
"Terima kasih kak, Oh ya salah satu dari teman kampusku yang magang di sini adalah Yasmin adik bang Candra," Ucap Rangga membuatku sedikit kaget.
"Jadi adik Candra magang di sini?" Tanyaku.
"He'em," jawab Rangga mengangguk.
"Kenapa dia tidak magang di perusahaan kakaknya?" Tanyaku heran bukankah Candra memiliki perusahaan yang sama besarnya dengan perusahaanku.
"Itulah hebatnya Yasmin, meskipun dari keluarga berada tapi dia ingin mandiri tidak mengandalkan fasilitas keluarganya. Oh ya kak, Yasmin itu gadis yang sangat cantik. Kakak kalau lihat pasti naksir loh,"
"Modus kamu, palingan juga kamu yang naksir" Elakku, mana mungkin aku suka gadis lain jika hatiku sepenuhnya untuk Melodi.
"Kakak benar, aku memang naksir berat sama Yasmin kak bahkan aku sudah jatuh cinta padanya. Saking cintanya malahan aku sempat cemburu waktu kakak pegang tangan Yasmin waktu itu" Tutur Rangga membuatku bingung.
"Maksud kamu? " Aku mengeryitkan dahi menatap Rangga.
"Saat Kakak sadar dari koma, tangan kakak memegang erat tangan Yasmin. Aku sempat bingung ku pikir kakak kenal dengan Yasmin," Ucapan Rangga membuatku merasa penasaran dengan Yasmin karena pada saat itu aku merasa memegang tangan Melodi karena aku terbangun setelah mendengar suara Melodi. Apa mungkin adik Candra adalah Melodi atau aku hanya kebetulan bermimpi Melodi. "Kak ada apa?" Tanya Rangga yang melihatku sedang berpikir.
"Tidak ada, Ya sudah kembalilah bekerja." Perintahku pada Rangga, Ia pun beranjak dari duduknya melangkah hendak keluar tapi seketika langkahnya terhenti memegang handle pintu dan menoleh padaku.
"Beneran ya kak, Jangan naksir sama Yasmin karena aku yang lebih tampan dari kakak ini mana tega bersaing dengan kakak," Rangga tersenyum mengedipkan sebelah mata lalu buru-buru membuka pintu belari keluar ketika sebuah buku yang ku lempar hampir saja mengenai dirinya.
__ADS_1
"Huh, dasar adik sableng," Ucapku ingin tertawa dengan candaan adikku.
***
Sore hari saat pulang kerja, entah kenapa aku merasa kangen dengan Candra sahabatku. Akupun melajukan mobilku menuju rumah Candra karena biasanya jam segini ia sudah berada di rumah. Candra adalah sahabatku dari sejak kami kuliah dan sekarang menjadi rekan bisnisku.
Aku sering menginap di rumah Candra saat aku merasa jenuh. Kami memiliki kesamaan, sama-sama menjaga diri dari wanita-wanita yang mengejar kami. Aku dan Candra sama-sama memiliki prinsip dalam hidup kalau kami tidak akan pernah menyentuh wanita selain istri kami kelak.
Mobilku sudah berada di halaman rumah Candra, ku langkahkan kaki ku menuju pintu rumahnya dan menekan tombol bel rumah. Seorang bibi ART keluar membukakan pintu untukku.
"Den arya, apa kabar? sudah lama tidak kelihatan," Sapanya mempersilahkan aku masuk.
"Alhamdulillah baik bi, saya langsung ke kamar Candra ya bi," Ucapku dan Akupun melangkahkan kakiku menuju kamar Candra karena aku sudah terbiasa saat di rumah Candra yang sudah seperti rumahku sendiri.
Entah kenapa saat aku melihat gadis itu yang terlintas di pikiranku adalah Melodi. Ada desiran aneh saat melihat gadis itu, desiran yang sama yang aku rasakan saat berbicara dengan Melodi. Degup jantung ini kenapa juga sama berdegup kencang seolah-olah ada melodi di dekatku. Aku terus memandang gadis itu sampai ta sadar membalikkan badan mengalihkan langkahku yang tadinya berniat menaiki tangga menuju kamar Candra kini urung dan beralih mendekati pintu samping.
Byuurrr........
Tiba-tiba terdengar suara air dari kolam itu. Aku menyaksikan gadis itu terpeleset dan jatuh ke dalam kolam. Aku hanya terdiam masih dibalik pintu kaca menatap ke arah kolam karena ku pikir gadis itu bisa berenang.
Beberapa menit sudah aku masih menatap ke arah kolam renang itu tapi gadis itu tak muncul keluar dari kolam. Seketika aku tersentak melihat tangan gadis itu melambai seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan.
__ADS_1
Menyadari itu, akupun berlari sekencang mungkin menuju kolam renang dan benar saja gadis itu sudah lemas dan pingsan tenggelam di dalam air. Akupun melompat kedalam kolam dan meraih tubuh gadis itu, membawanya kepinggiran kolam. Perlahan aku membaringkan tubuh gadis itu di lantai. Wajah gadis itu sudah terlihat pucat.
Pertolongan pertama ku lakukan pada gadis itu dengan melipat kedua tangannya dan menekankan pada dadanya agar air yang terhirup olehnya bisa keluar. Ku periksa denyut nadinya terhenti dan ku dekatkan jari ku di hidungnya ternyata nafasnya juga terhenti. Tindakan CPR pun aku lakukan.
Maafkan aku Melodi ini hanya tindakan CPR untuk menolong gadis yang saat ini sudah tidak sadarkan diri karena tenggelam. Bathinku karena aku ingin kelak ciuman pertamaku akan kuberikan pada Melodi kekasihku yang sangat aku cintai dan saat ini masih belum ku temukan..........
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung......