
.
.
.
"Bilton-kun mau masuk dulu?" Chely menatap dari luar mobil dengan tangan memeluk boneka beruang, karena ia sudah berada di luar. Ya, Bilton sudah mengantarnya pulang.
Bilton menggeleng, ia tersenyum. "Tidak, aku langsung pulang saja."
"Makan malam disini saja."
"Ini masih pukul 5 sore Chely." Bilton mengangkat sebelah alisnya. "Jangan-jangan kau masih ingin bersama ku?"
"Si-siapa bilang." Wajahnya merona. "Sa-sana Bilton-kun pulang."
"Iya... Iy_"
"Dia belum boleh pulang."
Deg!
Chely dan Bilton menoleh.
"To-Tou-san...?"
"Hn?"
Bagaimana Chely bisa lupa, jika Tetsu hari minggu ada di rumah. Chely tadi pagi memang tidak pulang karena lembur, mungkin baru pulang menjelang tengah hari. Chely takut, jujur saja. Ia takut dimarahi. Meski sudah izin pada Nando, tapi bagaimana dengan Tetsu?
Ayahnya itu keras dan overprotectif.
"To-Tou-san kapan pulang?"
Tetsu yang berdiri di depan pintu dengan tangan bersidekap di depan dada menghampiri Chely. Ia tersenyum. Ia tahu Chely takut. "Tengah hari tadi, Tou-san pulang."
Tetsu mengangguk.
Bilton? Jangan di tanya, ia juga agak gugup sekarang. Tetsu Hyuu ternyata punya wajah yang berkali-kali lipat lebih menyeramkan dibandingkan dengan Ibiki.
Sedikit terburu-buru, Bilton keluar dari mobil.
"Konnichiwa." Sapanya setelah keluar dari mobil dengan badan yang membungkuk.
Tetsu mengalihkan padangannya pada pemuda yang membungkuk dihadapannya. Ia menatap datar Bilton. Pandangannya beralih kepada putrinya yang menunduk. "Chely, masuk. Mandilah dulu."
Chely mengangguk. Ia menoleh ke arah Bilton. Bibirnya melempar senyum dan tentunya Bilton juga membalasnya disertai kepala yang mengangguk mengisyaratkan bahwa ia mengizinkan kekasihnya masuk.
"Kau juga harus masuk."
Deg!
Chely berbalik, baru saja ia melangkah dengan hati yang tenang karena ia sangka Bilton sudah dibebaskan Tetsu dari 'sidang' yang mungkin akan menegangkan. Namun, harapannya pupus setelah mendengar Tetsu melarang kekasihnya pulang.
Bilton mengangguk. "Hai."
...
"Jadi kau siapanya Chely?"
Pandangan Bilton beralih, dari menatap cangkir di meja menjadi menatap lavender Tetsu. Ia tersenyum ramah. "Saya temannya."
Nando berdecih, apa ia tidak salah dengar? Bukankah tadi pagi Rubah Pirang ini mengatakan calon suaminya?
"Keh, benarkah?"
Bilton tersenyum pada Nando. "Tentu, Nando-san."
Nando-san?!
What the hell
Bahkan nada bicaranya sangat-sangat sopan.
Tetsu menghela nafas, nampaknya pemuda dihadapannya orang yang baik. Tidak seperti yang putra sulungnya katakan saat ia pulang. Tetsu juga penasaran dan agak marah mendengar bahwa Chely, putri kesayangannya di bawa jalan-jalan oleh orang yang tak ia kenal apa lagi ia seorang pemuda.
"Siapa nama mu nak?"
"Bilton Nami."
Nando berdecih, sepertinya pemuda dihadapannya sangat bangga dengan namanya.
"Nami? Kau anak Kishimoto."
Bilton mengangguk. "Hai, Tetsu-san kenal Tou-san?"
"Tentu. Dia teman lama ku. Bagaimana kabarnya."
Bilton menyeringai ke arah Nando. Ia menatap remeh. Dan Nando mengartikan tatapan itu dengan kata aku-menang-banyak-dari-mu-kakak-ipar.
