Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 10


__ADS_3

"Kasih k u terima, jangan keseringen senyum Mas, lalat lewat juga bisa naksir tau," selorohnya, lalu menarik tanganku masuk mobil.


***


Akhirnya kita memutuskan untuk pulang.


Aku pun tidak mampir ke rumah sakit. Aku memilih langsung pulang untuk mandi dan berganti baju. Kurasa Fany akan baik-baik saja, toh ada yang ku suruh merawatnya.


Aku merasa sudah segar kembali setelah mengguyur seluruh badan dengan air hangat. Aku mengambil gawai di atas nakas, mengechek siapa tau Fany mengirim pesan, tapi nihil, hanya ada beberapa pesan grup dan panggilan tak terjawab dari Herman. Tadi memang sengaja HP ku matikan.


Setelah mandi dan bersiap aku menuju rumah sakit menemui Fany.


Aku mengetuk pintu dan membukanya, tampak dia sudah bisa berdiri di dekat jendela dan memandang keluar.


"Ehem, kamu udah bisa jalan Fan?" tanyaku.


"Ehh iya Mas, kamu ke sini?"


"Iya, tadi pulang dulu."


Aku menghampirinya melihat keluar jendela, nampak di atas banyak bintang berkelip-kelip.


Fany menatapku dari atas hingga bawah, ntah apa yang dia pikirkan.


"Seharian kamu di kantor Mas?" tanya Fany membuatku gugup.


"Mmm iya, kenapa emang?" Aku menjawab tak jujur.


"Oh gak papa, aku rasa kamu sibuk banget hari ini, aku kira tadi siang kamu bakal ke sini," balasnya menoleh dan tersenyum.


Senyumnya masih terasa menyakitkan untuku, mengingatkan akan pelukannya untuk Irfan.


Kalau memang kamu masih memiliki rasa untuknya kenapa sampai sekerang tidak mencoba cerita dan berkata jujur tentang hal itu Fan?


Aku memegang lengan Fany membuatnya menghadap tepat ke arahku.


"Katakan sejujurnya, kamu memiliki rasa untuku atau tidak Fan?"


Fany terdiam membalas tatapanku, tapi tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya.


Aku mencoba menelisik lebih dalam pada bola matanya, tapi aku tak sanggup membaca apapun!


"Mas cinta itu butuh waktu, jangan terlalu memaksakan sebuah hati harus mencintaimu, aku tak sanggup jika harus terburu!" jawab Fany kemudian.


"Baiklah, butuh berapa lama lagi?" Kali ini aku menginginkan jawaban yang pasti!


"Aku tidak bisa menjawab itu sekarang Mas, tapi aku berjanji jika kamu masih menginginkan kita bersama, aku akan berusaha mencintaimu."

__ADS_1


Aku beraalih dari pandangannya, membuka jendela dan menatap ke atas langit.


"Baik, aku pegang janjimu, tapi jika kamu buat aku kecewa lagi, aku yang akan mengakhiri ini," kataku tegas.


"Maafin aku Mas, selama ini selalu membuatmu sakit."


"Aku ingin, mulai sekarang jangan pernah lagi bertemu dengan Irfan!" pintaku.


"Iya Mas, aku akan coba menghindarinya," lirihnya, seolah berat melakukan itu.


Aku membawanya kepelukanku, mencoba memaafkan dan memulai hubungan ini dengan baik, aku juga akan katakan yang sejujurnya pada Sherly.


***


Hari ini adalah awal yang baru untuk hubunganku dengan Fany.


Aku mencium keningnya sebelum berangkat ke kantor, menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya dan mencuit hidungnya.


"Kabari aku jika hari ini sudah boleh pulang ya," pintaku sambil menutup pintu, Fany membalasnya dengan anggukan.


Sampai kantor aku melakukan aktifitas seperti biasa, menekuri satu per satu map yang menumpuk dan berkeliling pabrik hari ini.


Sebenarnya aku sedang menunggu Sherly, jika hari ini dia datang, aku akan berkata jujur. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda dia akan ke sini, dan aku enggan jika harus meminta bertemu.


Dreett ... drett ... drett, gawaiku bergetar menandakan ada panggilan masuk, ku lihat nomor baru yang kemarin. Aku langsung menggeser tombol terima.


