Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode 15


__ADS_3

.


.


.


Semilir angin sejuk musim semi, sangat terasa jika kita diam di atap sekolah. Seperti halnya Bilton Nami, pemuda tampan ini sedang menunggu seseorang yang bisa membantunya meyakinkan perasaan.


Sungguh senangnya ia bukan main, saat ia di vonis Rekson sembuh. Jika tidak malu, ingin sekali Bilton melompat-lom_


Wait!


Tidak, itu tidak boleh di lakukan, bagaimanapun cool tetap nomor satu.


Sapphire birunya menatap tajam jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Ia berdecak. "Lama sekali. Apa 'dia' ketiduran di kelas."


.


.


.


Ceklek.


Suara pintu atap di buka bagaikan alunan syahdu musik dari surga bagi Bilton, memang berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi, ia terlanjur menunggu lama.


"Kau ketiduran di kelas, hah?" Bilton langsung menoleh ke samping, tepat 'orang itu' berada.


Orlan menguap. "Aku memang ketiduran."


Sapphirenya mendelik. "Tidur saja sana sampai tua."


"Kau yakin?"


'Sial, aku jadi emosian.'


"Tidak."


Orlan mengangguk.


Ya, orang yang ingin ditemuinya adalah Orlan Nara. Sahabat jeniusnya selain Aron. Kenapa harus Orlan? Kenapa tidak Aron, Maykel, Rio, atau bahkan Chely saja sekalian?


Jika memilih Aron untuk menceritakan bahwa ia–Bilton–ehem! Sedang jatuh cinta, bukannya nasihat yang di dapat, malah pelototan juga seringai menyebalkan yang di dapat. Nah, kalo Maykel, sama saja bunuh diri diakan comel. Rio, bukannya nasihat atau pendapat, malah senyum palsu hasil dari curhatannya. Atau pada Chely saja sekalian? Tidak! Bilton tidak yakin.


Jadi, Bilton memilih Orlan. Meski terlihat malas, tapi pemuda Nanas itu bisa dikatakan paling bijak diantara mereka.


"Lalu, kau mau apa mengajakku kemari? Jika tidak penting, aku mau tidur lagi."


"Tunggu, aku mau menceritakan sesuatu."


Orlan mengernyitkan alis, ia menyeringai. "Curhat, eh?"


Sepertinya memilih Orlan juga pilihan yang salah.


"Mau dengar apa tidak?!" Bilton mendelik.


'Kenapa Bilton seperti emosian?'


"Baik... Baik... Aku dengar."


"Apa, kau percaya? Jika perasaan ku telah kembali?"


"Apa?!"


Bilton menoleh. "Urusai!"


"Kapan?"


"Entahlah.. Aku juga tidak tahu."


Orlan terdiam, ia sedang berpikir. Tingkah Bilton satu bulan belakangan ini memang cukup aneh, di mulai saat mengenal Chely. Si pirang lebih tempramental, juga jika penyakitnya kambuh cepat pulih.


"Lalu apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kau... Tahu perasaan tenang dan jantung berdetak saat dekat dengan seseorang?"


Orlan terdiam. Apa Bilton sudah sembuh, pikirnya.


"Lalu, apa yang kau rasakan?"


"Aku selalu tidak mau dihindari olehnya. Juga hati ku selalu bergemuruh dan panas saat ia memuji orang lain dihadapanku. Kadang, hati ku juga serasa di remas tangan tak lasat mata."


"Apakah ada perasaan lain lagi?"


Bilton mengangguk. "Aku juga selalu ingin bertemu dengannya."


"Pasti ada lagi."


"Ya, dan telinga ku selalu terasa panas saat mendengar orang lain membicarakannya."


"Terus."


"Aku selalu ingin tersenyum dan tertawa ketika bersamanya."


"..."


"Dan aku sekarang tahu semua perasaan. Entah itu bingung, marah, sedih, kesal. Aku tahu itu. Tapi, untuk yang kusebutkan tadi aku benar-benar tidak tahu perasaan apa itu. Aku percaya kau tahu semua itu dan akan memberitahu ku. Perasaan apa ini Orlan?"


Mata Orlan membulat. Perasaan Bilton memang benar-benar telah kembali. Terbukti dari perkataannya barusan, hanya saja ia tidak mengerti tentang cinta. Iya, Orlan mengerti. Bahwa saat belajar mengenai perasaan baik itu dengan Rekson ataupun dengan X5, Bilton tidak pernah diajari perasaan tentang cinta. Itu semua karena ucapannya, 'Persetan dengan cinta!'


'Makan tuh omongan!' Batinnya kesal.


"Kau.. Jatuh cinta?" Ia melirik Bilton yang berada di sebelah.


Bilton hanya berwajah datar. Ia merasakan wajahnya sedikit memanas. Ini memalukan, pikirnya. Sudah ada empat orang yang bilang begitu, pertama kali Rekson, di lanjut dengan Kushi, Kishimoto, dan terakhir Orlan. Karena ia belum memberitahunya pada anggota X5 yang lain.


Astaga!


Demi Boomer kekasih yang Maykel sayangi.


Apa Orlan tidak salah lihat?!


Bilton, orang berwajah datar, kini... Merona meski samar.


"Ehem!" Ia berdehem.


"Apa?! Kau tahu tidak sebenarnya apa yang kurasakan?!"