Sedangkan Nando membalasnya dengar artian ku-bunuh-kau-Rubah.
"Tou-san baik-baik saja."
Ekspresi Tetsu berubah menjadi santai. "Tak ku sangka kau anaknya. Bisnisnya lancar?"
"Hai, bisnis Tou-san lancar."
Nando berdecih, entah kenapa Ayahnya mendadak melunak oleh tingkah sopan yang Bilton buat-buat, jelas saja itu di buat-buat karena Nando sudah tahu bagaimana perangai Bilton beberapa jam yang lalu. Tsch, yang lebih menyebalkan lagi. Tetsu kenal Kishimoto yang notabene Ayah dari Rubah Pirang dihadapannya.
'Apa dia punya kepribadian ganda?' Batin Nando dengan lavender yang siap menelan Bilton.
"Teman lama?"
Tetsu mengangguk. "Dia teman lama ku. 3 tahun lalu aku bertemu dengannya."
"Tou-san, dia itu tid_"
Tetsu menoleh. "Nando, lebih baik kau selesaikan tugas Tou-san, ambil dokumennya di ruang kerja."
Bilton menyeringai.
Nando menghela nafas, ia ingin membantah namun rasanya tidak mungkin. Sebelum beranjak dari duduknya ia menyempatkan memberikan tatapan membunuhnya pada Bilton. "Hai Tou-san."
Bilton tersenyum. "Pasti Tou-san akan senang jika Tetsu-san menanyakan kabarnya."
Tetsu mengangguk. "Sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Ia mengambil cangkir teh di meja.
Bilton tersenyum, saat Tetsu menyuruhnya meminum teh dengan gerakkan tangan.
"Jadi kau teman sekelasnya putri ku?"
Bilton mengangguk. "Hai, saya temannya."
"Apa di sekolah suka ada yang mengganggunya?"
"Tentu." Akulah yang selalu mengganggunya. "Tidak ada Tetsu-san."
"Jangan terlalu formal, panggil saja Ji-san."
Bilton mengangguk. "Hai Ji-san."
"Aku mengizinkan mu dekat dengan putri ku."
Sapphire Bilton membulat.
"Ya, aku mengizinkan mu. Jagalah dia aku percaya padamu, sepertinya kau bisa membahagiakannya. Aku tahu hubungan kalin bukan sekedar teman."
Bilton hampir saja tak bernafas mendengar perkataan Tetsu. Tanpa ragu ia mengangguk. "Hai arigatou Tetsu Ji-san. Saya berjanji akan menjaganya."
Untuk pertama kalinya, Tetsu tersenyum karena orang asing.
...
Chely terus saja mondar-mandir dikamarnya, ia masih mengenakan bajunya saat kencan dengan Bilton tangannya juga masih memeluk boneka beruangnya.
Ia gigit bibir bawahnya. Chely takut, sangat takut jika Bilton diapa-apakan oleh Tetsu. Apa lagi tadi ia tidak izin dulu.
Jangan lupakan Nando, pasti Kakaknya itu akan mengompori.
Chely menghela nafas, ia melirik ke arah ponsel di tangan kirinya, berharap Bilton akan menghubunginya, membawa berita baik bahwa Bilton terbebas.
Namun nihil!
Tidak ada pesan ataupun telepon.
Chely menggigit kuku jempolnya, kebiasaannya saat gugup.
Drrrttt... Drrrttt...
Dengan semangat, Chely melihat ponselnya. Ia tersenyum. "Bilton-kun."
From: Bilton-kun.
To: Me.
Aku sudah di mobil, jangan khawatir, Ayah mu orang yang baik.
'Baik?'
From: Me.
To: Bilton-kun.
Yokatta... Hati-hati di jalan. Jangan ngebut...
Send
.
.
.
.
"Aku tidak mau!"
Bletak.
"Aw... Apa-apaan kau Forhead?!"
Emerald Wulan menajam. "Kau yang apa-apaan?! Pagi-pagi sudah teriak-teriak!"
Tanpa mempedulikan Wulan, Indah mengusap wajahnya kasar. "Semua ini gara-gara papan pengumuman!"
"Hah?"