Terdengar suara dari sebrang sana.


"Apa ada kabar terbaru?"


"Iya Mas saya bawa kabar baik, pelaku pelecehan sekaligus pemerkosaan sudah ditemukan."


"Siapa pelakunya?"


"Ternyata benar dugaan anda, pelaku itu adalah dukun yang di suruh mengobati si anak sama pihak keluarga, dukun itu tertangkap basah saat melakukan pengobataan justru menggauli korban, dan pelaku mengaku kalau pelecehan yang terjadi di sawah juga perbuatannya."


"Lalu?"


"Sekarang dukun itu sudah di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan lebih lanjut, karna kemungkinan korbannya sudah banyak. Termasuk maaf ... istri anda. Pelaku melakukan aksinya dengan cara membius atau menghipnotis korban terlebih dahulu, sehingga banyak korbannya tidak sadarkan diri, dan lupa akan kejadian."


"Oke, kamu pastikan jika memang Fany termasuk ke dalam daftar korban pemerkosaan, suruh polisi merahasiakan identitas Fany. Jangan sampe ada orang luar tau, apalagi warga situ, kamu mengerti?"


"Baik Mas, saya akan melakukannya segera!"


"Bayaranmu akan kutransfer hari ini."


"Terima kasih, Mas."

__ADS_1


Telefon langsung kumatikan, aku sedikit lega jika pelaku sudah ditangkap.


Tapi aku akan merahasiakan ini dari Fany, jika dia tau aku takut psikologisnya akan terganggu, apalagi dia baru kehilangan janin di dalam kandungannya.


Ada bunyi ting dari gawaiku, satu pesan masuk dari Fany, aku langsung membukanya.


[Mas hari ini aku udah boleh pulang]


[Baiklah nanti aku jemput, kamu berkemas dulu ya]


[Iya Mas]


Senyumku kembali merekah, sepertinya hari ini, hari terbaik di mana semua kabar yang ku terima membuatku senang.


***


Sebelum aku menjemput Fany ke rumah sakit, aku mampir ke toko bunga, satu ikat bunga mawar merah menjadi pilihanku. Aku mencium harum bunganya segar, tak lupa aku selipkan kertas berwarna pink berbentuk hati, dan kutilskan sesuatu di sana.


Aku bergegas menuju rumah sakit, sampai di sana kupercepat langkah, tak sabar lagi ingin bertemu.


Kubuka pintu, tampak Fany sedang duduk bersandar di ranjang pasien, sepertinya semua barang sudah di kemas. Fany juga sudah berganti baju.


Aku menghampirinya menggenggam seikat bunga yang ku sembunyikan di belakang punggung.


"Ehem, kamu udah siap?" tanyaku, Fany tersenyum ke arahku. Wajahnya masih sedikit pucat.


Dia mengangguk, aku berdiri di sampingnya, memberikan bunga yang mewakili perasaanku. Fany mendongak ke arahku, matanya memancarkan binar. Aku tersenyum dan membelai rambutnya.


"Terima kasih Mas," lirih Fany, menerima bunga, dan mencium harumnya, dia tersenyum dan menyenderkan kepalanya ke pinggangku.


"Aku udah selesein semua urusan di sini. Ayo ... kita pulang ke istana," ajakku membuatnya tertawa.


Aku mengambil tas jinjing berisi barang milik Fany.


Kita berjalan keluar, aku menggandeng tangan kirinya.


Tak di sangka kita berpapasan dengan Irfan yang sedang mendorong brankar dengan pasien di atasnya, mungkin korban kecelakaan karna aku lihat sekilas, berlumur darah.


Aku tau Irfan berhenti sejenak melihat ke arah kami.


Tak kuhiraukan, aku menoleh ke arah Fany, sepertinya dia tidak sadar dengan ke hadiran Irfan, Fany tetap berjalan dan sesekali melihat bunga di tangan kanannya. Aku berhenti, lalu mengangkat tubuh Fany ke dalam gendonganku.


"Ihh turunin Mas, aku bisa jalan sendiri." Fany membrontak, tapi aku tetap tak menurunkannya.


Sampai di mobil, Fany mencubit lenganku seolah tidak terima.


"Malu tau Mas, banyak yang ngliatin," protesnya cemberut, yang ku balas dengan mencubit hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2