Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 11


__ADS_3

"Ihh turunin Mas, aku bisa jalan sendiri." Fany membrontak, tapi aku tetap tak menurunkannya.


Sampai di mobil, Fany mencubit lenganku seolah tidak terima.


"Malu tau Mas, banyak yang ngliatin," protesnya cemberut, yang kubalas dengan mencubit hidungnya.


***


"Udah kamu istrihat dulu Fan," kataku setelah sampai di rumah.


"Hem iya Mas, aku mau tidur di sini ajah," Fany berbaring di sofa ruang tv.


"Kamu mau aku rebusin telor, atau aku masakin yang lain?"


"Terserah ajah deh, yang penting jangan yang pedes-pedes," balas Fany sambil menyalakan layar tv.


"Oke, telor rebus, sayur bening sama goreng ayam ajah ya?."


"Emang bisa Mas?" Fany menoleh padaku yang masih berdiri di sampingnya.


"Liat ajah nanti." Aku berlalu ke dapur.


Aku memakai clemek dan menyiapkan satu per satu bahan yang akan dimasak. Sebenarnya kalo soal masak aku cukup jago, karna memang sejak dulu dilatih mandiri saat bareng ayah dan lebih mandiri lagi waktu kuliah, hiks.


Fany datang menghampiri, seolah memastikan pekerjaanku.


"Kamu bisa goreng ayam Mas? Ngga takut kena minyak?" tanyanya.


"Bisa dong, kan pake tepung nggak bakal meletup kok, udah sana kamu tunggu ajah," perintahku. Fany kembali lagi ke ruang tv.


Lumayan lama juga, akhirnya semua beres, tinggal beresin, tapi nanti ajah selese makan.


Semua masakan aku taruh di meja makan, lalu duduk menunggu.


"Ting ... ting ... ting." Bunyi dentingan piring dan sendok yang kupukul sukses membuat Fany datang tanpa kusuruh.


"Bersisik banget tau." Fany mengerucutkan bibir, lalu duduk di depanku. Aku membalasnya dengan tawa.


Fany memulai dengan satu suapan sayur bening, aku perhatian ekspresinya, sepertinya tidak ada hal buruk dengan masakanku.


"Gimana enak?" tanyaku antusias.


Fany menjawab dengan anggukan kepala. Kita kembali fokus ke makanan masing-masing, sampe tiba-tiba bunyi getar itu terdengar di atas meja.


Dret ... dret ... dret, panggilan masuk dari Sherly buru-buru kugeser tombok tolak. Fany hanya melirik.


Satu panggilan lagi membuat Fany menegurku.


"Siapa Mas? Angkat ajah, mungkin penting," perintahnya sambil berlalu membawa piring kotor dan mencucinya.


"Mmm ... temen," jawabku ragu, lalu berdiri beralih ke ruang tengah.


[Hallo Mas?] suara cempreng di seberang sana membuat kupingku agak pengeng.


[Iya ada apa Sher?]


[Ish ... dari kemaren kita kan ngga ketemu, emang Mas ngga kangen?]


[Ya udah besok ketemuan, aku juga mau ngobrol penting]


[Mmm ... Ngga bisa besok Mas, aku lagi di Bandung, satu mingguan lagi baru pulang]


[Tumben lama]


[Hehe ... Iya nih, lagi ada acara keluarga]

__ADS_1


[Kalo gitu aku ngomong lewat telfon aja ya? Sebenarnya aku mau jujur]


[Jujur apa Mas?] belum selese aku bicara Sherly memotongnya.


[Mmm ... anu ... Sebenernya aku mau jujur, kalo aku udah nikah Sher.] aku sedikit gugup mengatakannya. Lama kutunggu tidak ada sahutan dari nya.


[Hallo ... Sher, kamu masih di sana?] masih hening.


Kucoba melihat layar hp, duh ternyata lowbet! Sial!


Fany datang dari arah belakang dan menatapku penuh selidik, aku tersenyum kikuk, menggaruk kepala yang tak gatal.


"Bukan hal penting," kataku menyembunyikan rasa gugup.


***


Hampir seminggu setelah Fany keguguran aku lupa belum memberi tau si Mbah. Aku menelfonnya, cukup lama tidak diangkat. Aku coba ulangi lagi sampe ke empat panggilan baru diterima.


[Hallo Mbah, gimana kabarnya?]


[Alhamduililah apik Le, tumben telpon? Mbah lagi di kebon ini.]


[Hem ... gini Mbah, cuma mau ngabarin kalo kemarin kita habis kena musibah, Fany keguguran.]


[Innalilahi ko bisa Le?] Dari suaranya si Mbah nampak kaget.


[Iya Mbah, Fany terpeleset di kamar mandi.]


[Oalahh yo sing ati-ati Le, saiki Jabang bayine ws mbok kubur?]


[Udah Mbah, di pemakaman sini.]


[Oh ya wes, ntar Mbok Lastri tak kabari, sesuk tak bikinin acara tahlil di sini.] Kalo masalah kirim doa atau selametan pokoknya si Mbah paling gatol, nda bisa di bantah, aku yo terserah wes!


[Iya Mbah]


[Kok bisa Mbah? hama apa kira-kira?]


