafas. "Baik, apa mau mu, 'Renra-sensei'?"
Pria bermata onyx itu menyeringai. Kemudian tatapan matanya berubah serius. "Bilton? Mati rasa mu sudah sembuh?"
"..."
"..."
"Kau masih ingat, Sensei?" Renra menghela nafas, lalu mengalihkan pandangannya ke depan, menatap awan-awan yang bergerak tertiup angin.
"Hm. Bagaimanapun, Kishimoto-sama adalah atasan ku dulu. Beliaulah yang menyuruh ku mencarikan seorang psikolog handal untuk mu."
Memang, dulu, Renra bekerja sebagai sekertaris Kishimoto di Nami Corp, tapi Renra memilih bekerja menjadi seorang guru. Sebenarnya Kishimoto sangat berat membiarkan Renra pergi. Tapi, mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi keputusan Renra. Alasan Renra juga sangat baik 'Aku ingin membagi ilmu yang ku miliki.' Ya, itulah alasannya. Dan Kishimoto tak bisa mencegah sekertaris kesayangannya itu. Tapi, Koshimoto mengajukan satu syarat 'Kau boleh pergi, tapi, carikan psikolog terbaik untuk anak ku.' Dan Renra menyanggupinya.
Rekson Yakushi. Orang itulah yang menjadi pilihan Renra. Untuk menjadi psikolog Bilton.
"Belum. Aku belum sembuh, dan aku berharap aku sembuh." Bilton menarik nafas dalam, seakan-akan ia sangat tertekan, meski pun itu kenyataannya. "Dan, terima kasih, telah mengenalkan ku dengan Rekson-san." Ia menyinggung sang Dokter yang dikenalkan Renra.
"Hm. Tidak masalah." Renra melihat ponsel Bilton yang tadi ia sembunyikan dipunggungnya. Alis Sensei muda itu mengernyit.
"Kau masih main game?"
"Apa salahnya main game?" Bilton memutar bola matanya. "Ck, kembalikan ponsel ku."
Tangan Renra mengangsurkan ponsel silver pada sang pemilik. "Ini."
"Hm." Pemuda pirang itu membalikan tubuhnya.
"Kemana?"
"Pergi." Bilton melangkahkan kaki dari atap sekolah menuju pintu keluar. Dan_
Ceklek. Ia keluar.
Renra menghela nafas, melihat cucu dari kepala sekolah itu sangat amat tidak sopan. Padahal, 2 tahun yang lalu ia adalah anak yang ceria dan hangat, selalu memperhatikan keadaan orang disekitarnya. Tapi, tidak untuk sekarang. Ia tidak memiliki rasa empati pada dirinya.
"Aku suka kau yang dulu. Bilton."
.
.
.
Bilton melangkahkan kaki santai di koridor yang ramai ini. Maklum, sekarang adalah jam istirahat, jam yang sedang ramai-ramainya.
Tangan tannya dimasukan ke dalam saku celana hitamnya. Manik sapphire itu menatap seperti biasa–datar–
Tapi, tentu saja hal itu mendapat respon positif dari para siswi, yang menganggap penampilannya keren.
Bibir tipis Bilton menyeringai, kala melihat gadis berambut indigo yang berjalan beberapa meter dihadapannya. Tanpa babibu ia langsung mengikutinya.
.
.
Perpustakaan. Satu kata itu yang terlintas di benak gadis bersurai indigo itu. Selama tahun ajaran baru, ia jarang ke perpustakaan. Waktunya ia habiskan dengan sahabatnya; Wulan, Indah, dan Tena.
Bibir mungil nan peach itu tersenyum manis, kala dihadapannya terpampang pintu jati berwarna coklat kokoh yang menjulang tinggi, dengan tulisan 'perpustakaan'.
Kaki mungil Chely melangkah ke dalam perpustakaan, manik lavendernya melirik kanan-kiri, dimana rak-rak yang menyimpan buku tersimpan rapi.
Sampai langkah Chely berhenti di rak buku dengan tulisan 'Dictionary.'