Semua berwajah kaget.
Indah mengangguk. "Kalian tidak tahu?"
Chely, Wulan, dan Tena menggeleng.
"Ulangan fisika besok! Dasar si Botak! Dia melakukan pengumuman mendadak!"
"Apa?!" Secara dramatis Tena dan Wulan juga hampir menangis.
Chely memang kaget, tapi ia lebih bisa mengontrol ekspresinya. "Me-mendadak?"
"Iya, Chely-chan. Aku juga tidak tahu apa maksudnya. Memikirkannya saja sudah membuat aku frustasi." Keluh Indah.
"Bagaimana bisa? Aishhh si Botak itu selalu saja cari masalah." Tangan Wulan mengepal dengan mata melotot.
"Aku bahkan belum belajar."
Chely menghela nafas. "Kita semua belum belajar Tena-chan..."
Wajah Indah tiba-tiba menjadi horor. "Jika nilai kita jelek, akan di suruh mengepel koridor lantai dua. Aku tidak mauuu..."
"Belum lagi 20 soal essay!"
"Bagaimana ini?!"
Chely kembali menghela nafas. "Mana KKM-nya tinggi."
"Chely-chan benar." Tena makin kuat menjambak rambutnya.
"Aku punya ide!"
"Apa?!" Semua menatap wajah Indah.
"Jangan sekolah saja besok."
Bletak.
"Forhead, apa-apaan kau?!"
"Resikonya lebih parah."
"Indah-chan?" Indah menoleh ke arah Tena. "Kau tidak ingat apa yang terjadi pada Lee saat bulan lalu?"
Indah terdiam. Ia sedang memikirkan apa yang terjadi pada Lee bulan lalu. "Apa saat tidak ulangan fisika?" Tena mengangguk.
Bulan lalu...
Bulan lalu...
Bul_
"Aku tidak mau!" Pekiknya setelah ingat.
"Makanya Indah-chan..." Chely berusaha menahan tawanya.
Indah cemberut.
"Dasar Pig! Kau mau memangnya mengerjakan soal lima kali lipat. Yang artinya 15 soal menjadi 75 soal?"
"No! Way!"
"Aku harus belajar sekarang!" Tena mengepalkan tangannya meninju udara.
"Aku juga!"
__ADS_1
"Aku juga!"
Chely tersenyum. "Ba-baiklah, aku juga."
"Chely-chan?"
Chely menoleh pada Wulan. "Ya?"
"Ku kira Chely-chan akan dapat bantuan."
"Bantuan apa Wulan-chan?"
"Bilton-san'kan jenius, Chely-chan bisa minta diajarkan."
Wajah Chely tiba-tiba cemberut. "Mu-mustahil."
"Lho, kenapa?"
"Dia pelit Indah-chan."
"Hah?!"
Chely menangguk. Ingatannya berputar, saat ia meminta Bilton mengajarkannya matematika, tapi Bilton malah menyentil dahinya.
"Yah... Apa boleh buat... Kita harus berjuang. Agar si Botak tidak marah!"
"Chely?"
Refleks keempat gadis berbeda warna rambut menoleh ke arah pintu.
"Sa-Sasori-senpai?"
Indah yang berada di sebelah Chely menyikut lengannya. "Chely-chan?" Chely menoleh. "Senpai imut mencari mu, mau apa?"
"Mu-mungkin urusan club."
"Sana temui."
"Hai." Chely beranjak dari duduknya.
Tena menghela nafas, tangannya menopang dagu. "Senangnya jadi Chely-chan... Sudah kekasihnya tampan, di cari Senpai imut pula, jangan lupakan Nii-sannya yang mempesona."
Wulan mengangguk. "Chely-chan memang beruntung."
Brak.
Ino menggebrak meja dengan tangannya. "Daripada mengeluh! Lebih baik kita belajar untuk besok!"
"Setuju!" Wulan mengepalkan tangannya.
"Tunggu!"
"Apa lagi Tena-chan?" Aquamarine Indah menatap malas Tena.
"Kita'kan tidak bawa buku fisika. Pelajaran fisikakan hanya besok saja."
