Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode 8


__ADS_3

.


.


.


Manik sapphire Naruto menatap jam di pergelangan tangan kirinya. "Pukul 11:30." Gumamnya. Masih satu jam lebih untuk janjinya dengan Miku.


Bilton menatap ke seluruh ruangan. Cafe ini memang terdiri dari sofa-sofa yang di sekat dengan kaca tebal yang agak buram. Ia memilih duduk di tengah-tengah sofa yang di sekat kaca kanan-kiri.


Tangannya merogoh saku celana jeansnya. Memilih memainkan game terbaru diponselnya. Ia memang sengaja datang lebih awal. Agar menghilangkan stres yang dideritanya akhir-akhir ini.


"Kau memang hebat Baby." Samar-samar telinga Bilton mendengar ucapan seseorang di sebrang.


"Bukan apa-apa... Hanya saja.. Aku tidak tahu, strategi basketnya seperti apa.."


'Su-suara ini?' Kepala pirangnya menoleh ke belakang. Mencoba melihat lebih jelas apa yang bisa dilihatnya dari dinding kaca buram. Manik sapphirenya membulat, di sebrang sana. Miku kekasihnya. Cinta pertamanya. Sedang di rangkul mesra pemuda berambut merah maroon–Aoi–


"Yang pentingkan kita tahu... Dia jarang latihan karena mu." Itu suara Aoi yang terdengar memuakan di telinga Biltom.


Miku tersenyum manis. Yang tak pernah di lihat saat kencan dengan Miku. "Tak sulit menipu kapten pirang itu_"


Deg!


"–Hanya perlu kerlingan mata dan binggo!" Tawa mereka berdua seakan menggema di telinga Bilton.


'Maafkan aku... Kalian benar Aron, Orlan, Maykel, Rio... Miku... Dia hanya memanfaatkan ku.'


"Kita juga tahu teknik main basketnya..." Miku terkikik.


Tangan Biltom mengepal.


"Ya. Baby dia memang bodoh."


Gigi putih Bilton beradu.


"Percuma juara kelas, menang olimpiade, atau bahkan jadi kapten basket... Jika dia masih bisa di tipu oleh seorang gadis..."


Manik sapphire Bilton terpejam. Mencoba menetralkan amarahnya.


"Tapi ingat! Kau harus putus dengannya 3 bulan lagi."


Deg!


'Bukankah itu final main basket?'


"Tentu Baby."


Cukup! Tubuh, hati, dan pikiran Bilton tidak bisa menerimanya.


Srettt


Ia beranjak dari duduknya


...


Sudah 5 jam ia duduk disini, taman Tokyo. Tak mempedulikan perutnya keroncongan, atau bahkan mantel hitamnya yang basah karena butiran salju.


Manik sapphirenya menatap kosong pada danau beku dihadapannya. Sesak, perih, menyesal, menyedihkan, merepotkan, itulah yang Bilton rasakan.


"AARRGGHH..." Ia berteriak. Tak perlu khawatir ada yang mendengarnya. Toh, taman ini sepi.


Cairan bening mengalir di sudut matanya Bilton usap kasar. "Ck, lemah!" Umpatnya.


Bukan apa-apa, pertama kali mengenal cinta ia disakiti, persahabatannya hancur, hanya gara-gara seorang gadis pirang!


"Kuso!" Bilton menjambak surai pirangnya. Tangannya merogoh saku celananya mengambil ponsel, lalu mengetik sebuah pesan.


To: Miku-chan


From: Me


Kita putus! Jangan menghubungi ku lagi! Murahan!


Send


This contact will be deleted?


Ok


Delete.


Membuka aplikasi chatnya. Ia menemukan.


Miku Hime will be deleted


Block future invitations


Yes.


Delete.


Semua media sosial, foto, video, dan apapun yang berhubungan dengan Miku ia hapus.


Yang terakhir adalah_


Trek–


Ia mematahkan sim cardnya.


Manik sapphirenya terpejam. Menetralkan kembali emosinya. Biltom menghela nafas. Kenapa sesakit ini, pikirnya.


Jemarinya mencengkram permukaan bajunya. Jantungnya terasa lemas, jangan lupakan hatinya yang terasa ngilu. "Baka!" Umpatan itu untuk dirinya sendiri. Bilton merasa bodoh, benar-benar bodoh!


Nafas yang tadinya tidak teratur sekarang mulai teratur. "Aku harus minta maaf..."


"Aku ingin melupakan seluruh... Perasaan... Ini..." Tanpa ia sadari ucapannya terkabul. Untuk itulah... Bilton pada saat itu tanpa sadar melupakan semua perasaannya.


.


.


.


Gelisah, itulah yang dirasakan gadis bersurai pirang. Ini sudah 5 jam ia menunggu di cafe, untuk menemui kekasih palsunya.


"Bilton, kau dimana?" Gumamnya. Tidak biasanya Bilton terlambat, biasanya yang selalu menunggu itu Bilton, kenapa sekarang jadi dia?


Drrrttt... Drrrttt


Miku merogoh ponsel yang ia letakan di atas meja. Amethysnya membulat, kala melihat_


To: Me


From: Bilton-kun


Kita putus! Jangan menghubungi ku lagi! Murahan!


Deg!


'Bi-Bilton memutuskan ku? Apa dia sudah tahu?'


Tanpa babibu jemarinya langsung memanggil nomor sang pemilik_


Bilton-kun calling


"Sorry the num_"


"Ck, sialan! Tidak aktif."


Ia kembali mengklik nomor kontak_


Aoi-kun calling


Tut... Tut... Tut...


"Hallo Baby?"


"Aoi-kun, Bilton dia... Dia... Memutuskan ku.." Entah kenapa Aoi mendengar suara Miku seperti bergetar, menahan tangis, kah?