'Ah, ini dia.' Batinnya riang. Manik lavendernya berbinar setelah melihat salah satu buku yang ia inginkan.
Tapi_
"Ugghh... Kenapa tinggi sekali." Kaki mungil Chely berjinjit, meski begitu, tinggi badannya yang tak seberapa memang tak bisa menggapai buku yang berada di rak atas.
"Ayo Chely kau bisa." Chely malah bermonolog. Sampai_
"Eh?" Ia melihat tangan yang mengambil buku yang ia cari. Karena penasaran ia berbalik.
Alisnya mengernyit, kala manik lavendernya disuguhi leher seseorang yang berkulit tan. Maklum, tinggi Hinata hanya sampai dagu orang itu. Tunggu! Ku-kulit tan?!
'A-apa ini_' Kepala Chely mendongkak, ia melihat, bibir tipis, hidung mancung, tiga goresan di pipi, manik sapphire, dan surai pirang. Ini seperti_
"Na-Nami-san?"
Chely menyeringai, hatinya selalu saja merasa tenang jika dekat dengan gadis ini. "Hm. Ku harap kau tidak minta tandatangan."
Bibir Chely mengerucut. "Si-siapa yang mi-minta tandatangan?" Seterkenal apapun Bilton, Chely tidak akan minta tandatangan!
"Ah, aku yakin kau akan memintanya." Selalu saja menyenangkan mengodanya, pikirnya.
"Ti-tidak!" Manik lavender Chely bergulir, menatap ke arah buku yang di pegang tangan kanan Bilton. "Na-Nami-san, bisa aku pinjam bukunya?"
Manik sapphire Bilton menatap buku digenggamannya. "Oh, ini." Ia mengangkat bukunya.
Chely mengangguk.
"Hm?" Bilton menatap buku digenggamannya. "Kamus bahasa Korea?" Ia menatap ke arah manik lavender sang gadis. Dilihatnya sang gadis membulatkan matanya, juga pipi gembilnya memerah. Apakah ia demam?
"Ke-kembalikan!" Tangan mungil Chely berusaha mencapai buku setebal 3 cm, yang bertuliskan 'Kamus Bahasa Korea.' Tapi, sayangnya buku itu di angkat tangan Bilton.
"Ternyata, kau suka nonton dorama."
Chely makin merona. "Bu-bukan. Kembalikan!" Tangan mungilnya masih berusaha mengambil buku itu. Gadis dihadapannya ini seperti sedang mengalami syok, karena rahasia besarnya terbongkar.
"Kau suka artis Korea?"
"Na-Nami-san?!"
"Hm." Bilton tersenyum miring.
"Aku mohon..." Chely memasang wajah memelas.
Tangan pemuda pirang yang mengacungkan buku itu ia turunkan, namun, buku itu masih dipegangnya–disembunyikan di punggung tegapnya– "Tapi_" Bilton melangkah mendekat ke arah Chely.
Hinata yang melihatnya langsung memasang sikap waspada. "Ta-tapi?"
"Kau harus_" Bilton semakin mendekatkan tubuhnya.
"Na-Nami-san?" Cicit Chely dengan tangan yang menahan dada bidang Biltom. Agar tak terlalu dekat.
Biltom memajukan tubuhnya, lalu, ia berhenti setelah sampai di samping telinga Chely. Dan_
Sret.
"Eh?" Chely berkedip.
"Menggerai rambut mu." Bilton berbisik di telinga Chely. Setelah melepaskan ikat rambut Chely, jadi sekarang rambut indigo itu tergerai.
Chely menggembungkan pipinya. 'Kenapa dia mengambil apa yang ku miliki? Menyebalkan!'
"Na-Nami-san, kembalikan buku dan ikat rambut ku."
Biltom memasang wajah polos, seakan-akan ia tidak bersalah. "Ini." Ia mengangsurkan kamus tebal itu. Tapi_ "Aku tidak akan mengembalikan ini." Pemuda pirang itu memasuk ikat rambut Chely ke saku celananya. Ada perasaan tidak rela di hati Bilton, jika melihat leher Chely yang terekspos
'Perasaan apa ini?'