'Mengerikan sekali saat dia marah.'


Si Nanas menghela nafas. "Ck, makanya sabar."


"Hn."


"Aku akan menjawab pertanyaan mu yang pertama, perasaan tenang, itu artinya kau merasa nyaman. Sedangkan untuk jantung berdetak, artinya kau gugup dekat dengannya. Saking senangnya kau berada didekatnya, kau akan merasakan jantung mu tak karuan."


Orlan benar, itu memang selalu dirasakan Bilton saat dekat dengan Chely.


"Perasaan kau yang selalu tidak mau dihindari olehnya. Itu namanya posesif."


'Sama seperti yang disebutkan Rekson-san. Dasar mata empat! Kenapa dia tidak menjelaskannya secara rinci?'


"Untuk hati mu yang selalu bergemuruh dan panas saat ia memuji orang lain dihadapanmu. Kadang, hati mu juga serasa di remas tangan tak kasat mata. Namanya cemburu."


'Jadi perasaan aneh itu cemburu ya...'


"Dan kau yang selalu ingin bertemu dengannya, itu rindu."


Bilton berkedip, ia tersenyum tipis. 'Jadi selama ini aku selalu merindukan si Bakpao.'


"Terakhir, perasaan yang kau sebut aneh itu_"


Bilton mendelik, sudah tahu ia tidak tahu apa-apa tentang cinta. Tapi Orlan malah meledeknya dengan menyebut apa yang ia rasakan aneh.


Orlan menoleh. "Apa?"


"Lanjutkan." Si pirang memalingkan kembali wajahnya ke depan. Menatap awan musim semi yang indah.


"Telinga mu selalu terasa panas saat mendengar orang lain membicarakannya, itu juga cemburu. Kau yang selalu tersenyum atau bahkan ingin tertawa juga senang."


"..."


"Jadi, siapa orang yang kau suka?"


Bilton menoleh. "Apa?"


"Aku yakin kau tidak tuli." Sebenarnya Orlan tahu, tapi ia ingin mendengarnya secara langsung.


"..."


Orlan menghela nafas, 5 menit sudah terlewati untuk pertanyaannya, dan di atap sekolah sepi ini hanya diisi suara semilir angin.


"Aku pergi dulu." Ia berbalik ke arah pintu. Baru beberapa langkah, Orlan berbalik kembali. "Oh, ya."


Bilton berbalik. "Hn?"


"Omodeto, kau sudah sembuh. Dan segeralah tembak dia, aku suka melihat Sasori anak senior kita selalu menaruh bunga mawar dilokernya." (Selamat)


Deg!


Jantung Bilton berpacu cepat mendengarnya, apa benar Chely dekat dengan Sasori? Senpai mereka yang berambut merah menyala bermuka baby face?


Astaga!


Demi apapun!


Masa iya Bilton akan mati rasa lagi?


'She is mine.'


"Arigatou Lan, dan–" Aku tidak akan membiarkan Chely dimiliki siapapun. "Sampai jumpa di kelas." Bilton tersenyum tipis.


"Hn. Sukses, Kitsune."


Ceklek.


Kali ini pintu atap benar-benar tertutup.


Hening.


'Apa yang harus ku lakukan? Shit!' Ia mengacak surai pirangnya.


'Apa aku harus menyerah?' Kepalanya menggeleng. 'Tidak! Dia itu milik ku, dan tidak ada satu orangpun yang boleh memilikinya kecuali aku, Bakpao is mine.'


Drrrttt... Drrrttt...


Gerataran di saku celananya membuyarkan lamunan Bilton. Dengan helaan nafas kasar, ia merogoh saku ponselnya.


From: Renra-sensei


To: Me.


Kau dimana? Kenapa tidak ada di kelas? Kau menghilang saat jam pelajaran? Istirahat masih lama.


'Cerewet.' Biltom memang bolos, lagi pula Renai hanya memberikan tugas essay kimia, gurunya juga tidak hadir, tugasnyapun bisa dikumpulkan minggu depan. Toh, tentang absen jangan perlu khawatir, siapa yang berani mengalfakannya coba? Dan juga Orlan juga rela-rela saja di ajak bolos olehnya.


To: Renra-sensei


From: Me.


Atap.


Sedangkan orang yang mendapatkan pesan singkat yang ternyata benar-benar singkat itu hanya mencak-mencak tidak jelas.


"Ini pesan tersingkat yang pernah ku terima, dasar murid durhaka!"


Setelahnya Renra langsung menyusul Bilton ke atap sekolah.


...


Tidak ada niatan untuk keluar atap sekolah, ia pusing. Sungguh Bilton sangat pusing kali ini. Orang-orang terus menekannya untuk menembak Chely. Tak tahukah mereka? Bahwa untuk bertemu dengannya juga Bilton sangat gugup?


Huh!


Menyebalkan sekali.


Ceklek.


'Pasti dia.'


"Kau bolos?"


"Hn." Tanpa berbalikpun Bilton tahu siapa pemilik suara itu.


Renra menghela nafas, ia berjalan mendekat ke pagar pembatas atap sekolah. Dimana Bilton saat ini berada, dengan tatapan entah apa itu dan tangan yang dimasukkan di saku celana. "Apa yang kau lakukan."


"Diam."


Kalau saja Renra tidak kenal sifat Bilton, sudah ia jitak kepalanya hingga benjol. "Aku ingin membicarakan sesuatu."