"Astaga! Aku lupa!" Wulan mengusap wajah kasar.
"Semoga kami baik-baik saja besok."
...
Sasori tersenyum ke arah Chely yang berjalan mendekat, tangannya melambai. Mengisyaratkan Kouhainya untuk mendekat kearahnya yang bersandar di pintu kelas.
"A-ada apa Senpai?"
Sasori tersenyum. "Bisa membantu ku lagi?"
Chely mengangguk. "Bantu apa Senpai?"
"Begini... Besok pulang sekolah luang?"
Chely berkedip, ia sedang berpikir apa besok ia memiliki waktu luang atau tidak. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk. "A-aku luang. Memangnya ada apa?"
"Besok ruang Club Bahasa Inggris akan dibereskan. Bisa bantu?"
Pipi Chely menggembung. "Senpai. Kenapa harus tanya waktu luang segala? A-aku kira ada apa." Ia tersenyum. "Tentu aku akan bantu."
Sasori tersenyum lebar, memang menggoda Chely itu menyenangkan. "Aku kira kau sibuk. Jadi ku tanya waktu luang."
"Ma-mana mungkin aku sibuk."
Tangan Sasori terangkat, ia mengusap kepala Chely. "Oke, aku ke kelas dulu."
Lavender Chely membulat, ia takut Bilton melihatnya dan salah paham. "A-ah i-iya Senpai."
Tangannya berpindah menepuk bahu si gadis. "Bye..."
"J-jaa ne..."
Kepala Chely masih saja menoleh kanan-kiri takut Bilton muncul tiba-tiba dan melayangkan bogem mentah pada Senpainya. Ia menghembuskan nafas lega. "A-aman..."
.
.
Bark!
"Hot news boys!" Nafas Maykel terengah-engah setelah berteriak dan membuka pintu sembarangan.
Rio tersenyum aneh. "Apa? Akamaru meninggal?"
Maykel melotot. Ia berjalan ke arah Rio dengan kaki yang dihentakkan. "Sialan kau Zombie!"
"Apa? Aku benar ya?"
"Bukan itu! Akamaru ku baik-baik saja."
Rio mengangguk-nganggukkan kepalanya.
Bilton mengalihkan pandangannya dari komik digenggamannya. Ia tersenyum miring menatap Maykel. "Jangan-jangan gigi tari mu lepas."
"Kitsune! Sialan kau! Gigi masih ada dan akan selalu ada. Lihat!" Maykel menyengir guna menunjukan giginya.
Rio menghela nafas. "Jika lepaspun tak masalah."
"Kalau begitu kau tidak dapat diskon makanan anjing di supermarket?" Aron melepaskan headphonenya. Dan menatap Maykel dengan mata onyxnya yang tajam.
"Aron! Urusai!"
Orlan menguap. Ia mendudukkan diri di bangku panjang atap sekolah. "Atau? Kalung Akamaru hilang?"
"Astaga!" Maykel mengacak rambutnya frustasi. Siapa bilang X5 jenius, ya.. Kecuali dirinya. "Kemana otak jenius kalian?!"
"Otak kami ada."
"Lalu?! Kenapa kalian membahas Akamaru?! Bukan itu yang mau kubicarakan!"
Bilton menatap datar Maykel. "Itu salah mu. Datang-datang teriak. Dan berkata bahwa ada hot news. Bukannya menjelaskan kau malah bertingkah aneh." Semua menggangguk menyetujui perkataan Bilton. Minus Mayekl yang sedang menahan kekesalannya.
Dalam hati Maykel mengumpat. Bagaimana ia bisa bertahan selama 10 tahun dengan orang-orang yang berlidah beracun, wajah datar, dingin, dan punya senyum aneh?!
Oh My God!
Maykel menarik nafas dalam-dalam. "Dengar." Semua mata menatapnya. "Besok ulangan fisika mendadak! Aku baru melihatnya di papan pengumuman!"
Hening.
"Oh... Itu."