Manik lavender Chely membulat, kala melihat ikat rambutnya dimasukan ke dalam saku celana. 'Dia, selalu punya cara untuk membuat ku kesal!'
Dengan pipi yang menggembung dan kaki yang dihentakan, Chely berjalan ke arah bangku dekat jendela.
Bilton tanpa sadar tersenyum tipis. 'Kenapa dengan perasaan ku?' Lalu ia mengikuti sang gadis.
Sret.
Bilton menggeser kursi di sebelah Chely. Sepertinya gadis disampingnya marah. Lihat! Masa iya, ada orang yang membaca buku dengan hanya membolak-balik halaman?
"Bakpao."
Seketika Chely menoleh dengan mata berkedip dua kali. "Ma-mana?"
Hangat. Satu kata itulah yang dirasakan hati hampa Bilton Nami.
"Pipi mu mirip bakpao."
"Hah?" Dengan refleks kedua tangan Chely menangkup pipi gembilnya. "A-aku bukan ba-bakpao!"
"Tapi, kau mirip."
"Na-Nami-san yang mirip Ki-Kitsune."
Twich. Perempatan muncul di kening Biltom. Apa katanya?! Kitsune?! Entah kenapa, dikatai Kitsune oleh gadis 'bakpao' ini membuat hatinya bergemuruh. Padahal ia sering sekali dikatai 'kitsune' oleh kawannya.
'Perasaan apa ini?'
Chely gelagapan. Sepertinya ia salah bicara!
Sret.
"A-ano aku du-duluan." Dengan langkah seribu, Chely langsung melesat, meninggalkan Bilton yang diselimuti aura gelap.
.
.
.
'Na-Nami-san yang mirip Ki-Kitsune.'
Perkataan gadis 'bakpao' itu terus terngiang-ngiang dipikirannya. Membuat kepalanya terasa berat, jangan lupakan hatinya yang terasa bergemuruh. Sebelum alexithymia Bilton kambuh lebih lama, pemuda pirang itu menggelengkan kepalanya.
'Perasaan apa ini?'
Maykel mengernyitkan alis, melihat sahabat pirangnya melamun dengan memegang kepalanya, lalu Bilton menggelengkan kepala. Jujur, Maykel khawatir penyakit merepotkan Bilton akan kambuh.
"Bilton!" Maykel melempar sebutir kacang yang ia ambil dari bungkus yang kini dipegangnya
Bilton menatap tajam Maykel. "Apa?!"
"O-oi, santai saja." Maykel tersenyum kikuk. "Kau kenapa?"
"Mungkin dia galau." Rio, pemuda yang sedang bermain billiard dengan Aron menoleh lengkap dengan senyum palsu di bibir pucat nan tipisnya.
__ADS_1
"Hm. Mana mungkin dia galau." Perkataan Aron, sukses membuat tatapan Bilton makin menajam.
"Bilton kita galau~" Kata Maykel dengan nada sing a song.
Bilton hanya memutar bola mata bosan mendengar ledekan kawan segengnya itu. "Sejak kapan, kalian memanggilku Kitsune?"
Hening.
Pertanyaan pemuda pirang yang notabene ketua X5 itu, sukses membuat keheningan dan kernyitan kening. Aron yang pada dasarnya cuek juga mengernyitkan kening. Jangan lupakan Orlan yang mendadak terbangun dari tidurnya.
"Ppfff..." Maykel membungkam mulutnya untuk menahan tawa yang akan meledak saat itu juga.
"Kau, kenapa Bilton?" Tanya Orlan seraya mengucek matanya.
Bilton mengernyitkan kening. "Kaliankan sudah tahu jika aku alexithymia."
Orlan menghela nafas. "Bukan itu."
"Wah, ketua X5 lemot."
"Diam kau Zombie." Tidak menerima ledekan dari Rio, pemuda pirang itu melempar sebutir kacang yang di lempar Maykel.
"Mengharukan." Timpal Sasuke dengan seringai mengejek.
