Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 9


__ADS_3

Kurasa drama itu sudah selesai, Fany tampak tertidur, sedang Irfan melangkah keluar.


Aku menahan langkanya, Irfan berhenti dan menatapku dengan tajam.


"Jam delapan malam aku tunggu di Cafe deket sini," pintaku sekaligus perintah!


"Baiklah, sepertinya kita memang harus bicara," balasnya menyanggupi, lalu melenggang pergi.


Aku masuk kedalam di mana Fany tertidur. Aku menatapnya dalam, mencoba meredam emosi dan rasa sakit, aku tak boleh mementingkan ego, nyatanya sebuah perasaan memang tidak bisa dipaksakan.


Mungkin kali ini aku harus lebih memberikan ruang untuk berfikir dan memilih siapa yang lebih Fany inginkan.


Cukup lama Fany tertidur dan aku dengan setia menunggunya, sampai mataku juga ikut terpejam.


Aku merasakan ada sentuhan di kepala.


Aku terbangun, mengerjapkan mata, dan benar saja itu tangan Fany. Aku membenarkan posisi duduk.


"Kamu sudah bangun Fan?"


"Iya Mas," balasnya


"Dari tadi? Bagaimana keadaanmu apa masih ada yang terasa sakit?" tanyaku, khawatir.


"Mas tau kan, kalau janin yang ada dalam kandunganku meninggal?" Fany mengalihkan pertanyaan.


"Hem iya...maaf Fan, dokter tak bisa menolong nyawanya, karna kemungkinan janin itu sudah meninggal sebelum di bawa ke sini." terangku.


"Kamu tak perlu minta maaf Mas, aku yang salah, karna tidak hati-hati dan terpeleset di kamar mandi." Air matanya luruh.


"Sudah tidak apa-apa, jangan menangis, mungkin memang sudah takdirnya begini." Aku mencoba menenangkannya, tapi kali ini aku tidak ingin memeluk ataupun menyentuhnya.


"Yah, memang sudah takdir, harusnya janin itu mati sejak awal, agar tidak merepotkan banyak orang," rutuk Fany seolah menyalahkan.


"Kamu gak boleh ngomong gitu Fan, janin itu tidak berdosa!"


"Tapi karna semua ini hidupku jadi brantakan, masa depanku hancur, keinginanku kandas, begitu juga dengan Mas...,"


"Sudah berhenti!" Aku coba menyela Fany agar tak bicara lagi. Karna kata-katanya seolah menyesal telah bersamaku.


Fany terdiam tak lagi merutuk menyalahkan. Sedang dadaku kembali memanas dengan sikapnya.


Aku memilih pamit untuk pergi, dan memang ada janji dengan lelaki itu.


Aku bergegas naik mobil, dan menuju Cafe dekat sini.


***


Aku duduk menunggu kedatangan Irfan di meja paling pojok. Ku pandangani sekeliling tempat ini masih cukup sepi.


Tak lama Irfan terlihat di pintu masuk, aku melambaikan tangan. Dia menghampiri, memakai jaket hoodie warna hitam dan celana jeans robek-robek di sekitar lutut, topi yang dibalik kebelakang, hah gayamu nampak seperti preman!


Dia duduk berhadapan denganku, aku memulai pembicaraan.


"Langsung saja tidak usah basa-basi, aku ingin kau jauhi istriku!" Tatapanku tajam ke arahnya.


"Kau tidak salah bicara? Boleh saja dia jadi istrimu di atas kertas, tapi hatinya masih miliku!" ucapannya menusuk.


"Hahh, hanya masalah hati! Cinta itu bisa saja luntur seiring waktu, karna aku yakin aku bisa menumbuhkan kembali rasa yang dulu pernah hilang di hati Fany!" kataku tegas, meski sebenarnya pertahananku runtuh, setelah melihat Fany memeluknya.


"Omong kosong! Aku tidak akan melepaskan Fany untuk lelaki hidung belang sepertimu," tuduh Irfan padaku.


"Jaga ucapanmu, kau hanya salah paham, tidak ada apapun diantara wanita itu dan aku, kita hanya teman!" terangku, dengan nada mulai meninggi.