Bilton menoleh. "Apa?"


Bisa Bilton dengar Renra menghela nafas. "Kau sudah tidak apa-apa?"


"Maksudnya?" Bilton mengernyit.


Renra menoleh. "Jangan pura-pura tidak tahu. Kau yang lebih tahu tentang semuanya, jangan pura-pura bodoh aku tahu kau jenius." Ia memalingkan wajahnya ke depan.


"..."


"..."


"Ternyata Sensei sudah tahu?" Ia menyeringai.


"Ya, aku tahu. Jadi jelaskan semuanya."


Si pirang terdiam, entah kenapa orang-orang semakin ingin tahu apa yang dirasakannya. "Apa yang ingin Sensei tahu?"


"Semuanya."


"..."


Renra menoleh. "Kau pasti sudah menemui Rekson, kan?"


Sapphire Bilton membulat, ia menoleh. "Apa kau tahu ini dari Rekson-san?"


"Tidak, sebelumnya aku juga tahu."


"Kapan?"


Renra mengangkat bahunya. "Saat kau kehujanan dengan Chely, dan kau bilang khawatir."


'Jadi... Jantung berdetak dan aku tidak menyukainya itu khawatir?'


"Ya, aku memang sudah tahu semua perasaan. Bahkan aku juga sudah merasakan semuanya."


"Omodeto." Kakashi tersenyum, hingga matanya menyipit. "Kau sudah sembuh."


Bilton juga tersenyum. "Arigatou Sensei. Sudah mendukung dan membantu ku selama ini. Jika tidak karena mu, aku tidak akan bertemu dengan Rekson-san."


"No problem." Renra menepuk bahu Bilton. "Aku senang membantu mu. Dan..."


Alis Bilton terangkat. "Dan?"


"Segera tembak dia, dia itu manis dan cantik. Jika saja aku masih muda pasti aku akan menjadikannya kekasih ku."


Bilton melotot. "Sensei!"


Dan Renra senang melihat ekspresi Bilton yang satu ini.


.


.


"Lan?"


Orlan mengangkat kepalanya yang direbahkan di atas meja kantin. "Hm?"


"Kau mengatakan apa pada Bilton?" Maykel menatap selidik Orlan.


"Biltom tidak kembali semenjak pelajaran pertama sampai istirahat kali ini." Meski tersenyum aneh, Rio tetap saja khawatir.


Maykel mengunyah apel yang digigitnya. Ia menghela nafas. "Aku takut Biltom bunuh diri karena penyakitnya."


Bletak.


Dan sendok makanpun mendarat manis dikepalanya.


"Aw! Apa yang kau lakukan Ayam?!"


Aron menyeringai. "Hanya mengusir lalat dikepalamu."


"Maykel?"


Maykel menoleh ke arah Eio dengan tangan yang mengusap kepalanya. "Apa?"


"Jangan membicarakan Biltom yang bunuh diri dihadapan Aron."


Awalnya Maykel memasang wajah bingung, tapi wajahnya berubah menjadi ekspresi jahil. "Ya ampun.. Aku lupa." Maykel menoleh, lalu menatap Aron. "Aron, kau tenang saja, Uke mu itu tidak akan bunuh diri kok. Lagi pula jika Bilton bunuh diri siapa yang mau jadi Uke mu lagi."


"Inu!"


Bletak


Dan untuk kedua kalinya, sendok makan mendarat di kepala Maykel.


"Kau pasti mau, ya kan Maykel?"


"Mau apa Rio?"


"Jadi Ukenya Aron." Rio tersenyum aneh.


"Iss... Mana sudi!"


"Perasaan Bilton sudah kembali."


"APA?!"


Orlan menguap, ia menatap satu persatu wajah sahabatnya. Semuanya berwajah kaget, bahkan Aron juga melotot. "Iya, dia mengatakannya pada ku tadi."


Aron mengernyit. "Lalu kenapa dia tidak bilang apa-apa pada kami?"


"Dasar Kitsune menyebalkan!" Maykel meremas-remas jemarinya hingga terdengar bunyi patah tulang.


Rio tersenyum aneh. "Bilton memang menyebalkan."


"Dengar, perasaan dia kembali karena seseorang."


"..."


"..."

__ADS_1


"..."


"Jadi karena dia." Aron menyeringai.


"Sepertinya kita harus berterima kasih padanya." Rio tersenyum aneh.


"Tentu, aku tidak menyangka semuanya karena dia." Aron menguap.


"Siapa yang kalian maksud?! Dia itu siapa?!"


Seakan-akan teriakkan Maykel hanya angin lalu, Orlan kembali tidur di meja kantin, Aron melanjutkan makan siangnya, Rio sendiri meminum jusnya. Sekarang hanya Maykel yang otaknya kelewat lambat sedang berpikir siapa dia.


'Jangan membuat kami repot lagi karena cinta, Bilton.' –Orlan.


'Dobe kau sembuh ternyata.' –Aron.


'Enaknya punya orang yang kau suka.' –Rio.


'Sebenarnya siapa dia?!' –Maykel.


.


.


Bel pulang sekolah telah berbunyi 5 menit yang lalu, bukannya beres-beres atau langsung pulang. Chely malah mencoret-coret buku dengan bolpoinnya. Ia bukan sedang menulis atau menggambar hal yang penting, tapi memang mencoret-coret buku dengan tangan kiri yang menopang dagunya.


