Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 2


__ADS_3

Pikiranku melayang, terlintas kejadian tiga bulan lalu, dimana Fany diolok olok warga kampung karna hamil diluar nikah.


Sebenarnya sampai saat ini aku masih belum tau, siapa yang menghamili Fany. Fany masih diam dan enggan bercerita.


Kalian mau tau bagaimana bisa aku menikahinya? Ku rasa itu terjadi begitu saja.


Fany adalah anak mbok Lastri, beliau seorang buruh yang bekerja di kebun pisang milik si Mbahku di kampung.


Rumahnya pun diujung gang melewati Kebun Pisang si Mbah, dan dekat dengan sawah. Bisa di bayangkan suasananya sangat sepi dan surup.


Enam bulan lalu aku pulang ke kampung, berniat untuk menemani si Mbah diusia senja dan mengembangkan perkebunan pisang miliknya, sebenarnya tidak terlalu luas, tapi hasilnya cukup lumayan.


Setelah tiga belas tahun kutinggal pergi mengikuti ayahku ke kota.


Kampung ini sudah sangat berubah, mulai dari rumah warga yang dulu memakai kayu dan berbentuk joglo, sekarang semua bangunan memakai semen dengan gaya rumah modern. Jalannya pun sudah sangat bagus, bukan lagi batu krikil yang bercampur tanah.


Bukan hanya suasana kampung yang sangat aku rindukan, tapi gadis kecil yang terpaksa harus ku tinggalkan, dialah Fany. Yang sekarang menjelma menjadi gadis dewasa dan cantik.


"Fan, kamu Fany kan?" tanyaku antusias, setelah tiga belas tahun berlalu aku masih mengenalimu, yah senyum manis itu hanya kamu yang punya.


Fany sontak kaget, saat ku dekati dia sedang bekerja di Kebun si Mbah. Fany membuka tudung dikepalanya dengan ekpresi entah, menatapku dari atas hingga bawah.


"Kamu siapa?"


"Ini aku Fan, kamu lupa? Aku Mas Benny, cucu Mbah Dirjo, kamu ingetkan dulu kita sering main bareng di sini?" Aku coba menjelaskan barangkali dia masih mengingatku.


"Oh, cucu Mbah Dirjo, yang dari KOTA itu, maaf aku lupa." Fany pergi begitu saja dengan nada bicaranya yang sedikit ditekan. Aku tau ekspresinya langsung berubah.


Aku masih menatap punggungnya yang berjalan menjauh dariku menuju saung tempat para buruh lainnya beristirahat di tengah perkebunan. Sejak saat itu kami sering bertemu, aku yang bertugas menggantikan si Mbah mengawasi para buruh dan Fany menjadi tersangka yang ku awasi, ehh maksudnya mengawasi pekerjaanya.


Waktu itu sikapnya masih cuek padaku, bahkan setiap bertemu dia enggan untuk menyapa. Tapi aku tau dia masih Fany yang periang, tomboy dan manis dari interaksinya bersama pekerja lain.


Hanya saja itu tidak berlangsung lama, karena setelah satu bulan aku tinggal di kampung, Fany mulai berubah, dia sering menyendiri dan tampak pucat. Sampai suatu ketika dia pingsan di perkebunan,sontak membuat pekerja lain kaget.


Rumah sakit disini jauh, jadi ada pekerja lain yang memanggil Bu Mantri untuk memeriksa keadaan Fany.


"Oalah Nduk, kamu ini kenapa to, ko iso pingsan gini?" Mbok Lastri cemas melihat Fany di bopong banyak orang ke dalam rumah, dan membaringkannya dikursi kayu.


"Tenang nggih Bu, biar saya priksa dulu." Bu Mantri memeriksa keadaan Fany. Dan sedikit lama memeriksa perut Fany, terlihat ekspresinya seperti bingung dan kaget.


"Kepripun Bu Mantri, anak kulo nggak apa-apakan?"


"Mm sepertinya, Mbak Fany ini..." Bu Mantri menggantungkan kata-katanya, Aku yang sedari tadi berdiri di ambang pintu bersama warga lain ikut menebak-nebak, apa gerangan yang terjadi.


"..." Bu Mantri mendekat ke Mbok Lastri dan berkata sambil berbisik. Mungkin agar kami yang di luar tidak mendengar.


"Nopo Bu? Nggak mungkin, anak saya nggak mungkin hamil diluar nikah, huhuhu." Mbok Lastri nampak syok dan menangis meraung-raung.

__ADS_1


Kami yang sedari tadi berada di luar kaget dengan tangisan Mbok Lastri, ada beberapa ibu yang masuk, memastikan apa yang terjadi.


"Gini loh ibuk-ibuk, sepertinya Mbok Lastri syok karena mendengar kalo Fany hamil." Satu orang ibu keluar membawa informasi yang sontak membuat yang lainnya kaget, aku masih tak percaya.


Aku masuk ke dalam untuk memastikannya.


Aku melihat Mbok Lastri yang menangis terduduk di tanah dekat kursi panjang dimana Fany di baringkan.


Bu Mantri mencoba menenangkan Mbok Lastri, sementara Fany yang baru tersadar nampak bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


Fany menatapku seolah olah bertanya apa yang terjadi, aku bingung dan beralih tatap ke Bu Mantri. Bu Mantri menganggukan kepala padaku tanda kalo yang diucapkan ibuk-ibuk di luar tadi itu benar.


