
Aku sedang mengamati rekaman CCTV yang kemarin kupasang di perkebunan, belum sampai kutemui hal mencurigakan, tiba-tiba pintu terbuka.
"Hey Mas Ben." Lagi-lagi Sherly datang dan langsung berdiri di sampingku. Dia tampak melirik melihat layar laptop, lalu merunduk melingkarkan tangannya ke leherku dan mendaratkan kecupan di bibir, sontak aku kaget dan berdiri.
"Apa-apaan kamu Sher!" Aku menurunkan tanganya dan mendorong mundur.
Sherly hanya tersenyum miring, entah apa yang dia pikirkan, lalu duduk di kursi depan.
"Santai saja Mas, toh nggak ada yang tau," jawabnya enteng.
Aku jadi semakin muak dengan sikapnya.
Aku membenarkan dasi, lalu menutup laptop.
"Aku sedang sibuk, lebih baik kamu pergi sekarang!"
Sherly berdiri tatapannya seolah berkaca lalu berbalik pergi.
Pikiranku kacau, entah mengapa langsung teringat Fany.
'Fan kamu lagi apa?' satu pesan kukirimkan.
'Udah makan?'
'Tidur yah?'
Tidak ada satupun terbalas, aku beralih menelfon tidak diangkat. Perasaanku tidak enak, baikah dia?
***
Setelah puas Fany berjalan di tepi danau, dia mengeluarkan topi lalu memakainya dan kembali mengayuh sepeda ke arah pemukiman kumuh, melewati gang-gang sempit yang tidak pernah dia lalui sebelumnya.
Ada banyak anak kecil yang bermain di jalanan. Fany mencoba menerobos di celah tubuh-tubuh kecil itu.
Tapi tak terduga di depan justru ada orang berlari ke arahnya, Fany membelok menghindari tapi justru sepedanya terperosok ke selokan.
"Brughhhh!" suara terjatuh jelas terdengar.
Fany bangkit dan melihat celananya basah karena air comberan, sedang sepedanya terkangkang di trotoar.
__ADS_1
Orang berpenampilan seperti lelaki memakai jaket dan masker tadi, nampak di kepung empat orang preman.
Mereka berkelahi, tentu tenaga lelaki itu tak sebanding jika satu lawan empat, meski Fany lihat kemampuan bertahannya cukup bagus.
Seketika jiwa hero Fany membuncah, dia keluar dari selokan.
"Hiyahhh!" Fany menendang salah satu preman bertubuh kurus dari arah belakang. Preman itu langsung tersungkur, Fany menghujani dengan pukulan bertubi, sedang yang lain justru berhenti berkelahi dan terbengong ke arah Fany, semua mulutnya ternganga seolah tak percaya. Lelaki itu tidak menyiakan kesempatan menyerang tiga preman yang lain sampai babak belur.
Tak disangka dari arah belakang ada lagi kawanan preman bertubuh besar, lelaki yang tadi pun menarik tangan Fany untuk berlari.
"Ehh ... tunggu sepedaku!" Fany cepat berbalik menyambar sepedanya sebelum tertangkap.
Dia mengayuh dengan kencang di depan lelaki tadi berhenti menghadang lalu ke belakang naik ke boncengan.
"Ayu ... cepet, belok kiri!" lelaki tadi memberi intruksi.
Sedang Fany ngos-ngosan dan berhenti mengayuh.
"Cape tau! Cepet gantian!" Fany turun dan menarik jaket lelaki itu agar bergantian.
Fany membonceng, lalu menoleh ke belakang sudah tak ada lagi yang mengejar.
"Srett ... brugh!!" Mereka berdua jatuh bersama sepedanya di semak-semak.
"Aw ... ." Fany meringis kesakitan, lalu bangkit membenarkan bajunya dan membuka topi, begitu juga dengan lelaki tadi dia membuka mantel jaket, mereka berdua saling tatap.
Fany beralih menepuk-nepuk celananya yang kotor, sedang lelaki tadi terus memperhatikannya.
"Maaf, mmm ... makasih ya," ucap lelaki tadi.
Fany menoleh memperhatikan lelaki itu, badannya seukuran Fany, rambutnya merah, wajahnya tertutup masker.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, lalu membuka masker. "Aku Chaca ... Kamu?"
Fany nampak kaget dan ternganga ternyata dia bukan lelaki tapi wanita!
"Mm ... kamu cewe?" tanya Fany.
Dia mengangguk.
__ADS_1
"Aku Fany." Fany membalas uluran tangan wanita tadi.
Mereka pun pulang bersama naik sepeda, Chaca wanita itu tinggal di pemukiman kumuh tadi, dan terlibat masalah hutang dengan preman.
Chaca memberhentikan laju sepeda di pinggir jalan dan meminta turun di situ. Perempatan jalan menuju gang yang ada gubuk pos ronda.
"Aku turun di sini saja Fan, kalo pulang ke rumah takut preman tadi masih mencariku," katanya tegar.
"Oh ... oke, besok kalo aku pengen ketemu kamu, harus cari kemana?" tanya Fany seolah menginginkan pertemuan kembali.
"Mmm aku sering nongkrong di gubuk ini, datang saja, atau kalo aku gak ada tanya ke orang sini, cari Chaca Cawit."
"Cawit?" Fany tampak heran, lalu mengangguk.
"Iya, Chaca Cawit ... si cabe rawit , pedessssss , ha ... ha ... Hahi!" Chaca bicara lalu tertawa, membuat Fany ikut larut dengan tawanya yang tak biasa.
Fany pun pamit pulang, mengayuh sepedanya dengan pelan sambil menikmati udara sore.
Sampai di jalan depan rumah, Fany tak menyangka kalau Mas Ben sudah pulang dan berdiri di teras depan.
"Kamu habis dari mana Fan?"
Mas Ben bertanya penuh selidik, melihat penampilan Fany yang kotor dan berkeringat.
"Jalan!" jawab Fany cuek, langsung masuk. Mas Ben masih berdiri melihat punggung Fany beranjak pergi.
Mas Ben duduk di sofa kamar menunggu Fany selesai mandi, tak lama Fany keluar dengan handuk membalut tubuhnya, juga handuk kecil dia pakai mengeringkan rambut yang basah. Fany tak acuh, seolah tak ada Mas Ben di sana.
"Ehem ... . " Deheman Mas Ben membuat Fany menoleh, lalu beralih lagi mencari baju.
Sadar dengan tingkah Fany yang seolah cuek, Mas Ben menghampiri, menatap lekat ke wajahnya. Fany risih lalu melempar baju yang masih terlipat ke arah Mas Ben.
Mas Ben menangkapnya dan tersenyum miring.
"Kamu marah Fan? kenapa?" Polos Mas Ben, seolah tanpa dosa.
Fany mendengus kesal.
"Pikir saja sendiri!" seru Fany meninggalkan Mas Ben.
__ADS_1
Mas Ben menarik tangan Fany membuat badannya terhentak ke arah Mas Ben, lalu tatapan mereka menyatu, tangan Mas Ben beralih menggamit pinggang Fany sedang tangan kananya menangkup pipi.