"Apa? Kapan?"


"Ba-baru saja."


Aoi menghela nafas. "Ahh.. Sudahlah... Lagi pula kita sudah tahu teknik main basketnya."


"Ummm... Jaa.."


"Jaa..."


Klik.


Miku menghela nafas. Entah kenapa ada perasaan ngilu didadanya. Ia mencengkram dada kirinya.


"Kenapa disini sakit?"


Jemarinya kembali menggeser layar ponsel, ia melihat aplikasi chatnya. Dan_


"Tidak ada kontak Bilton sama sekali?"


.


.


.


"Bilton! Bangun!"


"–Nghhh, Kaa-chan... Aku tidak sekolah ya? Badan ku panas."


Manik violet Kushi membulat. "Panas?! Apa kau sakit Bil-chan?" Tangan yang terkepal akan menjitak kepala pirang putranya, sekarang menjadi mengusap lembut helaian pirang Bilton.


"..."


"Ya ampun! Kau panas sekali!"


"Ngghhh..."


"Kita ke Dokter ya?"


Kelopak mata Bilton terbuka, menampakan sapphire birunya. "Tidak usah Kaa-chan. Aku istirahat saja..."


"Hah... Baiklah... Kaa-chan buatkan bubur."


Cup.


Kecupan di kening Kushi berikan pada Biltom.


.


.


.


"Ini sudah 15 hari semenjak kejadian Bilton dan kita bertengkar." Maykel bergumam lirih. Tangannya kembali meras pelan foto digenggamannya.


"Hm. Kau masih meyimpannya Inu?"


Tanpa menoleh ke arah Aron, Maykel mengangguk. "Tentu. Gara-gara foto sialan ini kita jadi bertengkar." Ia menatap horor foto–Aoi yang mencium pipi Miku–seakan-akan foto digenggamannya akan hangus terbakar.


"Bilton juga sudah satu minggu tidak sekolah." Rio menatap sendu dinding pojokan atap sekolah yang selalu dijadikan tempat bersandar sahabat pirangnya.


"Semarah itu kah dia?"


"En_"


Ceklek–


Semua menoleh ke arah pintu atap sekolah yang terbuka, mata mereka membulat melihat orang yang membuka pintu atap sekolah.


"Bi-Bilton?" Suara Maykel tercekat.


Orlan yang tadinya tiduran sekarang bangun, mendudukan dirinya di bangku panjang. Kepalanya menoleh ke arah pintu atap. Alisnya mengernyit. Ia merasakan ada aura yang berbeda dari sahabat pirangnya. Kenapa Bilton, pikirnya?


"..."


Tap... Tap... Tap...


"Bilton?"


"Dobe?"


"Hm?"


Alis Orlan sekarang menukik kembali, mendengar jawaban singkat Bilton. Wajah tan yang biasanya dihiasi ekspresi ceria itu kini datar.


"Gomen."


Hening.


Apa telinga mereka tidak salah dengar? Maaf? Sahabat pirangnya mengucapkan kata maaf dengan wajah datar?!


Maykel mengelus telinga, lalu tersenyum remeh. "Maaf? Maaf kata mu?!"


"Hm?"


Rio mengernyit. "Kau sehat?"


"Tentu." Wajah datar Bilton masih belum berubah.


Aron menatap sapphire Bilton yang selalu nampak hangat sekarang nampak dingin. "Kau kenapa Dobe?"


Kepala pirang Biltin menoleh ke arah sahabat ravennya. "Aku? Kenapa?" Telunjuknya menunjuk hidung mancungnya.


Semua mengangguk, minus Orlan yang masih berpikir tentang ekspresi Bilton yang entah kenapa datarnya melebihi Aron.


"Aku memaafkan mu."


Ke empat pemuda beda warna rambut itu, menoleh ke arah Orlan yang sedang menguap.


"Kau pasti sudah tahu kebenarannya, kan?"


Bilton mengangguk.


"Oh... Jadi kau sudah tahu kebenarannya?" Bilton menoleh ke arah Maykel yang tersenyum remeh.


Tap. Satu langkah.


Kepala coklatnya mengangguk. "Baik. Aku memaafkan mu."


Tap. Dua langkah.


"Ari_"


Tap. Tiga langkah.


"Memang kau sahabat terbaik ku." Sampai dihadapan Bilton, Maykel menjabat tangannya.


"Arigatou Maykel." Dengan wajah datar Bilton menjabat tangan Maykel.


Maykel menyeringai. "Tapi sesudah_" Belum sampai tangannya berjabat_


Bugh!


"Ughhh..." Erang pemuda bersurai pirang itu. Tangannya mengelus perut yang terasa ngilu akibat tonjokan Maykel.


Sapphirenya melotot. "Apa-apaan kau?!"


Hampa. Itulah yang Bilton rasakan, biasanya saat ada orang yang memukulnya ia selalu emosi. Alisnya mengernyit. 'Kenapa hati ku hampa?'


"Aku ini emosi tahu! Kau baru datang minta maaf dengan wajah datar! Kau itu merasa bersalah apa nggak?!"


"Emosi? Emosi apa?"


Hening.


Rio mendekat. "Kau benar-benar sehat?" Sedikit ragu, Rio tersenyum palsu.


"Tentu."


Aron terdiam. Menatap interaksi Bilton, Maykel, dan Rio. Biasanya Bilton akan marah jika Rio tersenyum aneh saat keadaan serius, tapi ini_


"Kau tidak marah?" Akhirnya kata itu keluar dari mulut Aron.


Orlan mengangguk . "Biasanya ketika Rio tersenyum aneh kau selalu marah."


Alis Bilton mengernyit. "Marah? Marah apa?"


Bilton benar-benar sakit. Pikir mereka.


Bletak.


