Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 3


__ADS_3

Singkat cerita setelah itu aku menikahi Fany dan memboyongnya ke kota. Yah, aku kira akan lebih baik jika Fany ikut bersamaku menenangkan diri sejenak, sembari aku mencari tau siapa Ayah dari si Jabang Bayi.


"Hmm, Pak, anda bengong?" teguran Dokter yang tadi memeriksa Fany membuyarkan lamunanaku.


"Ehh iya, Maaf dok." Membenarkan posisi duduk dan mencoba fokus lagi, mungkin langkah terbaik setelah tadi cemas dengan keadaan Fany.


"Setelah istri anda sadar, sudah boleh di bawa pulang, dan sekarang perawat akan memindahkannya ke ruang rawat." Begitu arahan dari dokter, aku mengikuti dua perawat yang membawa Fany dengan Brankar menuju ke ruangan lain.


Aku duduk di kursi dekat ranjang pasien dimana Fany terbaring, ku genggam erat tangannya.


"Lagi tidur pun kamu terlihat cantik fan." Aku membelai rambutnya, mengingat kembali kenangan masa kecil kita.


Dia fany istriku, teman kecilku, dan cinta pertamaku.


"Mas ben, aku akan merawat pohon ini dengan baik sempai besar dan tumbuh subur. Saat kita menikah nanti pasti pohon ini sudah sebesar pohon itu." Aku tertegun kala itu, yah Fany si gadis kecil dengan lantang mengucapkan kata menikah, padahal waktu itu umurnya masih sembilan tahun, lebih muda lima tahun dariku.


"Dasar bocah kecil, siapa yang mau menikah dengan mu, pasti sampe besar nanti kamu tetep ingusan," seloroh ku mengejek, dan menjitak kepalanya.


Aku masih mengingatnya Fan, setiap kenangan yang kita lewati.


"Janji kan Mas Ben gak akan ninggalin aku?" permintaan gadis kecil kala itu, yang selalu terngiang.


Maafkan aku Fan, nyatanya aku ingkar janji.


"Aku janji mulai sekarang tidak akan lagi meninggalkan mu, dan anak yang kamu kandung biar jadi tanggung jawabku," bisik ku pelan.

__ADS_1


Tak lama Fany tersadar, melepas genggaman tanganku, mengerjapkan mata dan tampak bingung. "Aku ada dimana mas?"


"Di Rumah sakit Fan, tadi kamu pendarahan dan pingsan"


"Apa aku keguguran?" Dia tampak murung dan memegang perutnya.


"Alhamdulilah, janin dalam kandunganmu tidak apa-apa, kamu tidak perlu cemas." Aku mengelus perutnya yg mulai membuncit.


Dia menepis tanganku, menatapku dengan tatapan sinis.


"Berhenti bersikap begini, bayi yang ku kandung ini bukan anakmu."


Hahh, ku hembuskan nafas kasar, dan tersenyum hambar, "Lalu siapa Ayahnya, apa kau sudah berbuat zina dengan lelaki, atau kau menjual dirimu?" kataku cetus.


Fany menunduk dan terisak, tangannya menjambak rambut dan sesekali memukul-mukul kepalanya, tatapannya seolah menerawang jauh.


Fany terisak lagi, menekuk kakinya dan membenamkan kepalanya.


"Aku dibius...aku pingsan...aku bangun dengan kancing baju yang tidak beraturan...ada bekas merah dileherku...hiks hiks." Fany bicara terjeda-jeda, seolah menceritakan kronologis kejadian itu dengan nafas tidak teratur.


Aku masih diam mendengarkan, jika memang peristiwa itu terjadi disana, aku tau tempatnya, tempat dimana Pohon Randu yang Fany maksud.


"Saat aku pulang, aku merasakan sakit di daerah kewanitaanku, aku melihatnya, yah melihat bercerak merah di celana dalamku, aku sangat takut, aku benci diriku!" Dia masih memaksa dirinya menjelaskan dengan gestur tubuh seolah jijik pada diri sendiri.


"Bayi ini, aku benci!" Fany memukul perutnya, aku mencoba menahannya, meski terus membrontak.

__ADS_1


"Sudah, tenanglah." Aku mendekapnyan dalam pelukanku.


"Lepaskan, lepas, lepas!" Fany terus mencoba terlepas dari pelukanku yang semakin erat.


"Kamu tau Fan? Aku masih Mas Ben yang dulu, yang selalu bersedia jadi apapun untukmu. Maafkan aku, maafkan aku yang pergi terlalu lama."


Entah kata-kata apa yang begitu saja keluar dari bibirku, tapi yang jelas aku hanya ingin membuatnya tenang.


Fany terdiam, tak lagi membrontak, hanya suara isaknya yang masih terdengar lirih.


***


Aku mematikan mesin mobil tepat di depan rumah.


"Ayo ikut." Aku membuka pintu mobil dan membopong Fany masuk ke dalam rumah.


"Turunin mas, aku bisa jalan sendiri." Fany menolak, tapi aku enggan menurunkanya.


"Diam lah, gendong tubuh kurus kaya kamu ini gak bikin aku encok,jangan khawatir," candaku padanya, Fany hanya menoleh dengan muka datar dan pasrah.


"Mas kenapa aku diturunin disini?" Fany nampak bingung karna aku membaringkannya di tempat tidurku.


"Kata dokter kamu gak boleh kecapean, kalo kamu naik turun tangga terus bisa-bisa pingsan lagi, kan aku yang repot," selorohku.


"Terus, Mas tidur dimana?" tanyanya menatapku.

__ADS_1


"Mulai hari ini kamu tidur disini bersamaku, biar barang-barangmu di kamar atas aku yang pindahin," perintahku tegas.


__ADS_2