[Belum tau Le, tapi kayak Layu Bakteri, iki batange pada busuk. Lah anehe tunase kok ya banyak yang kena bacok!]


[Mmm ... Besok kalo aku lagi nggak sibuk banget di kantor, aku pulang sebentar Mbah, cek lokasi.]


[Iya Le]


Aku langsung pamit pada si Mbah dan mematikan telepon. Aku rasa memang ada yang aneh, jarang sekali kebun si Mbah kena hama, apalagi ini tunasnya dibacokin pasti ada pelakunya!


Aku jadi teringat tentang kasus pemerkosaan kemarin, jika pelaku sudah tertangkap dan Fany sudah dipastikan masuk dalam daftar korban, kenapa sampe sekarang tidak ada pihak kepolisian meminta Fany untuk bersaksi? atau sekedar dimintai keterangan? Aneh! Seperti ada yang janggal, apa aku ditipu?


[Halo ... ] Aku berusaha menghubungi seseorang yang kemarin kusuruh menyelidiki kasus itu.


[Iya hallo, ada apa Mas?]


[Tidak, aku hanya ingin memastikan uang yang kutransfer kemarin sudah masuk?]


[Oh ... sudah Mas terimakasih banyak]


[Jadi sekarang dukun itu sudah dimasukan penjara?]


[Iya benar Mas, tenang saja semua sudah beres, pelaku sudah diberi hukuman seberat-beratnya!]


[Bagus, sekarang dia dipenjara di mana?]


[Di Lapas kota terdekat Mas] sepertinya aku tau Lapas yang di maksud hanya ada satu di sana.


[Okeh] Aku langsung memutus sambungan telepon.

__ADS_1


Dasar keparat! Kau kira semudah itu aku dikibulin?


Aku harus tanya Fany lebih detail ciri pelaku yang Fany ingat!


***


Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, di sini adalah tempat paling nyaman untuk merilekskan badan.


Aku berendam di bathtub dengan air hangat dan shower yang sengaja kunyalakan. Airnya mengucur ke kepala dan pundak seperti memberi pijatan halus.


Cukup lama aku berendam. Berdiri mengambil handuk kulilitkan ke pinggang lalu keluar. Mengibas-ibas rambut yang basah seperti biasa.


Dan lagi! ada Fany duduk di sofa nampak kaget dengan kehadiranku, aku justru lebih kaget lagi!


Melihat bajunya digulung ke atas, memperlihatkan perutnya!


Fany reflek menutup baju ke bawah sebelum memperbaiki perban.


"Eh ... tunggu Fan jangan ditutup!" Aku menghampiri dan berjongkok di sampingnya.


Fany nampak gugup dan memegang ujung baju. Aku menarik bajunya ke atas, tapi dia membrontak!


"Apaan sih Mas, jangan ... !" teriaknya


"Buka!"


"Nggak mau!


Aku masih berusaha membuka bajunya.


"Awas!" Fany berusaha membrontak, dan hampir tendangannya mengenai, tubuh seksiku, ehh.


"Buka Fan! Kalo lukamu gak diperban lagi bisa kena gesek, infeksi!" Nada bicaraku sedikit meninggi, membuat Fany menatapku dan terdiam, pasrah.


Aku mencoba menggulung bajunya lagi ke atas, mencoba meredam rasa gugup, dan menelan saliva ketika melihat lekukan indah tubuhnya.


Kuperhatikan sesuatu itu, ehh ... maksudnya luka bekas cesarnya, sudah mulai mengering!


Jangan ikut ngeres gaes, berat! biar aku saja.


Aku mulai dengan membersihkan bekas luka pake larutan Nacl/antiseptik.


"Geli Mas!" Fany meringis, dan mencoba menepis tanganku.


"Diem, bentar doang ko!" Aku melanjutkan lagi.


"Kamu inget Fan ciri-ciri orang itu?" Aku bertanya tanpa menyebutkan sesuatu, aku yakin Fany mengerti akan maksudku.


"Mmm ... aku tidak ingat jelas Mas, aku jijik kalo inget itu," Fany memalingkan wajah.


"Please Fan, katakan kali ini saja?" Aku memohon.


"Aku hanya inget dia pake jaket serba item, topi, masker, tubuhnya tinggi dan tambun, mm ... Satu lagi ... Jari telunjuknya buntung, sebelah ... ," Fany melihat tangannya, mungkin sedang mengingat-ingat kembali.


"Mm ... Sebelah kiri kayaknya." Fany menatapku seolah ragu mengatakan itu.


"Oke, sudah selese." Aku menggulung kembali bajunya ke bawah sampe ujung masih kupegang.


Fany menatapku penuh curiga. Aku tersenyum jahil dan menarik ujung bajunya agar dia semakin mendekat ke wajahku.


Tapi refleknya sungguh tak terduga!


"Bughhh ... ." Satu pukulan talak, mendarat tepat di pipi kiriku.


"Jangan macem-macem Mas, aku pernah belajar pedang samurai!" seru Fany sambil menyilangkan kedua tanganya di dada.

__ADS_1


Gayamu lucu Fan, bikin gemes! , batinku meronta


"Aw.." Aku mengaduh kesakitan, lalu melirik dan menyeringai ke arahnya.


__ADS_2