Pikiran gadis bersurai indigo itu sedang memikirkan pemuda pirang yang selalu mengganggunya. Seharusnya Chely senang, karena Bilton tidak ada di kelas seharian ini. Ia hanya ditemani tas hitam si pemuda.


Tapi...


Yang ada ia malah memikirkan Bilton.


'Sedang apa dia? Apa Bilton-san sakit lagi?' Pipinya menggembung, kemudian kepalanya menggeleng. 'U-untuk apa aku memikirkannya? Harusnya aku senang dia tidak ada, tapi... Kenapa hari ku serasa tidak lengkap? Dan akupun tidak bersemangat...'


Chely beranjak dari duduknya, ia membereskan alat tulisnya. 'Lebih baik aku pulang.' Lavendernya menatap ke samping kiri.


"Bi..ton-san?" Disana Bilton tersenyum miring.


"Bakpao Baka."


Bibir Chely mengerucut. "Aku tidak bo-bodoh."


"Chely-san?"


"Eh?" Chely menoleh, Zuka Maykel. Berdiri beberapa langkah dibelakangnya. Pemuda yang Chely kenal saat tragedi sakit Bilton satu bulan yang lalu.


Chely tersenyum. "E-eh, Maykel-san?" Kembali kepala indigonya menoleh ke belakang, memastikan bahwa Bilton ada dibelakangnya. 'Bilton-san memang tidak disini...'


Maykel tersenyum. "Iya, ini aku. Kenapa belum pulang?"


"A-aku juga mau pulang." Bilton memasukkan bukunya ke dalam tas. Ia menatap Maykel. "Maykel-san kenapa masih disini?"


Maykel menepuk keningnya. "Hampir saja aku lupa..." Ia berjalan mendekat. "Bisa ambilkan tas Bilton?"


"E-eh, ya.." Chely berbalik, ia mengambil tas hitam si pirang. "I-ini."


"Arigatou." Maykel tersenyum.


"Doita na..."


Maykel berbalik, ia melambaikan sebelah tangannya. "Aku duluan ya... Jaa..."


"Maykel-san?"


"Ya?" Ia berbalik kembali.


Chely gelagapan. "A-ano, maaf tidak jadi..."


Maykel tersenyum. "Tidak apa, aku duluan. Jaa..."


"J-jaa ne..."


Bilton berkedip, ia menggendong tasnya. Pipinya menggembung. "K-kenapa aku sangat khawatir pada Bilton-san? Tadi saja aku akan menanyakannya pada Maykel-san, untung saja tidak jadi. Memalukan."


...


"Angkat.. Bilton?" Aron masih saja menempekan ponsel pintarnya di telinga. Sudah tiga kali ia menelepon Aron, dan selalu saja tidak di angkat. Dan ini yang ke empat kalinya.


Tut... Tut... Tut..


"Hn?"


"Dimana kau Dobe?!"


"Urusai."


"Cih, kita mencari mu dari tadi!"


"Aku di UKS."


"Kita kesana, awas kalau kau hilang lagi."


Klik.


Disertai onyx yang melotot, Aron mematikan teleponnya.


"Bagaimana?" Rio menatap onyx Aron yang masih melotot.


"Dia di UKS."


Orlan menguap. "Sudah ku duga."


"Kitsune no Baka." Gumam Rio.


"Suruh Maykel ke UKS."


"Baik." Pemuda pucat itu merogoh saku celananya.


To: Maykel Inu.


From: Me.


Bilton di UKS.


Tak sampai satu menit Maykel membalas.


From: Maykel Inu.


To: Me.


Aku kesana.


.


.


Klik.


'Dasar Teme!' Bilton kembali berbaring di ranjang UKS.


Sebenarnya ia juga sudah tahu bahwa Aron sudah meneleponnya tiga kali, dan panggilan ke empat baru ia angkat. Mana Bilton peduli. Yang ia pedulikan saat ini adalah pening dikepalanya.


Bukan, bukan karena alexithymia. Melainkan pusing memikirkan orang-orang yang malah menyuruhnya menembak Chely.


'Aku ingin melupakan seluruh... Perasaan... Ini...'


Terngianglah perkataan yang ia ucapkan 2 tahun lalu, itu perkataan yang Bilton ucapkan saat putus dengan Miku.


"Ck." Padahal Bilton berniat hanya melupakan perasaan sakitnya dengan Miku, bukan melupakan seluruh perasaannya. 'Andaikan dulu aku tidak mengucapkan itu, mungkin aku tidak akan alexithymia.'


Sekarang Bilton percaya bahwa ucapan adalah do'a.


'Omedeto, kau sudah sembuh. Dan segeralah tembak dia, aku suka melihat Sasori anak senior kita selalu menaruh bunga mawar dilokernya.' (Selamat)


"Apa benar Sasori selalu menaruh bunga di loker Chely?"


Hatinya berdesir menyebalkan. 'Aku benci perasaan ini.'


'Segera tembak dia, dia itu manis dan cantik. Jika saja aku masih muda pasti aku akan menjadikannya kekasih ku.'


"Renra-sensei juga, kenapa bicara begitu? Memperburuk mood ku saja." Bikton menarik selimutnya sampai sebatas leher. Sapphirenya terpejam. Memang ini sudah jam pulang, tapi ia malas pulang. Lagi pula hari bubar lebih awal pukul 13.30, karena gurunya sedang rapat.


