Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 16


__ADS_3

Aku masih berdiri mengusap wajah dengan kasar, sedang Sherly berjongkok menundukan kepalanya dan menangis.


Aku memegang pundaknya, agar dia berdiri.


"Oke, aku akan pura-pura jadi pacar kamu, tapi kamu harus janji jangan sampe ada orang lain tau apalagi istriku." Ntah lah, aku memang paling lemah jika harus berhadapan dengan air mata wanita!


Sherly mengangguk tanda menyetujui. kita kembali ke meja dan melanjutkan percakapan bersama keluarga Sherly.


Cukup lama, jam sudah menunjuk angka sebelas, aku pamit pulang pada mereka.


***


Jalanan cukup lengang mungkin karna sudah malam. Aku membuka gawai ada pesan dari Fany, di situ tertera 21.45 WIB


[Oh iya Mas] pesannya.


Aku melajukan mobil dengan kencang, agar cepet sampe.


Dari luar tampak lampu ruang depan mati. Mungkin Fany sudah tidur. Aku langsung masuk kamar tapi tak kutemui dia, beralih ke ruang tengah ternyata Fany tertidur di sofa.


Aku memindahkannya ke ranjang, dan bergegas mandi air hangat. Rasanya badan ini lengket dan kisut meski rasa meriang tadi pagi sudah lumayan membaik.


Air yang mengalir terasa segar membuat pikiran yang tadi ruet jadi fress kembali.


***


Aku duduk di tepian ranjang memandang wajah Fany yang tertidur lelap. Tapi ... tunggu ada yang berbeda, sepertinya Fany tampak sangat cantik malam ini. Wajahnya sedikit terpoles, apa dia memakai riasan? Aku mencoba mendekat sampai hembusan nafasnya kurasakan, dan mengamati lebih intens ke bibirnya yang tampak lebih merona. Aku tersenyum tipis, apa mungkin dia berdandan untukku?

__ADS_1


Aku berbaring di sampingnya membuat telunjukku berjalan di keningnya turun ke hidung dan berhenti di tempat kenyal itu. Sampai membuatnya terbangun, matanya mengerjap, sedang tangannya menyentuh telunjukku yang masih berada di bibirnya.


Kesadarannya nampak utuh, dia langsung bangkit terduduk dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Kamu udah pulang Mas?" tanyanya masih menutup wajah.


Lagi-lagi aku dibuat geli akan tingkahnya , malu-malu kucing!


Aku ikut duduk dan memegang dua tangannya, membuat wajahnya tak terhalang.


"Kamu cantik Fan." Dia menunduk, dan aku membuatnya menghadapku. Tak ada rasa canggung atau penolakan kali ini. Aku berhasil mendaratkan ciuman di bibirnya, kurasa dia mulai merespon dan ikut dalam permainanku.


Malam ini terasa begitu menggairahkan meski hajat belum tuntas karna terhalang ... tapi ciuman dan pelukan sudah cukup kali ini, tenang masih ada malam-malam berikutnya!


***


"Boleh dong, kenapa? kamu pengen ke sana? kapan-kapan aku ajak deh," balasku.


"Mm ... ya akhir-akhir ini suka bosen di rumah, pengen main ajah liat ke situ."


"Ohh ini ... kamu bisa kapan ajah ke situ, bilang ajah udah ada janji sama aku." Aku menyodorkan kartu nama yang berisi alamat.


Aku berangkat, meninggalkan Fany yang berdiri di ambang pintu.


***


Fany duduk di ruang tengah tangannya tak henti-henti memencet tombol remot, ntah mengapa semua tayangan di tivi serasa membosankan untuknya.

__ADS_1


Dia pun berfikir untuk pergi keluar, sekedar berjalan-jalan menghirup udara segar.


Fany sudah bersiap dengan rambut dikucir, baju kaos panjang warna toska dan celana jeans tak lupa tas kecil dia slempangkan ke pundak.


Fany mengeluarkan sepeda yang berada di garasi, lalu mengayuhnya menuju kantor Mas Ben. Cukup jauh karena menggunakan sepeda.


Hampir satu jam perjalanan dia sampe di tempat tujuan. Sepedanya berhenti tepat di depan gedung Toko yang cukup besar memurut Fany.


Dia masuk, memperhatikan sekeliling, pengunjung tampak sepi, mungkin karna jam makan siang. Sedang karyawan tetap menjalankan tugasnya. Fany melangkah menghampiri kasir dan bertanya tentang Mas Ben, tapi tiba-tiba ada gadis masuk memakai dress pendek warna pink, rambut merah diikat bawah, simple tapi cantik. Fany tak berkedip memperhatikannya. Sedang gadis itu melangkah sambil menyapa karyawan yang ada. Fany penasaran dan bertanya pada Mbak kasir di depannya.


"Mbak, kalo yang itu siapa?" Telunjuk Fany mengarah pada gadis itu.


"Mm ... dia sering ke sini Mbak sepertinya pacarnya Mas Bos," jawaban Mbak kasir tadi sontak membuat Fany kaget, berasa ada yang teremas di dalam dada. Fany melangkah ke ruangan Mas Ben memastikan sesuatu. Sampai di depan pintu dia berhenti, menarik gagang pintu dengan pelan dan membukanya sedikit, tampak di dalam ... benar ada Mas Ben bersama gadis itu. Fany menutup mulut karna ternganga melihat gadis itu mencium Mas Ben! Fany berbalik dan pergi, dia merasakan segenggam merah berbentuk hati yang selama ini terjaga kini seolah jatuh dan hancur berkeping!


Fany berlari keluar, menyambar sepedanya dan mengayuh dengan kencang. Tak terasa bulir bening jatuh terhempas angin. Dia terus mengayuh dan sesekali tangannya mengusap pipi yang basah.


Sampai di sebuah taman dia berhenti, menuntun sepedanya menyusuri jalan setapak, banyak sekali bunga warna-warni bermekaran.


Pandangannya tertuju pada danau di ujung sana lalu mendekat.


Sepedanya ia sandarkan di dekat pohon, lalu berjalan mendekat ke tepi danau.


Matanya terpejam, bibirnya mencoba menyunggingkan senyum meski terasa hambar, sedang tangannya terlentang seolah sedang menghadang angin. Dia rasakan angin membuat anak rambut menari.


Ntah ... hanya hal seperti itu tapi membuat Fany merasa sedikit tenang, masalah yang dia alami seolah menjadi seperti kapas terbang terbawa angin ... ringan!


Pikirannya melayang pada kenangan masalalu bersama Mas Ben, dulu mereka selalu bermain bersama, Mas Ben bisa menjadi sosok Kakak, sahabat, teman, juga ... cinta Pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2