Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 8


__ADS_3

Aku mula i merasa ada yang tidak beres nih perut, aku harus ke kamar mandi, segera!


***


Aku memutuskan pulang ke rumah lebih awal.


"Loh Mas tumben pulang siang?" tanya Fany heran.


"Mmm iya Fan, gak enak badan nih, perut agak sakit, bentar ya."


Sampe rumah aku langsung bolak-balik kamar mandi.


Gak nyangka makan pedes, bisa nyampe bikin kekgini, rasanya lemes perut melilit dan boker mulu, duhhh ampun dah.


Sungguh perih siksaMu Ya Alloh!


Selingkuh gak, udah kena azab!


"Kamu kenapa sih Mas? Pusing? Pucet, sampe keringetan gitu?" Fany masih penasaran.


"Iya Fan melilit terus nih perut." Sambil ku elus perut ini.


"Haha dasar,emang habis makan apa?"


"Mm anu, tadi makan sambel bareng temen, pedes banget si,"


"Pantesan! Minum obat gih, di lemari kayanya ada obat diare," perintah Fany.


"Iya deh." Aku berlalu meminum obat dan tidur di sofa depan.


***


Aku mengerjapkan mata, memandang jam dinding, sudah jam setengah enam, lumayan lama juga tidurku.


Kurasa perut sudah tak lagi melilit, dan badan udah segeran.


Bergegas aku ke kamar berniat untuk mandi, ternyata ada Fany di sofa kamar sedang melipat baju.


"Udah enakan Mas?" tegurnya.


"Udah nih, oiya ntar malem ikut aku ya?" ajaku.


"Kemana emang?"


" Pasar Malem, gimana?"


"Hem, boleh deh," Fany menerima ajakanku.


***


Malam ini Fany terihat sangat manis, dengan rambut sebahu digerai dan ada jepit rambut di sebelah kanan. Memakai dress kaos warna maroon, sangat cocok untuk kulitnya yang putih, terlihat lebih bersih dan anggun.


Aku melajukan mobil menuju Pasar Malam.


Sampe di sana sudah rame pengunjung.


Aku berjalan mencoba menggandeng tangan Fany.


"Gak, usah gandengan deh Mas, risih," tolak Fany menepis tanganku.


"Hem, oke deh, aku takut ajah nanti kamu nyasar," selorohku.


Aku tersenyum menerima penolakan ini.


Kita melihat sekeliling, semua wahana permainan tampak ramai.


Kebanyakan yang datang ke sini satu keluarga, emak, bapak, dan tuyul-tuyulnya.


Aku tertawa geli melihat satu keluarga di sana yang terlihat begitu antusias saat anaknya ingin naik Komedi putar, menarik-narik tangan Bapaknya untuk ikut naik, padahal tubuh si bapak gempal mirip kek jin botol, ehh maap.


Sedangkan si Ibu menggendong anak yang lebih kecil, merengek minta balon.


Aku menoleh pada Fany, yang nampak terdiam seperti memikirkan sesuatu?


"Fan?" Aku menegurnya.


"Mm iya Ir, eh Mas?" Fany menjawab dengan salah sebut, sepertinya aku tau Fany sedang memikirkan sesorang, Irfan!


"Hem, Ir?" Aku memastikan pendengaranku tidak salah.


"Ir? Kamu salah denger kali Mas," Fany mengulang lagi, mengelak.

__ADS_1


"Ya udah deh, yuk kesana," Aku mencoba menerima meski jelas-jelas pendengaranku masih normal!


Aku beralih mengajaknya ke permainan Bianglala.


Fany hanya menurut seolah robot. Raganya di sini, tapi ntah anganya seakan jauh melayang. Dia nampak bengong seperti ada beban dan kesedihan di setiap arahnya memandang.


"Jangan diem terus dong, yuk naik itu?" Aku mencoba mengajaknya naik Bianglala.


"Nggak ah Mas, lagian aku kan lagi hamil, takut bahaya," Fany menolak.


"Mmm bener juga, kita makan aja kalo gitu."


