Cinta Dalam Suara

Cinta Dalam Suara
Episode 2


__ADS_3

Arya Pov


Namaku Arya Eka Pranada. Umurku 28 tahun. Aku seorang Ceo di perusahaan yang didirikan Papaku di jakarta. Aku punya seorang adik laki-laki bernama Rangga. Malam ini aku berusaha menghubungi sahabatku yang bernama Bima dengan nomor ponsel yang ia berikan tergesa-gesa saat kami tidak sengaja bertemu setelah sekian tahun karena dia adalah teman SMA ku dulu.


Aku menghubungi nomor ponselnya lewat aplikasi WA, ternyata nomor itu tidak keluar di aplikasi WA. Akupun tidak putus asa mencoba menelpon nya tanpa menggunakan aplikasi WA dan tersambung. Saat telp ku di angkat akupun langsung memarahi Bima karena memang aku sudah kesal susah sekali menghubunginya.


Aku terus memarahinya karena ia tidak menjawab, aku curiga dia akan mengerjaiku lagi karena saat di sekolah dulu dia sering usil menjahili ku.


"Maaf a.... anda siapa?" Jedar kaget banget aku mendengar jawaban itu. Astaga suara seorang wanita yang ku perkirakan usianya masih di bawahku atau lebih tepatnya seperti suara gadis yang masih remaja. Betapa malu nya aku jika ini salah sambung karena tidak mungkin kalau ini adik Bima karena Bima anak tunggal. Atau mungkin ini suara pacarnya. Akhirnya kuberanikan bertanya dan ternyata benar aku salah sambung.


Akupun meminta maaf dan hendak memutuskan telp tapi tak kusangka gadis itu menangis dan suaranya seperti ketakutan, Astaga apa aku tadi membuatnya ketakutan saat memarahinya yang ku pikir adalah Bima.


Akupun meminta maaf jika membuatnya menangis dan ternyata dia menangis karena takut gelap di rumah sendirian. Kasihan sekali gadis ini, aku berusaha menenangkannya dan ternyata berhasil, Ia bilang kalau Ayah dan kakaknya kerja di luar kota dan bibik ART nya pulang kampung saat aku bertanya kemana keluarganya.


Aneh kenapa dia tidak menyebut Mamanya, karena penasaran akupun bertanya. Rasanya terenyuh hatiku mendengar katanya yang melemah setengah sadar seperti menahan kantuk. "Mamaku sudah di surga kak," Ya Allah kasihan sekali gadis ini. Akhirnya tak ada jawaban karena bisa di pastikan gadis itu sudah tenggelam dalam mimpi.


Entah mengapa ada sesuatu yang menggelitik di hatiku ketika mendengar suara gadis itu dan ku pikir itu mungkin hanya rasa simpati. Semalaman aku kurang bisa tidur karena masih terngiang suara gadis itu. Aku pasti sudah gila kenapa suaranya tak bisa hilang di telingaku.


Pagi hari, saat mentari sudah muncul. Dengan wajah kusut kurang tidur, akupun bangun dan membersihkan diriku di kamar mandi. Selesai mandi karena masih ada waktu sebelum pergi ke kantor, akupun memberanikan diri menelpon gadis itu lagi karena entah mengapa setelah semalam aku masih merasa khawatir.

__ADS_1


tut...... tut..........


"Halo, Assalamualaikum," Suara gadis itu setelah tersambung.


"Waallaikum salam. Kamu sudah gak apa-apa?" Tanyaku setelah mendengar suaranya.


"Alhamdulillah sudah tidak apa-apa kak, Terima kasih banyak ya kak sudah membantuku. Maaf, tidak apa-apa kan aku memanggil anda Kakak?" Tanyanya padaku.


"Tentu saja tidak boleh karena aku kan bukan kakak kamu," Canda ku mencoba menggodanya. Astaga punya keberanian dari mana coba aku ini menggodanya. Aku biasanya bersikap cuek dan dingin pada orang yang tidak aku kenal terutama wanita tapi kenapa dengan gadis ini aku jadi seperti ini.


"Ah maaf ya, apa aku panggil Bapak saja?" Ucapnya membuatku ingin tertawa.


"Ya sudah aku panggil adik saja,"


"Ha.... ha..... kamu itu lucu sekali ya," Akupun tertawa mendengarnya sungguh gemas sekali dengan gadis ini. Kalau saja ada di hadapanku pasti sudah ku cubit pipinya.


"Kak maaf, aku buru-buru mau berangkat kuliah dulu ya. Nanti kita lanjut lagi."


Oh ternyata dia sudah kuliah, ku pikir masih sekolah.

__ADS_1


"Ok. Hati-hati di jalan ya," Ucapku.


"Makasih kak," Ia pun menutup panggilannya.


Huh......aku ini kenapa, ada apa denganku mendengar suaranya saja membuat suasana hatiku tenang.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2