
"Baiklah mulai sekarang aku tidak akan menunggu, aku hanya akan melakukan apa yang aku ingin, jadi izinkan aku... ."
Aku merengkuhnya dan mencium bibirnya yang nampak indah jika tersenyum, namun begitu menyakiti jika bicara, aku membungkamnya dengan kecupan bertubi-tubi.
Fany masih terdiam, nampak bengong, sedangkan aku melingkarkan Cincin di jari manisnya.
"Apaan sih Mas!" Fany mengusap bibirnya.
"Ini apa?" Fany mengangkat tangan dan bertanya tentang cincin yang ku pasang di jarinya.
"Itu Cincin kawin buat kamu Fan, sebagai simbol ikatan pernikahan kita, mulai sekarang kamu harus perlakukan aku sebagai suamimu, jangan cuek lagi!" pintaku tegas.
Fany masih melihat cincin itu, dengan wajah masih memerah seperti saat kucium tadi, gemes sekali!
"Kamu gak perlu kasih ini ke aku Mas," Fany menolak dan mencoba melepas cincinnya.
"Jangan dilepas, ayo kita makan dulu." Aku mencegah dan menarik tangannya untuk turun ke bawah.
***
"Hem, kayaknya enak banget nih." Aku membuka tudung saji dan melihat masakan Fany yang terlihat menggugah seleraku.
Balado telor asam manis pake daun jeruk, kesukaanku banget nih, baunya harum.
Sedangkan Fany masih tampak malu, dan makan sambil menunduk tanpa melihatku sama sekali.
"Kalo udah selese sini aku beresin." Fany membersihkan piring kotor bekasku.
***
"Kamu belum tidur Fan?" Aku menghampirinya yang sedang nonton tv di ruang tengah.
"Belum Mas, kamu tidur dulu ajah."
"Ngga deh, aku temenin yah." Aku berbaring di sofa dekat Fany duduk.
"Kamu inget gak Fan, dulu kamu itu kaya ingus nempel di hidung? Kagak bisa jauh, kemana-mana ngintil aku mulu," kelakarku ke Fany.
"Ish, mana ada," Fany membantah seolah tak terima.
"Emang iya kok, kata kamu aku cowo paling ganteng sekampung."
"Ganteng dari mana? Dulu Mas itu jeratawan!"
"Dih jerawat cuma satu dua, itu juga di tempel pake plester kagak keliatan."
"Bener-bener...dulu muka Mas penuh sama tempelan , kek tiang listrik pinggir jalan, hahah," balasnya antusias, tawanya renyah seperti dulu.
"Yakali tiang listrik! Ngomong-ngomong kenapa dulu kamu suka banget main sama aku, padahal umur kita kan lumayan beda jauh, aku udah ganteng kamu masih ingusan," selorohku, terpingkal.
"Apaan sih Mas, aku nempel mulu sama kamu tuh biar gak di gangguin sama,..." kata-katanya menggantung.
"Sama Irfan The gengs, iyakan? Dulu tuh Irfan suka banget gangguin kamu waktu kecil. Aneh ya, setelah aku pergi, benci jadi cinta, kayaknya," sindirku.
"Gak usah bahas itu deh, lagian kenapa sih Mas pergi gitu ajah?" Pertanyaan yang sudah kuduga akan ditanyakan Fany sejak dulu.
"Hem maafin aku ya, kamu tau kan setelah ibuku meninggal, Ayah memaksaku ikut dengangnya. Mau gak mau ya harus nurut, ninggalin si Mbah juga. Dulu aku paling deket sama Ayah ketimbang Almarhum ibu ataupun si Mbah. Tinggal bareng sama Ayah di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah sampe aku lulus SMA dan saat kuliah aku pindah sendiri ke Jakarta.
Sebenernya saat kuliah aku sering bolak-balik kampung, tapi cuma sebentar."
"Jadi waktu pertama ketemu aku, Mas udah sering pulang kampung?"
"Iya Fan, pasti kamu pengen tanya, kenapa tetep gak pernah kasih kabar? Aku sengaja, selama itu aku belum siap ketemu kamu."
__ADS_1
" Ohh gak papa sih, kalo Mas gak mau cerita sekarang, mmm berarti Ayah Mas masih ada?"
"Masih, dia udah nikah lagi Fan, dan sibuk sama keluarga barunya."
Malam itu jadi malam yang panjang, kita berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
***
"Duh, nanggung banget nih belum bilas, shower ko mati sih, mana liat di bak mandi kagak ada air lagi," gumamku, saat sedang asik keramas.
"Fan, bisa ambilin air gak?" teriaku.
Kagak ada jawaban, terpaksa harus pindah ke kamar mandi belakang, aku melilitkan handuk, bergegas ke kamar mandi dekat dapur. Ternyata Fany lagi asik memasak.
Aku kerjain kayanya seru nih. Busa yang masih nempel di rambut aku balur ke muka, dan berdiri tepat di belakang Fany, aku tiup dari belakang, dan benar saja saat dia nengok ke blakang.
"Waaaaa, setannnn!!" seru Fany memukul-mukul lenganku dengan spatula ajaib.
"Duh sakitt oy, ampun dehh ampunn." Aku diserang tanpa ampun.
"Mas Ben??? Ihh dasarr usil banget sih," gerutunya.
"Panas nihh," ucapku memelas, memgusap lengan.
