
.
.
.
"Yo, Bilton ambil!"
Hap
Bola yang tadinya di lempar Maykel kini di tangkap sang Kapten Basket Nada Gakuen. Sapphire biru Bilton menatap tajam ring basket dihadapannya.
Dug... Dug... Dug...
Syuttt
"Kyyyaaa Bilton-kun keren?"
"Aku jadi semakin mencintai mu Bilton-kun!"
"Bilton-kun ganbatte!"
Trang!
Kaleng kosong minum soda itu di lempar kasar oleh pemuda bersurai coklat dengan wajah cemberut.
Rio berkedip, ia jadi bingung melihat Maykel, padahal 5 menit yang lalu saat club basket si Inu masih ceria-ceria saja, lalu sekarang Maykel kenapa? 'Aku harus menghiburnya.' Rio tersenyum aneh. "Wajah mu jelek sekali Maykel."
Twich, perempatan hinggap di kepala Maykel. Apa katanya, jelek?!
Sedangkan tiga pemuda lain yang berada di ruang ganti hanya tersenyum remeh.
"Apa kata mu Zombie?! Kau juga sangat pucat!"
Rio mengendikkan bahu. "Aku tahu aku pucat."
"Ya. Kau ju-ga tak ka-lah je-lek-nya de-ngan ku."
"Ah, terima kasih Maykel."
Maykel mengepalkan tangannya ia sungguh ingin menjambak surai hitam Rio.
"Kau kenapa Maykel?"
Maykel menoleh, matanya menyipit menatap Orlan. "Semua ini gara-gara dia!" Telunjuknya menunjuk pada Bilton.
Pemuda yang saat ini sedang sibuk dengan ponsel silvernya mengernyitkan alis. "Aku?" Bilton menunjuk hidung mancungnya.
"Kenapa kau yang selalu jadi bulan-bulanan? Padahal aku juga berperan saat tadi kau memasukkan bola ke ring basket, jika saja aku tidak mengovernya, mungkin kau tak akan mencetak point Kitsune!"
Semua menghela nafas melihat kelakuan kekanak-kanakkan Maykel.
Sudut bibir tipis Bilton tertarik. "Jadi kau sirik."
Mata Maykel membulat, secara tidak langsung ia mengakui bahwa dirinya iri pada si pirang! No no no! Bisa-bisa Bilton besar kepala.
"Bu-bukan begitu hanya saja_"
Rio tersenyum aneh. "Hanya saja ia ingin jadi idola para gadis."
"Iss... Aku jugakan sudah jadi idola para gadis."
"Makanya–" Kepala Maykel menoleh ke arah Bilton. "—punyalah wajah tampan seperti kami."
Orlan mengangguk.
Rio tersenyum aneh.
Aron hanya ber-hn-ria.
Bilton sendiri tersenyum mengejek.
"Sorry ya..." Maykel melipat tangan di depan dada. "Pertama, aku sudah tampan. Kedua, meskipun aku jelek, aku tidak mau punya wajah datar, senyum aneh, dan wajah malas." Matanya menatap wajah masing-masing sahabatnya.
"Meski begini kami laku." Orlan yang diam dari tadi buka suara.
"Dan mempesona." Rio masih saja tersenyum aneh.
"Tsch, terserah kalian saja." Maykel beranjak dari duduknya. "Aron ayo pulang."
"Hanya Aron saja yang kau ajak?"
"Memang kenapa?" Kepalanya menoleh ke arah Rio. "Orang hanya dia saja yang menghargai keberadaan ku."
"Kau yakin tidak akan ada yang cemburu?"
Alis Kiba mengernyit, kemudian bibirnya membentuk seringai jahil. "Oh, ya... Bil-chan aku pinjam Aron-kun mu sebentar."
"Inu!" Teguran itu di dapat Maykel dari Bilton dan Aron. Sebelum menerima komik tebal Aron, Maykel berlari keluar ruangan club.
"Aku ingin segera tidur." Orlan menguap, ia menyampirkan tas dibahunya.
"Aku ingin segera melukis."
"Hn." Alis Aron mengernyit melihat sahabat Kitsune nya hanya santai saja, bukankan waktu club basket sudah selesai? "Kau tidak pulang Dobe?"
Bilton mengangkat kepalanya, sapphirenya menatap Aron yang berdiri dihadapannya. "Hn. Nanti saja, aku masih ingin latihan."
"Terserah kau saja. Rio, Orlan, ayo pulang."
Si pirang menatap ke tiga sahabatnya yang keluar ruangan ganti. "Lagi pula ini masih pukul 4 sore."
.
.
"Chely-chan, Kaa-san ku sedang sakit..."
"Chely-chan, hari ini Jii-san ku mau datang..."
Chely menghela nafas, sebenarnya bisa saja ia menolak permintaan teman-teman yang jadwal piketnya sama dengannya. Tapi kalian tahu sendiri bagaimana lembutnya hati Chely?
"U-umm... Tidak apa-apa kalian pulang saja." Bibir mungilnya tersenyum manis.
"Kyyyaaa... Arigatou Chely-chan!" Pekik keduanya sambil memeluk Chely.
"Doita na."
Pelukannya terlepas. "Kami duluan ya, jaa..."
Chely melambaikan tangan. "Jaa ne..."