"Aw... Apa yang kau lakukan Teme?!"


"Itu tanda aku memaafkan mu."


Bletak.


Bletak.


"Apa yang kalian lakukan, hah? Apa kalian mau aku gegar otak?!" Sapphirenya menatap Orlan dan Rio yang menjitak kepalanya.


"Itu tanda aku memaafkan mu."


Orlan mengangguk.


.


"Jadi... Dia memanfaatkan mu?"


Kepala pirangnya mengangguk menatap Orlan.


"Tanpa sengaja kau mendengar rencananya, saat akan kencan, begitu?"


Kepalanya mengangguk menatap Aron.


"Kau memang bodoh." Bilton menatap tajam Rio yang tersenyum aneh.


Orlan menghela nafas. Ia memang sudah mengira, Miku pacaran dengan Bilton pasti ada maunya. Apa lagi setelah mendengar cerita Bilton. Dari mulai perkenalannya dengan Miku, jadiannya, kencan yang selalu membicarakan basket, dan banyak lagi.


"Lalu, kau putus dengannya?"


"Begitulah, Maykel." Jeda. "Aku jadi kapok mengenal cinta. Kertas apa itu?" Tanyanya saat melihat kertas digenggaman Maykel.


Maykel gelagapan, lalu menyembunyikan foto yang Bilton anggap kertas itu dipunggungnya. "A-ah ini bu-bukan apa-apa."


"Apa sih?!" Tangannya berusaha menggapai foto yang di sembunyikan Maykel.


Hap. Dapat!


Sapphirenya menatap datar. "Oh... Foto si Murahan."


Hening.


"Kau tidak emosi?"


Bilton menoleh ke arah Sai. "Emosi apa?"


'Kenapa Bilton tidak tahu apa itu emosi?' Batin Orlan.


"Sudahlah... Lalu?" Ia mengalihkan pembicaraan


"Gomen."


"Bisakah kau tidak berwajah datar saat meminta maaf!"

__ADS_1


"Kenapa kau membentak ku, Maykel?"


"Aku ini emosi?!"


"Emosi apa?"


"Kau_" Tubuh yang siap menerjang Bilton. Itu di tarik Orlan. Masa iya mereka bertengkar lagi saat sudah baikan.


"Aku sudah menceritakan teknik main basket kita pada si Murahan."


Aron terdiam. "Jadi, kita harus mengubah tekniknya?"


Bilton mengangguk lesu.


"Itu hal yang mudah. Lagi pula masih ada dua bulan dari sekarang."


"Hai, arigatou." Bibir tipis Bilton tersenyum tipis.


Lagi– hanya hampa yang terasa saat ia menarik sudut bibirnya. 'Kenapa hampa?'


"Hn. Bukan masalah. Tapi kau harus latihan."


"Baik."


Senyum tipis yang Bilton berikan malah membuat sahabatnya janggal. Kemana senyuman lebarnya, pikir mereka.


.


.


.


Aneh. Satu kata itu yang terlintas pada setiap pikiran anggota X5. Ketua mereka, Bilton Nami. Orang hangat, ceria, ramah, dan suka tersenyum lima jari kemana?


Ini bukan Bilton. Jujur saja. Tidak ada Bilton ramah, hangat, dan ceria, melainkan, Bilton yang dingin.


Kecurigaan mereka semakin nampak. Banyak perubahan yang dilakukan Bilton. Semenjak putus dengan Miku. Seperti sering menyendiri saat di basecamp–baca komik– juga seperti saat ini_


"Apa ini karya Bilton?" Maykel tanpa berkedip memandang lukisan musim semi dihadapannya. Lukisan itu sangat indah, hidup, dan menarik. Bahkan hampir sebanding dengan lukisan Rio yang notabene ketua club melukis.


"Ya. Itu karya Bilton."


"Bilton itu payah dalam seni. Kenapa sekarang kemampuannya meningkat?"


"Kalian tak merasa aneh?" Semua menoleh ke arah Orlan. Melihat tatapan sahabatnya yang seperti bertanya 'Apa?' Ia melanjutkan. "Saat kita memukulnya ia tidak emosi, matanya hanya menatap datar kita dengan nada suara dinaikkan. Jangan lupakan saat Maykel berkata marah, Bilton malah bertanya apa itu marah?"


"Kau benar Lan. Apa yang terjadi dengannya?"


"Entahlah, Rio."


"Apa... Karena Miku?"


Orlan mengangguk. "Mungkin Aron."


Ceklek–


Kenop pintu di putar dan nampaklah Bilton yang seperti membawa kanvas. "Eh, kalian sedang apa?"


Rio tersenyum. "Melihat lukisan."


"Oh..." Bilton hanya ber-oh-ria. Kakinya melangkah mendekati sahabatnya.


"Apa itu?" Tanya Maykel.


"Lukisan."


"Hah?" Sedikit cengo, Maykel merampas lukisan di tangan Bilton. Matanya membulat, lukisan bunga mawar ini tampak sangat nyata. Sepertinya Bilton habis dari belakang sekolah. "I-ini karya mu?" Maykel menatap Bilton.


"Hn. Kalian tidak mau pulang?"


Sempat terpana dengan lukisan Bilton, Aron mengalihkan pandangannya menatap sapphire sahabat pirangnya. "Ya. Ayo pulang bersama."


"Nanti, aku club vokal dulu."


"APA?!" Alis Bilton mengernyit, melihat sahabatnya yang nampak sangat aneh. Apa lagi Aron yang jadi out of character–ikut berteriak–


"Se-sejak kapan kau club vokal?"


"Kau sehat?" Itu kata Rio.


"Dobe, ini kau, kan?"


Manik sapphire Bilton berputar. "Em... Minggu lalu. Dan aku sehat, juga ini aku Bilton Nami. Ck, aku pergi dulu."


