
.
.
Ctik
"Kuso, mati lampu." Sedikit menggerutu, Bilton berjalan menuju samping ranjang.
Srettt
Ia beranjak dari duduknya di meja belajar.
"Tsch, merepotkan, kenapa harus mati lampu?"
"Sebenarnya nakas itu dimana?" Bilton hanya berniat mengambil ponsel yang di taruh di nakas, ia hanya memerlukan senter untuk penerangan. Itu memang kebiasaanya saat belajar–tidak pernah membawa ponsel.
Dukh
Brukh
"Kusooo!"
"Ughhh..." Sedikit mengelus hidung mancungnya yang baru saja tersandung kaki meja.
"Sial sekali aku hari ini." Bilton duduk bersila di atas karpet tebal. Ia memijit pelipisnya, mencoba mengingat kepingan kejadian hari ini, diganggu Maykel dan Rio, latihan duet, di injak si Bak_
Di injak?
Astaga!
"Kuso kaki ku." Di tengah kegelapan karena mati lampu, Bilton meraba kaki kanannya yang tadi siang 'sengaja' di injak Chely.
Alisnya mengernyit. "Kenapa basah?" Pelan-pelan ia mengangkat tangannya. Dan_
Ctik
Lampu menyala kembali.
"Darah?" Manik sapphirenya melotot. Kaki yang tadinya bengkak berwarna merah, sekarang kukunya hampir copot dengan darah yang mengalir.
"Kusooo!"
.
.
.
.
Pagi hari yang cerah di Nada Gakuen selalu menjadi hal yang paling menyenangkan bagi para siswi–terutama–tentu saja, pemandangan memukau selalu saja mereka temukan di lapangan parkir. Ya, X5 pemuda yang memiliki ketampanan dan kemampuan di atas rata-rata yang selalu bersandar di mobil dan motor sportnya masing-masing.
"Kyyyaaa... Maykel-kun berkedip pada ku!"
"Apa?! Pada ku tahu!"
Aron hanya memutar bola mata bosan, melihat tingkah Maykel yang selalu menggoda siswi-siswi centil yang lewat. "Hentikan Inu, itu menjijikan!"
Kepala coklat Maykel menoleh. Matanya menyipit. "Iri bilang boss!"
"Ku kira kau yang Iri Inu." Seperti biasa Rio tersenyum palsu. "Aron itu sangat laku dibandingkan mu."
Tatapan Maykel makin menajam. "Seperti kau yang laku saja."
"Rio juga laku." Orlan menguap.
"Terserah!"
Ckittt
Aron, Orlan, Rio, dan Maykel menoleh ke arah mobil sport kuning yang berhenti tepat di samping lamborghini hitam milik Aron.
"Wow! Kitsune kau sud_" Maykel menghentikan ocehannya, saat Bilton keluar dari mobil dengan kaki pincang. "—eh?"
"Kaki mu kenapa?"
Bilton menghela nafas, ia melirik kakinya yang berbalut sepatu hitam orange dengan pandangan datar. Padahal, dalam hati ia mati-matian menahan sakit saat kakinya di perban dan di beri alkohol oleh Ibunya. "Aku jatuh."
Itu benar, kan? Memang kurang tepat sih, mana mau Bilton mengaku di injak oleh gadis polos seperti Chely.
"Ja-tuh?" Orlan mengangkat sebelah alisnya.
Masih dengan pandangan datar, Bilton menatap pemuda yang baru saja bilang 'jatuh' dengan nada mengejek. "Hn. Memang kenapa?"
"Apa kau yakin?" Rio berkedip, kemudian tersenyum aneh.
"Di injak seseorang, misalnya?"
Sapphire Bilton melebar. Namun karena wajah dinginnya ia dapat mengendalikan diri. "Apa maksud mu Teme?"
Aron mengangkat bahu. "Hanya menebak."
'Untung saja.'
