Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 13


__ADS_3

# pov_Irfan


Aku sedang mendorong brankar kosong bekas untuk memindahkan pasien. Tapi secara kebetulan ada pasien baru yang datang dengan keadaan darurat, aku langsung berlari mendorong brankar ke pintu depan untuk memindahkannya ke ruang UGD, aku tak menyangka ternyata pasien itu Fany!


Dia dibawa dengan tubuh berlumur darah, bahkan bajunya basah seolah habis mandi air merah.


Aku ikut masuk ke ruangan membantu dokter menangani Fany.


Cemas, bingung, semua rasa tercampur menjadi satu. Kupandangi wajahnya yang terpejam. Bukan hanya peluh keringat yang menetes di dahiku, tapi tetesan hangat di ujung mata juga ikut turun.


Dokter memutuskan untuk mengoprasinya mengeluarkan janin yang sudah meninggal dalam rahim.


Aku tidak tau ntah apa yang telah terjadi padanya.


Yah, lagi-lagi aku putuskan untuk ikut masuk ke ruang oprasi membantu dokter juga untuk memastikan keadaan Fany, baik!


Semua persiapan sudah siap, termasuk lampu oprasi dan yang lainnya.


Dokter mengawalinya dengan derdoa, lalu melaksanakan tugasnya masing-masing, tugasku hanya sekedar membantu!


***


Operasi berhasil, semua berjalan sesuai perkiraan dokter, lalu Fany di masukan ke ruang rawat.


Selang beberapa jam aku masuk ke ruangan di mana Fany terbaring, tapi tak nampak ada suaminya di sana.


Aku pura-pura membenarkan selang infus yang tertancap di tangannya.


Fany sadar, dan menatapku dengan tatapan yang ntah, tak bisa ku artikan, aku membalas tatapannya. Tapi secara tak terduga dia justru menarik dan memelukku.


Aku tahu posisinya saat ini, pasti sangat hancur karena kehilangan buah hati.


"Tenang lah Fan, semua akan baik-baik saja," kataku mencoba menenangkan tangisnya yang semakin terisak.


Pelukannya semakin erat, aku bingung hanya bisa balas memeluk, dan mengecup keningnya. Maafkan aku Fan, telah lancang, tapi mungkin ini kesempatan terakhirku bisa dekat denganmu.


"Maafkan aku Irfan, kamu adalah sahabat terbaikku, tetaplah jadi sahabat agar tidak ada kata mantan di antara kita," bisiknya lirih.


Aku mendengarnya, perasaanku antara kecewa dan lega.


Ya, kecewa karena perasaan cintaku tak terbalas.


Tapi lega, karena dia masih menganggapku sahabat!


Lelaki yang menjadi suami Fany adalah Mas Ben, yah dia orang yang sangat kukenal sejak dulu. Orang selalu membuatku cemuburu saat kecil sampe sekarang!


Karna hadirnya selalu membuat Fany jauh dariku.


Sebenarnya aku tidak terlalu memaksakan cinta ini harus bisa memiliki, karna nyatanya perasaan memang tidak bisa dipaksakan!


Fany menganggapku hanya sebagai sahabat sejak dulu, lain dengan hatiku yang selalu berkata cinta.


Aku rela jika Fany lebih memilihnya, tapi sebelum aku pastikan Fany bahagia aku takan mundur sejengkalpun!


Aku pernah memergoki Mas Ben bersama wanita lain, berdua dan berpelukan itu membuat aku tak percaya kalo Mas Ben laki-laki baik. Bisa saja dia sedang menduakan Fany? Takan kubiarkan!


Aku membelai rambutnya, mencoba kembali menenangkan semua akan baik-baik saja dan hubungan kita pun akan kembali baik.


Aku menunggunya sampe tertidur kembali, lalu aku beralih keluar, namun langkahku terhadang.


"Jam delapan malam aku tunggu di Cafe deket sini," pinta Mas Ben, sekaligus seperti perintah bagiku!


"Baiklah, sepertinya kita memang harus bicara," balasku menyanggupi, lalu melenggang pergi.


***


Aku datang menepati janji untuk bertemu. Nampak lelaki duduk di pojok dengan memakai kemeja warna krem dan celana hitam, stylish dan rapih, melambaikan tangan. Gayanya sangat berbeda denganku yang lebih mirip seperti preman jika sedang tidak bertugas.


Aku duduk berhadapan dengannya.


"Langsung saja tidak usah basa-basi, aku ingin kau jauhi istriku!" Tatapannya tajam ke arahku.


"Kau tidak salah bicara? Boleh saja dia jadi istrimu di atas kertas, tapi hatinya masih miliku!" ucapanku untuk menggertaknya, meski sebenarnya Fany tidak memiliki rasa yanga sama!