Aku menarik tangannya masuk ke salah satu tempat makan di situ.


"Kamu kenapa sih Fan?" tanyaku penasaran dan khawatir.


"Kenapa apanya Mas?" Fany seolah tak paham.


"Ya kamu, dari tadi kenapa banyak bengong?"


"Gak apa-apa kok," Fany diam lagi mengaduk-aduk minuman.


"Emang boleh Mas kalo aku cerita?" tanya Fany seolah ragu ingin mengucapkan sesuatu.


"Tentu, kalo kamu mau," jawabku antusias.


"Mm aku hanya kepikiran seseorang Mas, dulu aku sering ke tempat kekgini, hampir semua wahana pernah kita naiki bareng, dan saat pulang aku kecapean, dia bakal gendong sampe rumah dan aku tertidur digendongannya, tapi..."


Tatapannya memandang ke atas seolah menahan sesuatu yang akan menetes dari ujung matanya.


Aku masih diam, menatapnya, mendengarkan ceritanya dan aku tau seseorang yang di maksud Fany, itu Irfan!


Rasanya hati ini seperti tercubit, tapi aku tetap berusaha bersikap biasa.


***


Pagi ini aku bangun lebih awal, Fany masih tertidur, mungkin karna tadi malem tidur larut.


Aku ke dapur memasak nasi goreng dan menyiapkannya di meja, mungkin bangun nanti Fany lapar, lalu bergegas mandi, beriap berangkat ke kantor. Fany masih belum bangun juga, ku kecup keningnya dan pergi.


***


[Lagi apa Fan?] satu pesan whatsapp centang dua biru.


[Bangun jam berapa?]


[Maaf Mas, aku kesiangan setengah sembilan tadi baru bangun]


[Ohh ya deh, nanti aku pulang cepet, mau dibawain apa?]


[Nggak ada]


[Hem ya udah] pesan terakhir aku selipi emotikon peluk. Tidak ada balasan!


Tak lama ada suara panggilan masuk, aku segera melihat ternyata nomor baru.


["Hallo?"]


["Halo Mas ini nomor baru saya, yang kemarin suruh cari tau tentang kasus anak SMP."] terang suara dari seberang.


["Oh iya, gimana udah ada informasi?"]


["Maaf Mas belum ada, karna tidak adanya bukti ataupun saksi pada kasus kemarin dan sampe saat ini juga belum ada kasus baru. Sedangkan anak SMP yang menjadi korban keadaaanya semakin hari makin buruk, seperti depresi begitu,"]


["Apa belum coba bawa anak itu ke rumah sakit atau Psikiater?"]


["Nah itu masalahnya Mas, pihak keluarga menolak setiap kali saya membujuk mereka untuk membawanya periksa, dengan dalih kalau anak ini tidak gila, hanya sedang kena sawan dan lebih memilih membawa anak itu ke dukun."]


["Jadi anak itu di bawa ke dukun? Kalo gitu kamu selidiki tentang dukun itu, kalo ada gerak-gerik yang mencurigakan langsung lapor polisi saja,"]


["Baik Mas,"]


["Ya udah jangan hubungi aku dulu, sebelum aku yang telfon,"]


["Oke Mas,"]


Tut...tut...tut, sambungan telfon kuputus.


Sebenarnya ketemu atau tidak pelaku pemerkosaan Fany tidak lagi penting untuku, karna Fany sudah berada di tempat paling aman bersamaku.


Hanya saja untuk memberi efek jera, dan menebus dosa, pelaku harus tetap dihukum!

__ADS_1


***


Jam menunjukan pukul lima sore, aku mengetuk rumah, tapi tidak ada balasan, apa Fany sedang pergi atau tertidur?


Aku kembali mengetuk untuk yang kedua dan ketiga kali, masih hening.


Beralih kugedor pintu samping, tidak dikunci, aku langsung masuk lewat dapur, tidak ada Fany.


Ruang tengah, ruang tamu, kosong.


Aku buka pintu kamar, sepi!


Fany di mana?