"Maksud Orlan bukan alexithymia." Rio kembali melempar sebutir kacang yang di lempar Bilton.
"Ya.. Ya... Ya..." Pemuda pirang itu memutar bola mata bosan. "Lalu?" Sebelah alisnya terangkat–heran–
"Pertanyaan tentang 'Kitsune' itu yang membuat mu lemot." Maykel menyeringai, puas kala mengatai sahabatnya 'lemot'.
Rio tersenyum. "Maykel yang 'lemot' saja mengerti."
Sekarang giliran Bilton yang menyeringai. "Hey!_"
"Urusai!" Perkataan Orlan sukses menghentikan perdebatan ringan itu. Mata Orlan menatap ke arah manik sapphire Bilton. "Sudah dari Sekolah Dasar kita saling memanggil nama 'kebanggaan' itu. Dan itu semua karena ulah mu."
Bilton berkedip. Ah, dia ingat! "Ya, aku ingat."
.
.
.
Flashback
.
.
.
Istirahat, adalah waktu yang sangat disenangi oleh Bilton Nami. Seorang bocah cilik nan hyperaktif. Kenapa? Selain waktu refreshing, istirahat juga waktunya beraksi, menjahili orang-orang.
"Teme, ikut yu." Tangan mungil berwarna tan itu menarik-narik tangan kiri bocah tampan bersurai raven.
"Malas." Mata onyx itu masih menatap komik.
"Isss.." Bibir bocah 7 tahun itu mengerucut. "Kau nggak asyik."
Mendengar kata 'nggak asyik' Aron menoleh. "Apa? Pasti kau akan menjahili orang lagi."
Gigi putih Bilton tampak, karena sang pemilik tersenyum lebar. "Pastinyaaa." Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Makanya ayo ikut."
"Nggak."
"Ck, ya sudah." Bilton berjalan keluar kelas dengan kaki yang dihentakan.
.
"Siapa ya target ku?" Gumamnya. Memang, semua orang telah tahu, bahwa Bilton Nami memang terkenal jahil.
Manik sapphirenya berbinar kala menemukan 'target' yang pas.
Kaki-kaki mungil milik Bilton melangkah dengan semangat. Sesekali ia juga menggumamkan lagu favoritnya. Sampai_ langkahnya berhenti di taman belakang Sekolah Dasar. Tepatnya, di bawah pohon besar.
Bibir mungil Bilton melengkung–membentuk seringai jahil–
Kakinya melangkah kembali mendekat ke arah pohon besar. Dimana, ia melihat seorang bocah berambut nanas sedang tertidur nyenyak. "Ku jahili kau!" Gumamnya.
Tangan mungil Bilton merogoh saku celana selututnya, untuk mengambil spidol warna hitam. "Untung ada ini." Sebenarnya spidol itu bekas pelajaran mewarnai sebelum istirahat dimulai.
"Hihihihihi..." Bilton tertawa nista, dengan tangan yang menutupi mulutnya, agar suaranya tak membangunkan Orlan.
Tangan mungil nan jahil itu menggambar di pipi Orlan, ia menggambar tiga kumis yang serupa dengannya di pipi kanan-kiri Orlan. Seakan belum puas, bocah tampan itu juga membuat garis menyerupai kumis yang tebal di bibir atas Orlan. Mata sapphirenya melirik ke arah hidung mancung Orlan, lalu ia menggambar bulatan hitam di sana.
Lagi–Bilton menahan tawanya melihat 'riasan' buatannya yang keren–menurutnya–
Ia menepuk keningnya. "Ah, satu lagi!" Tangan Bilton membuka penutup spidol–yang sebelumnya ia tutup–
Lalu, ia menulis di kening Orlan_
"Aku memang mirip kucing, tapi panggil aku Nanas."
"Ppfff..." Kembali ia tersenyum puas.
"Waktunya kembali ke kelas~"
.
"Sukses eh, Dobe?" Aron menatap ke arah Bilton yang berjalan ke arahnya.
