Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 4


__ADS_3

"Selamat tidur juga Fan," hanya kata-kata itu yang aku ucapkan.


***


Pagi ini cukup banyak antrean di Poli Kandungan. Kami duduk di kursi tunggu.


"Hemz, aku mau ke Toilet dulu Fan," kataku berdiri meninggalkan Fany.


Membasuh wajah, sedikit membuatku merasa lebih segar, hanya itu yang aku lakukan di kamar mandi dan bergegas kembali.


Dari jauh aku melihat Fany berdiri berhadapan dengan seorang perawat. Di lihat dari seragam sepertinya sedang magang di rumah sakit ini, karena seragamanya berbeda dengan perawat lain.


Penasaran aku mencoba mendekat, namun langkahku terhenti saat aku sadar ternyata lelaki yang memakai seragam perawat itu Irfan.


Aku duduk sambil bersedekap di kursi agak jauh dari mereka berdiri, tapi pembicaraan mereka masih cukup jelas di telingaku.


Kurasa mereka tidak menyadari keberadaanku karena ada tanaman hias menutupi di dekat kursi ini.


"Katakan Fan, benar kamu sudah menikah?" tanya Irfan tegas pada Fany.


Fany hanya mengaguk pelan, sambil memegangi perutnya.


"Jadi benar lelaki yang kemarin itu suamimu? Kenapa Fan? Kenapa kau lakukan ini padaku?" maki Irfan, lalu memegang pundak Fany. Dari tatapan matanya seolah sangat kecewa.


"Maafkan aku Irfan," lirih Fany seperti berbisik.


"Aku sudah bilang untuk menungguku, tak lama lagi Fan, hanya sampe aku dapatkan gelar Ners," Irfan berbicara, matanya memerah berkaca-kaca.


Aku lihat Fany lebih bisa mengendalikan situasi, dia masih berdiri dengan ekapresi datar.


"Maafkan aku, tapi aku tidak pernah berjanji untuk menunggumu. Mungkin ini takdir kita Irfan," ucap Fany, sembari melepaskan tangan irfan dari pundaknya.


Sementara aku masih duduk, serasa menyaksikan adegan drama live yang sukses membuatku cemburu. Hanya saja jika sekarang aku menghampiri mereka berdua, lalu adu tonjok dengan Irfan rasanya terlalu kekanakan. Aku memilih diam.


Tak lama nama Fany di panggil oleh perawat. Fany masuk meninggalkan Irfan.


Sedang Irfan masih berdiri di tempat.


Aku berdiri melangkah menuju ruangan tapi berhenti di depan Irfan.


"Sepertinya kau harus segera melupakan Istriku," tegasku, masih berdiri dengan bersedekap dan menunjukan senyum sinis.


Irfan hanya membalas dengan tatapan tak kalah sinis dariku, lalu melengos pergi. Tidak ada perlawanan, apalagi adu tonjok seperti yang kuharapkan.


Aku masuk keruangan dimana Fany berada.


***


"Di Rumah Sakit tadi, aku seperti melihat Irfan," aku berkata pada Fany sambil menyetir, memastikan jawaban apa yang akan dia ucapkan.


Fany tampak gugup membalas pertanyaanku," benarkah, kapan?"


"Mm tadi, mungkin saat aku habis dari Toilet," jelasku.


"Oh," balas Fany tampak enggan mengatakan apapun, atau memang ada yang di tutupi?


"Sepertinya Irfan seorang perawat, pintar, kaya, dan tampan, pasti banyak wanita yang menyukainya," aku sengaja mengatakan itu untuk menyindir, tapi kurasa Fany tampak datar saja.


Sebenarnya ada rasa panas dalam dada, aku ingin langsung marah dan mengungkap semua yang ku lihat tadi. Tapi apa daya, terlalu lancang rasanya bagiku mengatakan itu. Aku masih memilih diam.


***


Sampai rumah aku langsung tiduran di sofa ruang tamu.


Sedang Fany berjalan ke dapur.


Lebih baik aku tidur mengistirahatkan badan dan hati. Terlalu lelah bukan karna disakiti, tapi berjuang sendiri sebagai lelaki sejati, hiiks.


Masih saja aku belum mengerti tentang sikapnya, kadang kurasakan dia mulai menghangat lalu berubah tak acuh.


Tapi sudah lah, aku akan lebih berusaha mengerti, cara mana yang kau sukai untuk mencinta Fan?


Ya Tuhan ternyata aku se-Bucin ini.


Tak terasa, lama aku tidur. Aku bangkit dan kuusap wajah. Jam sudah menujuk pukul lima sore.


Bergegas aku ke kamar, ternyata Fany sedang memasukan beberapa pakaian ke dalam koper di atas ranjang.