5 Detik!
Butuh 5 detik Maykel menanti jawaban itu, dari lidah beracun keempat sahabatnya.
seperti perkataan Maykel hanya angin lalu, Naruto kembali membaca komik. Orlan memejamkan mata sambil duduk. Aron memainkan game di iPodnya. Rio kembali menggambar. Maykel melongo melihat adegan semua itu.
"A-astaga! Kalian tidak syok?"
Rio menoleh. "Untuk apa kami syok?"
"Semua orang kelas 2-1 frustasi."
"Untuk apa aku frustasi lebih baik aku melukis."
"Lebih baik baca komik."–Bilton.
"Bermain game lebih enak." –Aron.
"Tidur lebih baik." –Orlan.
"Terserah kalian." Maykel melengos. Ia mendekat ke arah Bilton yang bersandar pada pagar atap sekolah.
"Bukankah itu Sasori Akasuna?"
Mendengar nama Sasori, Bilton berbalik menghadap pagar. Ia menatap parkiran Nada Gakuen, disana. Motor sport warna merah menarik perhatiannya. Tepatnya orang yang mengendarainya. "Kau kenal dia?"
"Tidak."
"Saat ku tanya kau kenal dia apa tidak, kau malah diam."
Maykel menoleh. "Kapan?"
"Di kantin."
Mulut Maykel membulat. Tangannya mengelus dagu. "Aku tidak kenal tapi aku tahu siapa dia."
Bilton berdecak. "Siapa dia?"
"Akasuna Sasori, Kelas 3-4, Ketua Club Bahasa Inggris, tinggal dekat rumah ku, dan gosip baru-baru ini. Dia suka menaruh bunga di loker seseorang."
Loker seseorang?
'Sialan! Pasti Chely. "
Bletak!
Maykel menoleh, ia menatap garang Bilton. "Apa-apaan kau?!"
"Kau yang apa-apaan? Kau bilang tidak kenal, tapi kata mu kalian bertetangga?"
"A-apa? Kapan kau bertanya aku kenal Sasori atau tidak?"
Bilton berbalik. "Sudahlah. Kau memang tak punya otak."
Blam!
Pintu di tutup kasar.
"Sialan kau Kitsune!"
.
.
Chely menghela nafas, ia menengok kanan-kiri, mencari Bilton yang menyuruhnya kesini. Taman belakang sekolah tepatnya. Ia menyamankan posisi duduknya pada pohon sakura yang kini disandarinya.
Taman belakang sekolah memang cukup sepi, karena tempatnya agak jauh jadi memungkinkan tempat ini jarang didatangi.
"Bilton-kun selalu saja terlambat..." Dengan bibir yang mengerucut, Chely membuka kotak bekalnya.
"Lama menunggu?"
Chely mendongak, ia menatap Bilton yang berdiri didepannya. Bibirnya mengerucut. "Lama sekali."
Bilton tersenyum tipis. Ia mendudukan dirinya di samping kekasihnya. "Baru ku tinggal 5 menit saja kau sudah rindu."
"Si-siapa yang rindu?" Untuk menghilangkan rasa gugupnya Chely menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Hey! Hey! Kau mendahului ku makan." Bilton merebut sendok Chely, dan tanpa aba-aba ia menyuapkan nasinya ke mulut.
"Bi-Bilton-kun, ini milik ku."
"Hey! Sejak kapan kau jadi pelit?"
"Sejak Bilton-kun jadi kekasih ku." Chely membelakangi Chely.
"Hah? Kapan aku pelit?" Bilton membuka tutup kaleng minuman sodanya.
Tanpa membalikkan tubuhnya, Chely menjawab. "Bilton-kun itu pelit. Sangat pelit."
"Jangan aneh-aneh." Ia menempelkan susu kotak strawberry di pipi Chely.
Chely berbalik, ia mengambil susu kotak dipipinya. "Arigatou."
Bilton mengangkat sebelah alisnya. "Jadi, sejak kapan aku pelit? Jika aku pelit, aku tidak akan membelikan mu boneka, susu kotak, mengajak mu jalan, mentraktir mu. Aku pelit bagian mananya?" Sapphire Bilton menatap tajam lavender Chely.
"I-itu..." Lavender Chely memandang polos Bilton. "Saat aku meminta Bilton-kun mengajari ku matematika, Bilton-kun malah menyentil dahi ku."