"Andaikan ada Indah-chan, Wulan-chan, dan Tena-chan, sudah pasti mereka akan membantu ku piket... Tapi mereka bertiga ada acara keluarga."
... Itu pukul 15.00 dan sekarang pukul 16.30
Chely menggembungkan pipinya. Sebenarnya ia salah apa hari ini? Padahal Chely sudah piket kelas sendirian; di mulai dari menyapu, membersihkan kaca, mengepel, dan yang terakhir buang sampah. Tapi saat ia akan pulang malah di sambut hujan lebat. Padahal ini musim semi, tapi malah hujan. Chely juga tidak mengerti, sekaligus itu ramalan cuaca di televisi tetap saja keliru, pagi hari bahkan dinyatakan hari ini akan cerah. Namun, manusia itu memang mahkluk yang tak luput dari kesalahan.
Kembali–bibir mungilnya menghela nafas, mana ini sudah sore, sekolah juga sudah hampir sepi, Chely tidak tahu apa masih ada yang mengikuti club. Dan, 30 menit lagi Tetsu dan Nando akan pulang.
"Ba-bagaimana ini?" Bibir bawahnya ia gigit.
"Apa aku terobos hujan saja?" Tapi Chely'kan tidak kuat dingin.
Jadi saat ini Chely hanya berdiri di gedung utama dengan wajah cemberut.
.
.
"Hujan?" Alis pirangnya mengernyit, baru saja ia keluar ruangan ganti namun suara hujan sudah menyambutnya.
Bilton mengangkat bahu. "Hn. Padahal masih pukul 16.30." Biasanya saat musim semi hari akan cerah sepanjang hari, tapi ini malah hujan.
Ia mengendikkan bahu. "Apa peduli ku."
Kakinya kembali melangkah, sapphire biru Bilton memandang ruangan-ruangan yang dilaluinya. Sekolah sudah sepi mana mungkin ada murid yang masih berkeliaran sore hari begini.
Tepat dibelokkan, kaki jenjangnya belok kanan menuju gedung utama. Langkahnya terhenti diikuti alis mengernyit. "Siapa itu?"
Sapphirenya semakin tajam menatap orang 15 meter dihadapannya. Sepertinya ia seorang gadis, terlihat dari pakaiannya, dan juga rambut panjangnya. Tapi, untuk apa seorang gadis masih ada di sekolah? Apa lagi ini hujan lebat.
Tap... Tap... Tap...
Naruto makin mendekat, sapphirenya masih menatap selidik. 'Indigo?' Surai gadis itu makin terlihat. Ini seperti–'Dia si Bakpao. Tapi sedang apa?'
Dengan senyum miring dan pikiran penasaran Bilton mendekat ke arah Chely.
.
.
"Sedang apa manis?"
Deg!
Jantungnya berpacu cepat mendengar bisikkan orang dibelakangnya tepat di telinga.
'Apa di-disini ada orang lain?' Pikiran Chely mulai melantur mengingat sekolah sudah sepi. 'Aku takut...' Apa lagi disini sudah tidak ada orang, jika Chely diapa-apakan bagaimana?
Deg!
Makin meneganglah ia kala tangan seseorang membelai pipi tembamnya.
"Si-si-siapa kau?"
"..."
"Aku mo-mohon ampuni aku."
Sungguh Bilton, si tersangka merasakan perasaan geli dihatinya. Apa lagi saat mendengar nada memohon si Bakpao.
'Perasaan apa ini?'
"Itaii..." Pekik Chely saat tangan seseorang dibelakangnya mencubit pipinya. Refleks Chely berbalik, lavendernya membulat. "Nami-san?"
Cubitan di pipi Chely terlepas. "Hn?"
Karena jarak yang terlalu dekat, Chely mundur selangkah. "Sedang apa disini?"
Alis si pirang menukik. "Kau mengusir ku, hah?"
Chely gelagapan. 'Selalu saja salah paham.'
"Bu-bukan begitu, aku hanya tanya."
"Lagi pula ini sekolah milik Nenek ku."
Dalam hati Chely menghela nafas. Entah mengapa kekuasaan Bilton sangat besar. "Hai... Hai..." Ia membalikkan tubuhnya, kembali berhadapan dengan hujan.
"Pipi mu makin bulat saja."
Chely menoleh ke samping, ternyata Bilton sudah berdiri disampingnya. "Huh?" Refleks ia menangkup pipi tembamnya.
"Kebulatannya sangat berbeda dari terakhir kali aku mencubitnya."
Chely cemberut. "Pipi ku sama saja."
Bilton menoleh. Sapphire dan lavender bertemu. "Tidak. Pasti kau menghabiskan semua cake dari ku."
"Ti-tidak Hana-chan juga memakannya, malahan dia yang paling banyak." Chely menggembungkan pipinya.
'Hana? Apakah adiknya?'
"..."
"..."
"..."
"Nami-san?" Chely menatap Bilton dari samping, bisa ia lihat si pirang tampan berwajah datar. 'Tidak bergairah sekali.'
Tanpa menoleh ke arah Chely, Bilton bergumam. "Hn?"
"Kenapa ti-tidak pulang sekarang?"
"Kau mau aku hujan-hujannan, begitu, hah?"
"Inikan me-memang hujan"
Bilton juga menoleh. "Kau, berani melawan ku?"
'Ga-gawat, dia marah.'