Baru saja sapphirenya terpejam , namun_


Ceklek.


Bughh


"Hey!" Refleks Bilton terbangun, kini ia terduduk di ranjang. Sapphire birunya menatap tajam Aron yang melemparkan tasnya sembarangan hingga mengenai punggungnya. "Apa-apaan kau Teme?"


"Kau menghilang setengah hari ini, kemana saja Dobe?!"


"Kau merepotkan Bilton." Orlan menguap.


"Dan lagi kenapa kau tidak memberitahu kami?" Rio mendekat ke ranjang UKS.


Maykel mendecih. "Dasar kacang lupa kulitnya."


Bilton mendelik. "Kalian ini kenapa sih?"


"Kami ini khawatir pada mu!"


Bilton berkedip melihat sahabatnya kompak berteriak.


"Kau sudah sembuh?" Aron mendekat ke arah ranjang, berdiri di samping Rio.


Bilton tersenyum tipis. "Ya, aku sudah sembuh. Arigatou telah membantu ku."


Bilton mendecih, ia menyingkirkan tangan Maykel. "Tentu saja ini aku, dasar Inu no Baka."


Maykel menghela nafas mendengar Bilton mengejeknya. "Aku percaya ini kau. Tapi_" Tatapan horor Maykel perlihatkan. "Kau berterima kasih itu moment langka, haruskah aku memfotonya?" Maykel merogoh saku celananya.


"Kau benar Maykel. Foto saja, nanti sebar di koran sekolah. Pasti kita untung banyak." Rio tersenyum aneh.


Bilton menyeringai. "Foto saja, kupastikan esoknya Boomer dan lukisan kalian sudah jadi abu di Kuil."


Glek.


Rio dan Maykel menelan ludahnya. Sudah sembuh juga tetap saja dingin, pikirnya.


"Kau yakin akan mempermalukan Bilton, Maykel?"


Maykel menoleh, ia menatap Orlan yang duduk di samping ranjang Bilton. "Apa sih, aku tidak mengerti."


"Bahkan Maykel tadi sangat mencemaskan mu, takutnya kau bunuh diri." Orlan menatap malas Maykel.


Maykel gelagapan. "A-aku tidak cemas."


"Alasan." Onyx Aron memutar.


"Adanya kau yang khawatir Ayam!"


Aron mengangkat kedua bahunya. "Apa peduli ku."


"Ayo pulang Bilton." Orlan menguap, lalu beranjak dari duduknya.


"Aku tidak mau pulang."


"Pulang Dobe. Nanti Ba-san khawatir."


Bilton kembali berbaring menghadap tembok. "Tidak akan. Lagi pula ini masih terlalu siang untuk pulang."


Rio menghela nafas. "Semoga tidur mu nyenyak."


"Hn."


"Ayo pulang. Aron, Rio, Maykel."


.


.


Koridor sekolah sudah lumayan sepi, meski bubar lebih awal ternyata jarang ada siswa-siswi yang berniat masih berada di sekolah. Pengecualian untuk yang ikut club.


Chrly menghela nafas, entah kenapa. Ia juga malas pulang. Bawaannya selalu ingin bertemu dengan si pirang. Ia juga bingung, kenapa selalu memikirkan Bilton. Akhir-akhir ini memang Bilton selalu membuatnya tidak fokus, jika dekat dengannya selalu membuat jantungnya tak karuan.


'Apa aku merindukan Bilton-san?'


"Chely?"


Kepala indigonya mendongak. "E-eh Shizu-sensei?" Hinata mendekat pada Shizu.


"Konnichiwa Sensei. " Badannya membungkuk.


Shizu tersenyum. "Konnichiwa. Mau pulang sekarang."


"Se-sepertinya begitu." Alis Chely mengernyit, lavendernya menatap Shizu. "A-apa Sensei butuh bantuan?"


Shizu tersenyum. "Bolehkah?"


Chely mengangguk. "Tentu saja."


"Begini Chely... Anak Sensei sendang sakit. Sensei bahkan izin untuk pulang lebih awal di rapat."


Chely mengangguk.


"Bisa tolong kunci pintu UKS? Tadi Sensei lihat masih ada siswa yang sakit, pasti sekarang masih tidur. Nanti kuncinya simpan saja pada Izumo-san."


"Hai Sensei. Nanti saya kunci."


Shizu merogoh sakunya. "Ini kuncinya."


"Hai Sensei." Chely menerima kunci.


Shizu tersenyum. "Arigatou Chely. Sensei duluan ya..."


"Hai Sensei. Doitana, Watashitachiha, hayai kaifu." (Semoga cepat sembuh)


"Hai arigatou."


.


.


Ceklek.


Putih.


Setelah membuka pintu UKS, hanya warna putih yang mendominasi penglihatan Chely, manik lavender Chely menjelajahi seluruh sudut ruangan, ia sedang mencari seseorang yang disebutkan Shizu. Mana mau Chely kena masalah karena mengunci orang di UKS.


Tap... Tap... Tap...


"Ha-hallo? Apa masih ada orang?"


Hening.


"Bo-boleh ku kunci?"


Hening.


Jujur, ia seperti orang bodoh. Berbicara sendiri.


"A-apa aku lihat dulu ranjang ya? Siapa tahu ada orang."


