Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 6


__ADS_3

Aku masih mengorek lebih dalam cerita si Mbah, karena ada kemungkinan pelaku adalah orang yang sudah merenggut kesucian Fany.


***


Pagi ini aku diajak si Mbah berkeliling perkebunan sebelum nanti sore pulang ke Jakarta.


"Kemarin ada yang nawarin bibit pisang Cavendish Mbah, katanya bibit unggul dari perkebunan NTF yang di Lampung itu," jelasku pada si Mbah


"Oh iya iya Mbah tau, Cavendish itu ya pisang Ambon Putih Le, tapi si Mbah memang belum pernah coba tanam."


"He,em Mbah, kualitas pisangnya bagus kalo dijual dipasaran harganya lumayan." Kami masih bicara seputar pisang, pisang beneran loh ya, bukan pisang yang ntu, ehh.


"Pisang Cavendish ini ya lebih terkenal merk Sunpride, pisang lokal tapi kualitas import, tapi si Mbah masih fokus sama pisang Kepok, dan pisang Raja soalnya ya kalo kita panen kan masuknya ke pemasok, buat di olah lagi, ya kaya pabrik olahan kamu itu. Belum bisa mengolah pisang segar langsung jual ke konsumen Le," terang si Mbah


Aku hanya mengagguk paham.


Cukup lama kita berjalan mengelilingi perkebunan dan bicara banyak hal. Aku memutuskan pamit ke suatu tempat.


Aku harus memastikan tempat Pohon Randu dan Pematang Sawah itu sekarang.


Tidak terlalu jauh aku berjalan hanya melewati perkebunan pisang, rumah Fany, Tanggul irigasi tempat di mana Pohon Randu itu tumbuh menjulang.


Yah aku yakin pohon ini yang di maksud Fany. Pohon yang dulu kita tanam bersama.


Aku tak mengira tiga belas tahun berlalu pohon ini sudah tumbuh begitu besar.


Mengapa dulu pohon ini yang kita tanam?


Filosofi tentang pohon Randu atau Kapuk adalah Ringan, aku berharap pohon ini bisa jadi simbol, apapun yang kita hadapi sebesar apapun masalah yang kita lewati, tidak akan memberatkan hati. Kita akan melewati semuanya dengan mudah dan ringan seperti kapas.


Begitu perkataanku pada Fany waktu itu.


Aku masih melihat ke penjuru arah, menelisik tempat kejadian mungkin ada sesuatu yang ku temukan, namun nyatanya zonk.


Aku beralih memandang ke persawahan di bawah tanggul nampak pematang sawah yang sekitarnya di tumbuhi pohon singkong,aku yakin itu tempat bocah SMP di temukan, tidak terlalu jauh dari pohon ini, hanya berjarak beberapa petak sawah saja.


Aku yakin pelaku kemungkinan orang yang sama. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Karna nanti harus balik lagi ke Jakarta. Lebih baik aku menyuruh seseorang untuk menyelidikinya.

__ADS_1


***


Setelah melihat tempat kejadian itu, sorenya aku dan Fany langsung pulang.


Dan hari ini aku memiliki janji bertemu Sherly, di Cafe biasa.


"Mas, disini," Sherly melambaikan tangannya ke arahku, dia duduk di meja pojok.


Aku menghampirinya dan duduk berhadapan. Entah apa yang ingin dia bicarakan, nampaknya serius.


"Begini Mas, langsung saja, aku nggak mau basa-basi lagi. Aku kira kita sudah kenal dan dekat cukup lama, dan aku nyaman sama kamu," Dia menatapku dan tangannya menggegam tanganku di atas meja.


Aku tersenyum ntah apa yang kurasakan, sebenarnya aku tidak kaget dengan pernyataanya. Hanya saja, aku menganggapnya teman biasa, tidak lebih!


"Maafin aku Sher, tapi bukankah kamu baru saja membatalkan pernikahan? Tak baik rasanya jika langsung menjalin hubungan baru." Aku tidak langsung menolaknya, hanya saja aku memberikan alasan.


"Hah," Dia menghembuskan nafas pelan, "jadi kamu masih belum sadar juga Mas? Kalo selama ini aku ada rasa sama kamu? Dan membatalkan pernikahan karna ingin bersamamu?" Matanya mulai berkaca, dan menatapku penuh permohonan.


Aku harus lakukan apa? Aku ingin menolaknya dan mengatakan sudah menikah, tapi aku takut akan sangat melukainya, dan aku juga belum siap jika kehidupan pribadiku terusik, apalagi Fany sedang hamil.