"Bu-bukan be-begitu."
Bilton kembali menatap hujan. "Lalu, kenapa kau belum pulang?"
Dapat Bilton dengar bahwa gadis disebelahnya menghela nafas. "Aku habis piket."
"Lalu?"
"Lelah sekali..." Mata Chely terpejam.
"..."
"Dan aku sendirian. Lalu terjebak hujan, Nami-san kenapa tidak pulang?" Lavendernya terbuka, lalu menatap Bilton yang entah sejak kapan menatapnya.
Tangan Bilton terkepal, ada perasaan tidak rela dihatinya mendengar Chely piket sendirian. Jika ia tahu siapa teman piket si Hyuu Bilton ingin sekali memarahinya–jika saja ia normal.
"Aku bawa motor." Ia malas hujan-hujanan, jika Bilton nekat menerobos hujan pasti Kushi akan mengomel. Dan mana Bilton tega meninggalkan Chely sendirian di sekolah sepi ini.
Ah, sekarang Chely mengerti kenapa dari tadi Bilton malas pulang. Memang hujannya agak lebat mungkin si pirang malas hujan-hujannan. 'Oh jadi motor sport hitam orange itu milik Nami-san.'
"U-um..." Kepala indigo Chely mengangguk.
"Bakpao?"
"Ha-hai."
"Bisakah kau berhenti memanggil ku Nami-san?"
Kelopak mata Chely berkedip. "A-apa? Jadi aku harus memanggil mu apa?
Bilton mengangkat bahu. "Mana ku tahu."
Telunjuk lentiknya Chely taruh di dagu, ia sedang berpikir. "Ba-bagaimana kalau... Um, Bilton-san."
"Hn. Ku rasa itu lebih baik." Meski begitu, ada perasaan mengganjal dihatinya, inginnya sih ia mendengar Chely memanggilnya Bilton-kun. Itu lebih manis, kan? 'Apa yang ku pikirkan?' Kepalanya menggeleng.
Suara hujan lebat menjadi backsound dari ke dua insan yang berdiri di gedung utama. Lama kelamaan angin bertiup cukup kencang.
Bilton mengernyitkan alis, suasana menjadi hening. Ia jadi merasa canggung, jika saja Bilton normal, ia lebih suka mendengar suara gagap Chely namun lembut, pipinya yang menggembung karena ia goda. Bilton menoleh. Sapphirenya membulat, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat, tapi ia tidak suka perasaan kali ini, sepertinya si gadis tidak sadar bahwa–
"Kau mimisan."
"Apa?" Chely menoleh. Tangannya mencoba meraba hidung mungilnya. "Da-darah?"
__ADS_1
"Dongakkan kepala mu."
Chely menurut, ia mendongakkan kepalanya. Bisa dirasakan bahwa ada kain yang menyumbat lubang hidungnya, juga tangan kiri Bilton yang menyangga kepalanya. Ya, itu dasi milik Bilton yang dilepaskan secara asal.
"Terus dongakkan." Perintahnya saat kepala indigo Chely bergerak-gerak, mungkin si Bakpao tidak nyaman dengan keadaan wajah mereka yang dekat.
"Ke-kenapa?" Tangan Chely refleks memegang lengan kanan Bilton yang masih menyumbat hidungnya dengan dasi hitamnya.
"Aku khawatir pada mu."
Chely berkedip. Posisi mereka masih dengan wajah yang berdekatan. "Kha-khawatir?"
"Kau pasti tak kuat dingin. Kita cari kelas kosong." Bilton manarik lengan Chely, dan si gadis Hyuu sendiri meyumbat hidungnya dengan dasi si pemuda.
Tanpa Bilton sadari, perasaannya telah kembali dan ia merasa empati.
.
.
Helaan nafas terdengar, jujur saja ia merupakan salah satu orang yang membenci hujan di sore hari, apa lagi saat masih berada di lingkungan sekolah seperti ini. Ini hanya akan menghambat Renra pulang.
Belum lagi tugas memeriksa ulangan harian murid.
"Ck." Kembali Renra berdecak sebal, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat ia di suruh Tsuna meneliti perkembangan murid di sekolah. Tak bisakah tugasnya itu diserahkan pada orang yang lain? Oh ayolah... Renra sangat malas.
Setelah memastikan bahwa ruang guru telah terkunci rapat, Renra melangkah menuju gedung utama untuk mencapai lapangan parkir.
Tap.
Langkah kakinya menggema, selain hujan sekarang juga sekolah sudah sepi. Jika saja ia orang penakut sudah pasti akan lari terbirit-birit. Melihat belokkan Renra belok kiri.
"Kau mimisan."
Samar-samar Renra mendengar suara seseorang, sepertinya seorang pemuda terdengar dari suara baritonenya. Tapi sedang apa? Kemungkinan sekolah sudah kosong, inikan sudah sore. Club juga dibubarkan pukul 16.00 tepat.
"Apa?"
Ini pasti suara seorang gadis, semakin penasaranlah ia. Dipajukanlah langkahnya.
"Da-darah?"
'Bilton... Dan Chely. Sedang apa mereka?' Alis Renra makin mengernyit, apa lagi saat Bilton melepas kasar dasi yang dikenakannya lalu memakainya untuk menyumbat hidung Chely. 'Mimisan, kah?'