Kosong.


Kosong.


Kosong.


Sudah tiga ranjang Chely cek, dan ketiganya kosong.


"I...tu apa?" Lavendernya menatap gundukan selimut di ranjang keempat. Chely takut, jika ia membuka selimut dan yang ia lihat hantu, ia harus bagaimana?


Glek.


Chely menelan ludahnya.


Ia berjalan mendekat. 'Ayo buka Chely. "


Dan_


Srettt


Cepat-cepat Chely menutup rapat matanya saat membuka selimut.


1


2


3


Bahkan 10 detik terlewati, jika yang berbaring ini vampire, sudah pasti Cheky akan di gigit.


Lavendernya terbuka. Chely berkedip. "Bi-Bilton-san...?" Dihapannya, dengan wajah polos bagaikan bayi, Bilton tertidur.


Chely tersenyum, entah kenapa ia senang melihat Bilton baik-baik saja. "Bi-Bilton-san?" Ia mengguncang bahu si pemuda.


"Bilton-san?"


"..."


"Bangun..."


"Nggghhh..." Berhasil! Chely dapat respon.


Kelopak mata tan Bilton terbuka. "Apa Kaa-chan? Ini masih pagi."


Chely berkedip. 'Bilton-san... Mengigau?' Pfffttt, ia berusaha menahan tawanya.


"Bangun Bilton-san. UKSnya mau ku kunci."


'Kunci? UKS? Astaga! Aku ketiduran!' Dalam sekali hentakkan Bilton terduduk. Sapphire birunya membulat. "Chely?"


Si gadis tersenyum.


Gugup. Bikton gugup, tapi ia senang bertemu Chely. Jantungnya saja sampai tak karuan, tanpa sadar ia juga tersenyum. "Sedang apa disini?"


"A-aku mau kunci pintu UKS. Tapi Bilton-san masih di dalam." Pipinya menggembung.


Rindu, Bilton rindu pipi Chely yang menggembung. "Begitu ya?"


"Hu'um. Jadi ayo kita keluar sekarang." Chely berbalik.


"Tunggu!" Bilton menahan lengan Chely.


Si Bakpao berkedip. "A-apa?" Jantung Chely berdegup kencang, ini perasaan yang ia rasakan akhir-akhir ini.


"Ada yang... Ingin ku bicarakan."


Alis Chely mengernyit, ia tersenyum. "Baiklah."

__ADS_1


"Sini." Ditariklah Chely untuk duduk diranjangnya.


"Jangan menyelaku!"


"Hai... Hai..."


Bilton mendekat, kini mereka berhadapan. Dengan posisi kaki Bilton yang menjuntai ke bawah dan kaki kanannya dibiarkan duduk menyilang di ranjang. Tangan Bilton masih saja memegang lengan kiri Chely.


Bilton menarik nafas, ia terlalu gugup berhadapan dengan Chely. Tapi ia harus bisa!


"Chely?"


Suara Bilton entah kenapa terdengar lembut.


"Y-ya?"


"Jujur aku tidak tahu harus memulainya dari mana."


Chely terdiam, ia tidak mengerti apa yang Bilton katakan. Tapi jantungnya sangat gugup.


"Bolek aku bercerita?"


Chely tersenyum, ia mengangguk.


"Awalnya, aku bingung. Ketika jantung ku bedetak tak_"


'Bilton-san juga merasakan itu?'


"–karuan itu apa... Tapi, sekarang aku tahu itu apa. Itu adalah perasaan gugup saat dekat dengan mu."


'Aku juga selalu gugup berdekatan dengan Bilton-san.'


"Aku juga selalu merasa tenang dan nyaman dekat dengan mu. Kekesalan yang kurasakan selalu hilang begitu saja, aku juga selalu tersenyum dan bahkan ingin tertawa ketika dekat dengan mu. Kau tahu, kan? Betapa kakunya aku?" Bilton tertawa.


Chely yang melihatnya tertegun. Ini moment yang langka, mengingat benar kata orangnya, Bilton kaku.


Ia juga merasakan perasaan yang sama dengan Bilton, meski si pirang selalu mengatainya Bakpao, tapi Chely senang. Kesal juga ada, tapi senang sangat mendominasi. Hari minggu kemarin, saja saat di mall ia merasa kesal karena Bilton melarangnya membeli ikat rambut, tapi saat pemuda itu mengenggam tangannya kekesalannya menguap.


Bilton menarik nafas, ia melanjutkan perkataannya. Pandangannya menajam. "Aku juga benci saat kau menghindari ku, posesif. Perasaan itu namanya posesif."


"..."


"Aku selalu ingin bertemu dengan mu. Kau itu menyebalkan, kau tahu?"


Chely cemberut. Yang membuat Bilton tersenyum tipis. Tangan Bilton bergerak, ia menyelipkan anak rambut Chely di telinga kanannya.


"Kau itu selalu memenuhi pikiran ku, senang sekali membuat ku tidak fokus."


'Bilton-san juga selalu merindukan ku?'


Tangan Bilton berpindah, kini ia mengusap pipi tembam Chely.


Chely merona.


Pipinya memanas.


"Dan kegilaan ini terus berlanjut, apa lagi saat kau memuji orang lain. Aku benci itu, aku tidak suka kau dibicarakan orang lain. Cemburu, aku selalu cemburu saat itu terjadi."