"Hahh, hanya masalah hati! Cinta itu bisa saja luntur seiring waktu, karna aku yakin aku bisa menumbuhkan kembali rasa yang dulu pernah hilang di hati Fany!" katanya tegas.


Membuat hatiku seolah terkoyak, memang sejak dulu dirinya untuk Fany tidak pernah tergantikan, sedang aku hanya teman, nyatanya saat Mas Ben kembali Fany pun memilih untuk menjauh dariku meski aku sahabat terdekatnya!


"Omong kosong! Aku tidak akan melepaskan Fany untuk lelaki hidung belang sepertimu," tuduhku, karna aku melihat dengan mataku sendiri dia bermain di belakang Fany.


"Jaga ucapanmu, kau hanya salah paham, tidak ada apapun diantara wanita itu dan aku, kita hanya teman!" Dia membela diri.


"Mana mungkin lelaki berteman dengan wanita tanpa ada rasa, apalagi kau tertangkap basah memeluknya, tak usah mengelak, jujur saja, aku akan tutup mulut," ejekku sambil tersenyum sinis.


"Dasar bangsatt!" makinya, emosinya meluap, berdiri dan menarik jaketku.


"Ayo pukul saja kalau kau mau!" ucapku, seolah mengajukan pipi untuk di pukul. Yah, aku sengaja menantangnya!


"Brengsek!" Dia semakin tersulut dengan gaya tengikku, langsung saja satu pukulan mendarat, membuat darah menetes dibibir.


Masih belum puas dia menghujaniku dengan pukulan bertubi.


Dia lengah! aku membalas langsung mengenai perut, membuatnya tersungkur dan kubalas dengan beberapa serangan.


Kami saling serang, membuat pengunjung lain histeris dan ruangan brantakan.


sampai ada security datang untuk mengamankan, kami dibawa ke ruangan dan dimintai pertanggung jawaban!


Mas Ben menyerahkan beberapa lembar uang dan pergi. Sedang aku memilih duduk dan menatap security dengan tajam seolah mengancam untuk dibebaskan.


Security nampak gugup saat aku berdiri dan mendekat.


"Baiklah silahkan anda pergi saja," perintanya membuatku melenggang dengan tenang.


***

__ADS_1


Sejak saat itu aku tak di beri izin lagi bertemu Fany, bahkan saat Fany masih berada di rumah sakit yang sama dan di pindahkan ke ruang lain, pihak rumah sakit melarang keras jika ada yang menemuinya.


Sampai Fany sembuh dan di perbolehkan pulang.


Waktu itu aku sedang mendorong brankar pasien kecelakaan, aku melihatnya ... Fany digandeng dan satu tangannya memegang bunga, dia tidak melihatku tapi Mas Ben tau seolah ingin menunjukan kuasanya, langsung membopong Fany keluar.


Sedang aku harus cepat melaksankan tugas.


***


Pasien kecelakan sudah selesai di tangani, dokter menyuruhku untuk membawanya ke ruang rawat.


Sebenarnya keadaannya tidak terlalu parah, hanya ada beberapa yang lecet dan berdarah di kaki.


Segera aku pindahkan, dan membaringkannya di ranjang pasien. Kuperiksa lagi selang infus yang terpasang, lalu aku melangkah pergi.


"Kak Irfan! ... terimakasih" Aku seloah mendengar namaku disebut, aku menoleh kebelakang.


"Kau mengenalku?" tanyaku memastikan.


Dia hanya menggeleng dan menunjuk kartu identitas yang kukalungkan di leher.


Aku mengangguk tanda menerima ucapan terima kasihnya, lalu pergi.


Sebenarnya wajahnya tidak terlalu asing, tapi ntah pernah bertemu di mana kita?


Sorenya sebelum aku pulang, kembali masuk keruang pasien kecelakaan tadi. Aku melihatnya nampak dia tertidur, aku mengganti kantong infus yang sudah tinggal tetes-tetes terakhir.


Setelah selesai, aku ingin langsung pulang, tapi ada yang menarik tangannku.


"Tunggu kak," ucap gadis itu, mencoba duduk.


"ada yang bisa kubantu?" tanyaku.


"Mmm ... aku ingin ditemani," pintanya membuat keningku berkerut.


"menemani bukan tugasku, jadi maaf aku harus pergi," ucapku dingin.


"Aku mengenalmu!" seru gadis itu membuatku menoleh dan berbalik.


Dia tersenyum ke arahku, aku melangkah mendekatinya dengan bersedekap.


"Jadi kita pernah bertemu?" tanyaku memastikan.