Renra tersenyum. "Kau peduli, ne, Bilton? Aku belum pernah melihat mu cemas." Meski dalam jarak 10 meter, Renra dapat melihat tatapan khawatir dari sapphire biru Bilton, apa lagi untuk seorang gadis, itu sangat langka.
"Dongakkan kepala mu."
Renra kembali tersenyum, melihat Chely menuruti perintah Bilton.
"Terus dongakkan."
Sekuat tenaga ia menahan tawanya, melihat wajah jengkel Bilton saat Chely tidak diam di suruh mendongakkan kepalanya. Renra jadi merasa nonton drama picisan ala remaja secara live.
"Ke-kenapa?"
Mungkin Chely heran, sehingga bertanya seperti itu, bukan Chely saja, tapi Renra juga heran melihat kepedulian Naruto.
"Aku khawatir pada mu."
Deg!
'Apa Bilton bilang? Khawatir?' Semakin ditajamkanlah pendengarannya. Apa ia tidak salah dengar... Bilton bilang khawatir, bukankah selama ini si pirang tidak punya rasa empati? Tapi kenapa Bilton bilang begitu? 'Apa kau sudah sembuh Bilton? Dan kau tidak menyadarinya?'
"Kha-khawatir?"
Semakin membulatlah onyx Renra kala mendengar pernyataan Chely.
"Kau pasti tak kuat dingin. Kita cari kelas kosong."
Ia tersenyum simpul. "Kau pasti sembuh, Bilton..."
.
.
Ceklek.
Ditutuplah kembali pintu ruang kelas 1-2–kelas yang menjadi pilihan Bilton untuk berteduh dengan Chely.
Sapphire birunya melirik ke arah Chely yang menyumbat hidungnya dengan tangan kanan.
"Kenapa mimisan?"
"U-um... Mungkin aku kelelahan."
"Hn." Bilton berjalan menuju jendela kelas, ia melihat rintik hujan menuruni bumi. "Sepertinya hujan ini akan lama."
"Huh?" Chely menoleh.
"Hn. Kemungkinan kita akan terjebak hujan."
Chely menggigit bibir bawahnya. 'Bagaimana ini?' Ia juga mendekati Bilton, memandang rintik hujan. 'Bilton-san'kan mesum... Mana ruangan ini gelap lagi, dan yang paling parah tidak ada orang.'
Lavender Chely membulat, melihat kilatan cahaya–petir–dari langit.
Dan–
Ctarrr...
Grep.
Refleks Chely mendekat ke arah Bilton, tangannya memeluk lengan Chely erat.
Bilton berkedip, sebenarnya ia juga kaget. Tapi lebih kaget saat Chely memeluk lengannya. 'Sialan kenapa dengan jantung ku?' Juga jantungnya yang tak bisa di ajak kompromi, bukannya bersikap tenang–cool–seperti biasa, ini malah berdetak tak karuan. Tapi jujur saja Bilton menyukainya. 'Mungkin aku harus segera operasi jantung.'
"Ehem, petirnya sudah berhenti sejak 30 detik yang lalu."
"Be-benarkah?" Kepala indigo Chely mendongak. Pipinya merona, ia baru menyadari bahwa jarak wajahnya dengan wajah Bilton sangat dekat, juga tangannya yang begitu erat memeluk lengan Bilton. Dapat Chely rasakan jantungnya berdetak cepat, bahkan ia sangat takut jika Bilton sampai mendengarnya. "Ma-maaf..." Pegangannya terlepas.
"Hn."
Ctarrr...
Grep!
Kembali–tangan mungil Chely memeluk lengan kekar Bilton.
"Bi-biarkan seperti ini... Aku, takut petir."
'Jantung, kau kenapa?' Makin Chely erat memeluknya, makin cepatlah detak jantungnya.
"Lebih baik kita cari sakral lampu."
"U-um.." Chely masih setia mengekori Bilton, tangannya memegang erat ujung blazer abu bagian belakang yang dikenakan si pirang.
Ctik
Chely menghela nafas lega melihat ruangan terang
"Kau sepertinya nyaman sekali berdekatan dengan ku."
"Eh?" Entah sejak kapan, Chely kembali memeluk lengan Bilton. "Si-siapa bilang?" Pelukannya terlepas disertai pipi tembamnya yang merona.
'Cantik sekali.'
"Hey?" Wajah Bilton mendekat, bahkan sekarang badannya sedikit condong.
"A-apa?" Respon Chely gugup.
"Ini sedang sepi lho..."
"Dingin lagi..."
Alis Chely makin mengernyit, ia makin tidak mengerti dengan perkataan berputar-putar Bilton. "Me-memang dingin."
Wajah tan Bilton makin mendekat, bahkan jarak wajah mereka hanya 5 cm. "Ayo saling menghangatkan."
"Ca-caranya?"
Gemas. Sungguh gemas, ingin sekali Bilton mencubit pipi Chely sampai pipi tembamnya kempes. Bibirnya mendekat ke arah telinga Hinata. Ia berbisik.
Chely merona.
Pipinya memanas.
"Bilton-san mesum!" Pekiknya, setelah mendengar bisikkan Bilton. Entah apa yang Bilton bisikkan sehingga Chely berteriak.