Chely berkedip, ia belum pernah merasakaan itu. Karena Bilton belum pernah dekat dengan seorang gadis, setahunya.


"Aku simpulkan perasaan itu, aku... Jatuh cinta pada mu."


Lavender Chely terbelalak. Jantungnya berdegup kencang, jadi selama ini ia jatuh cinta pada Bilton? Tapi bagaimana bisa? Ini terlalu mendadak, memang mereka kenal sudah cukup lama. Tapi...


"Aku ingin kau menjadi kekasih ku. Kita jadi teman hidup, tidak ada yang harus disembunyikan antara kita, kita saling melengkapi satu sama lain. Aku berjanji akan selalu menyayangi mu, melindungi mu, menjaga perasaan mu, menjadikan mu orang yang berharga, dan.. Selalu menncintai mu."


"..."


"Maukah kau menjadi kekasih ku?"


Nafas Chely terasa sesak, ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya, jantungnya tak karuan, jangan lupakan wajahnya yang memerah.


Sapphire dan lavender bertemu.


Chely sedang mencari kebohongan dari manik sapphire yang ia sukai.


Tapi...


Yang ia dapat malah suatu keyakinan yang besar. Tidak ada keraguan disana, tidak ada kebohongan, tidak ada perasaan apapun kecuali... Cinta.


Chely hanya takut Bilton mempermainkannya.


30 detik sudah terlewati untuk pertanyaannya. Bilton menghela nafas. Mungkin ini terlalu cepat, pikirnya.


Bilton mundur, ia melepaskan genggaman tangannya. Senyum kecut hadir di bibir tipisnya. "Tak apa, mungkin kau ragu pada ku. Kau boleh tidak menjawabnya sekarang, atau bahkan... Kau boleh menolak ku."


Sesak.


Sakit.


Paru-parunya terhimpit.


Bilton merasakan itu, untuk bernafaspun bahkan sangat sulit, masa iya Bilton mau menangis?


Tidak!


Itu tidak boleh terjadi.


"Tidak."


Makin sesaklah ia, kala mendengar satu kata sakral terucap dari bibir Chely.


"Aku tahu." Bilton masih tersenyum kecut. Ia mengambil tasnya diranjang, lalu disampirkan dibahunya. "Kalau begitu, aku pulang dulu."


'Penolakkan ini begitu menyakitkan, aku.. Makin takut untuk jatuh cinta lagi.'


Kaki Bilton turun dari ranjang.


"Mungkin aku menolak mu."


"Apa?" Bilton menoleh, suara Chely terlalu pelan.


Chely mengangkat kepalanya yang menunduk. Ia tersenyum manis. "Tidak, mungkin aku menolak mu. A-aku menerima mu."


Sapphire Bilton membulat. Ia tersenyum, hingga gigi putihnya sedikit terlihat.


Grep!


Dalam satu tarikkan, Bilton memeluk Chely.


Manik lavender Chely membulat, tapi hanya beberapa saat. Tangannya terangkat, ia lingkarkan di punggung Bilton.


"Aishiteru Hime." Wajah Bilton terbenam di surai indigo Chely.


Chely tersenyum. "Aishiteru yo..."


"Watashi wa anata o aishiteimasu. Kansha wa watashi no seikatsu no naka de sonzai shite imasu." (Aku sangat mencintai mu. Terimakasih telah hadir dihidupku)


"Watashi wa anata o totemo aishiteimasu." (Aku juga sangat mencintai mu)


Bilton terkekeh mendengar pernyataan cinta Chely.


"Aw..." Bilton mengaduh pelan, saat Chely memukul punggungnya. "Kau galak juga ya?" Kepala pirangnya masih saja mencari kenyamanan di antara helaian indigo Chely.


"Ja-jangan mengejek ku."


"Iya.. Iya..." Bilton melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Chely yang merona. Tangannya bergerak merapikan poni Chely.


Hinata tersenyum.


Wajah Bilton mendekat, dan Chelt menutup matanya. Mungkin ini waktunya untuk_


Cup.


Ciuman itu bukan di bibir, pipi, atau bahkan tempat lainnya. Tapi... Itu di kening Chely.


Bilton tersenyum. "Aku tidak akan mengambil hak ku sebelum menikah. Akukan berjanji akan selalu menjaga mu."


"A-arigatou." Lavender Chely berkaca-kaca.


"Jangan menangis. Kau jelek kalau begini." Sambil terkekeh, Bilton mengusap air mata Chely dengan ibu jarinya. "Air mata mu itu sangat berharga, dan takkan kubiarkan jatuh begitu saja."


Chely mengangguk.


"Ayo buat kesepakatan?"


"Ke-kesepakatan apa?"


"Pertama, panggil nama ku."


"Bilton Nami."


"Bukan itu."


Chely tertawa kecil. "Nami-san?"


"Aku belum tua."


"U-um... Bilton-san?"


"Astaga Chely... Kita sudah kenal lama."


"Bilton-Sama?"


"Aku bukan majikan mu." Karena kesal, Bilton mencubit pipi Chely.


"Bilton-nii..."


Cubitannya belum terlepas. "Kita ini seumuran, meski aku beberapa bulan lebih tua dari mu."


"Bilton-kun!"


"A-apa?" Chely berkedip.


"Panggil aku Bilton-kun."


