
"Ayo Aron-kun."
"Hn."
...
Song fic: One Call Away
By: Charlie Puth
Tirai panggung terbuka, menampakkan Aron dan Wulan sedang berdiri menghadap penonton—Aron memegang mikrofon dengan tangan kanan dan tangan kiri dimasukkan ke dalam saku celana–pose cool.
Sedangkan Wulan memegang mikrofon dengan ke dua tangannya di depan dada. Ia menarik nafas.
.
I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one call away
.
Setelah menyelesaikan lagunya, Wulan tersenyum seakan-akan ia sangat lega telah mengungkapkan perasaan ingin selalu ada pada seseorang yang ia suka. Terdengarlah suara merdu milik Aron Ucho.
.
Call me, baby, if you need a friend
I just wanna give you love
C'mon, c'mon, c'mon
Reaching out to you, so take a chance
.
Sedikit senyum Aron tampilkan, ia juga nampak merasa lega setelah mengungkapkan apa yang Aron ingin sampaikan. Suara Wulan kembali terdengar.
.
No matter where you go
You know you're not alone
.
Aron dan Wulan berhadapan, mereka saling menatap satu sama lain. Ekspresinya nampak senang, terlihat dari wajahnya yang menampilkan senyum bahagia. Mereka bernyanyi bersama.
.
I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one call away
.
Aron maju selangkah, ia mulai bernyanyi kembali.
.
Come along with me and don't be scared
I just wanna set you free
C'mon, c'mon, c'mon
You and me can make it anywhere
For now, we can stay here for a while
Cause you know, I just wanna see you smile
.
Wulan menyusul Aron ia kembali bernyanyi dengan suaranya.
.
No matter where you go
You know you're not alone
.
Mereka kembali berhadapan dengan senyum diwajahnya.
.
I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one call away
.
Kali ini, Wulan kembali bernyanyi dengan pose saling berhadapan dengan Aron.
.
And when you're weak I'll be strong
I'm gonna keep holding on
Now don't you worry, it won't be long
Darling, and when you feel like hope is gone
Just run into my arms
.
Aron tersenyum, ia menarik nafas. Lalu keduanya kembali bernyanyi.
.
I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one, I'm only one call away
I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one call away
I'm only one call away.
...
Prok prok prok
Tepuk tangan menggema di aula. Aron dan Wulan membungkukkan badan.
"Aron-kun aishiteru!"
"Wulan-chan kawaii ne.."
"Forhead, amazing."
"Aron you are the best!"
"Bagus, Aron dan Wulan bisa duduk. Sekarang undian nomor tiga."
"Cepatlah! Nanas!"
"Urusai, Tamarin. Telinga ku masih berfungsi dengan baik, jadi jangan teriak-teriak." Dengan malas Orlan bangkit dari duduknya, ia menguap.
Si gadis yang mendengar ceramahan mendadak hanya berdecak. "Cepat, Dei-sensei sudah menunggu."
"Hn."
...
Song fic: Stay With Me
By: Chaenyeol feat Punch
OST: Goblin
Alunan musik instrumental terdengar, tirai panggung aula terbuka menampakkan Temari sedang berdiri dengan kepala yang tertunduk. Ia menarik nafas. Temari mengangkat kepalanya.
.
Ketika aku menutup mata ku, aku melihat mata itu
Hati ku tetap merasakan sakit, jadi aku ingin melupakannya
Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku
Apakah kau takdir ku?
Aku jatuh kepada mu
.
Seketika suara-suara gaduh para murid kelas 2-1 terdengar, kala medengar suara nge-rap Orlan. Pasalnya mana mungkin orang pemalas sepertinya punya suara berat yang enak di dengar.
Semua menoleh ke arah belakang panggung, dimana Orlan sedang berjalan menghampiri Temari sambil bernyanyi.
.
Seperti takdir, terjatuh
Kau memanggil ku, memanggil ku
Aku tidak menemukan jalan keluar, tuntun aku
Apa kau benar garis takdir ku? Apa kau telah menunggu ku ?
Mengapa hati ku tenggelam?
.
Suara Orlan merendah, saat mengucapakan kata 'stay with me'
.
(Stay with me) Apakah kau tinggal dihatiku yang paling dalam?
(Stay with me) kebenaran yang tersembunyi dalam diri ku
.
Kembali–Temari bernyanyi dengan senyum pahit diwajahnya, seakan-akan yang ia lihat saat ini adalah bukan Orlan didepannya.
.
Ketika aku menutup mata ku, aku melihat mata itu
Hati ku tetap merasakan sakit, jadi aku ingin melupakannya
Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku
Apakah kau takdir ku?
Aku jatuh kepada mu
.
Orlan maju, medekati Temari. Ia berusaha menggapai tangan Temari, tapi tak berhasil seakan-akan tangannya tembus pandang.
.