"Dia semakin aneh."


.


.


.


Risih. Manik violet yang menatapnya tanpa berkedip itu yang membuatnya risih.


"Kaa-chan kenapa sih?"


Kushi berkedip. "Wajah mu kaku sekali Bil-chan." Ia menaruh sendok yang dipegangnya, lalu menyentuh pipi Bilton.


Bilton mengernyit. "Kaku? Apa benar Tou-chan?"


Kishimoto yang tadi menunduk menatap piring sekarang mendongkak. Lalu mengamati wajah copyan dirinya dalam versi remaja. Jujur saja, Kishimoto setuju dengan istrinya. Wajah anak semata wayangnya ini mirip anak rekan bisnisnya–Aron Uchi–


"Tou-chan?"


"Ya."


"Apa aku kaku?"


Kishimoto tersenyum. "Apa kau ada masalah?"


Dan pertanyaan itu membuat Bilton terdiam.


Srettt


"Aku sudah selesai." Ia beranjak dari duduknya.


Kushi menatap sendu punggung putranya. "Anata... Kemana Bilton kita yang ceria? Dia jadi dingin, ada apa dengan Bilton?"


Kishimoto menghela nafas. "Mungkin dia sedang ada masalah."


"Dia juga aneh."


"Aneh?" Alis pirangnya menukik.


"Bil-chan sering mengurung diri di kamar, dan juga dia punya hobby baru yaitu melukis dan main musik."


"Bukankah itu bagus?"


Kushi menoleh. "Bagus? Bagus apanya jika merubahnya menjadi dingin?"


"Ya. Aku akan cari tahu."


...


Bilton mendudukan dirinya di sofa cream ruang keluarga. Tangannya mengambil remote yang berada di kursi. Ia menekan tombol on. Mencari channel talk show yang ditayangkan setiap seminggu sekali tiap hari minggu. Kalau tidak salah gendrenya comedy.


Biasanya setiap ia menontonnya ia akan tertawa. Dan pemuda pirang itu ingin mencobanya kembali. Bilton sudah lama sekali tidak tertawa, akhir-akhir ini hanya hampa yang terasa.


'Apa kau ada masalah?'


Perkataan sang ayah membuat ia menghela nafas. Jika perlu diceritakan Bilton memang banyak masalah. Teman bahkan keluarganya pun tak ada yang tahu tentang keadaan hati hampanya. Sempat berpikir untuk menceritakan semuanya–masalahnya dengan Miku–pada keluarganya, takut dianggap hal sepele. Lebih baik ia tanggung dengan sahabatnya.


Nah, kalau soal hatinya yang hampa. Kadang membuat Bilton bertanya-tanya apakah benar hati setiap orang itu selalu hampa?


Untuk itulah, ia berusaha melupakan semuanya dengan membuat kesibukan baru, melukis dan main musik. Rasanya sedikit mengurangi beban pikirannya. Sering menyendiri juga cara terbaik.


Kepalanya menggeleng. Daripada memikirkan itu, lebih baik ia menonton acar talk show yang sudah mulai.


.


Alis pirangnya mengernyit, sapphire biru Bilton menatap datar layar televisi 42 inchi dihadapannya. Sudah 30 menit ia menontonnya tak ada tawa, atau senyuman di bibirnya. Bahkan, acara lucu tiap minggu yang selalu ia tonton ini tak membuahkan hasil untuk membuatnya tertawa kembali.


'Bilton. Kau kenapa? Ayo tertawa! Ayo! Ayo bahagia seperti orang di televisi!'


Nyuttt..


"Ughhh..." Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri, saat ia mencoba bahagia–tertawa–


Bilton menjambak rambutnya. "Itaii..."


Nyuttt...


Denyutan sialan itu semakin terasa. "Itaii..."


"Kami-sama! Bilton, kau kenapa?" Itu suara ibunya. Dapat Bilton dengar suara langkah kaki yang terburu-buru.


Kushi memegang tangan Bilton yang menjambak surai pirangnya. "Kau kenapa?"


"Itaii... Kaa-chan..."


"Mana? Mana yang sakit?" Kushi duduk di samping Bilton. Lalu menyandarkan kepala pirang putranya pada pundaknya.


Mencoba menyamankan sandarannya pada pundak sang ibu, Bilton bergumam lirih. "Ke-kepala ku... Itaii..."


Khawatir, Kushi khawatir pada Bilton. Ia tidak pernah melihat Bilton seperti ini. Kecuali saat usianya 5 tahun, itupun anaknya merengek karena demam tinggi. "Kaa-chan pijat ya?" Suaranya tercekat menahan tangis.


"Ummm..." Pelan-pelan Bilton membaringkan kepala pirangnya dipangkuan sang ibu.


.


.


Kishimoto menghela nafas. Berkas-berkas penting dihadapannya sudah ia hiraukan dari tadi. Pikirannya bukan berada dikantornya–Nami Corp–melainkan pada putra tunggalnya; Bilton Nami.


Memang sudah 8 hari kejadian saat Bilton sakit kepala di ruang keluarga. Setalah Bilton tertidur kala itu, Kushi memanggilnya. Menyuruh ia memindahkan Bilton kekamarnya.


Menurut Bilton, jika ia tersenyum lebar seperti biasanya, itu artinya membohongi diri sendiri. Itu malah membuatnya terasa gila, membuat ia terlihat bahagia padahal hampa yang selalu di rasa.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu yang nyaring. Membuat pria paruh baya itu tersadar dari lamunanya.


"Masuk."


Ceklek–


Alisnya mengernyit. "Renra? Kau mau kemana?" Tanyanya setelah melihat sekertaris kesayangannya membawa ransel besar dipunggungnya.


