Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 12


__ADS_3

"Bughhh .. . ." Satu pukulan talak, mendarat tepat di pipi kiriku.


"Jangan macem-macem Mas, aku pernah belajar pedang samurai!" seru Fany sambil menyilangkan kedua tanganya di dada.


'Gayamu lucu Fan, bikin gemes!' batinku meronta.


"Aw.." Aku mengaduh kesakitan, lalu melirik dan menyeringai ke arahnya.


"Kamu pernah belajar pedang samurai? Kalo aku punya pedangnya, mau liat?" selorohku, sambil mengusap pipi.


Fany gugup seolah takut, lalu menatapku dengan mode Siaga satu!


Aku menatapnya tajam, lalu berdiri dan semakin mendekat, membuat Fany bersender ke sofa tanpa bisa bergerak.


Kini jarak wajah kita tak lebih dari limacenti, bahkan nafanya pun bisa kurasakan.


Tanganku menyentuh pipinya, mengusapnya dengan lembut.


Fany memejamkan mata, ntah apa yang ada dalam pikirannya, tapi ini membuatku geli, tak mampu menahan tawa, langsung saja!


"Tok ... ." Satu jitakan mengenai sasaran.


"Aw ... Sakit!" Fany meringis kesakitan dengan tangannya memegangi jidat.


Sontak aku menutup mulut meredam tawa, Fany melirik dan mendorongku.


"Minggir!" serunya, lalu pergi keluar.


Aku masih tetawa terpingkal-pingkal, tak terasa handuk yang kupake melorot!


"Duh untung gak ada yang liat," gumamku, menengok ke arah luar, aman!


Bergegas membenarkan handuk dan membuka lemari.


Aku keluar kamar, menghampiri Fany yang asik nonton tv, drakor kayaknya.


"Ehem ... udah makan Fan?" tanyaku, duduk di sampingnya.


"Belum," jawabnya cuek.


"Emang gak laper?"


"Nggak!"


"Kamu marah?"


"Nggak!"


"Terus ... ?"


"Nih!" Fany menghadapku, menyibak rambut poninya, nampak ada bekas merah di jidat.


"Duh maafin, tak kira tadi gak kenceng," kataku penuh penyesalan dan mengusap jidatnya.


"Sakit tau!" Fany beralih mengadap layar tv, dan mengerucutkan bibir.


"Tapi di maafin kan?"


"Hemm ... " Fany hanya diam sambil bersedekap.


"Uluh-uluh gitu ajah ngambek," gurauku.

__ADS_1


Fany menimpuk kepalaku dengan bantal sofa.


"Oiya besok aku harus ke kampung Fan," kataku.


"Ngapain?"


"Mmm ... Cuma mau ngecek perkebunan, bentar doang kok. Malem berangkat siang tugas malemnya lagi, pulang. Jadi kamu di rumah ajah ya?" terangku.


"Emang kenapa kalo ikut?"


"Kamu kan belum sembuh Fan, udah di rumah ajah, besok aku suruh bi Ratmi yang dulu sering bantuin aku beberes di sini buat nemenin kamu."


"Iya deh" Fany mengangguk.


***


Besoknya aku ke kantor dan menyuruh Herman menghandle semua saat aku pergi.


Malam hari aku berangkat setelah semua siap, dan menitip bi Ratmi menjaga Fany. Aku berpamitan, berdiri berhadapan dengan Fany.


Aku menatapnya dalam, rindu ini sudah terasa meski raga masih bersama. Aku menangkupkan tangan ke pipi, agar wajahnya tak berpaling, bibirku mengecup kening, lalu melangkah pergi.


"Tunggu Mas!" Fany memanggilku, aku berhenti dan menoleh, dia berlari ke arahku, lalu dengan cepat mencium pipi!


Aku tersipu dibuatnya, kuusap bekas bibirnya lalu masuk mobil.


Sedang jantung ini masih berdegup kencang.


Aku memandang Fany dari balik kaca spion, masih berdiri di depan pintu bersama bi Ratmi.


Waktu satu hari harus cukup untuk memastikan semuanya!


Melaju dengan kecepatan kencang, menebus jalanan malam, rasanya begitu sunyi saat mobil ini sudah sampai setengah jalan.


Aku memilih berhenti sejenak di rest area. Berdiri dan bersandar ke mobil. Menghisap sepuntung rokok, menikmati setiap hisapan dan kepulan asapnya, mencoba membangun siasat dan rencana, semua sudah kupikirkan!


Bergegas aku melaju lagi, mengukuri jalanan memangkas batas, sesekali terlihat sesuatu yang kasap mata terasa nyata, semak-semak kadang seolah bergoyang ingin dipandang, membuat bulu kuduk berdiri! membuat nyali ciut.


Tapi tak kuhiraukan, toh ini memang jam tayang para demit, kalo ada yang nongol ya memang lagi bertugas, mungkin?


Aku yang salah malam-malam keluyuran, duhh mak, pen cepet sampe!


Aku menambah kecepatan, sampai depan rumah si Mbah.


Kampung masih sepi, hanya suara ayam yang mulai bersahut-sahutan, kutengok jam tangan sudah pukul empat pagi.


Aku langsung mengetuk pintu, si Mbah dengan sigap membukanya. Aku memilih langsung istirahat sejenak di kamar, sedang si Mbah berlalu ke belakang.