Hati ku masih tetap peduli dan masih melihat mu
Karena aku terus berlari keluar dari nafas ku
Aku masih mengawasi mu dari jauh
Mengapa aku menjadi seperti ini?
Berbeda dari saat aku pertama kali melihat mu
Hati ku sedang menuju ke arah mu
Jantung ku berdebar-debar lagi
Cahaya redup dimatikan
Rasanya seperti aku mencintai mu dari waktu yang lama
.
Mereka bertatapan, kemudian menarik nafas agar bisa menyanyikan bait berikutnya berdua.
.
Ketika aku menutup mata ku, aku melihat mata itu
Hati ku tetap merasakan sakit, jadi aku ingin melupakannya
.
Temari menarik nafas, tangannya bergerak menggapai tangan Orlan meski terlihat sulit, seperti halnya Orlan.
.
Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku
Apakah kau takdir ku?
Aku jatuh kepada mu
...
Prok prok prok
Tepuk tangan mengakhiri acara duet Orlan dan Temari. Mereka berdua membungkukkan badan.
"Kyyyaaa suara Orlan-kun keren!"
"Meski galak, akting mu bagus Temari."
"Good Nanas!"
"Oke, sekarang undian ke empat."
"A-ayo Nami-san."
Bilton tersenyum miring. "Kau terlihat ingin sekali duet dengan ku."
Meski sudah biasa mendengar perkataan 'narsis' si pemuda, Chely selalu saja menggembungkan pipinya. "Siapa bi-bilang? I-ini demi nilai kok."
"Ah, benarkah?"
"Te-tentu saja." Ia palingkan wajahnya ke depan. Lavendernya membulat, semua orang sedang menatapnya dan Bilton tanpa berkedip. 'A-da apa ini?'
Merasakan lengannya di sikut, Bilton menoleh. "Apa?" Tanyanya sinis.
Apa lagi saat ia tahu bahwa yang menyikutnya itu adalah sahabat Inu-nya yang selalu membuat kepalanya beruap, tanpa Bilton tahu sendiri perasaan apa yang disebabkan uap muncul dikepalanya. Jika si Inu dan Zombie sudah membicarakan si Bakpao. Ingin sekali ia memukul kepala keduanya sampai benjol.
Maykel mendekatkan bibirnya ke arah telinga si pirang. "Jika mau pacaran, jangan disini. Banyak pengganggu_"
'Ya, kau salah satunya.'
"–dan lagi, ini sudah giliran mu."
'Giliran ku? Astaga, pantas saja si Bakpao berisik.'
Tanpa mengindahkan hal yang bernama sopan santun, Bilton mendorong kepala Maykel. "Menjauhlah Inu, ini menjijikkan."
"Ayo pergi." Lanjutnya, sambil mengamit lengan Chely.
Sontak hal itu membuat seisi aula heboh. Bilton Nami itu tidak pernah peduli pada setiap gadis, selalu menganggapnya sebagai pengganggu abadi, penyebab utama keberisikan, dan sentuhan mereka akan membuat sekujur tubuhnya muak. Tapi ini! Untuk pertama kalinya, ia menggenggam tangan seorang gadis.
'Kitsune kita kembali.'–Maykel.
'Cinta memang merepotkan, ku harap kau tak membuat kami repot lagi. Kitsune.'–Orlan.
'Kapan aku bisa menggenggam tangan seorang gadis?'–Rio.
'Baka Dobe.'–Aron.
"Kyyyaaa Bilton-kun."
"Kenapa tak memilih ku saja?!"
"Aku patah hati berat."
...
Song Fic: Together
By: JB feat Park Jiyeon
OST: Dream High 2
Tirai panggung terbuka, perhatian semua orang terfokus pada seorang pemuda yang berdiri bersandar di tembok. Bilton, memegang mikrofon di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ditenggelamkan ke dalam saku celana.
Musik instrumental di putar. Bilton menarik nafas.
.
__ADS_1
Hidup hari demi hari, melawan dalam dunia ini- ketika sesuatu menjadi lebih berat
.
Bilton berhenti bernyanyi, sekarang, semua mata menatap seorang gadis indigo yang berjalan anggun di belakang panggung, sambil bernyanyi.
.
Ketika kau merasa seperti kau lah satu-satunya yang sendiri diantara orang yang tak terhitung banyaknya
.
Bilton kembali bernyanyi, mereka bertatapan seperti halnya orang yang jatuh cinta, sontak seisi aula heboh. Bilton menghampiri sang gadis yang berdiri di tengah aula.
Chely tersenyum manis, pipinya merona saat Bilton seperti menatap lembut dirinya–hanya akting.
.
Ketika aku melihat matamu. Menatapku dengan cinta. Aku merasa istimewa.
.