Bocah pirang itu tersenyum lebar, lalu ia duduk di samping Aron. "Tentu saja. Aku gitu." Tangan mungil miliknya menepuk dada–bangga–
Aron memutar bola matanya. "Ck, memang siapa target mu?"
"Ada deh, nanti juga datang."
Ceklek_
Dalam hati Bilton bersorak riang mendengar bunyi kenop pintu yang di buka dari luar.
"Mulai sekarang panggil dia 'Nanas'!"
"Ya. Dia sendiri yang memintanya."
Teriakan dan perkataan itu sukses membuat kerutan di kening Orlan. 'Aneh? Nanas? Permintaan ku? Maksud mereka apa?'
"Hahaha... Jika ada kontes kecantikan ku yakin kau akan menang." Orlan melirik ke arah Maykel yang berjalan dengan tawa ke arahnya.
"Apa sih?!" Tanyanya galak.
"Nih! Coba lihat." Maykel menyodorkan cermin berbentuk Hello Kitty, yang dipinjamnya dari salah satu siswi.
Seketika mata Orlan membulat, melihat kumis di pipi dan bibirnya juga bulatan hitam di ujung hidung mancungnya, jangan lupakan coretan dikeningnya.
Twich. Perempatan pun hinggap dikeningnya yang terkena coretan. "Si-a-pa yang me-la-ku-kan i-ni?!" Desisnya penuh penekanan dengan mata yang berkilat tajam.
Sontak hal tersebut membuat semua penghuni kelas kaget, pasalnya Orlan yang selalu memiliki tatapan mengantuk menjadi tatapan tajam. Dan, tatapannya itu sungguh mengerikan.
'Ah, rasanya aku harus tanggung jawab.' Batin sang tersangka. Sambil mengeluarkan spidol hitam dari sakunya, lalu ia acungkan.
Mata Orlan sibuk menjelajahi kelas.
Sampai_ perhatiannya teralih pada Bilton; orang yang terkenal dengan 1001 kejahilannya, sedang mengacungkan spidol hitam.
"AWAS KAU KITSUNE!" Orlan menghampiri Bilton dan_
Aksi kejar-kejaran pun di mulai.
.
.
Bocah berambut pirang itu menghela nafas kasar, ia bosan. Sangat... Bosan. Hah! Kenapa? Tentu saja belum ada 'target' yang pas. Dan lagi! Seminggu yang lalu ia di hukum Yumi-sensei, karena ulah jahilnya terhadap Orlan.
Kepala bersurai pirangnya ia rebahkan di atas meja, ia menatap buku tulis serta pensil. "Apa lagi ya?" Bibirnya mengerucut.
Diibaratkan film kartun, tiba-tiba muncul sebuah lampu dikepalanya. 'Kenapa tidak lakukan itu saja.' Manik sapphirenya menatap ke arah seseorang yang keluar kelas.
Tangannya menulis beberapa kata lalu ia keluar.
.
"Hai Rio!"
Yang di panggil menoleh. "Eh? Bilton?"
Bilton nyengir. "Ya. Mau kemana?" Langkah kakinya berjalan mendekat ke arah Rio.
"Kantin."
"Oh..." Rio mengernyitkan kening. Heran, tidak biasanya Bilton menyapa, secara Bilton'kan orangnya jahil. Jadi, sangat jarang ia menyapa orang dengan cara yang benar. Atau_ jangan-jangan ia target selanjutnya?!
Rio menggelengkan kepala.
Tangan Bilton merangkul Rio. Lalu mengusap punggungnya pelan, seperti gerakan menenangkan. "Kau kenapa Rio?"
"Ah tidak." Rio tersenyum.
"Sukses ya! Aku mau pergi dulu."
"Ya." Ucapnya dengan kening yang mengernyit karena mendengar kata 'Sukses' yang entah kenapa terdengar janggal.
.
Rio merasa ada yang janggal, tentu saja. Bagaimana tidak ada yang janggal jika semua orang yang ada di sekeliling mu menatap dengan pandangan geli dan berbisik-bisik.