Hangat. Perasaan yang selalu muncul saat bersama gadis Bakpao ini. Ia juga masih bingung dengan perasaanya ini, tapi sungguh Bilton tidak ingin perasaan ini menghilang.
Tangannya terangkat, ia mencubit pipi si gadis. "Bakpao Baka." Cubitannya terlepas.
Bibir Chely mengerucut. "Kitsune mesum!" Gumamnya.
"Apa kau bilang?!"
Chely gelagapan. "A-ano, ma-maksud ku, hujannya lebat sekali."
"Hn." Si pirang melengos, kembali mendekati jendela untuk melihat rintik hujan.
Chely sendiri memilih duduk di bangku dua dekat Bilton. Si pemuda sendiri berdiri di depan bangku satu.
...
Kelopak mata tan Bilton berkedip, ia mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan gelapnya ruangan.
"Dimana ini?" Gumamnya, Bilton bangkit dari tidurannya–punggung yang menyender pada tembok dan kaki jenjangnya yang berselonjoran di topang dua kursi. "Kenapa gelap?"
Otak jeniusnya mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. "Astaga!" Pekiknya. Ia ingat, sekarang ia berada di sekolah, tepatnya terjebak hujan dan masuk kelas 1-2. Ruangannya gelap, mungkin karena mati lampu. Apa lagi masih ada hujan di luar.
Kepalanya menoleh ke arah bangku belakang, ia melihat gadis bersurai indigo tidur dengan kepala direbahkan di atas meja.
"Jam berapa in?" Bilton merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. "Kuso! Low lagi!"
Sapphire birunya melirik kanan-kiri, Bilton sedang mencari jam dinding. Dan binggo! Ia dapat, karena gelap ia berusaha mendekat. Alisnya menukik sedang memperjelas apa yang dilihatnya. "18.15, astaga! Ini sudah malam."
Dengan sedikit terburu-buru, Bilton menuju pintu kelas.
Ceklek
Ceklek
"Kuso!" Umpatnya. "Kenapa terkunci?"
Dugh.
Ia menendang pintu, Bilton bersandar pada pintu lalu mengacak surai pirangnya. "Kuso, aku lupa!"
Bagaimana ia bisa lupa, bahwa semua pintu kelas akan di kunci saat jam 6 sore–tepat! Tidak kurang tidak lebih– paling-paling di buka lagi saat pukul 05.30 pagi. Kemungkinan Izumo dan Kotetsu–security Nada Gakuen–akan datang sesudah makan malam, pukul 20.00.
"Shit!" Berarti ia akan terjebak selama 1 jam 45 menit.
Kakinya kembali dilangkahkan, mendekat ke arah gadis yang tidur dengan tangan sebagai bantal di atas meja. "Bangun."
Tidak ada respon.
Bilton duduk di kursi sebelah Chely. "Hyuu bangun." Tangannya mencoba mengguncang bahu Chely.
"..."
'Dasar pemalas.'
"Bakpao? Hey?" Tangannya terangkat, menuju pipi si gadis untuk mencubitnya.
Deg!
Panas, pipi Chely sungguh panas. Tangan Bilton menuju kening Chely, keningnya juga sangat panas. "Astaga! Kau sakit."
Semakin tak karuanlah jantungnya, otak jeniusnya juga mendadak tidak bisa berpikir jernih. "Uggh... Kusooo!" Tak pernah Bilton merasa sebingung ini selama 2 tahun terakhir.
Sungguh sangat sial sekali hari ini, apa ini karma karena mengejek Maykel? Kepala Bilton menggeleng. Tidak mungkin itu karma.
"Chely? Hey?" Bukankah ini pertama kalinya Bilton memanggil nama Chely?
Bilton berusaha mengangkat kepala Chely. "Hey?" Ucapnya pelan.
Kelopak mata Chely terbuka, nampaklah lavendernya yang sayu. "Bilton-san?"
"Kau kenapa? Badan mu panas."
"Dingin..."
Tubuh mungil itu Bilton sandarkan pada tembok. Ia melepas blazernya. "Pakai." Bilton memakaikan blazer pada tubuh mungil Chely. Nampaklah Chely seperti anak kecil yang dipakaikan baju kebesaran.
"Bi-Bilton-san juga pasti kedinginan." Ia berusaha melepaskan kembali blazernya.
"Tidak. Aku tak apa." Mana ruangannya gelap lagi. "Ponsel mu nyala?"
Chely menggeleng. "Po-ponsel ku mati dari pulang sekolah."
Bilton menghela nafas. "Kita tidak bisa keluar, pintunya terkunci, begitupun dengan gerbang. Kemungkinan kita bisa keluar pukul 20.00"
Lavender Chely membulat. "A-apa? Lalu sekarang pukul berapa?"
"18.25"
"Lebih baik kau tidur saja." Ia kembali menghadapkan tubuh Chely ke depan. "Pasti kau lelah." Kursinya Bilton geser, tubuh mereka saling merapat. Disandarkanlah kepala indigo Chely pada bahunya.
Wajah Chely merona, untung saja ruangannya gelap. Jika tidak pasti ia akan malu sekali. Jantungnya juga berdetak dua kali lebih cepat. 'Aku kenapa?' Namun jujur saja, Chely nyaman dengan posisinya.
Bilton juga sekuat tenaga menahan rasa gugupnya, apa lagi sekarang kepala Chely bersandar dipundaknya. Serta jantungnya yang berdetak cepat, tapi detakkan ini lebih menyenangkan dari pada melihat Chely mimisan.
