Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 1


__ADS_3

[Aku ak an pulang, apa kamu ingin titip sesuatu?] ku kirimkan pesan whatsapp untuknya.


Dua menit tiga puluh detik baru ada balasan.


[Tidak mas, terimakasih.]


[Kamu sudah makan?]


[Sudah.] tanpa basa basi atau emotikon senyum dia membalas. Itu sudah biasa dia memang terlalu kaku dan sungkan padaku.


"Hahh...," bernafas saja rasanya berat, Udara sore ini terasa begitu panas. Ku hidupkan mesin mobil, dan membuka kaca, berharap ada sedikit angin masuk menerobos pori pori kulit langsung ke hati, biar sejuk. Ehhh, gak nyambung ding.


Ada banyak pedagang pinggir jalan yang ku lalui, menepikan mobil dan berhenti adalah pilihan tepat saat mataku menangkap pedagang Rujak Bebek disisi jalan.


Satu pesan lagi kukirimkan lengkap dengan foto babang rujak.


[Sore sore makan rujak pasti seger, kamu mau?]


[Apa ada buah mangganya?]


[Tentu saja ada, mau yang pedes?]

__ADS_1


Aku tersenyum, pasti disana dia sudah menelan ludah berkali kali karna saking ngilernya. Kebanyakan orang ngidam kan gitu. Aku beli tiga porsi rujak, kalo cuma dua takutnya kurang. Aku langsung pulang, rasanya tidak sabar ingin melihat istriku melahap habis rujak ini.


Duapuluh menit, tiga detik, waktu yang ku tempuh.


Yes, itu artinya lima belas menit lebih cepet dari biasanya. Langsung ku buka pintu rumah, masuk dapur dan meletakan kresek hitam isi rujak di meja dapur.


"Aneh, sepi sekali, biasanya jam segini fany sedang masak didapur." bergegas aku naik tangga, mungkin dia ada dikamar.


Benar saja, pintu kamarnya sedikit, terbuka. Fany sedang berdiri didekat jendela.


"Hiks,hiks," dia sesenggukan dan tangannya memukul perut yang sudah mulai membuncit, aku perkirakan mungkin sudah masuk bulan keempat kehamilannya.


"Seorang ibu harus kuat, jadi menangis lah kalau sedih, dan tersenyum jika kau sudah merasa lebih baik." Fany menangis dan menyandarkan kepalanya di dadaku.


"Mungkin, aku ... aku tidak akan pernah jadi ibu yang baik untuk anak ini."


Dengan terbata fany bicara, ku rasakan tubuhnya mulai melemas dan ia pingsan dipelukanku.


"Fan, Fany ... bangun Fan."


Aku binggung, gugup dan entahlah, ada darah segar yang mengalir dipahanya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang aku langsung membawanya kerumah sakit.


Aku hanya bisa menunggu, berharap dokter cepat keluar dengan kabar yang membuatku sedikit tenang.


"Huhftt... ." Ku hembuskan nafas kasar, melihat jam tangan, sudah duapuluh tujuh menit berlalu, barulah seorang dokter dengan dua perawat keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan Fany dok? Dia baik baik saja kan? Bagaimana dengan janinnya, dia masih bisa diselamatkan?" Aku membrondong dengan peratanyaan yang begitu saja keluar dari bibirku.


"Anda suaminya? Tenanglah pak, mari ikut saya."


Masih dengan perasaan gusar aku membuntut dokter yang masuk keruangan dimana Fany dirawat lagi.


"Silahkan duduk, keadaan istri anda baik, begitu juga dengan janin dalam kandunganya, tapi... ." Dokter menjeda perkataanya dengan menunjukan hasil USG istriku.


"Ini hasil USG istri anda, janinnya masih aktif bergerak, usia kehamilannya mamasuki enam belas minggu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ibu dan debay semua sehat."


"Jadi kenapa istri saya bisa pendarahan?"


"Sebenaranya tidak ada tanda tanda kelainan atau masalah serius dalam kandungannya, dia hanya terlalu stress dan kurang istrirahat, jadi harus bedrest. Bener-bener gak boleh cape, suruh tiduran ajah dirumah ya Pak, makan diambilin kalo perlu di suapin juga, hihiks." Dokter menjelaskan dengan sedikit gurauan, padahal perasaanku masih entah, karna terlalu khawatir.


"Mm baik dok." Aku masih mengamati bayi yang bergerak gerak di layar USG.

__ADS_1


__ADS_2