__ADS_1


"Mana mungkin lelaki berteman dengan wanita tanpa ada rasa, apalagi kau tertangkap basah memeluknya, tak usah mengelak, jujur saja, aku akan tutup mulut," ejeknya sambil tersenyum sinis.


"Dasar bangsatt!" Emosiku meluap aku berdiri dan menarik jaketnya, ada rasa panas dan benci teringat Fany masih memiliki sebongkah rasa untuknya.


"Ayo pukul saja kalau kau mau!" ucap Irfan, seolah mengajukan pipinya untuk di pukul.


"Brengsek!" Aku semakin tersulut dengan gaya tengiknya, langsung saja satu pukulan mendarat, membuat darah menetes dibibirnya.


Masih belum puas kupukul lagi kanan-kiri tiada ampun!


Aku lengah, dia membalas langsung mengenai perutku, membuatku tersungkur dan dihujani tonjokan di wajah.


Kami saling serang, membuat pengunjung lain histeris dan ruangan brantakan.


sampai ada security datang untuk mengamankan, kami dibawa ke ruangan dan dimintai pertanggung jawaban!


It's oke, aku langsung membuka dompet, menyerahkan sepuluh lembar uang merah dan kartu nama untuk dihubungi jika ini kurang. Aku berlalu dan pergi, tentang Irfan? terserahlah!


***


Aku duduk di kursi taman rumah sakit, mengusap wajahku yang terasa perih dan memar.


Menghirup udara segar, mencoba melepas segala penat dan beban. Lalu berdiri melangkah masuk ke dalam rumah sakit menuju Toilet luar, membasuh muka dan menatap diri di cermin, agak sedikit biru di pipi, semoga saja Fany tidak curiga.


Aku masuk ke ruang rawat Fany nampak dia sudah tertidur lagi.


Aku berbaring di sofa dekat tembok, meletakan tangan kiri dibawah kepala dan tangan kanan di atas kening. Pikiranku melayang.


Tapi baru saja aku mencoba terpejam, terdengar suara ranjang, aku menoleh dan benar Fany terbangun dan menatapku.


"Kenapa bangun? Ada yang kamu butuhkan?" tanyaku menghampiri.


" Mmm anu Mas, aku ingin buang air," jawab Fany ragu.


"Kamu bisa melakukan sendiri?" tanyaku memastikan.


" Bisa, kamu tunggu di luar saja Mas," pinta Fany, aku keluar dan menutup pintu.


"Mas?" Suara Fany terdengar dari dalam.


"Kamu sudah selesai?" tanyaku diluar pintu.


" Udah," balas Fany.


Aku membopongnya lagi, dan meletakannya di ranjang pasien, tanganku masih memegang tubuh mungilnya, mencoba mendekatkan lagi wajahku ke arahnya, aku tidak berniat menciumnya hanya saja ingin mengetes apa dia akan menolak atau tidak. Tapi tanganya justru menyentuh wajahku.


"Kamu kenapa Mas? Kok pipimu memar?" tanya Fany heran.


Aku lupa jika wajahku bonyok! Aku langsung melepas tubuhnya dan juga tangannya dari wajahku. Berpaling dan berbaring lagi di sofa. Aku tidak membalas pertanyaannya dan mencoba tak acuh.


Aku meliriknya dengan sudut mata, tampak dia masih berbaring menatapku.


Aku mencoba terpejam lagi.


***


Pagi ini aku memutuskan untuk pergi ke kantor dan tak menunggui Fany. Tapi aku menyuruh perawat memindahkan Fany ke ruang VVIP lain, dan berpesan agar ada perawat yang menjaganya tapi harus wanita. Satu lagi, jangan boleh siapapun masuk termasuk jika ada perawat laki-laki!


Perasaanku masih entah, ada banyak pikiran berkecambuk. Haruskah aku langsung tanyakan apa yang sebenarnya Fany ingin kan? Tapi jika Fany ingin berpisah dan lebih memilih Irfan, apakah aku sanggup?


Atau aku lebih baik diam? Sampai Fany sendiri yang akan berkata jujur?


"Cekrek... ." Suara pintu kantor terdengar, mengagetkan lamunanku.