Sekarang giliran pria bermasker ini yang mengernyitkan alis. "Bukan kah kemarin saya sudah minta izin untuk berhenti jadi sekertaris Anda, Kishimoto-sama?"


Ah, ya! Ia ingat kemarin Renra –sekertarisnya– mendatanginya dan berkata ingin berhenti jadi sekertarisnya. Dengan dalih. 'Aku ingin membagi ilmu yang ku miliki.' dan dengan lugunya ia menyetujuinya. Ini tidak bisa dibiarkan!


"Oh.. Ya, aku mengerti. Kau boleh berhenti Renra, tapi_"


"Tapi?"


"Tolong carikan psikolog handal untuk putra ku."


Alis Renra mengernyit. Otak jeniusnya berpikir, untuk apa Bilton-sama perlu psikolog?, pikirnya.


"Bilton mati rasa." Seakan-akan bisa membaca pikiran Renra, Kishimoto menjawab dari kesimpulan yang ia buat menurut Bilton.


Mata onyx Renra terbelalak. "Mati rasa? Bagaimana bisa?"


"Entahlah, Biltkn tidak menceritakan secara spesifiknya... Aku hanya mengambil kesimpulan dari ceritanya."


"Hai Kishimoto-sama, kebetulan saya punya kenalan seorang psikolog. Mungkin ia bisa membantu."


"Arigatou Renra."


"Hai Kishimoto-sama."


.


Ceklek


Renra menutup pintu jati kokoh yang menutup ruang atasannya. Setelah ia melakukan kesepakatan dengan Kishimoto, ia boleh keluar saat mendapat psikolog untuk Bilton. Renra keluar ruangan Kishimoto.


Tangannya merogoh ponsel di celana bahannya. Jemarinya menyentuh tombol kontak_


Rekson calling


Tut... Tut... Tut...


"Hallo?"


"Yo. Rekson, ini aku Renra. Aku butuh bantuan mu."


.


.


.


Sapphire biru Bilton melirik malas pada sang Ayah yang sedang mengemudi dijalanan lenggang perumahan elit.


Dalam hati ia menggerutu. Sudah ia duga Ayahnya akan bertindak berlebihan. Masa iya Bilton di bawa ke psikolog.


"Berhentilah berwajah datar."


"Berhentilah mengoceh bahwa aku tidak akan diapa-apakan."


Kishimoto terkekeh. Anaknya jadi pintar berkata-kata. "Kau hanya akan berkonsultasi saja. Tidak sampai menginap."


"Tapi aku tidak mau. Tou-chan."


Kishimoto mengangkat bahu. "Terlambat. Kita sudah sampai."


Bilton berdecak. Lalu keluar dari mobil.


"Ohayou Kishimoto-sama, Bilton-sama." Bee menyapa Kishimoto yang sudah pernah diceritakan Rekson akan datang.


"Ohayou mo Bee-san." Manik sapphire Kishimoto melirik Bilton yang benar-benar tidak ada niat membalas sapaan Bee. Disikutlah lengan Bilton.


Bilton mendongkak. Melihat tatapan sang Ayah seakan berkata. 'Jawab, atau uang jajan mu hilang?' Ia menghela nafas. "Hn. Ohayou Bee-san."


"Hai. Silahkan masuk."


'Bahkan menyapa orang pun ia tidak mau. Kalau dulu mungkin Bilton akan berkata, jika tak di balas sapaan itu sakit.'


...


"Jadi... Bilton kenapa Rekson-san?" Setelah Bilton menceritakan semuanya pada Rekson, Kishimoto langsung buka suara.


Rekson tersenyum ke arah Kishimoto. "Dugaan Kishimoto-san benar. Bilton mati rasa. Dalam bahasa sekarang, disebut alexithymia."


Bilton mengernyit. "Alexithymia?"


"Ya. Alexithymia, Bagi orang yang menderita penyakit alexithymia, akan sulit mengungkapkan perasaan, bahkan tidak tahu emosi apa yang dirasakannya. Apa benar?"


Bilton berpikir, sulit mengungkapkan perasaan. Itu yang dirasakannya seminggu yang lalu. Sedikit ragu, Bilton mengangguk.


"Apa Bilton-san pernah mencoba berekspresi?"


"Ya."


"Kapan?"


"Minggu kemarin aku ingin tertawa dengan tulus ternyata sulit."


Manik sapphire Kishimoto terbelalak, kepalanya menoleh ke arah putranya. 'Jadi sakit kepala hebat itu gara-gara ingin tertawa?'


"Apa yang Bilton-san rasakan?"


"Kepala ku sakit, semakin mencoba tertawa tulus semakin sakit."


"Itu karena penyakit alexithymia, sering dianggap disertai dengan gangguan psikosomatis yang melibatkan gejala fisik dari tubuh yang diperburuk oleh pikirannya, seperti orang yang sangat marah tapi tidak bisa mengekspresikan kemarahannya akan mengalami sakit perut." Jeda. "Seperti halnya Bilton-san, yang ingin tertawa dengan tulus ia mengalami sakit kepala. Itu termasuk gangguan psikosomatis."


"Apa gangguan psikosomatis itu berbahaya?"


Rekson menghela nafas, lalu ia membenarkan letak kacamatanya yang agak melorot. "Entahlah, Kishimoto-sama. Ada kemungkinan akan berbahaya jika sering mengalaminya."


Mendengar jawaban Rekson. Kishimoto menatap sendu putra pirangnya.


"Ah, ya... Jika Bilton-san tidak percaya menderita alexithymia, ada beberapa tanda-tandanya."


"Apa... Itu?"


"Pertama terlalu logis, tidak sentimentil, dan kurang empati."


Sapphire Kishimoto terbelalak. 'Tadi pagi itu, kurang empati.'


'Apakah waktu itu aku tidak sentimentil pada Aron, Orlan, Rio, dan Maykel?'


