
Malam ini di rumah besar yang sunyi aku harus tinggal sendirian karena Papaku Hendra Angguna sedang ada pekerjaan di luar kota, sedangkan bik Minah ART kesayanganku yang sudah berkerja pada keluargaku dari aku kecil tiba-tiba meminta ijin pulang karena ada salah satu keluarganya yang meninggal.
Namaku Yasmin Melodi Angguna. Aku anak kedua dari keluarga Angguna. Kakakku Candra Angguna saat ini sedang berada di jakarta sedang mengurusi anak cabang perusahaan yang di dirikan Papaku.
Setelah kepergian Mamaku untuk selama-lamanya, Papaku menjadi gila kerja. Sikapnya berubah padaku. Jika melihatku, ia akan bersedih karena wajahku yang mirip dengan almarhum Mamaku. Saat ini usiaku 20 tahun. Aku sudah kuliah semester 4 dengan jurusan Akuntasi di sebuah universitas yang terletak di kota surabaya karena memang aku tinggal di surabaya.
Aku takut gelap, aku takut kesunyian. Malam ini aku sendirian di rumah ketika ada pemadaman listrik. Saat ini aku sedang ketakutan berada di sudut ranjang kasur, membenamkan wajahku di kedua lututku.
"Hiks..... hiks......," Suaraku menangis.
Ya Allah Yasmin takut, Mama Yasmin rindu mama.......
Badan ku bergetar, aku selalu ketakutan ketika gelap. Aku yang masih di liputi rasa ketakutan seketika terkaget dengan suara hpku yang berdering. Ya, hp peninggalan dari almarhum Mamaku yang hanya berstandar sms dan call saja ku pakai karena aku merasakan ada sedikit tenang ketika memakai hp jadul itu. Meskipun aku anak dari orang yang berada tapi aku bergaya hidup sederhana.
Ku beranikan mengangkat telp dengan tangan bergetar. Terlihat sebuah nomor tak di kenal di layar hp. Ku tekan tanda menerima panggilan.
"Kenapa lama sekali mengangkat telpku. Aku sudah menghubungi beberapa kali kenapa nomor mu tidak ada di WA. Bima, Kamu lagi gak ngerjain aku kan !!" Suara seorang laki-laki yang terdengar kesal dan mengira aku adalah Bima. Aku pun membiarkannya terus berbicara di telp karena entah mengapa setelah mendengar suaranya ketakutanku berkurang.
"Hei kenapa kamu diam saja Bima, kamu benar-benar mau membuatku marah ya?" Kesalnya karena aku masih belum bersuara.
"Maaf a.... anda ini siapa?" Ucap ku sambil menahan tangis.
"Eh maaf, ini siapa. Apa saya salah nomor. Bukannya ini nomor 08xxxxxxxx milik Bima ?" Ucap penelpon itu seketika melembut.
__ADS_1
"Bukan Kak," Aku memberanikan memanggil kakak karena suaranya seperti seumuran dengan suara kakakku.
"Berarti salah sambung ya, Maaf..... Maaf.....sudah mengganggu waktu kamu," Ucapnya hendak memutuskan telp.
"Kak..... hiks..... hiks..... ", Suaraku menangis karena sudah tidak bisa menahan ketakutanku.
"Kenapa kamu menangis? Maaf ya tadi saya kira kamu Bima teman saya. Sudah jangan menangis, saya minta maaf ya," Suara laki-laki itu begitu lembut membuat perasaanku jadi merasa hangat.
"Kakak aku mohon..... hiks.... hiks..... jangan di tutup telpnya.... hiks......hiks..... aku takut," Bicaraku masih di sela tangis.
"Kamu kenapa? saya tidak akan memutuskan telpnya. Kalau kamu mau, kamu bisa cerita biar tenang," Ucapnya terdengar prihatin padaku.
"Aku takut gelap, aku takut di rumah sendirian.... hiks....," Aku memberanikan diri bercerita.