Bilton mengangguk. Tak lama kemudian ia mengendikkan bahunya. "Aku malas belajar."
"Ta-tapi yang belajarkan aku."
"Tapi aku yang mengajari."
"Aku'kan hanya minta diajarkan so-soal yang sulit, bukan semuanya."
"Nanti kau akan minta diajari semuanya, kau'kan tidak pintar pelajaran itu."
Chely cemberut, berdebat dengan Bilton memang menyebalkan. Jadi kekasihnya itu bukan pelit, Bilton hanya malas.
"Ja-jadi... Kesimpulannya Bilton-kun malas?"
"Itu kau tahu." Bilton melirik ke arah kotak bekal Chely. "Aku lapar."
Chely menyodorkan kotak bekalnya. "Ini."
Bilton menggeleng, dan itu membuat alis Chely mengernyit. "Ka-katanya lapar."
"Aku tidak bisa makan sendiri."
"Huh?"
"Lihat! Tangan ku penuh." Bilton mengangkat kedua tangannya, dimana terdapat satu kaleng minuman soda di tangan kirinya, dan entah sejak kapan susu strawberry Chely juga ada digenggaman tangan Bilton.
__ADS_1
"Kan bisa di simpan dulu."
Bilton menggeleng. "Tidak bisa."
Chely mengerucutkan bibirnya. "Tadi pagi saat ku tawari ingin ku buatkan bekal, Bilton-kun menolaknya."
"Berat, aku malas bawa."
"Kan aku yang bawa."
"Lagi pula makan berdua lebih romantis."
Blush.
Chely merona.
"A-apa sih?" Ia menyuapkan nasinya ke mulut Bilton.
Bilton tersenyum. "Anak pintar." Ia mencubit pipi tembam Chely.
...
"Chely?" Panggil Bilton setelah mereka menyelesikan makan siangnya.
"Ya?"
Bilton menoleh. Mereka bertatapan. "Kau tahu besok ada ulangan fisika mendadak?"
Lavender Chely berbinar. "Bi-Bilton-kun mau mengajari ku?"
Tak!
Chely cemberut, selalu saja sentilan yang Chely dapat saat ia menanyakan tentang hal itu.
"Sa-sakit..."
Bilton menggeleng. "Aku'kan sudah bilang malas."
'Malas belajar juga nilai Bilton-kun selalu bagus.'
"La-lalu apa?"
"Kita buat taruhan. Bagaimana?"
Lavender Chely membulat. "A-apa?" Jelas sekali ekspresi kaget terpancar di wajah Chely.
Bilton mengangguk.
"Ta-tapi waktunya hanya satu hari lagi, dan lagi... A-aku tidak terlalu pintar fisika."
"Oke... Oke... Kau hanya pintar menggembungkan pipi mu saja." Bilton tertawa pelan.
"Si-siapa bilang?"
"Ah, ya. Satu lagi, kau juga hanya bisa mengerucutkan bibir." Bilton kembali tertawa.
Kesal, Chely sangat kesal. Pipinya tambah menggembung, enak saja Bilton mengatainya hanya bisa menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibir, ia juga bisa bahasa Inggris, dan pelajaran lainnya. Ia akui, Bilton memang lemah pelajaran yang melibatkan hitung-menghitung.
"Jangan-jangan kau takut kalah?"
Merasa direndahkan, Chely menajamkan tatapannya. Hal pertama kali yang baru Bilton lihat.
Bilton tersenyum. Bukannya takut ia malah ingin tertawa.
"A-aku tidak takut."
Sebelah alis Bilton terangkat. "Benarkah?"
Chely mengangguk mantap. "Tentu, aku tidak takut. Aku terima tantangannya."
Skakmat!
'Ah, i got you Baby.'
"Jadi, kau bebar-benar menerimanya?" Wajah si pirang nampak tidak yakin.
"Iya, aku yakin."
"Baiklah... Karena kau setuju, kita buat kesepakatan lebih tepatnya syarat.."
"Sya-syarat?" Lavender Chely membulat.