"Jarang melamun atau berimajinasi tentang dirinya di masa depan. Apa itu pernah terjadi?"


Bilton mengangguk. Dan Kishimoto menatap sendu anaknya.


"Menyikapi seni seperti, musik, sastra dan lainnya dengan tenang. Apa Bilton-san dulu tidak suka seni?"


"Ya. Dan sekarang aku menyukainya."


"Kemudian, sulit berbicara mengenai emosi sendiri. Betul, kah?"


Kembali, kepala pirang Bilton mengangguk membenarkan. Itulah yang ia rasa akhir-akhir ini.


"Merasa bingung dengan reaksi emosional orang lain. Pernah merasa?"


"Ya. Itu benar." Ia termenung saat proses minta maaf dengan wajah datar. Maykel berkata bahwa ia emosi, dan Bilton tak tahu itu. 'Jadi itu yang namanya emosi..' Kepalanya mengangguk pelan.


"Dan juga. Untuk pertanyaan sederhana memberikan jawaban yang bertele-tele."


Biltom mengernyit. "Tidak."


Rekson tersenyum. "Meski begitu, dominan jawaban 'ya' benar, kan?"


Dengan lesu Bilton menangguk. Ia kira tidak menderita satu ciri saja akan menyebabkan Bilton tidak menderita alexithymia.


Rekson melanjutkan kembali. "Kadang menderita gangguan fisiologis seperti sakit perut, muka memerah, sakit kepala. Seperti yang dirasakan Bilton-san."


"..."


"Tidak menggunakan perasaan dalam membuat keputusan pribadi, tetapi berdasarkan prinsip."


Biltom menghela nafas. Memang ia menderita alexithymia. Kebanyakan jawabannya 'ya' terhadap ciri-ciri yang diberikan Rekson.


"Oh. Ya. Bilton-san mengalami alexitymia state."


Kishimoto mengernyit. "Apa itu?"


"Yaitu penyakit alexithymia yang hanya muncul sementara dan biasanya memiliki sebab yang khusus. Post traumatic stress disorder (PTSD) akibat peristiwa mengerikan yang dialaminya, adalah salah satu contoh penyebab paling umum dari penyakit alexithymia ini."


"Jadi aku bisa sembuh?"


"Iya. Biltom-san memang bisa sembuh. Tapi... Entah kapan."


"Jadi, apa obatnya?"


Rekson menoleh ke arah Bilton. "Belum ditemukan. Tapi, dukungan dari keluarga dan orang terdekat bisa membuatnya bangkit."


Bilton termenung. "Bagaimana dengan hati ku yang hampa?"


"Ayo, kita belajar mengenai perasaan kembali?"


Kishimoto juga Bilton tersenyum. "Hai arigatou Rekson-san."

__ADS_1


.


.


.


"Alexithymia adalah nama lain dari mati rasa, dan kau menderita alexitymia state yang disebabkan oleh masa lalu buruk mu dengan Miku. Kemungkinan kau bisa sembuh, tapi obatnya belum ditemukan. Dan, kau belajar mengenai perasaan dengan Rekson-san Dokter baru mu."


Orlan menghela nafas, ternyata sahabat pirangnya benar-benar sakit. Mana sakitnya mati rasa, Rio saja yang akan bilang 'Kau sehat?' menelan kembali pertanyaannya. Karena ia tahu sekarang, bahwa Bilton sakit.


Bilton mengangguk mendengar kesimpulan yang di buat Orlan.


"Kalau begitu kami akan membantu mu!"


Kepala pirangnya menoleh ke arah Maykel. Kemudian bibirnya tersenyum tipis. "Arigatou Maykel."


"Aku juga akan membantu mu."


"Asal jangan membantu bagaimana cara tersenyum palsu saja." Bilton berdecak.


Rio tersenyum. "Tentu!"


"Kami akan membantu mu, Dobe."


"Arigatou Teme."


Orlan beranjak dari duduknya. "Kalau begitu ayo kita latihan basket. Satu minggu lagi lombanya."


"Yoshhh ganbatte minna!"


.


.


.


Bilton tersenyum tipis melihat Aoi seperti berkeringat dingin. Sedangkan Miku harap-harap cemas, tidak mungkin Bilton menipunya, bukan?


Pritttt..


Tiupan melengking pluit, tanda dimulainya permainan menggema.


Alis imajiner Aoi mengernyit. 'Sial mereka mengubah strategi dalam waktu singkat!'


Disebelahnya Kuroko menyikut lengannya. "Kau bilang teknik mereka seperti yang kau jelaskan kemarin. Kenapa sekarang berubah?" Bisiknya.


"Ck, mana ku tahu!"


Hap.


Baru saja bola di lempar susah dikuasai Aron. "Bilton! Ambil!"


"Yo, Teme!"


Hap.


Dug... Dug... Dug...


Sapphire birunya menatap datar Aoi yang sedang berusaha menghadang bola di depannya.


Tap.


Bilton berhenti melangkah, satu tangannya mendrible bola. "Jangan remehkan X5, Panda." Bisiknya.


Aoi menggertakan giginya. "Kau!"


"Aku bukan yang dulu, manusia bisa berubah kapan saja Sabaku."


'Sial!' Tangan pemuda berambut merah maroon itu terkepal.


"Onizuka Junior is the winner."


Dugh.


Disenggollah bahu Aoi.


"Tangkap Maykel!"


Hap.


"Yo!"


Dug... Dug... Dug...


Syuttt...


"Kyyyaaa kita dapat sekor!"


Teriakan salah satu siswi menyadarkan lamunan Aoi. "Ck, sialan kau Nami!"


"Aoi kau kenapa?" Tanya Kuroko yang heran melihat Aoi mematung. "Mereka sudah mencetak point."