Chely bernyanyi, tanpa di duga dan sanggup membuat mata semua orang membulat–termasuk X5 dan Dei–juga teriakkan para gadis. Bilton menggenggam tangan kanan Chely dengan wajah tersenyum tipis.
.
Ketika kau genggam tangan ku dalam kehangatan mu yang malu-malu, semua luka dalam diri ku sembuh
.
Mereka menarik nafas sambil tersenyum hangat. Seperti menyalurkan perasaan masing-masing lewat lagu yang dinyanyikannya.
.
When we're together, when we're together
.
Mereka saling melempar senyum, setelah menyelesaikan part duetnya. Bilton kembali menarik nafas. Entah kenapa tangan keduanya masih saling menggenggam.
.
Segalanya menjadi baik-baik saja, kenangan yang menyakitkan menghilang
.
Keduanya masih melempar senyum dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain. Mereka menarik nafas.
.
When we're together, when we're together
.
Tangan keduanya terlepas, tapi senyum diwajahnya belum hilang. Chely menarik nafas.
.
Aku menjadi kembali bahagia, tanpa kuketahui, aku tersenyum.
.
Bilton maju satu langkah, ia kembali bernyanyi.
.
Ketika kepahitan menyelimuti ku, ketika tiba-tiba aku merasa sendiri
.
Chely menyusul Bilton, ia juga kembali bernyanyi.
.
Di saat semuanya terasa aneh, dan ketika tiba-tiba aku merasa tidak percaya diri
.
Bilton menoleh ke arah Chely dengan senyum tipis diwajahnya, suaranya merendah dibagian awal.
.
Suara mu yang percaya pada ku dan memberi ku keberanian memungkinkan ku untuk menghadapi dunia lagi
.
Chely menarik nafas, ia juga tersenyum. Ia menyanyi dengan suara rendah dibagian awal.
.
Kenyataan kau ada di belakang ku selalu mengawasi ku itu sangat berharga bagi ku.
.
Keduanya kembali berhadapan, dengan senyum di masing-masing diwajahnya. Dan kali ini seisi aula kembali di buat heboh dengan tingkah laku anak tunggal Nami, yang dengan beraninya merangkum pipi tembam Chely dengan tangan kirinya. Jeritan tak terima dari para siswi terdengar, begitupun dengan siulan Maykel.
Chely, jangan ditanya. Pipi tembamnya sudah merona dari tadi. Mereka menarik nafas.
.
When we're together, when we're together
.
Masih dengan tangan yang merangkum pipi si gadis, Bilton kembali bernyanyi.
.
Segalanya menjadi baik-baik saja, kenangan yang menyakitkan menghilang
.
Entah keberanian dari mana, Chely juga menggenggam tangan Bilton yang berada dipipinya. Ia bernyanyi sambil memejamkan mata. Sedangkan Bilton hanya bernyanyi sambil tersenyum tipis.
.
When we're together, when we're together
.
Chely menarik nafas, ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Bilton.
.
Aku menjadi kembali bahagia, tanpa kuketahui, aku tersenyum.
...
Prok prok prok.
Kali ini tepuk tangan di aula semakin heboh saja, apa lagi ada banyak siswi yang melap air matanya. Bilton dan Chely membungkukkan badan.
"Kyyyaaa... Aku benar-benar patah hati."
"Hiks.. Hiks... Bilton-kun!"
"Sepertinya aku harus cari gebetan baru."
"Kitsune! Amazing."
"Bilton so cool."
"Oke, Bilton dan Chely bisa duduk. Sekarang undian nomor lima."
"Ayo Maykel-kun."
"Ayo Tamaki-chan."
.
.
"Senangnya... Duet ku sukses." Maykel tersenyum lebar, sehingga gigi taringnya nampak.
"Apa?" Rio menoleh. Sejenak ia mengabaikan sketsanya setelah mendengar pengakuan Maykel.
Kepala Maykel mengangguk, ia tersenyum lebar ke arah Rio. "Iya... Duet ku sukses. Kau tak lihat, Rio? Tadi itu duet terhebat."
"Yang aku lihat hanya gigi taring mu saja." Seperti biasa, Rio menarik sudut bibirnya tersenyum aneh.
"Aku juga hanya melihat senyum palsu mu Zombie, jangan sok kau!"
"Apa? Siapa yang sok? Kau yang terlalu menggembar-gemborkan diri jadi yang terbaik."
Tatapan Maykel menajam. "Gembar-gembor kata mu?!"
"Ten_"
"Urusai!" Sontak kepala Maykel dan Rio menoleh ke arah tiga pemuda yang menikmati kegiatannya masing-masing. Aron dengan iPodnya, Orlan dengan mimpi indahnya, dan Bilton dengan komik terbaru.
"Masuk 10 besar saja sombong."
"Apa kau bilang Kitsune?!"