Bilton menangguk.
"Kita sudah punya enam kesepakatan Bilton-kun. Da-dan hampir semuanya menguntungkan Bilton-kun."
Bilton meminum kembali soda digenggamannya. "Benarkah?" Chely mengangguk. "Aku kira kau akan dapat memenangkan kesempatan itu."
"Memangnya kesepakatannya seperti apa?"
"Orang yang kalah akan mengabulkan tiga permintaan orang yang menang. Bagaimana menarik bukan. Orang yang menang harus punya nilai lebih besar.?"
Chely terdiam. Ia sedang memikirkan tentang kesepakatan atau syarat yang Bilton sebutkan tadi. Memang kedengaran cukup menggiurkan, ia bisa meminta tiga permintaan pada kekasihnya, salah satunya minta diajarkan matematika, pelajaran yang paling Chely benci.
Tapi... Apa bisa Chely melawan Bilton? Kekasihnya itukan bisa di bilang pintar dalam semua pelajaran, berarti peluang Bilton menang lebih besar. Chely kembali mengerucutkan bibirnya. Bagaimana, bagaimana jika Bilton-kun meminta yang aneh-aneh?, pikirnya.
"Chely?" Bilton melambaikan tangannya di depan wajah Chely.
Chely berkedip. "Y-ya?"
"Bagaimana, mau tidak?"
"U-um..." Chely menggigit bibir bawahnya. "Pe-permintaannya boleh di beri tahu sekarang?"
"Silahkan, tapi permintaan ku nanti saat siapa yang menang."
Pipi Chely menggembung. "Ba-baik. Aku menerimanya."
"Oke." Bilton menjulurkan tangannya, mengisyaratkan Chely untuk menjabatnya.
"Deal!" Sahut mereka.
Grep!
"Bi-Bilton-kun, a-apa yang kau lakukan?"
Bilton tak bergeming, ia malah semakin erat memeluk Chely. Ya, tadi Bilton menariknya ke dalam pelukannya. Ia malah menyamankan posisi kepala pirangnya dihelaian indigo Chely.
"Bi-Bilton-kun, nanti ada yang lihat."
"Tadi pagi kau bertemu dengan Sasori, kan?" Bilton melihatnya, setelah turun dari atap sekolah ia memang berniat ke toilet, dan toilet itu melewati kelas 2-1 kelasnya. Ia melihatnya, Sasori yang mengelus rambut Chely dan bahunya. Ingin sekali Bilton menghampiri Senpai merahnya, tapi panggilan alam menahannya. Tidak lucukan jika di tengah perkelahian Bilton kencing di celana?
"I-iya aku bertemu dengan Sasori-senpai."
Bilton mengeratkan pelukannya, untung saja taman belakang sekolah sepi, jika tidak pasti kalian sudah tahu apa yang akan terjadi. "Kenapa tidak memberi tahu ku, jika akan bertemu Sasori?"
"I-itu, Sasori-senpai mendadak menemui ku."
Bilton mengangguk. "Dan kenapa tidak bilang pada ku jika habis bertemu Sasori?"
Chely menggigit bibir bawahnya. "Ma-maaf aku lupa..."
Bisa Chely dengar, Bilton menghela nafas. "Iya, aku maafkan lain kali jangan begini lagi."
"I-iya. Jadi bisa Bilton-kun lepaskan?"
"Tidak."
"Kan Bikton-kun sudah tahu kebenarannya."
"Aku mau menghapus 'bekasnya' dia menyentuh mu di bahu dan di kepala, kan?"
Pipi Chely menggembung. 'Sikap posesif Bilton-kun kambuh.'
"I-iya... Hanya mengusap saja."
"Apa? Itu tidak boleh." Bilton mengusap kepala Chely dengan tangan kirinya, sedangkan kepalanya menopangkan dagu di bahu Chely.
"Bilton-kun na-nanti ada yang lihat."
"Tidak akan disini sepi. Jika mau yang lebih juga tak masalah."
"Bi-Bilton-kun!"
"A-aw... Sakit Chely." Ia meringis saat menerima cubitan Chely. Sapphire Bilton terpejam. "Entah kenapa kau seperti akan jauh dari ku."
