Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 15


__ADS_3

Aku me matung memandangnya setiap bulir yang jatuh ke wajahnya, menetes ke hidungnya yang kecil lancip, mengalir lagi ke bibir merah tipis, lalu ke lehernya yang menggoda dan membasahi seluruh tubuhnya.


Kaos putih tipis yang dipake semakin menempel ketubuh yang basah, membuat lekukan-lekukan dan tampak garis BH warna item!


Seolah ada yang bergejolak di dalam sini!


"Jederrrr ... ." Tiba-tiba suara petir menyadarkan lamunan nakalku, sedang Fany langsung berlari memelukku.


Aku balas mendekapnya, melindungi dari rasa takut, hujan semakin deras, aku menariknya masuk ke dalam.


Lantai ikut basah karna jejak kami.


Setelah berganti baju, aku memilih duduk di ranjang. Badan rasanya begitu dingin.


Fany masuk membawa secangkir teh hangat dari dapur.


"Nih Mas minum dulu." Tanganya menyodorkan ke arahku.


Aku menerimnya dan langsung meminum, lalu berbaring.


Fany ikut tidur membelakangi. Aku memegang pundaknya agar berbalik menghadapku.


Kita saling tatap, aku mulai memangkas jarak. Mencoba mendaratkan kecupan di bibir merah itu, tapi gagal!


Yah, ini salahku bersin di saat yang tidak tepat!


Fany menutup mulut menahan tawa, sedang aku merasa hidungku begitu gatal. Badan ini berasa tambah menggigil.


Fany menarik selimut untukku.


"Kalo cuma sekedar selimut, aku masih kedinginan Fan, aku butuh pelukan!"


Dia tak membalas perkataanku, tapi langsung merengkuhku. Aku menyamankan posisi, menyembunyikan wajah di ceruk lehernya. Aroma tubuhnya menguar membuatku serasa ingin!


Tapi aku berusaha menahan, karna tau Fany masih palang merah ... ehh nifas maksudnya.


Aku mendekat menempelkan bibir ke lehernya, seolah Drakula yang ingin memangsa. Kukecup di sana, melukis sebuah tanda, lalu kupejamkan mata, menidurkan imajinasi nakal.


***


Kita duduk berhadapan di meja makan, menyantap sarapan. Tapi kurasa nafsu makanku sedang buruk, aku tak berselera.


Fany nampak gelisah, ntah gerogi ntah gugup tangan kirinya selalu memegangi leher. Yah, ada bekas yang menghitam karna ulahku. Aku tersenyum geli, menatap Fany yang selalu menunduk.


"Ehem ... kenapa Fan?"


"Kenapa? ... apanya Mas?" Fany bingung dengan pertanyaanku.


"Diem ... diem bae!" selorohku


"Mmm ... Gak papa, oiya bang Sayur hari ini libur katanya, aku pengen ke pasar belanja sayur."


"Berangkat sendiri gak papa? aku agak sibuk hari ini."


"Iya Mas, aku naik Gojek ajah."


Setelah itu, aku pamit berangkat, melajukan mobil cukup pelan. Badan masih terasa kurang enak di tambah flu.


***


Fany tampak bingung memasuki pasar tradisional banyak sekali pedagang di sana. Sedang pembelipun bejibun, saling desak-desakan.


Pandangan Fany mengarah ke tukang sayur di pojokan, seorang nenek tua yang dagangannya terlihat masih utuh, bahkan tidak ada yang melirik. Fany menghampiri mengamati dagangan si nenek yang memang terlihat kurang segar. Nenek tampak antusias melihat dan menawarkan dagangannya.

__ADS_1


Fany mulai memilih, membeli seadanya yang si Nenek jajakan, mungkin karna iba.


"Terimankasih Neng, terimakasih," ucap nenek dengan mata yang berbinar, karna dagangannya laku juga karna Fany memberi uang lebih.


Fany berlalu, kembali mengitari pasar untuk membeli keperluan yang lain.


Selesai berkeliling Fany berdiri sebentar di pintu keluar. Ada dua bocah menghampirinya, membawa kecrek dan bernyanyi di depannya. Bocah dengan perawakan kerempeng memulai,


"Ku ... menangis ...,"


"Jeng ... jeng." Fany menyelah nyanyian bocah cilik itu.


"Membayangkan! ... betapa ...!" Nada lagu si Bocah mulai meninggi.


"Jeng ... jeng ... jeng!" Fany tak kalah keras menyahuti.


Dua bocah itu saling berpandangan melihat tingkah nyleneh Fany. Tapi tetap melanjutkan lagi liriknya.


"Kejaaaaaammm nya ...!"


"Hop ... Hop dek! udah yah ... Kakak udah hafal lagunya kok, nih." Fany menyuruh mereka berhenti dan menyodorkan uang pecahan.


"Saking boomingnya lagu itu, nggak di tivi nggak di sini backsongnya samaan," gerutu Fany.


Pengamen cilik itu berlalu, sedang Fany memilih duduk di dekat pedagang es campur di pinggir jalan.


"Es campurnya Mang, satu!" seru Fany.


Pedagang es campur hanya tersenyum dan mengangguk, lalu menyerahkan satu kantong plastik berisi es.


"Terimakasih," ucap Fany sambil menyeruput minumnya.


Tak lama ada suara melengking dari arah pasar.