Tanpa mengalihkan pandangannya dari komik yang dipegangnya, Bilton menjawab pertanyaan Maykel dengan senyum remeh. "Menurut ku Tamaki sudah bagus, hanya sa_"
Maykel berdiri, telunjuknya yang bebas menunjuk hidung mancung Bilton–saat ini duduk bersandar di tembok atap sekolah. "Singkatnya itu salah ku, hah? Begitu?!"
"Diamlah kalian berdua." Aron yang sudah jengah buka suara, ia melepaskan headphonenya. "Lagu ku jadi tercampur dengan suara-suara aneh kalian."
"Kau juga, Aron. Kenapa tidak membela ku." Maykel menatap Aron tajam.
"Memang, apa untungnya jika aku membela mu?"
"Paling-paling dapat hadiah makanan anjing gratis." Kembali Rio tersenyum aneh.
"Rio benar, dan untuk bonusnya ia akan menampilkan senyum dengan gigi taringnya."
"Seperti tiga garis dipipimu tidak aneh saja Kitsune?!"
"Itu malah membuat Bilton makin mempesona."
Kepala pirang Bilton mengangguk menyetujui pendapat Rio.
Maykel menarik nafas dalam, ia menenangkan emosinya. Mana mungkin Maykel menang melawan tiga orang dengan lidah beracun, apa lagi jika di tambah Orlan. Pemuda malas itu memang kelihatan leha-leha, tapi jika sudah buka suara, skakmat! Siapapun akan kalah.
"Sombong sekali, kau Kitsune. Mentang-mentang dapat juara pertama–"
Iya, pertandingan duet yang tadi dimenangkan oleh pasangan Bilton. Dei sangat suka dengan lagunya yang romantis, dan juga penghayatannya yang sukses membuat semua orang di aula hebohnya bukan main. Dan, sebagai hadiahnya, nilai besar mereka berdua peroleh.
"–aku yakin itu semua karena Chely-san." Bilton menoleh, ia menatap Maykel dengan pandangan yang sulit diartikan. Begitupun Aron dan Rio juga menoleh dengan seringai dibibirnya. Minus Orlan yang sekarang entah sedang dimana.
"Itu karena aku sering latihan."
"Benarkah?" Satu alis Aron terangkat.
"Ku kira itu karena kau yang berani pegang-pegang Chely-san."
"Hey!_"
"Ah, aku jadi ingin mencubit pipi tembamnya yang membuat orang lain gemas." Maykel menangkup kedua tangannya di depan dada dengan mata yang berbinar-binar.
"..."
"Aku bahkan ingin menciumnya, berkencan dengannya, tunangan, dan_"
"–menikah lalu punya banyak anak yang lucu." Sapphire Bilton yang tadinya menatap Rio, sekarang menatap Aron yang entah kenapa malah ikut-ikutan membuat hatinya panas.
Panas?
Ya, panas, itulah yang dirasakan si pirang. Sungguh Bilton tidak suka perasaan ini. Ia lebih suka jantungnya yang berdetak tak beraturan saat dekat dengan Chely.
"Apa yang kalian bicarakan?" Suaranya merendah, sapphire birunya menatap satu persatu sahabatnya. Di mulai dari Aron, Maykel, dan Rio.
Aron mengangkat bahu. "Hanya mengatakkan perasaan."
"Dan sebuah impian–"
"–menuju kebahagian."
Dalam hati, Bilton bergidik ngeri melihat Aron, Maykel, dan Rio yang nampak kompak seperti seorang puitisi handal.
"Uru_" Baru saja si pirang buka suara, namun Maykel sudah memotongnya.
"Kapan-kapan aku mau ajak Chely-san kencan ah. Gimana Rio? Kau setuju?"
"Tentu."
Cukup! Tangan Bilton sudah gatal sekali ingin–
Bletak.
"Ughh, sialan kau Kitsune!" Maykel mengusap-ngusap kepalanya yang terasa berdenyut saat komik tebal mendarat manis dikepalanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si Dobe Kitsune! Dan lagi, sejak kapan Bilton berdiri?
Sudut bibir tipis Bilton tertarik, saat melihat wajah Maykel yang nampak menyedihkan. Ia sangat ingin tertawa, meski hanya hampa yang terasa. Tadinya Bilton sangat ingin memukul kepala Aron dan Rio juga. Namun, apa daya, Aron dan Rio duduk berjauhan dengannya. Jadilah... Maykel yang kebetulan dekat dengannya, di beri hadiah.
"Sialan kau Kitsune! Kau mau aku gegar otak, hah?"
"Hn." Si pelaku dengan muka polosnya melengos ke arah pintu. Dan_
Blam!
Pintu tertutup sempurna setelah di banting.
"Dasar! Pecemburu berat!" Maykel mengusap-ngusap kepalanya.
"Jika dia punya pacar, pasti sikapnya akan overprotectif." Rio menatap pintu yang di banting Bilton sambil tersenyum aneh.