"Memang kau jatuh dari mana? Tangga?' Maykel tersenyum remeh. "Jangan bilang ya? Lucu sekali rasanya membayangkan Bilton Nami, orang yang 'sok perfect', bergulingan di tangga. Pfffttt..." Ia membungkam mulutnya.
"Urusai! Inu! Siapa yang kau sebut 'sok perfect' hah?" Sapphire Bilton menatap garang Maykel.
Seakan-akan tak takut, Maykel malah kembali tertawa. "Atau yang paling parah kau jatuh dari ranjang? Pfffttt..."
Bletak.
"Aw... Sialan kau Kitsune!" Maykel mengelus-ngelus kepalanya yang baru saja di jitak Bilton.
Rio menganguk. "Kau itu lebih ceroboh dari Bilton, Maykel."
"Awas kau Zombie!"
Orlan menghela nafas. "Ayo ke kelas."
.
.
"Ohayou Chely-chan?"
Gadis manis Hyuu itu menoleh. "Ohayou Indah-chan, Wulan-chan, Tena-chan."
Indah dan Wulan mendekat, lalu merangkul Chely di sisi kanan-kiri. "Latihan kemarin sukses?" Ekor mata Chely melirik Indah yang entah kenapa terlihat seperti tersenyum jahil.
"Ya, Chely-chan. Apa Nami-san bersikap manis?" Sekarang, ekor mata Chely melirik Wulan yang ekspresinya sama dengan Indah
'Manis? Menyebalkan yang ada.'
"Eh–kalian bergosip tidak mengajak ku." Tena tiba-tiba datang, ia berhenti di depan ke tiga gadis yang berlangkulan dengan tangan yang direntangkan.
"La-latihannya lancar, dan Nami-san hanya bernyanyi."
"..."
"..."
"..."
"A-apa?" Chely itu paling anti dipandangi. Nah! Ini ia dipandangi enam mata sekaligus.
"Hahhh... Oke.. Ayo ke kelas." Kepala indigo Chely mengangguk, menyetujui perkataan Wulan.
"Ya. Nanti Sensei Botak itu ngamuk lagi."
"I-Indah-chan! Jangan begitu."
"Hai... Hai... Kaa-chan." Gadis berambut pirang di samping Chely tertawa.
Chely yang melihatnya menggembungkan pipinya.
"Mou... Tena-chan i-itaii..." Tangan putih Chely mengelus pipinya yang baru di cubit Tenten.
"Ayo Chely-chan, kita pergi." Tanpa mengindahkan perkataan Chely, Tenten menarik lengan sang gadis lalu membawanya berlari.
"Hey! Tena-chan! Kembalikan Chely-chan kami! Ayo kejar Pig!"
"Ayo Forhead!"
Terjadilah kejar-kejaran di koridor menuju lantai dua.
.
.
Chely tahu, jika saat pelajaran fisika dengan guru seperti Ibiki, akan membuat suasana tegang dan kaku. Tapi, kini ia merasakan adanya aura dingin nan gelap di samping kirinya. Ya, tepatnya dari pemuda pirang yang kemarin kaki kanannya ia injak.
Glek.
Chely menelan ludahnya susah payah. Dalam hatinya ia sangat khawatir dengan keadaan kaki Bilton, apa lagi tadi Chely sempat melihat Bilton yang jalannya pincang. Apa separah itu?
'Ja-jangan-jangan kaki Nami-san cidera?' Manik lavender Chely membulat. 'Berdarah dan kukunya lepas?' Ia menggigit bibir bawahnya–panik.
Dengan keberanian yang tak mencapai 50%, Chely memberanikan diri menoleh ke arah Bilton. Disampingnya, pemuda pirang yang selalu memasang wajah datar sedang memperhatikan Ibiki dengan pandangan malas. 'Aaa... Mungkin tidak sakit.' Bibirnya tersenyum kecil.
Sedangkan Bilton sendiri tahu dari gerak-gerik gadis disebelahnya, sepertinya ia takut pada ku, pikirnya. Meski begitu, wajah datarnya ini tak sebanding dengan rasa sakit dikakinya yang ia alami. Jujur saja, tadi pagi Bilton ingin sekali menggunakan sandal rumahan. Jika saja Baa-chan nya–Tsuna–tidak akan menjitak kepalanya hingga benjol karena melanggar peraturan sekolah.