Aku keluar, warga lain masih saja berkerumun di depan rumah dengan komentar sumbang yang saling menimpali.


"Apa benar Fany hamil?' ..'kira-kira siapa lelaki bejat yang menghamilinya?'...'tidak habis pikir Fany bisa berbuat zina, pasti dia di hamili pacarnya'..."


"Sudah diam, ayo semuanya bekerja kembali, bubar, Bubarr." Aku mengusir mereka agar cepat pergi bekerja kembali.


"Tapi Mas, kami ingin tau dulu siapa sebenarnya yang menghamili Fany," ucap salah satu warga.


"Kita bisa tanyakan nanti kalo situasi sudah tenang, sekarang kalian kerja kembali." Satu persatu warga yang menjadi buruh pekerja di perkebunan si Mbahku pergi beraktivitas kembali.


Aku masuk kembali memastikan keadaan, Fany menangis terisak, aku yakin dia sudah tau apa yang terjadi.


"Hiks hiks, Aku nggak mungkin hamil." Fany memukul-mukul perutnya seolah tak percaya.


Sedangkan Mbok Lastri sudah sedikit tenang duduk bersama Bu Mantri di kursi bersebrangan dengan kursi panjang Fany.


"Kamu tenang dulu Fan, jangan begini."


"Aku nggak mungkin hamil kan Mas, nggak mungkin." Dia masih terisak mencoba mengingat ingat apa yang pernah terajdi.


"Begini Mbak, ingat tidak tanggal berapa kamu haid?" Bu Mantri bertanya penuh selidik.


Fany mengingat-ingat, "Sekitar tanggal 2, bulan lalu Bu."


"Sekarang sudah tanggal 26, itu berarti kamu sudah telat haid hampir tiga minggu." Fany semakin terisak dan terlihat frustasi,mendengar perkataan Bu Mantri.


Sementara Bu Mantri pamit pulang.


"Saya perimisi pulang dulu Mbok, mas," ucap beliau berpamitan.


"Tunggu sebentar Bu biar saya antar," Aku tau rumah Bu Mantri cukup jauh jika harus berjalan kaki, sedangkan tadi beliau datang di jemput buruh pekerjaku.


Bergegas aku keluar, meninggalkan Fany, yang sudah sedikit tenang bersama Mbok Lastri.


***

__ADS_1


Semalaman aku tidak biasa tidur memikirkan Fany.


Berbagai pertanyaan masih bersliweran dikepala.


"Le, ayo ikut Si Mbah ke kebun, mbah pengin tilik kebun sebentar," ajak si Mbah pagi-pagi begini.


"Ohh nggih Mbah ayok, mau naik motor?"


"Jalan kaki saja Le, deket ini kok, Mbah sudah biasa," terangnya.


Memang jarak kebun dan rumah cukup dekat hanya menyebrang jalan raya dan masuk gang.


Aku berjalan bersebelahan dengan si Mbah, berbincang sedikt tentang perkebunan dan bisnis pemasaran Olahan Pisang yang aku kerjakan di kota.


Sesampainya kami di kebun, terlihat rumah Fany yang berada di ujung gang tampak ramai banyak warga yang menjadi buruh pekerjaku berkerumun di sana.


"Sebentar ya Mbah, aku kesana dulu." Aku menujuk rumah Fany, si Mbah hanya mengangguk mengiyakan.


"Ayo ngaku kamu hamil sama siapa?" Seorang warga menarik lengan Fany.


"iya, masa belum nikah sudah hamil...bikin malu kampung kita saja...ayo cepet ngaku!" Warga lainnya menimpali dan mengolok-olok Fany.


Sementara Mbok Lastri terlihat duduk tersungkur dibawah dan menangis terisak.


"Kalo tidak mau ngaku, kita bawa saja ke kantor desa, biar Pak Lurah yang mengintrogasi!" Seret salah satu warga.


Sedang aku berusaha menghadang mereka.


"Tunggu dulu, kalian mau kemana?" Aku merentangkan tangan mencoba menghadang.


"Minggir Mas, kita akan bawa Fany ke Balai Desa."


Salah satu warga menyeret paksa Fany.


Fany menangis dan menatapku, seolah menghiba minta tolong. Aku tidak bisa biarkan dia terluka. Aku menarik tangannya, melepaskan cengkraman tangan warga dari Fany.


"Jangan halangi kami begini Mas, kalo Fany tidak dipaksa dia tidak akan mengaku siapa Bapak dari anak yang dikandungnya."


"Kalau memang, kalian berbuat begini karena Fany hamil tanpa suami, biar aku, aku yang akan menikahi dan bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


"Tapi anak yang dikandungnya bukan anakmu Mas?" teriak warga tak setuju.


"Anak yang dikandung Fany ini anakku, aku yang menghamilinya," jawabku membuat semua warga terbengong.


Si Mbah datang dari arah belakang. "Apa yang kamu katakan Le? benar kamu yang mengahamili Nduk Fany?"


"Nggih Mbah." Aku hanya menunduk, aku tau si Mbah begitu murka.

__ADS_1


"******** kamu Le, bocah geblek, PLAKK!"


Satu tamparan mendarat di wajahku.


__ADS_2