Tangannya kembali mengelus helaian indigo Chely. "Tidurlah, Bakpao." Ia juga menyandarkan kepalanya pada kepala Chely. Tak lama kemudian kelopak mata Bilton tertutup.
.
.
.
"Sorry the number–"
Klik.
Jemari lentiknya kembali mengklik tombol call.
"Sorry the number–"
"Sudahlah Kushi, pasti Bilton juga nanti akan pulang."
Jemari lentik yang tadinya akan kembali mengklik tombol call sekarang terhenti. Manik violet Kushi berkilat tajam memandang Kishimoto. Yang di pandang hanya berwajah tenang.
"..."
"Sudah lebih dari tiga puluh kali sejak kedatangan ku kau terus menghubungi Bilton."
"Aku khawatir Kishimoto-kun. Apa kau juga tidak khawatir? Mana ponsel Bilton tidak aktif, ini sudah pukul 18.15, jika Bilton pulang telat, paling-paling pukul 17.30, dan ini sudah lebih."
__ADS_1
Kishimoto berdiri, ia juga khawatir tapi tertutupi dengan wajah tenangnya. Ia menghampiri istrinya, mengelus sedikit bahu Kushi sebagai penenang. "Tenanglah Kushi..."
"Aku khawatir, bagaimana, bagaimana jika dia kambuh di jalan. Dan ponselnya hilang! Apa yang harus kita lakukan Kishimoto-kun? Dia itu putra semata wayang kita. Aron, Orlan, Maykel, dan Rio saja tidak tahu keberadaan Bilton."
"Bukankah Bilton anak yang kuat?" Kishimoto menggiring Kushi untuk duduk di sofa ruang keluarga. "Bahkan dia berani menghadapi mati rasa, dia itu laki-laki. Pasti Bilton pulang selamat."
"Lalu kita harus bagaimana?"
Kishimoto tersenyum, sepertinya istrinya sudah mulai tenang. "Kita tunggu saja dia, Bilton pasti pulang. Jika kita mencarinya di saat hujan lebat seperti ini, pasti berbahaya."
Kushi mengangguk. "Hu'um"
'Bilton, cepatlah pulang...'
.
.
.
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki menggema di koridor sepi sekolah, makin lama suaranya makin jelas. Hal itu membuat pemuda tampan yang sedang menyandarkan kepalanya pada si gadis terbangun.
Lagi–hanya gelap yang pertama ia lihat. "Apa masih mati lampu?" Gumamnya.
Bilton mengangkat kepalanya. Merasakan beban dibahunya ia menoleh. "Chely? Hey?" Tangan kiri yang tak merangkul bahu Chely menyentuh kening si gadis, berniat mengecek suhu badannya. "Masih panas."
Tap.
"Sudah ku bilang sekolahnya pasti aman."
Samar-samar Bilton mendengar suara langkah kaki disertai suara seseorang.
"Tapi tetap saja Izumo, kita harus memantau keamanan."
"Izumo-san?" Dengan hati-hati Bilton meraih kepala Chely, ia merebahkannya di atas meja.
Tok! Tok! Tok!
"Izumo-san! Kotetsu-san! Tolong buka pintunya."
...
Izumo melirik kanan-kiri, ia meraba tengkuknya. "Kotetsu, kau mendengar sesuatu?"
Sorotan senter Kotetsu berhenti. "Apa?"
"Coba dengar..."
"Izumo-san! Kotetsu-san! Tolong buka pintunya."
"Eh, ya. Ada suara."
Izumo menarik lengan Kotetsu, saat teman sepekerjaannya akan menghampiri asal suara. "Mau kemana? Apa kau tak takut itu hantu?"
"Ck, mana mungkin." Ia menghampiri asal suara. "Siapa ya?"
Tok! Tok! Tok!
"Buka Izumo-san!"
"Siapa disana?!" Kotetsu menaikkan nada suaranya.
"Ini aku Bilton."
"Astaga, Bilton-san!" Mereka berdua menghampiri ruangan yang diyakini ada Bilton.
Izumo menyorotkan senter ke atas pintu. "Kelas 1-2?"
"Tolong buka Izumo-san!"
"Hai, tunggu Bilton-san." Kotetsu berusaha mencari kunci.
...
Bilton menghela nafas lega, akhirnya Izumo dan Kotetsu datang. "Berarti ini sudah pukul 20.00."
Ia kembali melangkahkan kaki menuju Chely. Bilton duduk di samping si gadis, tangannya merangkum pipi Chely. "Bangun, hey?"
"Apa dia pingsan?" Dicubitlah pipi tembam Chely.
Chely berkedip. "Pintunya terbuka?"
Dapat Bilton rasakan uap panas dari mulut mungil Chely menerpa wajahnya. Ia menggeleng. "Masih di buka."
Pusing, akibat itulah kepala indigo Chely menunduk. "U-um..."
"Kau masih sakit?" Jujur hati Bilton tambah tak karuan, apa lagi melihat wajah pucat Chely. Ia lebih suka melihat wajah memerah Chely karena ia goda.
"Sepertinya ya."
"Bersandarlah." Tangan Bilton menarik kepala Chely agar bersandar pada pundaknya. Ia mengusap-ngusap kepala Chely. "Sebentar lagi kita akan keluar."