"Ck, kita balas dia."


.


"Orlan, Bilton bermain kasar." Rio menatap Naruto yang menyenggol bahu Aoi.


"Ya. Kalau dia yang dulu, pasti berpikir itu akan menyakiti orang lain."


.


.


"Kau memang hebat, Nami."


Bilton tersenyum tipis. "Hn."


"Kapan-kapan kita bertanding sportif. Dan maafkan aku, aku hi_" Tangan mereka berdua belum terlepas–masih bersalaman– ya, lagi-lagi Onizuka Junior menang.


"Kau juga hebat, Sabaku. Hn tak masalah, asal jangan kau ulangi." Mendengarnya Aoi tersenyum tipis.


"Yo, maaf mengganggu kalian." Bilton dan Aoi menoleh ke arah Maykel.


"Apa?"


"Kita harus foto bersama, Bilton."


"Ya. Sampai jumpa lain waktu, Sabaku."


...


"Siap minna-san!"


"Hai!"


1


2


3


Cekrek.


Foto lalu keluar, menampilkan suasana yang berbeda dari semester kemarin. Tidak ada cengiran lebar Bilton, hanya ada senyum tipis dibibirnya, Aron berpose cool sama dengan Orlan. Maykel menampilkan cengiran dengan gigi taringnya, Rio tersenyum aneh.


.


.


"Bilton-kun, a-aku... Aku menyukai mu, terimalah cintaku!" Gadis dihadapan pemuda pirang itu menundukan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merah. Kedua tangannya mengangsurkan kotak kado berwarna merah dengan pita merah muda yang Bilton yakini berisi coklat.


Tatapan datar Bilton perlihatkan, dalam hati ia berdecak, melihat gadis ini menembaknya. Tak pernah dengarkah ia, bahwa Bilton Nami itu bermulut pedas? "Kau bukan tipe ku, carilah cowok lain yang bisa menerima mu." Setelahnya ia melengos.


...


"Lihat! Sok keren sekali si Kitsune! Pake nolak cewek segala. Coba kalau untuk ku." Maykel menunjuk-nunjuk Bilton dari atap sekolah.


Rio tersenyum aneh. "Bilton memang keren, tidak seperti mu Maykel."


"Apa kau bilang Zombie?!"


"A_"


"Ini sudah yang ke lima belas kalinya ia menolak seorang gadis semenjak kita masuk Senior High." Aron, Rio, dan Maykel mengalihkan pandangan dari taman belakang, ke arah Orlan yang sedang berbaring di bangku panjang atap sekolah.


Mata Maykel membulat. "Kau menghitungnya?"


Orlan mengangkat bahu. "Mungkin."


Maykel berdesis. "Jual mahal sekali dia."


Ceklek.


"Bilang saja kau sirik. Inu-chan."


Maykel menoleh ke arah Bilton yang baru saja membuka pintu. "Sirik?! Dalam mimpi mu!"


"Dia bilang tadi ingin di tembak cewek."


"Urusai Zombie!"


"Makanya, sering-seringlah berdo'a di Kuil."


Maykel menoleh ke arah Aron. "Benarkah?"


Aron mengangkat bahu. "Mungkin."


Dan mereka tertawa melihat ekspresi menyedihkan Maykel.


.


.


.


Flashback And


.


.


.


.


"08:05." Bibir mungil Chely menghela nafas. Mengingat Renra-sensei selalu saja terlambat. Ini sudah lewat 35 menit. Dan Sensei bermasker itu belum datang juga.


Jika begini, seperti biasa kelasnya selalu ribut. Ia jadi tidak bisa konsentrasi, boleh di bilang, Chely sedang berpikir, ini sudah 2 hari lewat dari pengumuman Dei tentang bernyanyi duet, dan ia belum berdiskusi dengan pasangannya Bilton.


Chely jadi gemas sendiri dengan tingkah pasangannya. Iya... Chely sudah tahu, jika Bilton itu vokalis band, tapi jangan terlalu santai juga.


Tanpa sadar ia melirik Bilton yang sedang mendengarkan musik lewat headphonenya. Bibirnya berbisik. "Dasar, Kitsune menyebalkan."


"Apa kau bilang?"


Chely tersentak. "A-ano_"


"Apa kau bilang?" Suara Bilton makin mendesis. Memang dari tadi ia mendengarkan musik dengan volume kelewat kencang untuk menghindari kebisingan kelas. Tapi, siapa yang tidak akan penasaran jika ada orang yang terus mengawasi mu dari sebelah? Saat dia menoleh Chely sedang berbisik. Dan seharusnya gadis bakpao itu tahu bahwa ia bisa membaca gerak bibir.


"Bu-bukan apa-apa."


Manik sapphire Bilton memicing. "Kau yang menyebalkan, Bakpao."


Chely mengerucutkan bibir. "Hai...hai..."


Pemuda pirang yang melihatnya hanya tersenyum tipis. 'Lagi, perasaan apa ini?'


Ceklek


Pintu ruang kelas terbuka, memanggil para siswa-siswi untuk duduk di bangkunya masing-masing. Renra yang sekarang masuk untuk mengajar pelajaran biologi menduduki kursi di depan kelas.


"Ohayou minna."


"Ohayou mo Sensei."


"Ma_"


"Sudahlah kami sudah memaafkan Sensei."


"Hai arigatou. Begini, hari ini akan ada pengocokan teman sebangku."


"Pengocokan teman apa Sensei?"


"Begini Maykel. Jadi, teman sebangku kalian akan ganti sampai 2 bulan ke depan."


Mata Maykel berbinar. "Akhirnya... Aku sudah bosan duduk dengan si Kitsune!"


Bletak.


"Apa yang kau lakukan?!"


