
Aku berdiri di gerbang sekolah, menunggu seseorang yang kutitipi sebuah hati.
Hati tempat rasa di mana cinta ini berkembang pesat tanpa komando.
"Dia temen kecilku, temen bermain, temen berantem, dan kuharap jadi temen hidupku nanti," lirihku.
Baju putih-abu yang kupake, dengan tas punggung warna hitam tidak lupa topi dan jaket selalu menjadi gaya favorit.
Gaya paling hits pada jamannya.
"Hey Fan, Ir ... fan," teriaknya mengagetkan ku, lambaian tangannya seolah memberi aba, menggiringku untuk melihat hanya ke arahnya.
Rambutnya dikucir kebelakang, ikut berayun-ayun mengikuti gerak tubuhnya berlari ke arahku.
"Di sini Fan," balasku ikut berteriak, padahal dia sudah di halaman sekolah, tentu jarak kami tidaklah jauh.
Duo Fan itu panggilan untuk kami dari siswa lain. Iyah, aku Irfan dan dia Fany, kita selalu bersama di sekolah, pulang-pergi, jam istirahat kita selalu bareng. Berpisah hanya saat jam belajar. Aku masuk IPA1 dan dia IPA2 masih satu jurusan hanya beda kelas.
"Kemana aja woy, lama bener?" tanyaku, sambil merangkul pundaknya dan kita berjalan mengambil sepeda yang kita tinggalkan begitu saja di rumah orang, masih komplek sekolah.
Sengaja nggak dimasukin tempat parkir, soalnya kita suka telat.
Kalo udah telat mah, sepeda ditaroh semena-mena. Langsung lari kita , manjat tembok samping biar gak ketahuan Pak Satpam.
"Eh tadi aku dihukum sama Pak Ical, gegara ketiduran, sebel banget gak sih," gerutu Fany.
"Makanya kalo molor tuh lihat tempat, ya kali gak di rumah gak di kelas tu mata merem mulu," kelakarku,mengacak rambut poninya yang macam Dora The explorer.
__ADS_1
"Ish, mana ada," balasnya cemburut dan duduk membonceng di sepedaku. "nih boncengan suka bikin sakit pantat tau." Sambil membenarkan posisi duduknya.
"Yaelah, tuh kan pantatmu ajah yang tepos, coba tu pantat di semokin dikit biar agak isi, pantat kok kaya martabak mini." seruku, tertawa terbahak-bahak.
Fany mencubit pinggangku dan menepuk pundak. "Dasar otak mesum."
"Nih pake buat bantalan kamu duduk." Aku berhenti mengayuh dan memberikan jaketku pada Fany.
"Nah gitu dong, baik banget si, kekgini kan empuk." Tangannya menepuk-nepuk boncengan sepeda.
"Oke let's go!" teriak kita bebarengan.
***
Aku ingin kembali kemasa itu Fan, masa di mana aku bisa selalu bikin kamu marah, kesel, cemberut, tapi tetep bisa liat kamu tersenyum.
"Fan, bagaimana kamu bisa ada disini?" Aku bertanya seolah tak percaya, memandang dari atas sampe bawah, dan aku liat ada sesuatu yang berbeda pada perutmu. Mungkinkah kamu hamil? Aku menunjuknya seolah bertanya agar kamu mau jelaskan.
Tapi mengapa Fan? Kamu hanya menatapku dengan mata sendu, lalu berpaling pura-pura memilah baju, tidak membalasku sama sekali, bahkan kau melangkah pergi. Apa yang terjadi?
"Fan jawab, apa kau sudah menikah dan hamil?" Aku masih memaksa mu menjawab, ku hadang langkah dan menarik tanganmu agar melihatku. Tapi kau tetap tak acuh, sampai ada lelaki datang melepas tanganku.
"Apa kau suaminya?" Aku menunjuknya dan menatap tajam ke arahnya. Sedang kau tetap melangkah pergi.
Aku melihatnya Fan, hatiku sakit, saat lelaki itu menyusul dan menggandeng tanganmu, mengayunkannya seolah kalian pasangan yang sangat bahagia.
Aku tak habis pikir, mungkin itu hanya mimpi, tapi saat bertemu untuk kedua kalinya di rumah sakit tempatku magang, aku sadar itu memang benar kamu.
__ADS_1
Waktu itu di Poli Kandungan kamu nampak menunggu. Aku datang memastikan kalau itu memang kamu, ternyata benar kamu memang sedang hamil!
Kita berdiri berhadapan, aku tak bisa membaca hanya dari tatapan matamu. Coba jelaskan Fan, jelaskan apa yang terjadi!
"Katakan Fan, benar kamu sudah menikah?" tanyaku memastikan lagi.
Kamu mengangguk, tanda kalau pertanyaanku itu benar. Seketika itu juga hatiku luluh lantak. Sakittt!
"Jadi benar lelaki yang kemarin itu suamimu? Kenapa Fan? Kenapa kau lakukan ini padaku?" Aku menatapmu, memegang pundakmu mengharap penjelasan yang pasti.
"Maafkan aku Irfan," katamu lirih, apa kau katakan itu tanpa penyesalan?
"Aku sudah bilang untuk menungguku, tak lama lagi Fan, hanya sampe aku dapatkan gelar Ners," jelasku tegas.
Bukankah waktu itu kita sudah berjanji? Kenapa kau pergi dan ingkar?
"Maafkan aku, tapi aku tidak pernah berjanji untuk menunggumu." Yang benar saja kau katakan itu padaku? Setelah semua yang kita lewati? Sadis!
Kukira diammu waktu itu adalah jawaban iya.
Kamu lepaskan tanganku dari pundakmu begitu saja, dan melangkah masuk ke ruang periksa. Tanpa kata penyesalan lainnya? Ahh bodohnya aku.
"Sepertinya kau harus segera melupakan Istriku." Lelaki itu datang, yah dia suamimu kan Fan? ucapannya padaku dengan senyum kemenangan atasmu membuatku semakin sakit. Aku tak meladeninya dan memilih pergi!
***
Hatiku yang hancur karna sebuah harapan, haruskah aku pergi saat ini? Atau mungkinkah aku masih memiliki kesempataan bersamamu membangun lagi harapan yang kau hancurkan sekarang?
__ADS_1