"Pernah, kemarin kita bertemu," perkataanya seolah bercanda.


"Mmm ... sebenarnya tidak kak, aku memang mengenalmu, aku sering melihatmu kita masih satu tempat kos.


"Benarkah?" Aku masih mengingat-ingat.


"He.em, tempatku di kamar atas, mungkin kamu tidak pernah melihatku, aku baru masuk kuliah dan kost di situ tahun ini," jelasnya.


Aku mengangguk mendengar penjelasannya.


"Jadi tidak ada temanmu yang bisa kau hubungi untuk berjaga di sini?"


Sejak saat itu, hampir setiap hari kita bertemu dan aku menjadi pendengar yang baik. Dia periang dan mudah akrab, membuatku yang pendiam juga dengan mudah menerimanya.


***


[Irfan, kamu masih ada di Jakarta kah? iki Sarto sekarang di Jakarta, kapan hari kalo ada waktu main sini]


Satu pesan Whatsapp dari nomor baru kubuka. Aku menyunggingkan senyum, ternyata Sarto teman sekampung.


[Asiap ... kirim alamat bro, besok kalo libur aku langsung cabut!]


[Oke] Dia membalas diselingi screencshot alamat.


***


Hari ini tugas magangku di rumah sakit selese, aku memilih langsung berpamitan ke semua staff rumah sakit, dokter, dan semua orang yang ku kenal di sana.


Sepertinya aku juga harus menemui Nina, gadis yang kemarin kecelakaan itu.


Saat aku membuka pintu, nampak dia sedang berkemas.


"Loh ... kamu pulang hari ini Na?" tanyaku.


"Iya Kak, aku udah diijinin pulang hari ini, tumben kok gak pake seragam?" balasnya sambil melihatku.


"Hem ... hari ini magangku selese."


"Oh, jadi mau pamitan nih?"


"Tadinya sih gitu, ya udah yuk pulang bareng," ajakku memberi tumpangan.


"Emang boleh Kak? Kakak juga mau ke tempat kost?"


"Sebenernya sih mau ke kampus dulu, tapi gak pa-pa tek anterin dulu."


"Oke deh ... kalo Kak Irfan maksa," jawabnya riang.


Aku melajukan sepeda motor metik dengan pelan, sedang Nina membonceng di belakang dan terus mengoceh. Entahlah apa yang dia ceritakan kurang jelas kudengar karna memake helm, aku hanya mengangguk mengiyakan setiap celotehnya.


Setelah sampe, aku menurunkannya di jalan depan kost, lalu langsung cabut kampus.


***


[Hari ini aku libur, OTW ke situ] pesanku untuk Sarto.


[Oke ditunggu] Balasnya cepat.


Tak lama aku mencari alamatnya lewat GPS dan ketemu. Aku mengetuk pintu dan langsung dibukakan Sarto.


Kontrakan dengan satu ruang ukuran 4x4 meter, tidak terlalu luas, mungkin dia hanya tinggal sendiri.

__ADS_1


"Sehat Bro?" Sarto langsung menjabat tanganku.


"Alhamdulilah, Lu gimana? ko bisa di sini?" balasku sambil melangkah masuk.


"Sehat, ya gimana lagi di kampung sudah tak ada kerjaan menjanjikan," jawabnya sambil menyuruhku duduk di lantai.


"Jadi kamu sudah tidak bekerja di kebun Mbah Dirjo?"


"Nggak, meneh akhir-akhir iki perkebunan lagi krisis, hasil panen turun, otomatis gaji pekerja terpaksa di pangakas," terangnya.


"Loh ... kok bisa?"


"Iya, kayake ada yang jail, pohon pisang segitu akehe kok ya pada kena hama, banyak batange sing busuk, padahal tiap hari di rawat pekerja loh."


"Lalu nasib pekerja yang lain gimana?"


"Ya, ada yang tetap bekerja ada yang memilih keluar, anehe tunase iku dirusak, dibacoki berserakan nangndi wae," jelas Sarto sambil menghisap rokoknya.


Cukup lama kita cerita panjang lebar, sampe dia menyinggung soal Fany.


"Kamu udah pernah ketemu Fany?" tanyanya menatapku.


"Mmm ... dia udah nikah," jawabku singkat.


"Jadi kamu udah tau kalo dia nikah sama Mas Ben?"


Aku mengangguk, mengiyakan.


"Sebenere aku curiga kalo anak yang dikandung Fany itu bukan anak Mas Ben," kata Sarto seolah menuduh.


"Maksudnya?" Aku bingung dengan tuduhan Sarto.