Oh, jangan lupakan Rio dan Maykel. Manusia dengan perumpamaan Inu dan Zombie itu memang meyebalkan. Aron juga, pasti pemuda raven itu akan menampilkan seringai mengejeknya yang memuakkan. Orlan juga sama saja, meski terlihat malas, tapi jika menyangkut kecerobohan sahabatnya ia selalu jadi out of character.
"Nami!"
Deg!
Jantung Chely dan Bilton hampir saja lepas dari tempatnya. Kala mendengar suara Ibiki yang lebih mirip bentakan itu.
"Ya." Sahut Bilton seadanya.
Ibiki sendiri sudah geram dengan tingkah leha-leha murid pirangnya. Ingin sekali ia menjitak kepalanya jika saja Ibiki tidak malu pada Tsuna dan hukum. Bagaimanapun Bilton itu adalah cucu dari pemilik sekolah ini, juga hukum. Sekarangkan di larang bagi guru untuk melakukan kekerasan.
Ibiki menghela nafas, melihat sapphire Bilton yang selalu menatapnya datar. Entah Bilton mendengarkan atau tidak, jika saja ia–Bilton–tidak jenius, Ibiki ingin sekali mengeluarkannya dari kelas. Tapi, Negara butuh pemuda dengan otak jenius, kan?
"Ulang materi yang ku jelaskan barusan! Sama persis!"
Suasana seketika menjadi tegang. Entah apa yang akan terjadi, jika Ibiki marah.
"Kitsune memang hoby sekali cari masalah dengan si Botak." Bisik Maykel.
Aron yang melihatnya hanya memberikan tatapan datar. Orlan menguap sebagai respon, nah! Kalau Rio sih tersenyum aneh.
Lalu, Chely? Ia pasang muka kaget. Mana ada orang yang bisa menjelaskan materi yang telah lalu harus sama persis lagi!
Bilton berkedip. Ulang materi? Penjelasan kali ini memang ia kurang mendengarkan. Apa akan bisa?
"Elastis atau elastsisitas adalah kemampuan sebuah benda untuk kembali ke bentuk awalnya ketika gaya luar yang diberikan pada benda tersebut dihilangkan." Menarik nafas sejenak.
"Jika sebuah gaya diberikan pada sebuah benda yang elastis, maka bentuk benda tersebut berubah. Untuk pegas dan karet, yang dimaksudkan dengan perubahan bentuk adalah pertambahan panjang. Benda-benda elastis juga memiliki batas elastisitas. Ada 2 macam benda yaitu: benda elastis dan benda plastis (tak elastis)."
Semua terdiam, otak ketua X5 memang tidak usah diragukan lagi.
"Ya. Kita lanjutkan lagi."
Dalam hati Bilton menghela nafas lega, padahal ia hanya asal menyebutkan apa yang ditangkapnya, ternyata hasilnya seperti yang diharapkan Ibiki.
"Kagum juga jangan sampai lupa berkedip."
Kedip. Kedip. Kedip. Tiga kali kelopak mata Chely berkedip. "A-ah, siapa yang kagum?" Segera saja ia memalingkan wajahnya kedepan.
"Tsch, pembual."
Vhely menunduk. 'Sepertinya Nami-san masih marah.' Ia gigit bibir bawahnya. Ya, Chely sangat yakin bahwa Bilton marah terbukti dari nada bicaranya.
"A-ano_"
"Perhatikanlah si Botak jika kau tidak mau di hukum."
Pipi Chely menggembung. "Ha-hai."
__ADS_1
'Apa aku membuatnya takut?' Ekor mata sapphire Bilton melirik Chely yang menunduk.