"Aku harap, dia cepat-cepat sembuh."
"Dia, pasti sembuh." Ke tiga pemuda disana menoleh ke arah Orlan. Si pemuda dengan percaya dirinya hanya menguap lebar, tanpa mempedulikan tatapan sahabatnya.
Maykel berkedip. "Kau sudah bangun Orlan."
Orlan menghela nafas, kemudian mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk di bangku panjang. "Mana mungkin aku bisa tidur, saat Kitsune, Teme, Inu, dan Zombie bertengkar."
"Sialan kau Nanas!" Ucap ketiganya kompak.
...
Blam!
Bilton menghela nafas, jujur kepalanya sakit kembali. Tapi ia tidak ingin kalah dari alexithymia. Bilton harus berani melawannya. Ia menyandarkan tubuh tegapnya ke belakang pintu atap sekolah yang barusan dibantingnya.
"Kuso..." Tangannya menjambak surai pirangnya. Nafasnya lumayan sesak. "Apa tujuan mereka melakukan ini?" Tangan kanan Bilton meremas komik digenggamannya.
Sudut bibirnya tertarik, ia jadi teringat seorang gadis berpipi tembam yang merona pipinya. Ah! Ia jadi ingin bertemu Chely.
Sejenak mengabaikan rasa sakitnya karena marah. Bilton merogoh saku celananya.
From: Me
To: Bakpao
Pulang sekolah, tunggu aku di lapangan parkir. Awas! Kalau kau tidak datang!
Send
Kembali ia tersenyum tipis, pasti si gadis menggembungkan pipinya.
"Lebih baik aku ke kelas." Bilton melenggang pergi menuju kelasnya.
Tanpa ia sadari, Bilton kembali berimajinasi.
.
.
"Pfffttt..." Dua gadis dihadapan Tena terus saja menahan tawa, dengan cara membungkam mulutnya. Jika saja mereka tertawa keras seperti beberapa menit yang lalu, bisa dipastikan sang atlet karate akan melayangkan bogeman mentah pada meja kantin. Dan, Wulan dan Indah lah yang akan mengganti.
Chely juga sebenarnya ingin tertawa namun ia urungkan, karena Chely merasa kasihan pada Tena.
"Tertawa saja sampai mulut kalian berbusa!"
Indah megusap air mata di sudut aqumarinenya. "Ma-maaf Tena-chan... Habis sih pfftt.."
"I-iya ma-maaf Tena-chan pfftt.."
"Maaf Tena-chan..." Meski begitu, Chely tetap saja ingin tertawa.
"Ya... Ya... Ya... Aku tahu aku gagal." Tena mengaduk-ngaduk ramen dihadapannya penuh emosi.
"Memang saat latihan dengan Lee bagaimana?" Tena menatap emerald Wulan yang masih saja terlihat ingin tertawa.
"Bisakah kalian berhenti tertawa!"
Hening.
Sampai–
"Hahaha..." Suara tawa Wulan dan Indah memecah keheingan.
"Aku tidak akan bicara sebelum kalian berhenti tertawa!"
Chely menyikut lengan Indah. "I-Indah-chan, Wulan-chan, berhentilah kasihan Tena-chan."
Wulam dan Indah menarik nafas. Mereka berusaha agar tidak tertawa. "Baik maafkan kami." Ucapnya kompak.
Tena menghela nafas, ia jadi malu sendiri saat mengingat sikap Lee tampil dengannya. Mereka memang berduet, dengan lagu Park Janghyun – Two People. Lirik dan lantunan lagu itu bisa di bilang galau, tapi! Apa yang dilakukan Lee! Ia malah menari-nari keliling panggung ala orang bahagia... Dan binggo! Semua gagal dan Tena mencap hari ini sebagai hari paling memalukan.
"Entahlah... Saat latihan Lee normal-normal saja."
Indah mengangguk. "Mungkin Lee baper."
"Baper juga jangan sampai seperti itu!"
Chely, Wulan, dan Indah bergidik ngeri melihat aura gelap yang mengguar dari tubuh Tena.
"–aku'kan malu..."
"Hu'um, aku ngerti Tena-chan. Lupakan sajalah hari ini." Wulan menyeruput minumannya.
Tena makin bermuka masam, saat Wulan malah membuatnya semakin putus asa. "Aku jadi ingin menghilangkan tanggal 3 di kalender."
"Itu... Berarti Chely-chan nggak jadi menang."
Wulan menoleh ke arah Indah. "Kau benar Pig!"
'Kami-sama tak adakah yang peduli padaku!'–Tena.
__ADS_1
"E-eh?" Chely yang dapat tatapan jahil Wulan dan Indah hanya berkedip. "A-apa?"