__ADS_1


"Hey Mas, udah jam makan siang nih, yuk ikut bareng aku," ajak Sherly, kedatangaannya yang tiba-tiba membuatku kaget, sedang dia terus melangkah menghampiri.


"Kok kamu ada di sini Sher?" tanyaku basa-basi, meski aku tau kalo aku tidak beralasan untuk pergi, dia akan lebih sering datang ke kantor.


"Iya dong Mas, mulai sekarang aku akan lebih sering ke sini...eh tunggu muka mu kenapa, kok memar gini?" Sherly memegang wajahku dan membaliknya kiri-kanan.


"Ehem, tidak apa-apa ini hanya kecelakaan kecil," elakku beralasan.


Sherly tampak curiga, tapi tidak bertanya lagi.


Haruskah aku juga jujur tentang pernikahanku pada Sherly?


Tapi...aku juga belum siap, mungkin nanti jika hubunganku dengan Fany sudah jelas akhirnya, aku akan memberi tahu Sherly.


Aku mengajak Sherly makan siang di resto cukup jauh dari tempat biasa kita nongkrong. Sekalian aku ingin jalan, sejenak melepas penat dan masalah hati, yang membuat pikiranku terkuras.


"Ini gak salah Mas? kamu mau ngajak makan apa mau nyulik aku? Ini udah jauh banget loh." Sherly menengok ke arah jendela.


"Mm kalo dua-duanya gimana? Aku lagi pengen jalan," kataku sambil menoleh, dan tersenyum.


"Oke lah, gak masalah aku nemenin Mas Ben hari ini, tapi aku hitung sebagai utang yah," selorohnya, melirikku dengan mengedipkan mata.


"Siap catat saja deh," gurauku.


Sherly memandangku dan tersenyum geli.


Kita sampe di tempat yang kutuju, resto dengan nuansa alami khas pedesaan, cocok sekali buat nyegerin mata yang mulai burem kebanyakan liat istri bareng cowo lain, ehh keceplosan.


Aku berjalan masuk, Sherly mensejajarkan langkah dan menggamit lenganku.


Kita memesan dua porsi ikan bakar, lalu duduk di tempat makan yang terbuat dari bilik bambu seperti rumah panggung, karna di bawahnya ada kolam ikan. Udara di sini sejuk.


Sherly makan dengan lahap, melumuri ikan bakarnya dengan sambal kacang yang cukup banyak, aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Kenapa Mas, kamu mau?" Sherly menawariku.


"Ehh nggak, makasih deh, aku dikit ajah, takut sakit perut," tolakku.


"Emang Mas gak biasa makan pedes?"


"Iya kalo terpaksa kek kemaren ya gak papa," Jawabku sambil tertawa.


"Dih dasar, kenapa gak bilang, kemaren sakit perut dong?" tanya Sherly perhatian.


"Bukan sakit lagi, bolak-balik kamar mandi, duhh boker mulu, pokoknya... ."


"Ehh udah, udah, jangan dilanjutin deh, lagi makan juga," selah Sherly, lalu meminum air putih.


Aku tertawa melihatnya, wajahnya memerah, bibirnya mengerucut seperti ikan kembung.


Selesai makan, kita melanjutkan dengan berjalan di taman sekitar resto, duduk berdua dan memakan es krim.


"Mas, seminggu sekali kek gini enak kayaknya," ceplos Sherly.


"Dih enak di kamu, cape di aku."


Sherly menjejalkan es krim ke mulutku membuat bibirku belepotan. Lalu dia tertawa cekikikan. Aku tak terima mencoba membalasnya, tapi Sherly dengan cekatan beralih dan lari. Aku menghapus sisa es krim di bibir dengan sapu tangan, dan bergegas mengejar Sherly.


"Tunggu dong." Aku mensejajarkan langkah, menariknya dan mengacak-acak rambut merahnya.


"Ih apaan sih, udah ahh." Sherly berhenti melangkah membenarkan rambutnya, lalu menatapku.


Aku membalasnya dengan senyuman dan berkata, "terimaksih, untuk hari ini Sher."

__ADS_1


"Kasih ku terima, jangan keseringen senyum Mas, lalat lewat juga bisa naksir tau," selorohnya, lalu menarik tanganku masuk mobil.


__ADS_2