'Habisnya sih... Dia menyebalkan. Kuso! Perasaan apa lagi ini?' Tangannya mencengkram permukaan dada kirinya. Bilton merasakan jantung dan hatinya seperti di sayat silet, saat melihat ekspresi Chely yang nampak murung, kah?
'Kau menyebalkan Bakpao.'
.
.
Bel pulang sekolah telah berbunyi 10 menit yang lalu, sekolah yang tadinya ramai sudah agak sepi begitupun dengan para penghuni kelas 2-1 yang hampir kosong. Ya, hampir, karena di bangku empat dekat jendela masih menyisakan penghuninya.
Chely makin gelisah, ia tak tenang dalam duduknya. Dalam hati Chely sangat takut dengan pemuda disampingnya. Tadi saat ia akan beranjak dari duduknya, tiba-tiba dengan suara rendah nan mengerikan Bilton memintanya jangan dulu pergi.
"A-ano Nami-san, a-aku ma-mau pulang."
"..."
Chely makin berkeringat dingin, saat Bilton masih tak meresponnya. Ia melirik ke bawah, melihat bagaimana keadaan kaki Bilton. 'Apa sangat parah?'
"Ikut!" Tiba-tiba pemuda pirang itu berdiri dan menarik lengan Chely. Menuju ke lantai satu dengan kaki pincang.
"Ma-mau kemana?"
"..."
"Nami-san?"
"Diam. Dan turuti saja."
Si gadis langsung bungkam.
"Masuk." Perintah Bilton saat sampai di lapangan parkir, tentunya setelah membuka pintu mobilnya.
"Ma-mau kemana?"
Sapphire Bilton berkilat tajam. "Ku bilang masuk."
"Ha-hai." Dengan sedikit terburu-buru, Chely masuk ke dalam mobil."
Suduklt bibirnya sedikit tertarik. "Tak susah juga menyuruhnya." Setelah mengatakan itu, Bilton memutari mobil untuk mencapai kursi kemudi.
.
.
.
Ini memang sudah ke dua kalinya Chely naik mobil sport milik Bilton, tentunya dengan suasana yang berbeda. Lebih kelam, lebih hening, dan lebih menakutkan. Dan, yang paling penting Chely tidak tahu mereka akan kemana?
Ia hanya takut di culik, di buang tengah jalan, dan yang paling parah di jual. Mengingat itu semua Chely jadi ingin menangis, puncak hidung mungilnya saja sudah memerah dengan tangan yang saling meremas satu sama lain.
'Kami-sama... A-aku ta-takut.'
Jangan kira Bilton tidak tahu apa yang terjadi pada si Bakpao. Ia hanya ogah saja buka suara; berkata pedas, bahkan menggoda si gadis seperti biasa.
'Perasaan apa ini?' Alis pirangnya menukik. Sama seperti kemarin, saat Bilton di injak Chely ia selalu ingin membentak gadis itu—marah-marah jika saja ia normal–tapi ya apa daya, melihat ekspresi murung si Hyuu, membuat hati Bilton mencelos.
Ckittt...
"Keluar."
"Ha-hai." Chely membuka pintu mobil. Manik lavendernya membulat, ia kini berada di rumah yang mirip istana. 'Sugoi... Apa ini Mashion Nami?'
"Ayo ikut." Nada suara Bilton sudah agak normal seperti biasa, meski terkesan datar, itu memang nada suaranya, kan?
"—eh?" Itu respon Chely. Ia hanya bekedip polos saat Bilton menggenggam tangannya. Sudut bibirnya naik. "Ha-hai."
"Tadaima."
"Okaeri Bilton-sama."
Alis Bilton menukik. "Lho, mana Kaa-chan."
Ayame tersenyum. "Kushi-sama sedang arisan di rumah keluarga Uchi."
Sekarang giliran Bilton yang tersenyum. Ia membayangkan betapa menyedihkannya sahabat Temenya. Mikoto–Ibu Aron –juga akan jadi rempong bila dihadapkan dengan Ibunya–Kushi–oh, jangan lupakan Hana Zuka, Yoshino Nara, dan Ibunya Rio.