"Maaf Fan, tadi ketiduran, kita berangkat agak maleman ajah ya?" tanyaku padanya.


"Iya Mas, gak papa, tadi aku sengaja gak bangunin kamu, keliatannya kamu capet banget," jelasnya membuatku merasa diperhatikan.

__ADS_1


Aku tersenyum, lalu masuk ke kamar mandi.


***


"Kenapa pake baju pendek Fan?di luar nanti mungkin udara dingin," tanyaku khawatir karena kita akan menempuh perjalanan jauh.


"Sejak hamil aku sering ngerasa gerah Mas, aku udah taroh selimut di jok belakang kok, kalo nanti dingin bisa pake," terang Fany, melangkah memasuki mobil.


Semua sudah siap, tidak banyak barang yang kami bawa. Memang niatnya selesai acara kita akan langsung pulang.


Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sambil memutar musik agar kami tidak bosan.


Fany lebih banyak diam dan memandang ke samping.


"Dan mungkin bila nanti kita kan bertemu lagi...


Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali...


Rasa yang kutinggal mati


Seperti hari kemarin saat semua di sini... ."


Begitu lagu selanjutnya terputar otomatis, aku menoleh karena Fany berdehem.


"Kenapa?" tanyaku polos, tak mengerti dengan arti tatapannya.


"Lagu itu cocok untukmu Mas," sindir Fany padaku.


Perkataanya seperti jarum yang menusuk, kecil tapi bikin perih. Aku hanya tersenyum hambar.


"Aku tidak akan tanyakan hatimu, mencintaiku atau tidak fan, tapi aku akan mengubahnya jika sekarang tidak harus menjadi iya, itu hanya masalah waktu," kataku penuh percaya diri.


Fany hanya menarik nafasnya seolah tak percaya.


"Aku pribadi yang mudah dicintai," candaku.


Aku menoleh dan mengedipkan sebelah mata untuk menggodanya.


Fany nampak jengah, menggelengkan kepalanya, dengan tatapan seolah aku ini orang paling aneh.


Aku kembali fokus menyetir, perjalanan masih jauh. Kita berangkat jam delapan malam, mungkin dini hari nanti baru sampai di kampung.


***


Aku berbelok dan berhenti di rest area untuk istirahat sebentar.


Sepertinya Fany lelah, aku tak membangunkannya hanya menyelimuti dengan selimut, karena udara malam begitu dingin.


Aku berdiri bersender ke mobil, dan menyalakan sepuntung rokok.


Suara denting terdengar dari gawaiku, menandakan ada pesan masuk.


[Mas, besok aku ingin bertemu.] pinta Sherly dalam pesan yang baru saja kubuka.


[Jangan besok, aku sibuk, lain kali saja], balasku singkat.


[Ih... Kamu mah...] Sherly membalas lagi dengan diselipi emotikon menangis berderet-deret.


Aku mematikan gawai, sengaja tak membalasnya lagi.


Setelah kurasa cukup, aku melanjutkan lagi perjalanan. Sedangkan Fany masih mengembara di alam mimpi.


***


"Kukuruyukk... ," terdengar suara Ayam si Mbah saat mobilku memasuki pelataran rumah yang sudah dipasang tenda seperti mau hajatan.


Sebelum pintu rumah diketuk, si Mbah sudah membuka pintu terlebih dahulu.


"Baru sampe Le? sini masuk," ajak si Mbah pada kami berdua. Kami bergantian mencium tangan si Mbah.


"Iya Mbah, ini gak salah mbah semua plataran dipasang tenda?"


tanyaku terheran.


Rumah si Mbah ini luas, apalagi ruang tamunya, kalo hanya mengundang orang sini kenduri untuk selamatan di dalam saja pasti muat.


"Loh pie Le?, aku ngundang uwong akeh sampe kampung sebelah," terang si Mbah, membuatku tercengang.


"Apa nda terlalu banyak, undang warga sini saja sudah cukup Mbah," ujarku.


Sementara Fany duduk diam di ruang tamu.

__ADS_1


"Niatnya Mbah, mau ngadain acara buat selamatan ngupati, sekalian sodakoh Le, sing tak undang uwong akeh, ben akeh sing ndongake," tegas si Mbah.


Aku hanya membalasnya dengan mengangguk, tidak bisa membantah lagi.


"Ya sudah, kalian istirahat dulu," perintah si Mbah pada kami.


***


Jarum jam menjuk ke angka tiga, masih terlalu pagi.


Aku dan Fany masuk kamar tengah, kamar yang selalu ku tempati saat pulang ke sini.


Kamar di sini tidak terlalu luas, begitu juga dengan ranjangnya.


Tapi selalu rapih, karena rewange si Mbah selalu ngerawat kamar ini meski kadang tidak di tempati.