Bilton melirik malas ke Maykel "Kau pikir aku senang duduk dengan mu, hah? Jika tidak terpaksa aku juga sangat malas."


"Apa kau_"


"Harap tenang."


"Lalu siapa pasangan kami Sensei?"


Renra menoleh ke arah Wulan. " pasangannya sudah Sensei tentukan menurut nomor absen yang sudah di kocok."


"Yahhhh..."


"Nah, daripada penasaran akan Sensei gambarkan."


Renra lalu menggambar kotak-kotak yang menyerupai bangku di papan tulis. Kemudian ia menuliskan dua nomor absen di gambar kotak yang Renra anggap sebagai bangku.


"Tena-chan?"


"Ya, Chely-chan?"


"Yang absen 17 siapa ya?"


Tena terdiam. "Entahlah, ku harap Chely-chan sebangku dengan orang pintar."


"Ku harap juga begitu."


"Pig?"


"Apa sih, Forhead?!"


"Kau sebangku dengan absen berapa?"


"20. Kau?"


"Aku 23. Hah.. Mana aku tidak tahu siapa."


Renra menoleh ke arah muridnya yang sedang mendiskusikan pasangan sebangku. "Nah, sudah selesai. Silahkan pindah ke bangku barunya sesuai petunjuk gambar di depan. Ingat, jangan curang!"


"Hai Sensei!"


Semua murid beranjak dari duduknya. Termasuk Chely Hyuu, gadis manis yang terlihat lesu berpisah dengan Tena –kawan sebangkunya–dalam pikirannya berkecamuk, ia takut sebangku dengan orang yang suka mencontek, jutek, dan yang paling parah takut di bully.


Kepala indigonya kembali mendongkak. Melihat ke arah papan tulis. "Bangku empat dekat jendela." Gumamnya. Dengan tangan lemas tak bertenaga, Chely meraih tasnya.


Empat... Empat... Empat...


Binggo!


Srettt.


"Ketemu." Gumamnya lalu duduk di kursi. Karena malas Chely langsung saja merebahkan kepalanya di atas meja, menghadap ke arah jendela.


Manik sapphire Bilton terbuka, ia terbangun karena ada yang menggeser bangku disampingnya. Dihadapannya, gadis yang selalu ia panggil 'bakpao' sedang merebahkan kepalanya di atas meja menghadap kearahnya. Kelopak mata putih itu masih tertutup menyembunyikan manik lavender yang indah, sebagian surai indigonya menutupi sebagian wajah putihnya, hidung mancung nan mungil Chely, dan juga pipi tembam yang seaka-akan minta Bilton cubit.


Hangat. Tenang. Menenangkan. Selalu saja seperti ini jika dekat dengan gadis 'bakpao' ini, dan juga ada rasa baru yaitu jantungnya selalu berdetak dua kali lipat jika dekat dengan gadis Hyuu dihadapannya. 'Perasaan apa ini? Dan kenapa jantung ku berdetak cepat? Sepertinya aku harus operasi jantung.'


Di rasa surai indigo yang menghalangi pandangannya terhadap gadis 'bakpao', Bilton mengangkat tangannya menyibakan sebagian surai indigo yang di anggap menghalangi.


Alis Chely bertautan, baru saja ia tidur sebentar, ia terbangun kembali karena merasa ada seseorang meyentuh pipinya. Kelopak mata putih itu terbuka, menampilkan manik lavendernya yang indah. "Ngghhh..."


Bilton tersentak, saat melihat kelopak mata Chely terbuka. Segera ia menarik tangannya kembali. 'Apa yang kau lakukan Bilton?!' Rutuknya dalam hati.


Chely mengernyit, memperjelas apa yang di lihat dihadapannya. Ia berkedip. Dihadapannya ada seorang pemuda yang sedang merebahkan kepalanya di atas meja, berhadapan dengannya. Rambutnya pirang, manik sapphire yang membuatnya enggan berpaling, hidung mancung, bibir tipis, dan tiga goresan di pipi.


Manik lavender Chely membulat. "Na-Nami-san?"


"Hai." Sapaan dengan senyum miring hadir di bibir Bilton.


"Ke-kenapa di sini?"


Alis pirangnya bertautan. "Kau kira ini hanya meja mu, hah?" Kepala mereka masih rebahan di atas meja dan saling berhadapan.


Bibir Chely mengerucut. "Ma-maksud ku bukan itu. La-lagi pula aku juga bayar, sekolah di sini."


'Hangat.'


"Lalu, kau mau aku pergi?"


Chely beranjak dari rebahannya. "Bu-bukan itu, maksud ku. Nami-san absen 17?"


"Menurut mu?" Bilton juga beranjak dari rebahannya. Mereka bertatapan.


'Hangat.'


"Be-berarti kita teman sebangku."


"Hn?"


'Kami-sama!'


"Bagaimana? Puaskah dengan pasangannya?" Semua murid menoleh.


"Ishhh... Sensei." Indah berdesis. "Ini sih pasangan duet kami."


"Duet?" Beo Renra.


Maykel mengangguk. "Tugas dari Dei-sensei duet, dan inilah pasangan kami."


"Begitu ya?" Renra mengangguk. "Lagi pula ini hanya dua bulan, kan?" Lanjutnya.


'Du-dua bulan?!' Jerit Chely dalam hati.


.


.


.


.


To Be Continued


yeayy selesai bagaimana? udh taukan kenapa Bilton jadi dingin gk berprasaan^Δ^


Penyakitnya Bilton kek Author soalnya selalu Hampa;')


Bilton : Bukan Hampa thor lo aja yg mau di prhtikan oleh bnyak org


author : baka kitsuneeee


Bilton : apaaa!!!!!


saat mereka bertengkar

__ADS_1


Chely : hai haii kita next episode brikutnya yaaa^Δ^


__ADS_2