2 minggu kemarin saja, Orlan mengeluh tidak bisa tidur siang saat Yoshino Nara–Ibunya–mengadakan arisan di kediaman Nara. Dan sekarang Aron Uchi, Bilton penasaran bagaimana ekspresi sahabat coolnya saat keberisikan arisan menggema ditelinganya.
"Ayame-san, bawakan minuman dan makanan ringan ke kamar ku."
"Hai, Bilton-sama?" Ayame melengos ke dapur.
Manik lavender Chely membulat. 'Kamar... Kamar... Kamar... Kamar... Kamar...' Kata itu terus terulang-ulang dikepalanya. Ia menghentikan langkahnya. "Na-Nami-san."
Bilton menoleh. Tangan mereka masih saling menggenggam dan entah sadar atau tidak, diantara mereka—sepertinya–tidak ada yang berniat melepaskannya. "Hn?"
"Ke-kenapa ke ka-kamar?"
"Tsch." Senyum miring hadir di bibir Bilton. "Aku—" Ia dekatkan bibirnya ke arah telinga Chely. "Akan membuat mu kehilangan sesuatu yang berharga."
"A-ano, a-aku ma-mau pulang." Suara Chely tambah bergetar.
"Tidak! Ayo ikut." Kembali, Bilton menarik lengan si gadis.
'Kami-sama, lindungi aku.'
...
Ceklek.
Pintu di terbuka, menampakkan ruangan dengan nuansa hitam orange yang sangat kentara. Jangan lupakan aroma citrus yang memabukan. Jika saja ini bukan kamar pemuda yang selalu seenak maunya, Chely ingin sekali tidur di ranjang berseprai orange.
"Duduk."
Pipi Chely menggembung. Ia sangat takut sebenarnya. Tapi Chely tetap saja menurut, Chely duduk di sofa hitam.
"Tunggu disini." Pemuda pirang itu masuk ke dalam ruangan sebelah yang Chely yakini kamar mandi.
"Ha-hai." Inginnya sih ia kabur, tapi jika kabur konsekuensinya sangat besar. Chely menarik nafas pelan dari hidung mungilnya. Daripada begitu, lebih baik ia melihat-lihat isi ruangan
Kamar Bilton memang besar, bahkan lebih besar daripada miliknya. Kasur king sizenya berseprai orange, lemari besar berwarna hitam, rak buku hitam, karpet coklat muda, nakas, dindingnya berwarna hitam-orange, juga beberapa foto yang menggantung di dinding.
Ada dua buah foto yang menarik perhatian Chely. Foto Bilton seperti saat Junior High.
Chely berdiri, manik lavendernya melihat foto yang terpanjang di dinding. Foto Bilton, Aron, Maykel, Orlan, dan Rio yang mengenakan seragam basket. Ada yang ganjil, disana terlihat Bilton yang sedang tersenyum lebar sambil memegang piala.
Kembali–manik lavendernya melihat ke arah foto yang di pajang di sebelah foto yang tadi. Ekspresi Bilton hanya tersenyum tipis.
"Nami-san sebenarnya kenapa?"
"Apa yang kau lihat?"
Kepala indigo Chely menoleh. "Ah bu-bukan apa-apa." Ia tersenyum manis. Chely terus saja menatap Bilton. Pemuda pirang itu memang tampan, apa lagi sekarang blazernya di lepas meyisakan kemeja putih beserta dasi hitam yang di ikat asal, jangan lupakan celana hitam panjang di kaki jenjangnya.
Bilton mendekat ke arah Chely. "Aku itu memang tampan dari dulu."
'Na-narsisnya kambuh.' Pipi Chely menggembung. "A-aku tidak bilang begitu." Ia duduk kembali.
"Tapi aku yang bilang."
"Hai...hai..." Pipinya menggembung lagi. Manik lavender Chely melirik ke arah kaki Bilton yang sekarang memakai sandal rumahan. Dilihatnya jempol si pemuda pirang di balut perban.
"Lihat! Ini semua karena mu."