"Istirahat dulu Fan, tidur di sini." Aku menepuk ranjang, agar Fany tidur di sampingku, dekat tembok.


Fany menurut meski agak ragu dia berbaring memunggungiku menghadap tembok. Udara di sini terasa sangat dingin.


Aku menoleh pada Fany, tangannya nampak mengelus-elus perut. Aku coba memberanikan diri memeluknya dari belakang dan memegang perutnya. Dia tidak membrontak hanya menolehkan kepalanya, seperti memastikan sesuatu. Aku tau apa yang dia maksud.


"Aku merasakannya, apa tadi gerakan dedek? Aku merasa seperti ada yang berkedut di perutmu?" tanyaku antusias padanya.


Fany membalas dengan senyum dan mengangguk pelan.


***


Seharian semua orang di sini nampak sibuk menyiapkan acara untuk nanti malam. Apalagi di belakang ramai sekali ibuk-ibuk membantu memasak untuk nanti.


Sedangkan Fany berada di kamar dengan si Mbok Lastri.


Tadi pagi si Mbok langsung datang kemari untuk menemui kami.


Aku sengaja memerintah Fany agar berada di dalam kamar saja dan jangan keluar. Aku hanya takut ada banyak orang di sini, yang kadang mulutnya masih asik ghibah tentang kami.


Acara di mulai jam setengah delapan malam, tapi jam tujuh sudah ada orang yang mulai berdatangan.


Benar saja, ketika semua sudah terkumpul, aku perkirakan ada tiga ratus lebih orang.


***


Selesai acara, semua orang yang ikut kenduri pulang, tapi ada beberapa dari mereka yang ikut membantu beberes di belakang.


Aku masuk ke kamar, tampak Fany sudah tertidur pulas. Aku menghampiri dan duduk di tepi ranjang, menyelipkan anak rambut yang menutupi pipinya ke belakang, beralih mengelus perut Fany yang mulai buncit membulat.


"Aku mencintai ibumu, dan berjanji bertanggung jawab atasmu, tapi saat kamu lahir nanti jangan terlalu berharap aku bisa menjadi Ayah yang adil untukmu." Gumamku pada si Jabang Bayi di perut Fany.


Aku pergi keluar, suasana nampak sepi, sepertinya semua orang di belakang juga sudah pulang.


Aku melangkah menghampiri si Mbah yang duduk di risban depan rumah. Nampak Beliau sedang asik menghisap tembakau dengan pipa cangklong membuat asap putih mengepul.


"Sini Le," ajak si Mbah agar aku duduk di sampingnya.


Si Mbah ini sekalipun usianya sudah memasuki tujuhpuluh tahun tapi badannya masih segar, lengannya pun tampak kekar. Tidak heran karena si Mbah tidak pernah mau diam, selalu beraktifitas tak jarang si Mbah ke kebun ikut mencangkul atau membabat rumput liar.


Aku duduk di sebelahnya, sembari menghisap rokok, mendengar si Mbah bercerita ngalor-ngidul tentang perkebunan dan yang lain.


Sampai pada pertanyaan yang membuatku tersentak kaget.


"Jawab jujur Le, sebenere Jabang Bayi sing mbok Fany kandut, bener anakmu?" tanya si Mbah menatap dalam ke arahku.


"Ehem...," aku berdehem, bingung antara harus jujur atau tetap berbohong.


"Wis ra usah mbok jawab, kui urusanmu karo bojomu," Si Mbah terdiam sejenak, "kamu tau Le, baru kemarin ada dua kasus pemerkosaan terjadi disini?" terang si Mbah.


Aku hanya membalas dengan gelengan kepala.


"Pertama gadis esih SMP, terus sing kepindo Randa anak siji," jelas si Mbah


"Lah gimana ceritanya Mbah? Pelakunnya udah ketangkep?" tanyaku penasaran.


"Ya belum, kasuse Randa kui lagi diselidiki polisi, katane ada kemungkinan sak belume dibunuh di perkosa, lah mong ditemuke nang umah wis wuda babrah," jelas si Mbah menggunakan bahasa campur aduk.


"Hemm, lah kalo yang anak SMP mbah?"


"Kasuse bocah iku, ditutup rak dilaporke polisi mergane kurang buktine, bocahe ditemuke nang pematang sawah esih nganggo rok sekolah, tapi klambine rak dinggo," kata si Mbah lagi.


Aku mengangguk paham,"kapan kejadiannya Mbah?"


"Sekitar seminggu lalu, bocahe ditakoni mung planga-plongo kebingungen, tapi warga curiga iku korban pelecahan."

__ADS_1


Aku masih mengorek lebih dalam cerita si Mbah, karena ada kemungkinan pelaku adalah orang yang sudah merenggut kesucian Fany.


__ADS_2