Aqumarine Indah memicing. Ia mendekatkan wajahnya, sontak Chely yang melihatnya memundurkan wajahnya. Indah semakin mendekat. Tangannya merangkum pipi tembam si gadis. "Kyyyaaa romantisnya! Nami-san memang aktingnya terbaik! Pake ngelus pipi segala lagi. Aku jadi ingin." Indah mencubit pipi Chely.
"Mou... Sa-sakit Indah-chan." Bibir Chely mengerucut.
"Chely-chan manis sekali~ aku jadi ingin mencium mu."
"Aku juga."
"Memeluk mu saat tidur juga enak!"
"Ka-kalian apa-apaan?"
"Chely-chan romantis sekali~" Wulan tersenyum jahil.
"Ro-romantis?"
Indah mengangguk. "Pantas saja kalian menang. Aku menyesal tidak menyuruh Rio-kun memegang ku."
"Yang ada dia akan alergi jika memegang mu!"
"Apa kau bilang Forhead?!"
"Wulan benar." Tena menyeringai. 'Waktunya balas dendam.'
Wulan menyeringai. "Nah, kalau aku di sentuh Aron-kun_"
"Sudah pasti akan alergi!" Ucap Indah dan Tena.
Si pinky mengendikkan bahu, emeraldnya menatap Chely. "Aku yakin Nami-san bukan hanya ingin memegang pipinya."
"Ma-maksud Wulan-chan?"
"Dia pasti ingin mencium mu."
Blush
Pipi Chely merona, membayangkan Bilton yang_
'Apa yang ku pi-pikirkan!' Kepala indigonya menggeleng
Tenten mengangguk. "Jika aku Nami-san, pasti aku akan mencium mu."
"Tena-chan!"
"Cubit pipinya juga tak masalah."
"I-Indah-chan!"
Sontak ke tiga gadis yang lain tertawa, melihat ekspresi Chely yang menggemaskan saat di goda.
.
.
Bibir mungilnya masih saja mengerucut, Chely kesal pada sahabatnya yang seenaknya menggodanya. Iss... Ia'kan malu... Chely mencubit pipinya.
"Na-Nami-san sih pake pegang-pegang segala." Pipinya menggembung, tidak lupa tangannya yang memegang pipi tembam yang di sentuh Bilton.
Chely menghela nafas. "Pasti ini akan jadi gosip..." Kakinya masih saja melangkah menuju toilet. Chely hanya ingin membasuh wajahnya saja.
Drrrttt... Drrrttt...
"Eh?" Merasakan getaran di saku roknya, Chely merogoh ponselnya.
"Pesan?" Alisnya mengernyit. "Dari siapa?" Langsung saja Chely melihat pesannya.
From: Nami-san
To: Me
Pulang sekolah, tunggu aku di lapangan parkir. Awas! Kalau kau tidak datang!
Seperti dugaan Bilton, saat membaca pesan singkat si pirang, langsung saja pipi yang pada dasarnya tembam itu menggembung lucu.
"Ini pesan singkat atau paksaan?"
From: Me
To: Nami-san
Hai, aku tunggu di lapangan parkir.
Send
.
.
Bel pulang sekolah telah berbunyi 15 menit yang lalu. Sekarang, Nada Gakuen sudah berangsur sepi, hanya beberapa murid yang ikut club saja masih berada di lingkungan sekolah.
Tapi tidak dengan gadis yang sedang berdiri di lapangan parkir dengan pipi menggembung. Chely Hyuu, gadis manis ini masih menunggu orang yang sering dipanggilnya Nami-san. Sebenarnya Chely ingin sekali meninggalkan Bilton, tapi ia tidak mau mengambil resiko kena amukkan 'kitsune' si pirang.
Tangan mungilnya merogoh saku roknya. Ia kembali melihat pesan singkat yang di terimanya 15 menit lalu.
From: Nami-san
To: Me
Hn. Awas kalau kau kabur!
"Huh?" Chely mendengus sebal. Sudah pesannya memaksa, mana telat lagi, jika saja ia berani, ingin sekali menjambak surai pirang Bilton.
"Kau sangat cocok jadi tukang parkir."
"Eh?" Chely merasakan geli, saat suara baritone berbisik ditelinganya. Refleks ia menoleh. Lavendernya membulat. "Nami-san?"
"Hn?"
Hn?
Hanya 'Hn?' Setelah ia menunggu selama 15 menit?!
Sungguh Chely ingin sekali mejambak surai pirang Bilton. Paling tidak ucapkan kata maaf! Karena tidak bisa apa-apa, Chely hanya menggembungkan pipi.
Bilton tersenyum tipis, melihat pipi Chely menggembung. Tangannya terangkat, selalu saja ia gemas saat melihat pipi tembam si gadis menggembung. "Kau jelek sekali jika seperti ini." Dengan nakalnya, si pirang menarik pipi Cheky.
"Sa-sakit Nami-san."