Dengan langkah pas namun perasaannya heran, Rio melangkah ke arah meja pojokan dekat kantin.
"Sstt... Lihat ada 'zombie'."
"Iya dia memang cocok jadi 'zombie' kulitnya saja pucat."
"Ihhhh seram... Di sekolah kita ada 'zombie'."
Rio merasa tambah heran. Saat mendengar bunyi bisi-bisik disebelahnya. Dengan taku-takut ia meraba punggungnya dan_
Sret.
Mata onyx Rio membulat melihat tulisan tangan yang membuat harga dirinya jatuh_
"Karena aku terlalu pucat untuk jadi manusia. Maka, panggil aku ZOMBIE."
Rio menatap tajam semua orang. Hal tersebut kontan membuat seisi kantin hening. Dan_
"AWAS KAU KITSUNE!" Setelah berteriak Rio beranjak dari duduknya dengan tangan yang meremas kertas. Untuk apa? Tentu saja mencari Bilton.
.
.
Kesal. Bilton kesal, biasanya sejahil apapun dia. Tidak pernah ada orang yang berani mengadukannya ke guru. Orlan dan Rio, ke dua orang itu yang mengadukannya. Iya... Bilton mengaku ia salah tapi_ biasanya jika ia menjahili orang hanya akan dimarahi, alias orang yang ia jahili tidak membawa dia komunikasi. Dua hari kemudian juga dia akan akur lagi. Hahh...
Dengan langkah gontai. Bilton berjalan keluar kelas yang sepi ini. Manik sapphirenya melirik kanan-kiri bangku. Sampai ia melihat bando dengan telinga kucing. Mungkin salah satu siswi meninggalkannya.
Tangan Bilton terulur, mengambil bando itu. "Buat apa ya? Apa akan berguna?"
"Aku punya ide!" Serunya sambil berjalan keluar kelas.
.
"Ayo oper bolanya Chou."
"Ya! Tangkap ini Maykel!" Chou menendang bola ke arah Maykel. Dan_
"GOLL..."
__ADS_1
"Hore kita menang!" Tim Maykel saling berpelukan.
"Hey! Jangan senang dulu!" Sontak semua orang menoleh ke arah bocah berambut pirang.
"Bilton? Mau apa kau?"
"Aku mau menantang mu Maykel."
Alis Maykel bertautan. "Menantang?"
"Ya. Kita main bola. Tapi, one to one."
"Eh? Emang bisa?"
"Kenapa nggak? Ya bisalah inikan bukan sepak bola nasional."
"Malas ah!" Maykel melengos.
Bilton mencibir. "Ck, lembek!"
Maykel menoleh dengan tatapan tajam. "Apa kata mu?!"
"Ya ka_"
"Ku terima tantangan mu!" Tidak menerima dikatai 'lembek'. Maykel menerima tantangan Bilton, tanpa tahu ia terjebak.
Bilton mengangguk puas. "Baik. Tapi, ada syaratnya."
"Syarat?"
"Ya. Yang kalah harus memakai ini sepanjang hari." Bilton mengacungkan bando telinga kucing yang dari tadi disembunyikan dipunggungnya.
Glek_ Maykel menelan ludah, bagaimanapun ia takut kalah. Secara Bilton termasuk kategori orang yang jago olahraga, nilai olahraganya juga selalu tinggi. "A-aku_"
"Ah... Pasti kau takut."
Maykel tersentak. "He? Siapa bilang?! Ayo kita main!"
'Ah, dapat kau!'
"Yoshhh ayo kita main."
.
Seperti yang sudah diperkirakan pemenangnya adalah_
"Yeyyy aku menang!" Cengiran lebar itu ditampilkan Bilton, setelah ia menang skor 3-1, karena memang itu targetnya. Tanpa disadarinya hal tersebut membuat badan Maykel panas-dingin, mengingat ia harus mengenakan bando pink telinga kucing seharian. What the hell!
Glek_
'Sialan kau Kitsune!' Maykel semakin was-was saat Bilton menolehkan kepalanya dengan seringai jahil.