"Bilton-san!"
Bilton menoleh ia melihat Izumo dan Kotetsu menghampirinya. Lampu senter menyorotnya dan Chely. "Izumo-san, Kotetsu-san?"
"Iya, apa Bilton-san baik-baik saja?"
"Hn. Aku baik, tapi–" Kepalanya menoleh ke arah Chely. "Dia sakit."
Alis kedua security itu mengernyit, mereka mendekat ke arah Bilton. "Lho, Chely-san?"
"Kenapa bisa terkunci disini?"
Kepala pirangnya menoleh ke arah Izumo. "Kita terjebak hujan, dan berteduh disini. Tak tahunya sudah di kunci."
"Maafkan kami Bilton-san." Keduanya membungkuk.
"Hn. Sudahlah, aku harus mengantarkan dia."
Izumo dan Kotetsu mengangguk.
Bilton bangkit, ia menyelipkan tangannya diantara lipatan lutut Chely dan tengkuknya. "Aku pergi dulu." Sedangkan tas miliknya ia sampirkan dibahunya.
"Hai Bilton-san." Sahut mereka sambil mengekori Bilton.
"Kita akan pulang." Bisiknya.
Sebenarnya Chely sadar, hanya saja ia lemas. Jika sakit Chely memang begini. Ia selalu pusing dan lemas juga panas-dingin yang dirasakan tubuhnya. Kelopak mata Chely terbuka, ia tersenyum. "Arigatou, Bilton-san..."
"Hn." Bilton juga tersenyum.
.
.
"Sekali lagi maafkan kami Bilton-san!"
Bilton memutar bola mata bosan, entah untuk yang ke berapa kali kedua security ini membungkuk dan mengucapkan kata maaf. Ia menghela nafas. "Sudahlah... Lagi pula ini salah ku juga, aku lupa jika pintu di kunci pukul 18.00"
"Hai." Sahut Kotetsu. "Apa tidak apa-apa Chely-san seperti itu?" Matanya matanya melirik khawatir ke arah Chely.
Saat ini Chely sedang duduk di jok belakang motor sport Bilton, dengan mata yang terpejam dan tangan yang melingkar di pinggang Bilton—memeluknya. "Lagi pula kalian tidak bawa mobil, kan?" Jika saja mereka bawa mobil, Bilton pasti akan meminjamnya untuk mengantarkan Chely.
Izumo dan Kotetsu menggeleng. Mereka kesini memang naik taxi tadi, rasanya malas menggunakan mobil saat cuaca sedang hujan.
Bilton menghela nafas, baru kali ini dia merutuk dirinya karena ke sekolah membawa motor sportnya. Jika ia dan Chely tidak pulang hari ini, dipastikan Kushi–Ibunya–akan khawatir. Ia juga tidak tahu sekarang apa yang akan dilakukan Kushi saat dirinya pulang nanti. Jangan lupakan Chely, ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Chely pulang besok dengan keadaan acak-acakkan, Bilton hanya takut di sangka 'mengapa-apakan' si Bakpao.
Juga pasti besok ini akan jadi berita heboh, jika saja ia dan Chely nekat tidur di kelas berdua dengan posisi seperti tadi. Pasti Tsuna akan menjitaknya. Nah, jika Bilton langsung membawa Chely ke rumah sakit, apa yang akan dikatakan keluarganya? Ia juga terlanjur malas ke rumah sakit, lagi pula ini hanya demam ringan. Memikirkan itu membuat kepala Bilton pening, bukan karena alexithymia tapi karena kejadian hari ini.
"Tapi ini gerimis."
Kepalanya menoleh ke arah Izumo. "Aku yakin dia tidak akan apa-apa." Bilton memakai helmnya. "Aku pergi dulu." Tentunya ia pergi setelah bertanya pada Izumo dan Kotetsu tentang alamat kediaman Hyuu, dan mengejutkannya Chely satu komplek dengannya.
"Hai."
Brummm...
Motor sport hitam orange itu meninggalkan lapangan parkir.
"Aku tidak pernah melihat Bilton-san cemas." Kotetsu menatap motor sport yang masih terlihat.
Izumo mengangkat bahu. "Apa lagi aku."
"Bakpao, bertahanlah.." Tangan kiri Bilton menggenggam kedua tangan Chely yang melingkar dipinggangnya.
.
.
.
Tangan Hana saling meremas satu sama lain, begitupun dengan gigitan dibibirnya yang semakin keras, sesekali manik lavendernya melirik ke arah jam dinding di ruang keluarga. Pukul 20.15, itulah yang ia lihat.
"Nee-chan dimana?" Pikirannya tambah kalut, saat mengingat Nando dan Tetsu meneleponnya pukul 16.40 tadi. Mereka mengatakan akan lembur, awalnya Hana enjoy-enjoy saja. Tapi ia teringat Chely, kakak tersayangnya itu paling pulang telat pukul 17.00, tapi Hana memakluminya karena hujan mungkin kakaknya berteduh dulu.
Satu jam...
Dua jam...
Bahkan sampai tiga jam Hana menunggu, Chely belum juga kembali.
"Hana-sama."
"Ada apa Yugao-san?" Lamunannya buyar saat Yogao–maid dikediaman Hyuu–menghampirinya.