"Pipi mu itu bulat dan kenyal." Bukannya mendengarkan Chely, Bilton malah mengajukan pendapat tentang pipi si gadis.
"Le-lepaskan." Chely mengangkat lengannya, untuk memegang lengan Bilton. "Ba-bagaimana kalau pipi ku jadi bulat."
"Kan sudah." Jika saja lapangan parkir belum kosong, sudah dipastikan hal ini akan menjadi gosip heboh.
Chely sakit, Bilton hangat. Perasaan ini sangat menyenangkan ia merasa jantungnya berdetak tak karuan, tapi Bilton suka itu. 'Perasaan apa ini?'
Chely makin cemberut. "Le-lepas."
"Baik aku lepaskan."
"Ma-mau apa?" Tangannya mengusap-ngusap pipinya.
"Kemana saja, asal jangan ke club malam."
"Na-Nami-san!" Masa iya Chely mau di bawa ke club malam.
"Pokoknya ikut saja." Dengan tak sabaran, si pirang menarik lengan Chely.
Blush
Chely merona, entah kenapa sikap Bilton akhir-akhir ini jadi manis. Juga, jantungnya selalu berdetak cepat. 'Aku kenapa?'
...
Hening.
Sebenarnya Chely gelisah, ia jadi takut mau di bawa kemana. Dan Chely jadi kesal sendiri, saat tubuhnya tidak satu arah dengan otaknya yang meminta untuk tidak ikut si pirang.
Dengan takut-takut, ekor matanya melirik si pemuda tampan berwajah datar yang mengemudikan mobil dengan tenang.
"Na-Nami-san?"
"..."
"Ki-kita mau kemana?"
"..." Tangannya saling meremas, apa lagi saat tak ada respon dari Bilton.
'A-apa kaki Nami-san masih sakit ya?' Manik lavender Chely melirik kaki Bilton yang berbalut sepatu hitam orange.
"Ki-kita mau kemana?" Chely sangat yakin, bahwa ini bukan jalan menuju komplek rumahnya. Ia... Malah di bawa ke tengah kota Tokyo, apa ia akan di buang?
'Kami-sama, aku takut.'
"A-an_"
"Urusai!"
"Eh?" Akhirnya pertanyaannya dapat respon juga, meski berupa ucapan ketus.
"Kau mau tahu kita kemana?"
Kepala indigo Chely mengangguk lucu.
Manik lavender Chely terbelalak, saat Bilton mendekatkan wajahnya. "Kita... Akan–"
"Na-Nami-san, se-setirnya."
"Ke–"
Manik lavendernya terbelalak. Saat melihat mobil dari arah yang berlawanan. Mereka keluar jalur! "Na-Nami-san mo-mobil!"
Seakan-akan tuli, Bilton malah semakin mendekatkan wajahnya. Hingga berjarak 5 cm. "Hotel."
Deg!
'Ho-hotel?!'
Srettt
Ckittt
Manik lavender Chely terpejam, saat di rasa mobil membelok tajam. 'Hotel?!' Mana pikirannya terfokus pada hotel.
Bilton menghela nafas lega, untung saja ia punya refleks bagus, jika tidak bisa dipastikan ia dan Chely akan mati.
"Ho-hotel?" Gumaman kecil itu membuat kepala pirang Bilton menoleh. Chely, gadis yang duduk di samping kemudi terlihat berwajah syok. Mungkin ia takut dengan kejadian tadi.
"Kenapa? Kau takut?"
Kelopak mata putih si gadis berkedip. "Ma-mau apa ke sana?"
Bilton tersenyum miring. "Menurut mu. Apa yang sering orang lakukan di hotel?"
"Menginap, da-dan_"
"Bulan madu, tepat, kita akan melakukannya."
Chely cemberut, bisa ia lihat si pirang tersenyum jahil. Lagi-lagi Bilton menggodanya. "Ja-jangan bercanda."
"Tsch, menurut mu aku bercanda?"
"Aaa... A-aku tidak tahu."
"Makanya, ayo turun. Nanti reseptionisnya ke buru penuh." Bilton turun dari mobil.
"A-apa benar aku ini ada di lapangan parkir hotel?"
'Kami-sama... Aku takut..."
...
Kepala Chely tertunduk. Ia takut, tapi jika tidak keluar pasti Bilton akan melabraknya. Dan ia lebih memilih keluar, kalau ada apa-apakan ia bisa minta tolong pada petugas hotel. Nah! Kalau ia diapa-apakan dimobilkan lebih seram.
Duk!
"Ughhh itaii..." Tangannya mengusap kening yang tertutupi poni indigo karena menabrak punggung Bilton.
Bilton berbalik, ia sungguh ingin tertawa melihat ekspresi Hinata.
Tak!
"Sa-sakit..." Bibirnya tambah mengerucut, saat keningnya dihadiahi sentilan.