"Bi...Bi...Bilton-san..."


"Chely... Kau mau ku hukum ya?" Sekarang kedua tangan Bilton mencubit pipi Chely, bahkan ia menariknya.


"Mou... Sakit..." Bibir Chely mengerucut, refleks ia memegang kedua lengan Bilton yang mencubitnya.


Bilton menarik pipi tembam Chely pelan. "Makanya panggil nama ku."


"Bi-Bilton-kun."


Manis.


Hangat.


Dan menenangkan.


"Anak pintar..." Cubitannya terlepas, digantikan usapan dikepalanya.


"Kesepakatan kedua."


Chely menghela nafas. "Banyak sekali."


Bilton terkekeh. "Ini baru dua Chely. Dan masih ada kesepakatan berikutnya."


Bibir si gadis mengerucut.


"Kedua, kau jika pergi kemanapun harus izin pada ku."


Chely tersenyum. "Hai."


"Ketiga, kita harus saling mengabari."


"Hai."


"Keempat, harus terbuka."


"Hai."


"Kelima, kau tidak boleh selingkuh."


Chely mengernyit. "Kenapa hanya aku yang tidak boleh selingkuh?"


Bilton menyeringai. "Karena aku tidak akan selingkuh."


"A-aku juga tidak akan!"


"Tapi kau selingkuh dengan Nando!"


"..."


"..."


"Ja-jadi Bilton-kun cemburu?"


Bilton berkedip. "Apa?"


Chely menutup mulutnya dengan tangan. "Nando-nii, aku memang mencintainya, menyayanginya, dan bahkan sering dipeluknya. Tapi_"


"Kau benar-benar selingkuh?"


"Sebagai Nii-san ku."


"..."


"..."


"Jadi, dia Nii-san mu? Kenapa tidak bilang?"


Pipi Cheky menggembung. "Habisnya sih... Bilton-kun menuduh ku selingkuh. Lagi pula, mana mungkin a-aku selingkuh. Kan kita baru jadian."


"Beraninya kau membohongi ku." Bilton kembali mencubit pipi Chely.


"Ma-maaf..."


"Baiklah." Bikton mengangguk. "Sekarang kesepakatan terakhir, pegang tangan ku."


Mereka bersalaman.


"Kau, jangan memanggil ku Kitsune."


"A-apa?" Chely berusaha menarik tangannya. "Le-lepaskan!"


"Tidak. Kalau kulepaskan, kau pasti akan mengingkari."


"Bilton-kun juga jangan memanggil ku Bakpao."


Bilton menaruh telunjuknya di dagu. Ia memasang pose berpikir. "Bagaimana ya...?"


"Po-pokoknya jangan!"


Ia berkedip polos. "Itukan panggilan sayang ku pada mu."


Blush.


Chely merona.


"Ma-mana bisa, berarti aku juga harus memanggil Bilton-kun Kitsune."


Bilton menggeleng. "Dimana-mana, istri itu harus nurut pada suami. Aku belum pernah mendengar 'suami yang durhaka pada istri'."


Chely masih berusaha menarik tangannya, meski tidak sakitkan tetap saja risih. "Ki-kita masih pacaran Bilton-kun."


"Tapi kau maukan jadi istri ku?" Bilton mengangkat sebelah alis pirangnya.


'Ke-kenapa Bilton-kun jadi berubah? Kemana dia yang dingin?'


"Ka-kata siapa?"


"Tentu saja kata hati nurani mu."


Chely cemberut. "Kesepakatannya banyak menguntungkan Bilton-kun."


"Masa?"


"Te-tentu, apa lagi yang keenam."


Bilton menyeringai. "Jadi kau setuju?"


"A-aku tidak bilang begitu." Pipi Chely menggembung. "Lalu, apa sanksinya jika aku memanggil Bilton-kun Kitsune?"


Alis Bilton menukik. "Aku akan... Menyerang mu dimanapun dan kapanpun."


Glek.


'Dia belum berubah, masih saja mesum."


"He-hentai! Katanya akan selalu menjaga ku?"


Bilton mengangkat bahunya, cuek. "Jika aku tidak mesum, kita tidak akan punya keturunan. Dan lagi, untuk perkataan ku yang itu, bisa saja berubah jika kau melanggar. Jadi kau setuju?"


Karena tidak ada pilihan lain, Chely mengangguk.


"Aku jadi semakin mencintai mu." Bilton mencubit pipi Chely. "Bakpao Hime."


Blush.


Chely merona.


"Bi-Bilton-kun sudahlah... Ayo keluar. Aku akan mengunci pintunya." Chely berdiri.


"Kau yakin?"


"Me-memangnya kenapa harus tidak yakin?"


Bilton berdiri, ia membungkuk sedikit. Guna mensejajarkan bibirnya dengan telinga Chely. "Disini sepi. Kita bisa saling 'menghangatkan'."


"He-hentai!" Sepertinya Chely sudah tahu apa itu 'menghangatkan' versi Naruto.


"Ya sudah ayo kita kunci. Sebelum_"


"Hai... Hai..."


Dengan senyum tipis. Bilton merangkul pinggang Hinata.


'Terima kasih, telah hadir dalam hidup ku, Chely. Aku akan mencintai mu bagaimanapun keadaan mu.'


.


.


.


.


To Be Continued

__ADS_1


maaf lama post yaa Gomen gomen


__ADS_2