"E-eh?" Chely berkedip. Ternyata Bilton sudah ada disampingnya duduk satu sofa dengannya.
"Untuk itulah aku akan mengambil sesuatu yang berharga dari mu." Tubuhnya mendekat.
"A-apa?"
'Kami-sama tolong aku!'
"Hn. A-ku a-kan me-ngam-bil-nya se-ka-rang."
Glek.
"Nami-san ja-jangan be-begini." Chely makin panik. Saat ia mencoba mundur kembali sudah sampai lengan sofa.
"Apa? Hm?" Dalam hati Bilton saat ini ada berbagai perasaan hangat, geli, bahkan ingin selalu tersenyum. 'Perasaan apa ini?'
"A-aku mohon. Ma-maafkan aku." Manik lavender Chely berkaca-kaca.
Tubuh pemuda pirang semakin maju menghimpit tubuh mungil Chely. Bahkan tangan kekarnya sudah menumpu di sisi kakan-kiri Chely. "Ma-af?" Alis pirang Bilton terangkat.
Ah! Jurus puppy eyes Chely tidak berhasil. Tangan mungil Chely letakan di dada bidang Bilton. "A-aku mi-minta maaf. Da-dan jangan begini."
'Lucu sekali dia.'
"Mana bisa." Wajah tan Bilton mendekat.
"A-ano?"
"Hm?"
Chely gelagapan. Sekarang bibirnya dan bibir tipis Bilton hanya berjarak beberapa senti meter, Chely menutup matanya. Dalam hati ia berhitung
5
4
3
2
Dan—
.
.
"Untuk siapa itu Ayame-san?"
"Eh? Kushi-sama sudah pulang?" Tangan Ayame berhenti menyusun toples berisi cookies di nampan. Matanya melihat ke arah sang majikan yang sedang meminum orange jus.
"Iya. Itu untuk siapa?" Manik violet Kushi melirik ke arah cookies, beserta orange jus di nampan.
"Ini untuk teman Bilton-sama. Kushi-sama."
Alis Kushi mengernyit. Teman? Biasanya Aron, Orlan, Rio, dan Maykel jarang makan makanan manis paling kacang-kacangan dan minumannya pun minuman kaleng. "Eh? Teman yang mana?"
"Itu, teman gadisnya. Sekarang mereka di kamar Bilton-sama."
"..."
"..."
"Kyyyaaa Bil-chan punya pacar!" Kushi tersenyum girang. "Akhirnya! Akhirnya aku punya calon menantu Ayame-san!" Saking senangnya, wanita paruh baya itu memeluk maidnya. Membuat Ayame terkaget.
"Aku saja yang mengantarkannya Ayame-san."
"Hai Kushi-sama."
.
.
TAK!
"Ugghh..." Tangan mungilnya mengusap-ngusap dahinya yang tertutupi poni. "Sa-sakit."
"Ternyata kau sangat berharap dapat ciuman ku ya?" Sudut bibir Bilton tertarik. Sungguh ia sangat ingin tertawa melihat ekspresi si Bakpao. Bilton menegakkan tubuhnya.
"Si-siapa bilang?" Bibirnya tambah mengerucut. Chely kesal, sangat... Kesal pada pemuda pirang dihadapannya. Ia malah di sentil dahinya memang tak terlalu keras, tapi sama saja sakit...
"Aku dan hati mu yang bilang."
"Se-seperti yang tahu isi hati ku sa-saja." Badan mungil Chely duduk menegak.
Tangan Bilton terangkat, sungguh ia sangat penasaran ingin sekali mencubit pipi Chely dari tadi. Bibirnya tersenyum tipis. "Makanya jangan menginjak kaki orang sembarangan."
__ADS_1
Chely merona. "Ka-kan tadi aku sudah minta maaf." Tangan Bilton masih saja mencub– bukan! Bahkan sekarang dengan nakalnya, si pirang menarik pipi Chely, hingga suaranya saat bicara jadi aneh.
