
Jam menunjukkan pukul 05:57 dan Lusy segera bangun dari tidurnya lalu pergi mandi. Setelah selesai mandi di pergi ke dapur untuk sarapan bersama mamanya.
*selesai sarapan
"ma aku berangkat dulu ya."mencium pipi mamanya.
"iya hati-hati di jalan."
"oh iya ma,mungkin nanti aku pulang agak siang soalnya nanti jadwal aku piket."
"oh iya ga papa,nanti mama tetep nunggu kamu buat makan siang bareng."
"makasih ya ma,kalau gitu aku berangkat dulu, daah ma..."melambaikan tangannya dan berjalan keluar pagar.
Tiba di sekolah Lusy bertemu Rika dan Ami yg sedang duduk di kursi depan kelas mereka.
"eh tu dia si cewek culun yg ngeselin."ucap Rika kepada Ami.
"udah lah Rik ga ada untungnya juga kan,lagian kamu udah masuk kelas unggulan."ucap Ami.
"tapi aku kesel aja liat mukanya."
Lusy tidak memperdulikan apa yg di bicarakan oleh Rika dan Ami,dia masih melanjutkan jalannya dan masuk ke kelas. Saat tiba di kelas, belum sempat Lusy mengatur nafasnya karena lelah jalan kaki,bel masuk sudah berbunyi teng...teng...teng...
"aduh pak,muridmu masih capek gini."gumam Lusy sendiri,lalu dia segera keluar dan berbaris.
Setalah berbaris,seluruh siswa masuk ke kelas masing-masing.Lalu saat tiba di kelas seluruh siswa ix.B ribut karena nilai tugas kemarin.
"nilai kamu berapa Ris."tanya Ardi kepada Risky.
"niali aku 52,kalau kamu."
__ADS_1
"sama,kalau kamu Rey."
" ya sama lah,kan kalian nyontek sama gue kemarin."jawab Reyhan.
"oh iya lupa."
"kalian ga nanya orang pojok tuh." ucap Risky sambil melirik Lusy.
"apa lo liat-liat."bentak Lusy.
"astaga,seingat gue,kesalahan yg gue perbuat cuman segede biji zarrah,tapi dia nganggepnya sebesar gunung Uhud."Ucap Risky merasa heran.
"serah gue napa."jawab Lusy.
"udah jangan berantem mulu, emang nilai lo berapa yg dari kemarin marah-marah ga jelas."tanya Ardi kepada Lusy.
"nilai gue ga tinggi kok."
"mana sini gue liat."pinta Ardi.
"ga mau."Lusy mengangkat bukunya keatas, namun karena dia pendek sedangkan Ardi yg memiliki tubuh tinggi bisa mendapat buku itu dgn mudah.
"yaah kok di ambil."
"siapa suruh punya badan seuprit,cewek ideal tuh minimal tingginya 155,kalau kurang mending jadi kuman sana."ledek Ardi,karena memang kenyataanya tinggi Lusy tidak sampai 155.
"sini biar gue liat berapa nilainya."ucap Reyhan sambil nengambil buku Lusy di tangan Ardi.Setelah melihat nilai Lusy.
"ini ga salah nilainya."heran.
"ya ga lah,dia kan emang agak ****"ucap Ardi.
__ADS_1
"lo liat dulu mangkanya."memperlihatkan nilai Lusy ke Ardi.
"ga salah nih."kaget.
"ada kok yg salah."jawab Lusy.
"apa."tanya Ardi.
"mata lo."ledek Lusy.
"berani ya lo."
"emang gue takut,salah kalian lah mangkanya jangan ngeremehin orang."
"emang nilainya berapa."tanya Risky yg masih tidak tahu.
"98."jawab Ardi dan Reyhan serentak.
"kok bisa."tanya Risky masih keheranan.
"tanya aja orangnya."jawab Ardi.
"nyesel gue ga nyontek."sambung Risky.
"sekarang kalian nyeselkan,mangkanya kalau jadi orang tuh jangan suka ngeledek, terus menilai orang dari luarnya doang."ucap Lusy merasa puas karena telah membuat temannya menyesal.
"udah lh lagian juga udah lewat,lain kali aja nyonteknya,kalau di kasih tugas lain,atau sebentar lagi kita bisa nyontek sama dia, soalnya pak agus udah dateng."ucap Reyhan membubarkan temannya.
"enak aja kalau ngomong,lain kali gue ga bakal nyontekin ke kalian lagi."jawab Lusy.
Dan setelah pelajaran Seni Budaya selesai bel istirahat berbunyi dan Lusy segera kekantin menemui Lena.Dan Lusy merasa bersyukur karena pak Agus tidak memberi tugas, sehingga temannya tidak menyontek.
__ADS_1