"Ah, Maykel, kau tidak lupakan?" Ucapnya dengan menaikan sebelah alis.
"Te-tentu."
"Bagus. Nih!" Bilton mengulurkan bando manis itu.
Dengan tangan bergetar Maykel menerimanya.
"Pakai... Pakai... Pakai..." Semakin downlah moodnya, saat mendengar teriakan orang yang menonton pertandingan menyuruhnya memakai benda mengerikan itu.
Bilton merenggut sebal, kala melihat Maykel hanya menatap horor bando ditangannya. "Ck, pakai Maykel!"
Maykel mengalihkan pandangannya dari benda mengerikan itu, lalu menatap tajam Bilton. "Sebentar Baka!" Tangan Maykel semakin bergetar, saat ia mengangkat tangannya untuk memakai bando itu.
Bilton semakin gemas melihat tingkah Maykel yang lambat. "Ck, lama. Sini aku pakaikan." Dengan tak sabaran ia menyambar bando ditangan Maykel. Dan_ "Ah... Kau manis sekali Inu-chan."
Twich. Perempatan hinggap di kening Maykel. Dengan wajah memerah Maykel menatap Bilton. "Kau bilang apa?!" Tanyanya penuh penekanan.
"Uhum Inu-chan. Ya ampun manis sekali."
"AWAS KAU KITSUNE!" Tanpa babibu Maykel mengejar Bilton mengelilingi lapangan.
.
.
Seminggu kemudian...
"Kelompok menggambar akan Sensei bagi lima orang dalam satu group. Karena pelajaran kali ini adalah bekerja sama, jadi, Sensei mohon kalian semua bekerja sama. Satu lagi, bagi yang gambarnya bagus akan di pajang di majalah dinding."
"Hai Sensei." Serempak semua murid di kelas 1-A menjawab.
"Nah! Sensei bagikan kelompoknya." Jeda sejenak. "Kelompok 1, Aron Uchi, Orlan Nara, Maykel Zuka, Rio Mura, dan...
Bilton Nami."
"He? Aku tidak mau dengan si Kitsune?" Telunjuk Maykel menunjuk Bilton yang berada di bangku sebrang.
"Memangnya aku mau sekelompok dengan mu Inu-chan!"
"Ck, awas kau Kitsune!" Maykel beranjak dari duduknya bersiap menerjang Bilton.
"Sudah... Sudah... Lebih baik kalian berkumpul." Dengan lesu, Rio, Orlan, dan Maykel mendekat ke bangku Bilton dan Aron.
.
"Nah! Semuanya sudah dapat kelompok, di meja kalian ada selembar kertas berisi gambar, silahkan warnai dengan cat air." Ucap Yumi. Seorang guru yang mengajar di kelas 1-A.
Naruto memperhatikan selembar kertas dihadapannya, ada gambar pantai, pasirnya, pohon kelapa, matahari, dan juga perahu yang sedang belayar. Tanpa berpikir dua kali ia mengambil kuas dan menuangkan cat air warna hitam.
"He? Mau apa kau Kitsune?" Suara cempreng Maykel membuat Bilton menoleh dengan memutar bola matanya.
"Mewarnai, memang menurut Inu-chan mau apa?"
"Kenapa pakai warna hitam?" Bilton menoleh ke arah Rio.
"Baka Dobe." Aron memutar bola matanya. Memang, ia akui sahabat Dobenya ini memang jenius, tapi... Masalah seni ia payah!
"Urusai Teme! Sungai jugakan ada yang warna hitam jika terkena limbah."
"Tapi ini pantai, mana ada pabrik yang membuang limbah ke pantai. Kecuali ia ingin di penjara." Timpal Orlan.
"Lalu warna apa?" Bocah pirang itu melirik ke arah cat air.
"Biru saja." Rio mengambil cat air warna biru, lalu ia tuangkan pada palet di tambah sedikit air. Setelahnya Rio mencelupkan ujung kuas.
.
.
