Cinta Labil

Cinta Labil
Akhir Pekan


__ADS_3

Tiba di rumah, Lusy segera masuk dan menyapa mamanya yang sedang menonton TV. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju kamar dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan keringat yang menempel di sekujur tubuhnya.


Lusy keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk putih yang melilit tubuhnya dari dada hingga lutut. Setelah itu dia melangkah menuju lemari di sudut kamarnya dan memakai piama putih bercorak kelinci.


Sehabis memakai piama dia pun menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, terbuai akan lamunan tak tentu arah yang berfantasi di otaknya. Dan tidur. Ya, tidur tanpa ada makan malam.


***


Pagi menjelang, dan matahari menembus ventilasi di atas jendela kamarnya, menyilaukan. Mengucapkan kata bisu yang mengisyaratkan untuk segera bangun dari tidur yang nyenyak.


Lusy bangkit dan berjalan sedikit terhuyung menuju kamar mandi. Desis air terdengar dari balik pintu. Setelah ia mandi, ia pun mengenakan baju kaos pink dengan setelan celana putih selutut, setelah itu ia langsung menuju dapur untuk sarapan. Di sana sudah ada mamanya yang sedang menyiapkan sarapan dan beberapa makanan lain di atas meja makan.


"Ada yang bisa Lusy bantu ma."ucap Lusy menghampiri mamanya.


" Kamu taruh aja pie ini di atas meja, lalu kasih madu."perintah mamanya.


"Iya ma." melaksanakan dengan segera.


Setelah melaksanakan perintah, Lusy menyantap sarapan bersama mamanya. Menyantap pie di baluri madu yang mamanya bikin pagi ini.

__ADS_1


Sarapan pagi itu berakhir dengan ke kenyangan. Lusy membantu mamanya membereskan makanan yang berantakan di atas meja. Lalu ia kembali ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Lusy menggapai sebuah buku gambar yang selalu ada di atas meja belajarnya. Membuka lembaran demi lembaran hingga terhenti di halaman yang masih belum ia coreti. Tangannya meraih sebatang pensil hijau di sebuah toples dekat dengan beberapa susunan buku. Dia mulai memainkan jemarinya, menyusuri setiap senti kertas kosong dengan goresan pensilnya.


Ting...


Beranjak dari kursi dan mengambil HPnya yang tergeletak di atas kasur. Jarinya mengetik kata sandi dan melihat siapa yang mengirim pesan. Ternyata pesan tersebut di kirim oleh Reyhan.


Reyhan: P


Lusy: iya ada apa


Reyhan: sibuk gak


Reyhan: nanti sore kita jalan ya


Lusy: hah, gak salah nih


Reyhan: gue serius

__ADS_1


Lusy: boleh aja sih


Reyhan: nanti sore gue jemput


Lusy: iya di tunggu


Setelah menerima pesan dari Reyhan, Lusy kembali ke meja belajarnya dan melanjutkan karya yang baru setengah jadi itu. Di saat sedang fokus dengan sketsa gambarnya, ia teringat akan pesan yang baru saja ia balas tadi. Dia merasa aneh dengan perilaku Reyhan akhir-akhir ini, lebih perhatian dan mau meluangkan waktu dengannya. Entah apa yang sedang Reyhan rencanakan, yang penting dia berharap ini adalah sebuah kabar baik nantinya.


***


Sekarang hari sudah mulai sore, Lusy sudah siap dengan pakaian yang ia kenakan, hanya perlu duduk santai sambil menunggu kedatangan Reyhan. Tak butuh waktu lama baginya untuk menunggu Reyhan, karena di luar sudah terdengar suara bel rumah yang sedang di pencet beberapa kali. Lusy segera beranjak dan membuka pintu, dan di sana ia di suguhkan oleh sosok remaja tampan yang menjemputnya.


Kala itu Reyhan mengenakan Sweater kuning dan sebuah topi putih di kepalanya. Sontak setelah melihat Reyhan, Lusy pun terlihat gugup dan salah tingkah.


"Mau masuk dulu atau mau langsung berangkat." ucap Lusy dengan ke gugupanya.


"Langsung berangkat aja."


"Oh yaudah. Ma... Lusy berangkat dulu." teriak Lusy meminta izin.

__ADS_1


"Iya hati-hati... " balas Bu Gita meneriaki dari arah dapur.


Mereka pun berangkat dari rumah Lusy menuju sebuah tempat wisata.


__ADS_2