Fany langsung berdiri, melihat si copet yang berlari ke arah luar. Dengan sigap dia menghadang langkah dengan kakinya sontak membuat si Copet kaget dan jatuh tersandung.


Fany menarik kerah jaket si Copet lalu menghujani dengan tonjokan. Si Copet berdiri dan menyerang balik, tapi Fany berhasil menepis dan menendang si Copet dengan talak.


"Hiyahhhhh!" Tendangan pamungkas mendarat tepat di rahang si Copet membuatnya tersungkur lalu lari terbirit.


Fany menepukan kedua telapak tangannya seolah telah menyelesaikan tugas dengan gampang, lalu mengambil dompet dan menyerahkannya ke ibu tadi.


Fany langsung berlalu menghampiri tukang ojek mangkal, meminta untuk di antar pulang.


Di tengah perjalan tukang ojek berbasa-basi.


"Habis dari pasar ya Neng," ucap tukang ojek.


Sedang Fany membonceng di belakang. "Iya mang," sahut Fany.


"Oh habis jalan-jalan yah?"


"Dih ... kok jalan mang, abis belanja lah ... Nih ... ." Fany menyodorkan tangannya, lalu kaget barang belanjaanya tidak ada dalam genggaman.


"Loh ... ya ampun mang, belanjaan saya lupa, ayo puter balik!" seru Fany menepuk pundak tukang ojek.


Tukang ojek menepuk kepalanya seolah mengaduh, lalu berhenti.


***


Hari ini tugas numpuk, Aku memutuskan untuk merampungkannya. Jam sudah menunjuk angka tujuh malam.


Aku mengirim pesan pada Fany akan pulang telat hari ini. Tapi lama kutunggu tidak ada balasan.

__ADS_1


Gawaiku berdenting, saat akan pulang jam sembilan malam,


ada pesan masuk, aku kira balasan dari Fany. Aku membukanya.


[Mas ayo kita ketemu] ternyata pesan dari Sherly.


[Boleh, di mana?]


[Di sini] Dia mengirimkan foto alamat resto.


[Tumbenan, gak di tempat biasa?] agak aneh memang kenapa dia memilih tempat itu ya? Padahal biasanya di sana tempat makan buat para keluarga besar.


[Gak pa-pa, cepet kutunggu!]


Aku langsung meluncur ke alamat.


Tempat duduk yang di pesan Sherly berada di lantai dua, aku naik dan ketika sampe di sana tampak Sherly berdiri dan melangkah menghampiriku.


Aku mendekat, Sherly menggandeng lenganku dan membawaku ke tempat duduk paling ujung.


"Tara ... Surprise ... " Sherly membawaku ke hadapan tiga orang yang sedang duduk di kursi.


Aku binggung akan maksud semua ini!


"Kenalin Pah, Mah ,Opah ini Mas ben ... lelaki yang kemarin aku ceritain." Sherly mengajaku duduk di sampingnya berhadapan dengan Papah dan Mamahnya, sedang si Opah duduk di tengah, bak kepala keluarga.


"Oh jadi kamu Beny?" Lelaki dengan tubuh tambun itu mengulurkan tangan, aku langsung meraihnya, dan bergantian bersalaman dengan Mamah Sherly juga Opahnya.


"Jadi kamu pacar Sherly? Duh ... pinter milih kamu Sher, tampan dan sepertinya juga mapan," ucap Mamahnya sambil melirik ke arahku.


Aku hanya terdiam kaku, ntah sandiwara seperti apa yang sedang Sherly lakukan ini.


"Kapan kalian akan menikah?" selah Opah Sherly, menatapku tajam. Aku langsung gelagapan harus kujawab apa?


"Mm ... Opah itu akan kita bicarakan nanti, sepertinya Mas Ben butuh waktu, iyakan Mas?" ucap Sherly sambil menyikut lenganku. Aku hanya mengangguk.


"Ayo kita keluar sebentar, aku ingin bicara," bisikku pada Sherly. Dia langsung mengangguk setuju.


"Bentar yah Mah, Pah ... aku mau keluar bentar sama Mas Ben," ucap Sherly menariku pergi.


Kita berjalan keluar, "Maksud semua ini apa Sher?" Aku masih bingung.


Sherly menatapku seolah meminta sesuatu, "Tolong aku Mas."


"Aku nggak bisa Sher, maaf ... seharusnya aku jujur dari awal, aku sudah menikah." Aku melepas tangan Sherly.


"Apa? Kamu udah nikah Mas? Jadi selama ini kamu bohongin aku?" Matanya mulai berkaca-kaca.


"Maaf Sher, bukan itu maksudku, aku tidak berbohong, hanya saja aku menunggu waktu yang tepat."


"Sama ajah Mas! Plak ... ." Sherly menaparku.


Aku mengusap pipi yang lumayan perih. "Aku akan jujur pada Mamah dan Papahmu sekarang."


"Jangan Mas, aku harus katakan apa pada Mamah dan Papah, mereka sudah terlanjur percaya kita pacaran, tolong aku Mas, kalo Opah tau aku gagal lagi dalam hubungan aku bisa digantung!"


Sherly memohon, air matanya mulai jatuh, aku semakin bingung!


"Lalu maumu gimana?"


"Kita pura-pura pacaran saja Mas, sampe aku dapatkan laki-laki yang akan menikahiku please?"


Aku masih berdiri mengusap wajah dengan kasar, sedang Sherly berjongkok menudukan kepalanya dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2