Semua memandang takjub hasil gambar pantai yang diwarnai Rio. "Sugoi..." Maykel dan Bilton memandang gambar dengan berbinar. Melihat gambar pantai yang berwarna biru keorangenan.
"Nah! Mataharinya warna kuning keorangenan, kalau perahunya hitam, pasirnya coklat saja, pohon kelapanya hitam, karena ini sunset jadi kita harus mewarnai dengan kesan sore."
"Yoshh ayo kita mewarnai!" Bilton mewarnai matahari, Maykel perahu, sedangkan Aron dan Rio langitnya, Orlan pohon kelapanya.
.
"Yoshhh selesai juga!" Maykel memandang kagum gambar pantai yang nampak hidup dihadapannya, karena berkat saran Rio.
"Nah! Silahkan kumpulkan." Seru Yumi.
Serempak perwakilan dari masing-masing kelompok mengumpulkan gambar.
"Tunggu, Sensei nilai dulu."
Hening. Selama 5 menit hanya di isi keheningan, semua murid berdebar. Menanti gambar siapa yang akan di pajang. Sampai_
"Ehem. Sudah Sensei putuskan gambar yang akan di pajang, adalah milik kelompok... 1."
Hening. Sampai_
"Hore! Kita menang Maykel!" Saking senangnya Bilton dan Maykel berpelukan.
Dari situlah persahabatan mereka di mulai.
.
.
.
Flashback And
.
.
.
"_ton?"
"Bilton?"
Merasa ada yang mengguncang bahunya Bilton terbangun. Alisnya mengernyit. "Kaa-chan? Sedang apa di sini?" Tanyanya heran melihat sang Ibu ada di basecamp. "Dan mana yang lain?"
"Oh... Teman mu?" Bilton mengangguk. "Mereka sudah pergi, baru saja. Kata Maykel, kau ketiduran setelah saling melempar kacang." Kushi tersenyum geli.
Pemuda tampan itu mendudukan diri di sofa. Lalu berdecak sebal, karena mendengar kata 'saling melempar kacang'. "Pergi? Memang jam berapa sekarang?"
"19:30."
"Ya ampun, aku ketiduran." Ternyata ia ketiduran saat mengingat masa lalu. Saat pertama kali ia dan teman-temannya memanggil nama 'kebanggaan' mereka.
'Aku rindu aku yang dulu.' Batinnya. Sulit, terlalu sulit untuk Bilton kembali seperti dulu.
"Hm... Ayo makan malam." Kushi melangkah menuju pintu keluar.
.
.
Jam masih menunjukan pukul 20:30. Tapi, pemuda tampan itu sudah terbaring di tempat tidurnya. Meski manik sapphire Bilton belum terpejam.
Tangannya meraba nakas di samping. Ia mengambil ponsel silver miliknya. Bilton lalu menggeser tombol kontak, ia melihat_
Orlan Nara.
Tak lama kemudian ia mengganti nama itu, menjadi_
Orlan Nanas.
Ia tersenyum tipis, mengingat kejadian konyol 9 tahun lalu. Yang membuat ia dan sahabatnya bersahabat hingga membentuk sebuah geng.
Hanya nama Orlan saja yang ia namai dengan benar dikontaknya. Kenapa? Entahlah, mungkin karena Orlan tidak menyimpan dendam padanya. Ya, saat menjahili Orlan, Bilton hanya diadukan saja. Padahal Maykel sampai tidak membawanya bicara 1 minggu sama seperti Rio.
Naruto menggulingkan badannya. Lalu ia mengacak rambutnya. 'Aku sudah gila!' Meski dia tersenyum seperti tadi, hanya hampalah yang terasa, jadi... Ia merasa ehem! Gila.
Bilton termenung, ah. Kenapa ia jadi ingat si gadis 'bakpao'? Huh! Berani-beraninya gadis itu mengatainya 'kitsune'
"Awas kau..." Desisnya, sebelum menutup mata ke alam mimpi.
.
.
.
.
To Be Continued
Catatan yaa^Δ^
Dobe: bodoh
__ADS_1
Nara: rusa
Teme: brengsek