"Na-Nami-san le-lepaskan." Karena refleks Chely memegang lengan Bilton yang mencubitnya.
Bilton tak bergeming. "Pipi bakpao mu kenyal sekali."
"Sa-sakit."
"Kaki ku juga sakit."
Bibir mungilnya mengerucut. "Ta-tapi ini membuat ku sulit bi-bicara."
"Aku juga sulit berjalan."
Ugghh.. Ingin sekali Chely menjambak surai pirang Bilton! Pemuda ini selalu saja pintar membalikan perkataannya.
"A-aku ta-tadi sudah minta maaf."
"Harusnya kau bersyukur aku hanya mencubit mu. Kalau mau aku bisa mencium mu atau bahkan memper_"
"Na-Nami-san?"
"Hn?"
Ceklek.
Kenop pintu yang di putar membuat cubitan Bilton pada pipi tembam Chely terlepas.
"Bil-chan?"
"Kaa-chan?" Bilton menoleh ke arah pintu.
"Iya, ini Kaa-chan bawakan makan_" Perkataannya terhenti saat melihat seorang gadis yang memerah pipinya di samping putranya. "Kyyyaaa siapa dia Bil-chan?!" Kushi memekik girang, bahkan dengan tak sabaran ia menaruh nampan di meja.
"Kaa-chan hati-hati. Nanti tumpah."
Tanpa mengindahkan nasihat putranya, Kushi duduk di samping Chely. Tangannya memegang kedua bahu mungil si gadis. "Siapa nama mu nak?" Manik violet Kushina berbinar. Melihat betapa manis, cantik, dan imutnya kekasih putranya; itu menurut Chely.
"Che-Chely Hyuu Ba-san." Bibir mungil Chely tersenyum manis.
"Ya ampun! Kami-sama! Manisnya." Dengan gembira, wanita yang masih nampak cantik itu memeluk Chely.
Chely merona. Ia merasa nyaman saat berada dipelukkan Kushi, maklum ia sudah tidak punya Ibu.
"Kaa-chan?"
"Apa?!" Pelukkan Kushi memang sudah terlepas. Namun, kini digantikan dengan rangkulan erat di bahu mungil Chely. Ia hanya takut Bilton mengambil 'menantunya.'
"Kami bukan sepasang kekasih."
"Apa?"
"Hn."
Manik violet Kushi meredup. Dan Chely tidak suka itu. Padahal Kushi sudah membayangkan betapa senangnya ia jika Chely yang menjadi kekasih Bilton. Kepala merahnya menoleh ke arah Chely. "Apa benar Chely-chan?"
"I-itu benar Ba-san."
"Yahhh... Tak apalah. Nanti juga kalian pacaran."
Pipi Bilton dan Chely merona.
"Kaa-chan lebih baik keluar."
Mata Kushi menyipit. "Kau mengusir Kaa-chan?!"
Bilton menghela nafas. "Bukan, kami mau latihan nyanyi."
"Hai... Hai..." Dengan wajah tak rela, Kushi melepaskan rangkulannya. "Kalau Kitsune itu nak_"
"Kaa-chan." Bilton menegur Ibunya, masa iya ia di panggil Kitsune dihadapan Chely sih!
Seakan tuli, Kushi kembali meneruskan perkataanya. "–kal, Chely-chan bilang saja pada Ba-chan, ya?"
Dengan lucunya kepala indigo Chely mengangguk. "Hai."
"Kyyyaaa lucunya." Kushi kembali memeluk Chely seperti boneka.
"Dan kau!" Ia menunjuk hidung mancung Chely, sedangkan yang di tunjuk hanya bermuka malas. "Jangan macam-macam pada Chely-chan."
Si pirang berdecak. 'Dasar over, sebenarnya anaknya itu siapa?'
"Hn."
.
.
.
.
"Ohayou."
"Ohayou mo Sensei."
Dei tersenyum, melihat murid-muridnya bersemangat. "Oke, kalian ingat ada tugas apa?"
"Hai Sensei!"