"Chely-sama sudah pul_"
"Apa?! Mana? Nee-chan mana?!" Dengan tak sabaran Hana mengguncang bahu Yugao.
"A-ano, itu.. Chely-sama." Yugao menunjuk pintu masuk, dimana Chely sedang di gendong di depan dada oleh seorang pemuda berambut pirang. Seragam pemuda itu sungguh acak-acakkan, bajunya saja lembab.
'Kyyyaaa.. Tampannya!'
"Nee-chan?" Hana menghampiri Chely.
"Dia sakit."
"Apa?" Tangan Hana menyentuh kening kakaknya yang tertutupupi poni. "Panas sekali..."
"Bisa kau beri tahu aku dimana kamarnya."
Hana mendongkak, ia melihat si pirang berwajah datar. Kepala bersurai coklatnya mengangguk. "Kamar Chely-nee di atas."
"Hn." Bilton melangkah menuju tangga.
Hana berkedip. "Dingin, tampan." Ia mengendikkan bahu, lalu menyusul Bilton sambil berlari kecil.
...
Lega, itulah yang Bilton rasakan seperti ada yang hilang dari hatinya, meski begitu ia tetap saja merasakan cemas saat melihat Chely belum sadar.
'Perasaan apa ini?'
Sapphire birunya menatap wajah polos Chely yang terbaring di ranjang. Tangannya terangkat untuk mencubit pipi tembamnya. "Cepat sembuh, Bakpao." Ia tersenyum tipis.
Bilton berbalik. Ia menghadap ke arah Hana. "Kau adiknya, kan?"
Hana mengangguk. "Hai."
"Lebih baik kau kompres dia, badannya panas." Ia meninggalkan ruangan bernuansa lavender itu. Meski jujur saja Bilton betah disini. Tapi ia harus pulang.
"Hai." Hana masih saja menatap pintu yang dilalui Bilton. Ia menepuk keningnya. "Aku lupa belum ucapkan terima kasih."
.
.
.
Ckittt
Mendengar suara berhenti motor sport, refleks Kushi berlari menuju halaman. Kishimoto saja sampai kewalahan mengejar istrinya.
Bilton melepas helmnya. "Kaa-chan? Tou-chan?" Sebenarnya ia agak ngeri melihat manik violet Ibunya menatap tajam.
"Tadaima." Ia melangkah menuju pintu utama, tepat kedua orang tuanya berdiri.
Kushi tersenyum manis, namun di manik sapphire Bilton dan Kishimoto itu terlihat mengerikan. "Okaeri Bil-chan."
Cup.
Bilton mengecup pipi sang Ibu. Kishimoto yang melihatnya hanya memutar bola mata bosan.
"Kaa-chan_"
"Dari mana saja kau bocah?!" Tanpa rasa kasihan Kushi menjewer telinga Bilton. Ia menarik putra tunggalnya masuk ke dalam. "Oh, Kami-sama! Lihat pakaian mu?! Kau habis tawuran ya?! Penampilan mu sangat mirip berandalan!"
"Kaa-chan, itaii..." Bilton refleks memegang tangan Kushi yang menjewernya. Sapphire birunya menatap Kishimoto, tapi yang di dapat hanya tatapan iba saja dari sang Ayah.
"Sakit kata mu?! Lihat penampilan mu bocah... Kemana blazer mu hah?! 1tahun lebih sudah kau berada di Nada Gakuen! Dan tujuh blazer yang sudah kau habiskan! Belum lagi dasi mu, kemanakan dasi mu bocah?!"
Bilton memang selalu pulang tanpa blazer, ia selalu meninggalkannya di atap sekolah, atau bahkan menaruhnya sembarangan. Nah, kalau untuk dasi, jika ia merasa gerah selalu dilepaskan dimana saja. Tapi, untuk kali ini Bilton pulang tanpa blazer bukan di buang atau ditinggalkan sembarangan.
"Itaii... Kaa-chan." Semakin sakit dan panaslah telinganya, kala Kushi menariknya.
"Dan lagi, kau habis dari mana?!" Violetnya makin menajam, melihat baju Bilton yang nampak lembab, juga surai pirangnya yang acak-acakkan.
Kishimoto menghela nafas, ia jadi merasa iba melihat Bilton di jewer Kushi. "Sudahlah Kushi..." Ia mengelus bahu istrinya.
"Tak tahukah kau, bahwa Kaa-chan sangat khawatir." Jeweran Kushi terlepas. Ia menatap selidik putranya.
Bilton mengelus telinganya. "Gomen Kaa-chan."
"Bilton, lebih baik kau mandi lalu makan malam. Jangan lupa minum obat, sepertinya kau demam."
Kushi berkedip. "Astaga! Kau demam?!" Tangan Kushi terangkat, ia meraba kening putranya. "Ya ampun! Kau panas sekali Bil-chan! Cepat mandi pakai air hangat, nanti Kaa-chan buatkan bubur dan bawakan obat."
"Hai, Kaa-chan." Bilton berjalan ke arah tangga.
"Ingat, mandi! Bukan langsung tidur!" Kushi sangat hapal kelakuan Bilton saat pulang malam, yaitu tidur tanpa mandi.
"Yayaya.."
"Bocah itu!"
.
.
.
.
To Be Continued
__ADS_1
Maaf Telat yaa maaf