
Kak Nada ternyata kamu sudah membohongiku, kenapa kamu tega kak? Padahal kamu sudah bertunangan tapi kenapa kamu bilang mencintaiku, kenapa kamu tega menghancurkan hatiku. Aku benci kamu kak Nada.
Aku masih berlari menghindari kejaran kak Arya yang ternyata adalah kak Nada hingga tanpa sadar aku menabrak seseorang.
Bruuk.....
"Yasmin, kamu kenapa?" Tanya orang yang aku tabrak sembari menangkap tubuhku agar tidak terjatuh. Aku seperti mengenali suara orang itu.
"Denis !!" Ucapku menatap orang yang aku tabrak, Ya dia adalah Denis teman kuliahku di surabaya yang beberapa kali aku tolak pernyataan cintanya.
"Aku...." Belum sempat aku melanjutkan ucapanku suara kak Arya memanggilku.
"Melodi," Panggil kak Arya ingin mendekatiku.
"Arya, ada apa ini?" Tanya kak Candra yang juga mengikuti kami di susul kak Bela di belakangnya. "Dek, ada apa?" Tanya kak Candra juga menatapku.
Sejenak aku menatap kak Arya yang terlihat tatapan sendunya padaku, entahlah saat ini Kak Nada yang aku cari ada di hadapanku tapi rasa kecewa ku sudah begitu besar apalagi ketika aku menatap kak Bela yang begitu mencintai kak Arya, mana mungkin aku menghancurkan hubungan pertunangan mereka hanya karena hubungan cinta dalam suaraku ini.
"Can, sebenarnya...." Ucap Kak Arya yang segera aku sela.
"Kak, waktu itu kalian semua bertanya kan apa aku sudah punya pacar dan siapa pacarku," Ucapku membuat Kak Candra menatapku, terutama kak Arya.
__ADS_1
Aku menoleh pada Denis dan segera menggandeng tangan Denis, "Kenalkan dia Denis pacar yang selama ini ingin aku kenalkan pada kalian," Ucap ku.
"Yas," Kaget Denis menoleh padaku tapi nampak sebuah senyuman bahagia di wajahnya.
"Jadi dia dek pacar yang ingin kamu kenalkan," Tanya kak Candra sedangkan kak Arya terlihat jelas kekecewaan dan kesedihan di wajahnya. Mungkin ini lebih baik karena perasaanku pada kak Arya sudah hancur, aku sudah tak percaya dengan cinta dalam suaraku.
"Ya kak, kenalin dia Denis teman kuliahku sekaligus pacarku," Ucapku mengangguk, Denis pun segera menyodorkan tangannya pada kak Candra yang masih merasa kaget tapi tetap menjabat tangan Denis sedangkan kak Arya masih diam mematung tak percaya.
"Ya sudah kak, Yasmin mau ijin pulang dulu biar di antar sama Denis, kakak di sini dulu temanin acara kak Arya," Ucapku lalu aku beranikan menatap kak Arya yang memang sama sekali masih belum berpaling menatapku. "Kak Arya dan kak Bela, Yasmin pamit dulu," Ucapku segera mengajak Denis meninggalkan ketiga orang itu yang masih merasa kaget.
Mobil Denis melaju membawaku menelusuri jalan, entahlah aku tidak dapat berkata apa-apa karena saat ini aku masih menangis di sebelah Denis yang masih fokus mengemudikan mobilnya sesekali ia menoleh padaku.
"Kamu kenapa Yas?" Tanya Denis setelah menepikan mobilnya di depan rumahku.
"Aku beneran kaget tadi dan nggak nyangka kamu ada sini karena aku pikir kamu masih di surabaya," Ucap Denis.
"Kakakku mengajak aku pindah kuliah di sini, dan di perusahaan kak Arya tadi tempat aku magang. Dan kamu bukannya ada di bandung?" Tanya balikku pada Denis karena waktu itu dia bilang akan pindah ke bandung.
"Tadinya memang mau pindah kuliah ke bandung tapi anak cabang perusahaan papaku di jakarta membutuhkan aku karena kakakku yang biasa memimpin sedang sakit jadi untuk sementara aku cuti kuliah menggantikan kakakku," Jawab Denis. "Oh iya Yas kamu kenapa nangis ada apa? Dan tadi..."
"Denis sudah malam, aku masuk dulu ya besok aku jelasin semuanya ke kamu," Ucapku menyela Denis karena saat ini aku masih belum bisa mengatakan sebenarnya pada Denis.
__ADS_1
"Ya sudah, besok pagi aku jemput kamu," Ucap Denis, aku pun mengangguk dan segera keluar dari mobil Denis masuk ke dalam rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......