"Sensei harap, kalian sudah siap. Sekarang kita mulai saja. Oh, tunggu dulu, masing-masing perwakilan bawa nomor undian ke depan."
"Hai Sensei."
Sebagian murid mengambil nomor undiannya. Kecuali Chely, ia malah menoleh ke arah pemuda yang duduk disampingnya.
Bilton menoleh. "Kau yang ambil."
Pipi tembam si gadis menggembung. "Hai... Hai..."
...
"Sudah?"
"Sudah Sensei!"
"Silahkan buka."
Suasana di aula mendadak senang, dan tegang. Senang karena undian terakhir, dan tegang undian pertama.
"Yang undian pertama, silahkan naik ke panggung."
"Ayo Rio-kun."
Rio tersenyum. "Ayo."
...
Song Fic: Rain
By: Baekhyun feat Soyou
Musik instrumental pun di putar, tirai panggung aula yang tadinya tertutup sekarang terbuka. Menampilkan Indah yang duduk menyendiri di kursi. Indah menarik nafas, ia mulai menyanyi dengan nada rendah.
.
Di bawah payung saat hujan turun, tepian punggung mu sedikit basah, kedekatan yang dapat kurasakan meski aku tahu kau sedikit menggigil.
Di halte bis saat hujan turun, melihat ke dalam mata mu aku penasaran, apakah kau masih ingat semua hal yang kita bicarakan sepanjang malam
.
Nada suara Indah meninggi, saat bagian reff ia berusaha menyanyi sebaik mungkin. Ekspresinya nampak menahan sakit hati.
.
Hari ini hujan turun lagi, hujan turun membawa luka, seperti hari di mana aku membiarkan mu pergi.
Sekali lagi hujan turun, membuat ku tak bisa tidur, aku berpikir tak akan siap, kurasa aku masih menunggumu.
.
Kepala Indah menunduk. Ia berhenti bernyanyi, sampai Rii muncul dari belakang panggung sambil bernyanyi. Indah tersenyum, Rio juga tersenyum. Mereka seperti saling merindukan.
.
Pada malam yang dituruni hujan kala itu, kau dan aku saling mencintai, kau mengkhawatirkan ku, terus seperti itu sampai akhir kau menggenggam jemariku
Hari ini hujan turun lagi, hujan turun membawa luka, seperti hari di mana aku membiarkanmu pergi
Sekali lagi hujan turun, membuat ku tak bisa tidur, aku berpikir tak akan siap, kurasa aku masih menunggumu
.
Indah berdiri, berhadapan dengan Rio. Ia mulai menyanyi kembali.
.
Tak ada yang berlangsung selamanya, apakah itu alasan mengapa kita berpisah?
.
Mereka bertatapan, Rio kembali bernyanyi. Dengan nada agak tinggi di bagian akhir.
.
Tak ada yang berlangsung selamanya, apakah itu mengapa kita sangat bahagia?
.
Masih dengan bertatapan mereka menyanyikan lagu bersama pada bagian reff.
.
Hari ini hujan turun lagi, hujan turun membawa luka, seperti hari di mana aku membiarkan mu pergi
sekali lagi hujan turun, membuat ku tak bisa tidur, aku berpikir tak akan siap, kurasa aku masih menunggu mu
...
Prok prok prok
Tepuk tangan menggema di aula. Indah dan Rio tersenyum mereka berdua membungkukkan badan.
"Kyyyaaa Rio-kun keren."
"Pig! Kau hebat!"
"Zombie, mantap!"
"Oke, bagus. Rio dan Indah bisa duduk."
"Hai Sensei."
Dei menuliskan nilai di buku yang ia bawa. "Sekarang undian ke dua."
"Ayo Aron-kun."
"Hn."
.
.
.
.
To Be Continued
Okay akhirnya selesaii^Δ^
__ADS_1
Ohiya kalau kalian bertanya kenapa ibunya chely gk pernah muncul yahh karna di cerita ini Ibunya Chely itu sudah meninggal akibat Sakit^Δ^