Chely tertawa. "Kemana? Bilton-kun jangan bercanda. Aku disini dipelukkan Bilton-kun, dan tak akan kemana-mana."
"Janji, kau tidak boleh pergi."
"I-iya."
"Biarkan 5 menit seperti ini."
Chely mengangguk.
.
.
Bel istirahat sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Biasanya jika sudah 15 menit penghuni kelas 2-1 akan belajar, tapi karena yang mengajar adalah Renra Hata, pasti ia akan terlambat. Sudah pasti kesempatan ini akan dijadiakan ajang gosip kelas. Tidak hanya bergosip bahkan ada yang kejar-kejaran ataupun membolos.
"Ku dengar akan ada murid baru."
"Hah? Kata siapa?"
"Entahlah, aku baru mendengarnya. Ku harap jangan masuk kelas kita."
Orang yang satunya mengangguk." Aku juga berharap begitu."
"Bi-Bilton-kun?" Chely mengguncang pelan bahu Bilton, karena si pirang sedang tidur dengan tangan sebagai bantal.
"Hn?"
"A-akan ada murid baru, Bilton-kun tahu?"
Biltin berdecak. "Mana ku tahu Chely... Biarkan aku tidur."
Chely menggembungkan pipinya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. 'Perasaan ku, kenapa serasa gelisah?'
Ceklek.
Kenop pintu yang di putar mengalihkan perhatian semua murid.
"Konnichiwa." Sapa Renra setelah sampai di depan kelas.
"Konnichiwa Sensei."
Renra menatap semua muridnya, ia menghela nafas. Melihat beberapa dari muridnya ada yang tertidur. "Chely?"
"H-hai Sensei."
"Bisa bangunkan Bilton? Ini juga berlaku bagi semua murid yang ada orang tidur disebelahnya, bangunkan mereka."
"Hai, Sensei."
"Bi-Bilton-kun, bangun."
"Hem... Ada apa lagi Chely?"
"Renra-sensei sudah tiba."
"Hm..."
"Hari ini kita kedatangan murid baru."
Kelas seketika menjadi ribut.
"Apa?! Siapa Sensei?" Lee dengan hebohnya berdiri.
"Tenang dulu, nanti Sensei panggilkan. Sensei harap kalian bersikap baik padanya."
"Hai Sensei."
"Ya, Maykel?" Renra menatap Mayjel yang mengacungkan tangannya.
"Kenapa datangnya siang?"
"Begini... Ia baru pindah dari luar negeri, dan entah kenapa istirahat tadi dia daftar kesini. Silahkan masuk."
Ceklek
Semua mata tertuju pada seseorang yang berjalan di depan kelas.
"Bilton-kun bangun."
"Hm... Aku bangun." Bilton mengucek-ngucek matanya.
"Hallo minna-san." Ia membungkuk. "Watashi wa Miku, yorishiku onegaimasu."
Deg!
Badan Bilton menegak, ia memandang gadis di depan kelas dengan tatapan horor. Tangannya bergetar, ia menggenggam erat tangan Chely yang berada dipahanya.
"Bilton-kun kenapa?" Chely merasakan tangannya di genggam Bilton dengan telapak tangan yang basah karena keringat dan gemetar.
Miku mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Pandangannya terpaku ke bangku empat dekat jendela. Disana mantan kekasihnya duduk. Ia melirik ke arah kiri dimana terdapat seorang gadis tengah duduk nyaman disana. Alisnya mengernyit. 'Tidak mungkin itu kekasih Bilton-kun, di kelas inikan memang duduk berpasangan.'
"Nah, Miku duduk disana di samping Shino. Angkat tangan mu Shino."
"Hai Sensei."
Miku mengangguk. Ia berjalan ke samping bangku Bilton. Karena memang itu bangku terletak disana. Ia tersenyum ke arah Bilton, namun si pemuda hanya menatap datar ke depan dengan tangan–yang tak luput dari penglihatan Miku–menggenggam tangan gadis disampingnya.
.
.
.
.
To Be Continued
__ADS_1