"Hem, begini saja Sher, kita jalani saja seperti biasa, aku siap kapanpun kamu butuhkan," ucapku.


Tatapanku beralih melihat ke penjuru ruangan, dan tepat di dekat pintu sana, ada seseorang yang berdiri melihatku dengan ekspresi penuh benci. Yah aku mengenalnya dia Irfan, memergoki kami berdua. Aku langsung melepaskan pelukan Sharly dan salah tingkah, sedang Irfan beralih pergi.


***


Malam ini begitu hening, aku berdiri menghirup udara segar di balkon atas, membuka kotak merah berbentuk hati, ada cincin putih melingkar dengan permata biru di tengahnya, pasti akan terlihat cantik jika kamu yang memakainya Fan.


Pernikahan kemarin terlalu mendadak, sampe aku lupa belum memberimu Cincin kawin.


Seandainya hubungan kita baik, pasti di sini jadi tempat paling sweet dimana kita bisa berdiri saling memeluk sambil melihat bintang yan berkelip-kelip bak pertunjukan alam yang menajubkan.


Aku membayangkanmu berdiri sambil tersenyum, rambut yang lurus tergerai melambai tertiup angin.


"Mas ben, ayo makan malam." Suara lembut itu mengalun terdengar indah ditelingaku.


"Mas ben, hey!" Aku tersadar ternyata suara itu nyata adanya.

__ADS_1


Fany menghampiriku dengan senyum menawan. Rasanya aku masih berada di alam hayal antara nyata dan tidak.


"Kamu udah makan Mas,?" Dia berdiri disebelahku dan memandang ke langit.


"Belum." Aku bingung harus mengatakan apalagi, tanganku memasukan kotak merah tadi ke dalam saku celana, sementara mataku tidak bisa beralih memandangnya.


"Hem ... ." Dia menarik nafas pelan, "di sini indah ya Mas? Akan lebih indah jika bersama orang yang kita sayang."


Aku tidak paham akan maksud perkatanmu, tapi aku ingin membalasnya 'Iya, dan orang yang ku sayang itu kamu,' tapi urung ku katakan karna kamu masih lanjut bicara.


" Kamu berhak bahagia Mas, berhenti ngorbanin segalanya buat aku," katamu tegas.


Dan aku merasa seperti di hantam di sini, di dada. Dada yang seharusnya melindungi hati, namun justru terhimpit dan aku merasakan sesak!


"Berhenti, jangan katakan itu lagi Fan," pintaku memohon.


"Kamu harus sadar Mas, kalo hadirku ini hanya menyusahkanmu, terlebih jika bayi ini lahir." Tatapanmu seolah menusuk dan mengusirku Fan.


Aku terdiam menatapmu lebih dalam, mencari pembenaran apa benar kamu ingin aku pergi?


"Aku tau sifatmu dari dulu Mas, kamu orang yang lebih suka menunggu, ketimbang harus mengatakannya terlebih dahulu," terang Fany seolah sangat mengerti tentangku.


"Tidak Fan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Biarkan kali ini aku egois! Aku hanya ingin kamu tetap bersamaku." Aku memegang pundaknya agar menatapku lebih dalam, melihat akan ketulusanku.


"Berjanjilah untuk tetap bersamaku, aku menerimamu juga janinmu, dan masalalu mu bersama Irfan, semua tak masalah bagiku," jelasku.


"Jadi Mas Ben tau tentang Aku dan Irfan?" tanyanya seolah tak percaya.


"Aku tau semuanya Fan, tentangmu dan Irfan hanya Masalalu." Aku tak berniat untuk mengungkitnya.


"Maafkan aku Mas, itu yang tidak aku suka darimu Mas, kamu terlalu banyak tau tapi lebih memilih diam! membuatku seperti orang bodoh!" tukas Fany, tanganya menyapu air mata yang mulai luruh.


"Bukan itu maksudku Fan, aku melihatmu bersama Irfan waktu di rumah sakit, aku tidak mengatakannya karna takut akan membuatmu tidak nyaman," terangku membawanya kepelukanku.


Fany hanya diam menahan isak, ntah apa yang dia fikirkan.


"Baiklah mulai sekarang aku tidak akan menunggu, aku hanya akan melakukan apa yang aku ingin, jadi izinkan aku ... ." Aku merengkuhnya dan mencium bibirnya yang nampak indah jika tersenyum, namun begitu menyakiti jika bicara, aku membungkamnya dengan kecupan bertubi-tubi.

__ADS_1


Fany masih terdiam, nampak bengong, sedangkan aku melingkarkan Cincin di jari manisnya.


__ADS_2