"Iya jadi sebelum menikah Fany itu sudah hamil, dan yang lebih aneh sebelumnya Fany tidak pernah terlihat dekat dengan Mas Ben ataupun sekedar terpergok bertemu."


"Ya mungkin mereka berbuat di tempat lain," sanggahku asal-asalan.


"Masalahnya gini Bro, kamu ingat Fery? dia itu pernah cerita ke aku, pas lagi nyari rumput sore-sore di tanggul irigasi ... itu dia liat orang pake baju serba item di balik pohon Randu, ntah apa yang sedang dilakukan, Fery mengamati dari jauh, lalu orang itu pergi.


Nggak lama Fery mendekat, lah tiba-tiba ada Fany lari kaya orang ketakutan dari situ, rambutnya awut-awutan, ditegur juga tidak membalas palah lari makin kenceng nggak kaya biasake. Fery juga sempet liat di leher Fany ada banyak bekas merah, kaya orang habis itu ... ."


"Jadi kamu curiga Fany jadi korban pelecehan di situ?"


"Ya aku gak tau jelasnya sih, tapi si Fery tuh sempet lapor sama Bapakmu. Cuma karna keburu Mas Ben mengakui atau apalah aku ndak paham, semuanya ditutup, nggak ada lagi orang yang curiga ataupun bahas soal itu."


"Hem ... sekarang Fery masih ada di kampung?"


"Aku kurang tau, tapi kayaknya sih iya, dia kan punya Ibu yang lagi struk, adiknya juga masih kecil jadi nggak mungkin bisa pergi jauh."


Kalo memang Fany adalah korban pemerkosaan. Aku harus cari tau lebih dalam soal ini.


Fany berhak mendapat keadilan sekalipun sekarang keadaanya sudah baik!


Aku harus tanyakan sama Bapak, mungkin tau mengenai kasus ini jika memang benar Fery pernah melapor. Aku juga harus bertemu dengan Fery segera!


***


[Kak ... kamu mau kemana?] satu pesan Whatsapp dari Nina.


[Aku libur beberapa hari, jadi mau mudik bentaran]


[Oh, pantes tadi aku liat bawa ransel]


[Iya]


[Nggak ajak-ajak?]


[Ngapain! yang ada ntar Lu ngrepotin]


[Dih dasar, ya udah deh TiTi DJ ya...]


[Siapa TiTi DJ?]


[Garing banget si Lu kak, TiTi DJ ... maksudnya haTi-haTi Di Jalan, gituuuuu ... Huh]


Aku membalasnya dengan emotikon tertawa sampe menangis berjejer-jejer, lalu kumasukan gawai ke saku celana.


***


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Travel yang kunaiki turun di depan rumah.


Tampak di depan pintu Ibu sudah berdiri menyambutku dengan senyuman.


Aku langsung mendekat dan mencium tangan lalu memeluknya, sedang Bapak sudah berangkat ke kantor desa.


Aku memilih untuk istirahat dulu, sebelum nanti siang menemui Bapak.


***


Aku melajukan motor, siang ini begitu terik. Jarak kantor desa dengan rumah tidak terlalu jauh paling setengah jam perjalanan.


Motorku memasuki halaman Balai Desa, tampak di parkiran ada beberapa mobil berjejer.


Aku masuk, dan tanya ke pegawai desa, katanya Bapak ada di dalam ruangan sedang ada tamu.


Aku berjalan mendekat, tapi langkahku terhenti di depan pintu, tampak dari celah pintu Bapak sedang berbincang dengan tamunya.


"Anda tenang saja Pak, saya tau seluk beluk tentang perkebunan pisang itu, saya akan menyelesaikan dengan segera!" Aku menguping di belakang pintu.


"Baik kalo begitu, ini uang DP-nya, kalo ini cepet beres dan tahun depan tanah perkebunan itu sudah menjadi hak milik kami, anda akan saya kasih bonus sepuluh kali lipat dari ini." terang suara laki-laki di depan Bapak. Sedangkan wanita di sebelahnya nampak mengacungkan koper hitam berisi uang.


Aku beralih berdiri agak jauh dari pintu, saat dua orang tamu tadi akan keluar.


Aku mengamatinya seorang laki-laki paruh baya dengan memakai setelan jas hitam, rumbut botak di atas sedang di bawah rambutnya sudah mulai beruban, perawakannya tinggi besar seperti Bapakku.


Dan di sebelahnya berjalan seorang gadis cantik memakai kemeja maroon dan rok span pendek, rambutnya sebahu tergerai, agak ikal dan merah.

__ADS_1


Tunggu ... gadis dengan rambut merah itu, sepertinya tak asing bagiku. Yah, aku ingat, bukankah dia yang di Cafe waktu itu?


__ADS_2