Aku coba hubungi gawainya, ternyata ada di atas nakas.


Apa Fany ada di kamar mandi?


Tapi nampaknya sepi, biasanya kalo Fany di kamar mandi pasti nyalain kran air.


Tapi coba saja, aku membuka pintu kamar mandi, dan mencium bau anyir, spontan aku dibuat kaget, ada sosok yang tergeletak di bawah, dengan darah hampir memenuhi lantai kamar mandi.


"Ya ampun apa yang terjadi?" Tanpa pikir panjang aku langsung membawanya ke rumah sakit.


***


Sampai di sana perawat langsung memindahkan Fany dengan brankar menuju UGD, perawat itu termasuk, Irfan!


Aku cemas menunggu di luar dengan baju penuh bercak darah.


Tak lama ada perawat datang membawa informed consent, aku disuruh menandatangani surat persetujuan tindakan oprasi, aku langsung mengiyakan.


Cukup lama aku menunggu, pintu ruang oprasi terbuka, Dokter beserta perawat semua keluar dan Fany juga di pindahkan lagi ke ruang rawat.


Fany masih belum siuman, aku pergi sebentar untuk membeli baju ganti dan ke ruang dokter.


Aku menemui dokter, menanyakan keadaan Fany sekarang.


"Maaf sekali pak, janin yang ada dalam rahim istri bapak tidak bisa diselamatkan, ketika di bawa ke sini janin sudah meninggal di dalam," terang dokter.


Aku masih tidak percaya,apa yang sebenarnya terjadi?


"Saya menemukan istri saya di kamar mandi sudah pingsan dan berlumur darah dok." Aku mencoba menceritakan.


"Kemungkinan istri bapak terjatuh dan mengalami benturan keras di area perut, sehingga terjadi goncangan pada janin dan terjadi pendarahan hebat," kata dokter.


Cukup lama kami berbincang, aku kembali keruang rawat Fany. Saat aku berdiri di ambang pintu, aku lihat dia sudah sadar dan ada Irfan di sampingnya sedang membenarkan selang infus.


Tatapan mereka bertemu, seolah sedang berbicara dalam diam.


Aku tak menyangka Fany memeluk Irfan dengan tangis seolah sangat rindu.


Begitu juga dengan Irfan membalas pelukan dan mengecup kening Fany, ada tetesan air mata di antara mereka berdua.


Aku masih berdiri mematung, ternyata di sini aku yang jadi pihak ketiga!


"Tenanglah Fan, semua akan baik-baik saja," kata Irfan.


Harusnya aku yang di sana Fan, memeluk dan mengatakan itu!


Tangis Fany semakin kencang, begitu juga hatiku yang serasa panas seolah terpanggang!


Pelukannya semkin erat, seperti lilitan di dadakau yang semakin menjarat!


Jerit Fany semakin terisak, membuat nafasku terengah, semakin kuhirup semakin sesak!


***


Aku memilih berbalik, berjalan gontai dan terduduk di kursi tunggu. Serasa tak memiliki aliran darah. Hanya ada sesak di dalam sini. Hati yang seharusnya jadi tempat penampung rasa paling luas, tempat yang tak memiliki sisi dan tutup, harusnya menampung rasa tak terbatas. Nyatanya aku merasa sempit , penuh dengan satu rasa, yaitu sakit!


Kau hebat Fan! Mampu membuat dua pejantan menjadi pecundang!


Di mana tersakiti tanpa bisa berpaling.


Tak terasa ada tetes hangat yang terjatuh.


Aku masih menunggu dua insan yang sedang berbalas rindu.


Sedang aku hanya mampu menahan gejolak antara sakit, emosi dan pasrah!


Cintaku bertepuk sebelah tangan,

__ADS_1


Aku terlalu optimis bisa mengubah hati. Tapi nyatanya cinta itu tetap tidak bisa dipaksakan.


Apa aku harus merelakan? Sedang langkahku terhenti di satu hati, cinta ini terlalu kokoh untuk bertahan.


__ADS_2