[Aku udah sampe Fan] satu pesan kukirimkan. Tidak ada balasan, sepertinya masih tidur.


Sudah jam enam pagi, setelah sarapan aku dan si Mbah langsung bergegas ke perkebunan sengaja datang lebih awal sebelum para pekerja masuk.


Aku mengamati satu per satu pohon pisang memang terlihat banyak yang batangnya mulai membusuk, ada juga yang daun pucuknya layu, dan yang lebih parah tunasnya dirusak. Kata si Mbah kemarin tunas-tunas berserakan seperti habis di bacok dengan sabit, tapi sekarang sudah di bersihkan pekerja. Tidak ada yang tau karena mungkin kejadiaanya malam hari, paginya baru ketahuan.


Aku foto semua tempat dan juga pohon pisang untuk lebih detail mengamati nantinya, aku harus tanyakan pada yang lebih ahli tentang penyakit itu, baru jika ada obatnya nanti, akan kukirim ke si Mbah.


Tak lupa kupasang camera CCTV di semua sudut. Dan satu lagi aku memasang di area pohon Randu.


Aku menyelesaikannya dengan segera, siangnya aku langsung pamit pulang ke si Mbah. Karna ada tempat lagi yang akan ku tuju.


***

__ADS_1


Sekarang aku berada di Lapas tempat dukun yang jadi kambing hitam Fery, di penjara.


Aku langsung masuk menemui petugas, dan menanyakan beberapa hal. Memang benar dukun itu berasal dari kampungku dan menjadi pelaku kejahatan seksual tapi semua korbannya adalah anak di bawah umur dengan kata lain dia itu Pedofil. Kurang ajar! Fery memang menipuku!


Untuk memastikannya lagi aku meminta bertemu dengan si dukun, petugas kepolisian memperbolahkan.


Ku amati setiap inchi, sama sekali tidak ada ciri seperti yang Fany bilang. Dukun ini memiliki tubuh yang kurus kering, rambut kriting gondrong, dan satu lagi kedua jari telunjuknya utuh!


Sial! Kalo Fery menipuku berarti ada kemungkinan dia tau pelaku sebenarnya!


Aku bergegas pergi, memilih memarkirkan mobil ke rumah makan. Yah, aku butuh energi sebelum nanti bergulat dengan Fery, aku harus memberinya pelajaran!


***


Jam sembilan Fery menyanggupi untuk bertemu di perempatan kota dekat Lapas.


Aku menunggunya lama, tapi belum terlihat juga batang hidungnya.


Jalanan di sini mulai sepi, pedagang kaki lima pun mulai bergilir satu per satu mendorong gerobaknya pulang.


Jam setengah sebelas, barulah nampak sesorang dengan memakai kaos hitam, jaket kulit, rambut pirang di tengah, sedangkan bagian pinggirnya botak datang menghampiriku. Penampilannya sungguh berbeda tidak seperti saat kutemui waktu lalu. Aku memberinya kepercayaan untuk masalah ini bukan tanpa sebab. Fery ini dulunya teman akrab waktu kecil dan salah satu pekerja muda paling giat si Mbah, aku kira bisa di percaya!


Dia melontaran kan senyum dan berdiri di hadapanku, aku bersedekap dan menatapnya tajam. Aku tau dia pasti sudah tau alasanku mengajaknya bertemu!


"Kau mau jujur atau ... ." Aku menggantungkan kata-kata sambil mendekat dan menarik kerah jaketnya.


"Sabar Mas bro ... ." Dia menepis tanganku, dan bergaya tengik!


"Katakan kau tau pelaku sebenarnya kan?" tuduhku.


"Kalau aku tau, apa kau mau membayarku lebih?"


"Kurang ajar! Kau mempermainkanku?" Aku mencengkeram kerah kaosnya dan memojokannya ke mobil.


"Ayolah ... aku butuh duit lebih, kalo kau mau tau, bayar aku tiga kali lipat dari yang kemarin!"


"Dasar keparat!" Aku menonjoknya.


Dia mencoba menepis, sampe akhirnya semua memuncak kita saling serang, adu tonjok dan tendangan.


Aku pun merasakan darah yang mengalir dari pelipis dan bibir.


Duel ini masih berlanjut selama dia tetap bungkam, kuhujani dengan serangan bertubi-tubi, berguling di aspal dan ...


Skak! aku berhasil mengunci pergerakannya.


Badanku menidih, dan tanganku mencengkram lehernya!


"Kau mau katakan atau mati!" ancamku tegas.


Dia hanya meringis, dengan darah segar mengalir di ujung bibir dan hidung.


Naas aku lengah!


Dia menodongku dengan pisau kecil yang ntah dari mana, dia arahkan tepat ke urat leher, aku mengangkat tangan tak lagi mencengkramnya, posisiku tidak aman saat ini!


"Srettttt ... ." Dia mendorongku dan satu sayatan di lengan kiri membuat darah memuncrat, mengalir ke bawah melewati ujung jari dan menetes ke tanah.


Aku melihatnya lari, mencoba berdiri tapi kubiarkan ******** itu hilang dalam gelap, karna saat ini nyawaku mungkin dalam bahaya jika terus mengejarnya.


Aku kembali ke mobil, mengobrak-abrik, tapi tidak kutemui kotak P3K.

__ADS_1


Sial ... ! aku tak membawanya.


Darah semakin deras mengalir, sedang aku tak menemui sesuatu untuk menahannya.


__ADS_2