"Makanya jangan iseng, tuh ada yang mau turun pangkat...," kelakar Fany menunjuk handuk yang ku pake sambil menutup mata dengan telapak.
"Ish... ." Aku membenarkan posisi handuk yang tadi hampir merosot, dan berlalu ke kamar mandi.
"Awas loh Mas, nanti terbang," seloroh Fany, suara tawanya terdengar sampe kamar mandi.
***
Pagi ini kita sarapan bareng, gantian aku yang nampak canggung dengan kejadian tadi.
"Hari ini aku mau ikut senam hamil," terang Fany, saat kami selesai sarapan.
"Oh, jam berapa?"
"Nanti deh, tengah delapan paling."
"Kalo gitu aku anterin ya, sekalian berangkat kantor."
"Nggak usah Mas aku jalan kaki saja."
"Gak pa-pa, nanti aku anterin dulu," pintaku memaksa.
Jarak Sanggar senam memang tidak terlalu jauh, sekitar lima belas menit kita udah sampe.
"Makasih Mas, aku masuk dulu," ucap Fany sambil turun dari mobil.
"Eh cium tangan dulu dong, Istri Solehah," pintaku pada Fany dan dia menuruti lalu masuk ke dalam.
Aku tersenyum padanya, melambaikan tangan, seolah melepas anak TK sekolah.
***
"Pagi Mas bos," sapa karyawan saat aku datang. Aku mengangguk.
"Pagi bos, ciee..." sapa yang lainnya, hem ada yang aneh kayaknya.
"Ehem, baru datang nih Mas? Tuh di atas ada yang nyariin." Pegawai kantor ikut nimbrung turun dari tangga.
"Eh baru datang Ben? Kayaknya kita butuh sekertaris baru nih." Herman menyambut kedatanganku dengan kata-kata yang entah? Aku tidak paham maksudnya, tapi seperti menggoda.
__ADS_1
"Gak perlu, udah tugas Lo pokoknya ngedobel jadi apa ajah di kantor ini, gue udah nyaman sama Lo," selorohku membuat Herman garuk kepala.
"Gile loh, dikira nih pala kagak pening, tuh cewe Lo datang, bawa rantang juga, kalo enak bagi-bagi dong," kelakar Herman, dan ditimpali sorakan dari pegawai lain. Yah, kita memang sedekat itu. Pagawai kantor di sini kebanyakan kalo bukan temen waktu kuliah ya temen main. Sengaja aku gandeng mereka buat kerjasama.
Aku beralih menuju ruang kerjaku, menebak-nebak siapa gerangan.
Dan benar saja dugaanku, dia Sherly!
"Loh Sher kamu ada di sini? tanyaku heran, pagi-pagi begini Sherly datang.
"Iya Mas, dari pagi aku nungguin kamu."
"Hem ada hal penting?"
"Nggak ada, cuma pengen sarapan bareng kamu." Sherly meletakan rantang di atas meja dan membukanya satu-satu.
"Duh aku udah sarapan padahal."
"Makan lagi ajah, pokoknya ini harus habis," tunjuk Sherli ke arah rantang berisi, Nasi, Goreng Ikan, Lalapan dan Sambal.
Nasinya dibentuk lope, duh niat banget ini si.
"Hem aku coba ya?" Aku mencicipi masakan Sherly, lumayan enak, tapi sambalnya super pedes.
"Gimana enak?" Sherly bertanya antusias.
"Mm enak-enak." Aku mengacungkan jempol pada Sherly. Sebenarnya ini sih pedes gila, aku gak biasa makan pedes.
"Kalo enak abisin atuh Mas, ini bagianku makan juga ya, Oiya sambalnya tambah lagi biar sumringah." Sherly menyodorkan makanannya dan menambah sambel di makannku.
Duh moncor, moncor deh abis ini.
Aku tersenyum, memasukan suap demi suap, paling gak bisa nolak dan bikin kecewa kalo orang udah niat baik gini,aku mah.
"Abiss, punya kamu makan ajah, aku udah kenyang banget," Sambil kupeganggi perut rasanya udah begah banget dah.
"Iya deh." Sherly menyantap makananya dan tetep sesekali memaksaku buka mulut.
"Mas, Aaaa...," Sherly menyodorkan satu suapan lagi padaku.
"Udah Sher, kamu ajah, hep... ." Aku menolak, tapi dia tetep menjejalkanya.
Udah gak karuan dah rasanya, ni muka sampe merah meriah, ehh maksudnya merah nahan pedes.
"Akhirnya abis juga," ucap Sherly lega, dengan senyum sumringah.
Aku tersenyum balik dan menyalakan AC, nih baju udah basah karna keringet, masih pagi padahal.
"Ya udah deh, aku pulang dulu ya Mas," pamit Sherly setelah membereskan rantang.
"Mmm makasih ya," ucapku.
"Oke, besok...," Aku menyelah saat Sherly hendak melanjutkan biacara.
"Besok gak usah ke sini Sher, kayaknya aku ada meeting di luar dari pagi," kataku memberi alasan.
"Ya udah deh lain kali ajah." Sherly berlalu.
Aku masih duduk karna terlalu kenyang.
Semoga saja kagak dikasih Mantra pelet makan tadi, hiks.
Aku mulai merasa ada yang tidak beres nih perut, aku harus ke kamar mandi, segera!
__ADS_1