"Makanya kalau jalan lihat ke depan." Bilton tersenyum miring.
"Aku kan... Ma– eh?"
"Apa?"
Chely berkedip. "Kenapa... Tokyo Pastry Shop?"
Alis pirang Bilton terangkat. "Sepertinya kau sangat ingin sekali bulan madu dengan ku."
"E-eh?" Manik lavender yang tadinya menatap heran Tokyo Pastry Shop–toko kue terkenal di Tokyo–sekarang menatap sapphire biru si pemuda. Chely memiringkan kepala. "Bu-bukan begitu! A-aku hanya heran saja katanya mau ke hotel?"
"Tuh kan. Kau mau bulan madu dengan ku."
Chely berkedip. 'A-aku salah bicara!'
Tangannya mengibas-ngibas di depan wajah. "Bu-bukan itu maksud ku."
"Hm? Lalu?"
Bahkan mereka berdua tak sadar, sedari tadi keberadaan keduanya menjadi tontonan umum. Entah itu untuk pejalan kaki, orang-orang diparkiran, dan di dalam toko.
"Na-Nami-san saja yang ingin bulan madu dengan ku." Pipinya menggembung.
'Perasaan apa ini? Aku sangat nyaman didekatnya.'
Sudut bibir Bilton tertarik. "Kalau iya kenapa?'
"E-eh?" Pipi Chely merona. Padahal ia hanya bercanda, tapi Bilton terlihat serius.
"Ayo ke dalam." Pemuda pirang itu menggenggam tangan si gadis.
...
Manik lavender Chely berbinar, di dalam toko banyak sekali cake yang enak. Ia jadi ingin membeli semuanya.
"Kau mau yang mana?"
Chely menoleh, alisnya mengernyit. "Si-siapa?"
Bilton menghela nafas, gadis ini memang lemot. "Bukan kau, tapi Maykel."
Kembali Chely berkedip. Maykel'kan teman si pirang tapi–"Ta-tapi ia tak ada disini.",
"Baka, tentu saja kau."
Bibir Chely mengerucut, ia alihkan pandangannya ke bawah, menatap etalase dengan susunan cake yang banyak. Lavendernya berbinar melihat banyak cake-cake enak. "Ba-baiklah... Aku mau..."
"Jangan bilang kau mau semuanya."
"E-eh? Mana bisa."
"Pasti kau akan jadi gendut."
"Na-Nami-san!"
Wanita kan paling sensi kalau di sindir berat badan.
Bilton tersenyum tipis, ia jadi ingin mencubit pipi tembam si gadis. Tapi ia takut nantinya jadi pusat perhatian.
.
.
Semilir angin musim semi menerbangkan helaian indigo Chely, kali ini ia dan Naruto sedang duduk di taman dekat toko kue yang mereka kunjungi. Pemandangan disini memang bagus, sepertinya taman ini sering dijadikan tempat kencan. Seperti mereka berdua.
Kepala Chely menggeleng. 'A-apa yang aku pikirkan?'
Manik lavendernya menatap paper bag sedang digenggemannya. Ini cake coklat yang Chely pilih, singkatnya sih traktiran Bilton. Ia juga masih bingung kenapa di beri cake.
'Nami-san sedang apa ya?' Kepalanya menoleh, ia melihat si pirang sedang mata memejamkan mata. Surai pirang mencoloknya bergoyang karena tiupan angin.
'Apa Nami-san tidur setelah minum cola?' Bilton hanya beli cola dingin saja tadi, entah kenapa Chely juga tidak mengerti. Diangkatlah ke dua bahunya. 'Mungkin uangnya habis.'
"Na-Nami-san?"
Kelopak mata Bilton terbuka, ia menoleh. "Hn?"
"Ke-kenapa memberi ku cake?"
Alis pirangnya terangkat. Ia tersenyum miring. "Apa? Aku yakin kau tidak suka vodka?"
"Na-Nami-san, aku serius!"
Bilton menghela nafas. Ia alihkan pandangannya ke depan, melihat orang-orang lalu-lalang. "Itu hadiah dari ku." Kepalanya menoleh kembali ke arah Chely.
Chely berkedip. "Ha-hadiah?"
Sapphire dan lavender bertemu.
"Aku hanya tak menyangka, suara jelek mu bagus juga."
"Huh?" Pipinya menggembung. "Ma-mana ada suara jelek bagus."
Pemuda tampan itu tersenyum miring. "Ada, kau buktinya."
"La-lalu kenapa cake?"
"Orang berpipi bulat seperti mu pasti suka makanan manis. Sampai-sampai pipi mu jadi 'bakpao'."
"Na-Nami-san!"
.
.
.
.
To Be Continued
Hola holaaa^Δ^
__ADS_1
jangan sepi dong, author juga pingin yg ramai ramai😟😟