"Kamu tenang ya, pejamkan mata kamu anggap saja saat ini saya lagi ada di situ duduk di samping kamu," Akupun menuruti ucapannya. "Sekarang sudah agak tenang kan?" Dia terus berbicara dan benar saja aku tidak takut lagi karena aku merasa ada kakak itu di sampingku seolah-olah kami sedang mengobrol berhadapan secara langsung meskipun pada kenyataannya kami sedang berbicara di telp.
"Kalau boleh tahu kemana keluarga kamu, kenapa kamu sendirian?" Tanyanya mungkin penasaran denganku.
"Papa kerja di luar kota, kakakku juga sedang berkerja di jakarta tadinya aku bersama bik Minah tapi sekarang bik Minah lagi pulang kampung," jawabku yang sudah mulai merasa kantuk. Suara laki-laki itu benar-benar membuatku tenang.
"Bik Minah itu siapa?" Tanyanya.
"Bik Minah itu ART di keluarga yang sudah kuanggap ibu sendiri." Rasanya aku sudah tidak bisa menahan kantukku.
__ADS_1
"Oh jadi gitu. Kalau boleh tahu di mana Mama kamu?" Tanya nya lagi, aku yang sudah setengah sadarpun karena kantuk menjawab dengan melemah.
"Mamaku sudah di surga kak," Akupun sudah terlarut dalam tidurku dengan suara dengkuran halus yang mungkin tak terdengar oleh laki-laki itu.
"Selamat malam, yang sabar ya. have nice dream." Ucap laki-laki itu ketika menyadari aku sudah tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.........
hׁׅ֮ɑׁׅ֮ꪱׁׅ....hׁׅ֮ɑׁׅ֮ꪱׁׅ....ꭈׁׅꫀׁׅܻɑׁׅ֮ժׁׅ݊ꫀׁׅܻꭈׁׅ꯱ׁׅ֒ tׁׅꫀׁׅܻꭈׁׅᝯׁꪱׁׅꪀׁׅtׁׅɑׁׅ֮, ɑׁׅ֮℘ɑׁׅ֮ ƙׁׅ֑ɑׁׅ֮ϐׁׅ֒ɑׁׅ֮ꭈׁׅ 🙏 յׁׅυׁׅ ꩇׁׅ݊℘ɑׁׅ֮ ᥣׁׅ֪ɑׁׅ֮ᧁׁꪱׁׅ ժׁׅ݊ꫀׁׅܻꪀׁׅᧁׁɑׁׅ֮ꪀׁׅ ɑׁׅ֮υׁׅtׁׅhׁׅ֮ᨵׁׅꭈׁׅ 😊😊.....ꪱׁׅꪀׁׅꪱׁׅ ƙׁׅ֑ɑׁׅ֮ꭈׁׅᨮ꫶ׁׅ֮ɑׁׅ֮ ɑׁׅ֮υׁׅtׁׅhׁׅ֮ᨵׁׅꭈׁׅ ᨮ꫶ׁׅ֮ɑׁׅ֮ꪀׁׅᧁׁ ℘ɑׁׅ֮ᥣׁׅ֪ꪱׁׅꪀׁׅᧁׁ ꯱ׁׅ֒ꪱׁׅ ꩇׁׅ݊℘ᥣׁׅ֪ꫀׁׅܻ ᨮ꫶ׁׅ֮ɑׁׅ֮....꯱ׁׅ֒ꫀׁׅܻ ꩇׁׅ݊ᨵׁׅᧁׁɑׁׅ֮ ƙׁׅ֑ɑׁׅ֮ᥣׁׅ֪ꪱׁׅɑׁׅ֮ꪀׁׅ ꯱ׁׅ֒ꫀׁׅܻ ꩇׁׅ݊υׁׅɑׁׅ֮ tׁׅꫀׁׅܻꭈׁׅhׁׅ֮ꪱׁׅϐׁׅ֒υׁׅꭈׁׅ....ᥣׁׅ֪ᨵׁׅ᥎꫶ׁׅꫀׁׅܻ ᨮ꫶ׁׅ֮ᨵׁׅυׁׅ ɑׁׅ֮ᥣׁׅ֪ᥣׁׅ֪...😍😍