
"Maafin Mas Ben ya?" Mas Ben seolah memohon, sedang Fany tak acuh, bahakan emosinya semakin meninggi.
"Nggak!" Fany memalingkan muka.
Mas Ben masih bingung, mungkinkah Fany melihat Sherly tadi siang? pikirannya masih bertanya-tanya.
Fany mendorong tubuh Mas Ben agar menjauh tapi justru tangan Mas Ben meraih pinggangnya dan membuat tubuh mereka terjatuh ke ranjang. Mas Ben tidak menyiakan kesempatan itu dengan memutar badan Fany menjadi posisinya berada di bawah.
"Ish ... awas!" tangan Fany memukul-mukul dada Mas Ben.
Semakin Fany membrontak membuat Mas Ben semakin tertantang akan sesuatu, dia hampir mencium bibir Fany, tapi dampratan keras mengenai pipinya.
"Jangan cium aku Mas, bibirmu itu bekas wanita lain!"
Mas Ben mengusap wajahnya kasar, dan beralih duduk di samping Fany.
"Jadi kamu tadi ke kantor Fan? kenapa nggak bilang? kamu salah paham ... . "
Fany bangkit membenarkan handuknya.
"Aku liat sendiri kalian ciuman!"
Fany berdiri membelakangi Mas Ben dan meraih lipatan baju yang tadi jatuh.
"Nggak Fan, aku dicium!"
"Terserah!"
Mas Ben menggaruk kepala bingung bagaiman cara menjelaskannya.
"Dia Sherly, hanya temen nggak ada hubungan apapun, dan kemarin hanya salah paham, kalo kamu mau besok kita bisa bertemu dengan dia." Sebenernya Mas Ben tidak yakin jika mereka bertemu bisa berdamai, tapi untuk meyakinkan Fany tidak ada salahnya mencoba!
Fany tak menghiraukan perkataan Mas Ben, dia justru berganti baju di depanya, membuat darah Mas Ben memanas, jakunnya naik turun seolah bekerja lebih keras untuk menelan saliva, mata Mas Ben tak mau berkedip, dia bangkit menghampiri Fany dan menepuk punggung mulusnya. Fany berbalik menghadapnya.
"Oke, aku akan maafin, tapi ada syaratnya!" seru Fany, membalikan badannya.
"Siap laksanakan! apa syaratnya?"
__ADS_1
"Syaratnya aku pengen liburan! ... mana cincin kawinnya Mas Ben?" Fany memegang telapak tangan Mas Ben memperhatikan jarinya tidak ada cincin yang terselip.
"Oke besok kita OTW, mm .. cincinnya." Mas Ben menarik kalung yang dia pakai di sana cincin kawinnya dijadikan bandul.
"Kenapa gak dipake Mas?"
"Karena belum ada yang mau pakein!"
Mas Ben meletakan cincin itu di tangan Fany, lalu tersenyum.
Fany mengambil dan mengamatinya di lingkaran dalam ada tulisan 'Fany&Bany' dia baru sadar akan itu.
"Apa di cincin yang ini juga ada tulisannya?" Fany menunjuk ke jari manisnya. Mas Ben mengangguk.
"Oke, mulai besok jangan ngaku lajang!" seru Fany sambil memakaikan cincin di jari Mas Ben.
***
Irfan termenung, setelah saat lalu menemui Fery, dan memaksa Fery menceritakan kronologis kejadian pemerkosaan Fany, awalnya dia tidak mau, tapi karena Irfan terus menyudutkannya dan menawari memberi bantuan untuk pengobatan ibunya yang terkena struk, dia mau mengaku dan memberi bukti siapa pelaku pemerkosaan itu.
Dia tahu keadaan di kampung sedang genting dan panas, pertikaian antara Bapak yang menjadi musuh dalam selimut Mbah Dirjo yang notebene mantan majikan Bapaknya. Dia pun sudah lelah bertengkar terus dan membrontak pada Bapak yang keras kepala. Irfan memilih mundur, biar Tuhan yang mengatur dan membalas semua tingkah perilaku Bapaknya, yang menurut dia cacat! jauh dari kata kemanusiaan.
Melanjutkan hidup dengan bayang-bayang kesalahan pada Fany bukanlah hal mudah, ada rindu yang selalu ditahan dan harapan yang pupus sudah. Tidak ada lagi kisah tentang Irfan dan Fany.
Irfan melihat ke arah jendela bus yang dia naiki, angannya melayang jauh, semua masa indah yang dia lewati dengan Fany justru membawa petaka. Dulu Bapaknya menentang keras jika dia berteman apa lagi sampai menjalin hubungan dengan Fany. Tapi Irfan keras kepala, dan tetap melanjutkan, itu hal yang membuat emosi orangtuanya tersulut, dan hari nahas itu terjadi.
Dret ... dret ... dret, gawainya bergetar, ada panggilan masuk dari Nina, tapi dia justru menggeser gambar merah, lalu mengirim pesan.
'Ada apa?'
'Nggak, cuma kangen, Kak Irfan kapan balik?'
'Ini lagi OTW'
'Waw ... Oke deh, tapi masih ada libur 'kan?'
'Masih tiga harian'
__ADS_1
'Oke, kalo gitu besok, aku ajak ke pantai ya?'
'Ish ... Siapa yang mau ke pantai!'
'Kak Irfan lah, pokoknya ajakin aku jalan!'
'Males'
Nina membalas dengan emotikon menangis
'Cengeng!'
'Emang! makanya ... ayuk!'
Irfan menimang-nimang, tidak ada salahnya berlibur menghilangkan rasa penat yang memenuhi kepalanya, akhirnya dia mau mengajak Nina ke pantai, lusa.
***
Pagi ini Fany sudah mengemasi barang yang akan di bawa liburan dia masukan semuanya ke mobil. Mas Ben mengunci pintu dan menghampiri Fany yang berdiri di depan mobil, Mas Ben melirik ke dalam dan terkejut dengan barang-barang yang hampir memenuhi ruang mobilnya.
"Kamu nggak salah Fan? banyak banget bawaannya!"
"Ish ... kita kan akan berlibur satu minggu!"
"Satu minggu? giman sama kerjaan di kantor? dua hari ajah ya?"
"Nggak mau!"
Mas Ben menggaruk kepala yang tak gatal.
"Emang kamu udah selse anu nya ... mmm ... palang merah?" mas Ben berbicara agak ragu.
Fany mengangguk, membuat Mas Ben bersemangat.
"Asikk ... oke kalo gitu satu bulan juga gak papa ... honeymoon!" Mas Ben membopong tubuh Fany masuk ke dalam mobil, ada rasa yang menggebu dalam dadanya.
Mobil Mas Ben mulai melesat menyusuri jalan ke tempat yang di tuju.
__ADS_1