Cinta Pertama Istriku

Cinta Pertama Istriku
Episode 14


__ADS_3

Aku kembali ke mobil, mengobrak-abrik, tapi tidak kutemui kotak P3K.


Sial ... ! aku tak membawanya.


Darah semakin deras mengalir, sedang aku tak menemui sesuatu untuk menahannya.


Tidak ada cara lain, aku sobek lengan baju yang tadi sudah koyak untuk mengikat luka, mungkin ini bisa menahan untuk beberapa saat agar darah tidak terus mengalir.


Semua pertokoan sudah tutup, rumah sakitpun tidak ada di sekitar sini. Aku bingung harus memilih berbalik minta bantuan ke lapas atau lanjut saja?


Aku lebih memilih lanjut, mungkin di depan nanti ada tempat untukku mengobati.


Cukup lama mobil melaju, hampir satu jam baru kulihat ada Puskesmas buka 24jam.


Aku berbelok dan memarkirkan mobil.


Aku masuk dan menemui dokter jaga di sana.


"Silahkan duduk Pak, lengan anda terluka?" Tampak dokter memperhatikan lenganku.


"Ada luka sayatan di sini Dok."


"Baik, saya akan bantu."


Dokter mulai dengan membuka ikatan dan membersihkan darah yang keluar.


"Sepertinya lukanya lumayan dalam dan lebar, ini harus dijait," terang dokter sambil menyiapkan alat untuk menjahit luka.


Aku meringis menahan sakit, sedang dokter terus melakukan pekerjaannya tanpa banyak bertanya lagi.


"Sudah selese, kalo anda mau bisa istirahat dulu di ruang pasien sebelum besok melanjutkan perjalanan lagi," saran dokter padaku.


Tapi aku menolaknya dan memilih langsung pergi. Aku ingin cepat sampe dan bertemu Fany.


***


"Mas Ben? ya ampun kamu kenapa?" Fany langsung menarikku masuk dan memutari badanku, mengamati dari atas sampe bawah, lalu menunjuk lenganku yang terbalut perban.


Aku beralih, memilih duduk di sofa.


"Kamu habis berantem? atau kena begal?" Fany masih memberondongku dengan pertanyaan.


"Aku tidak apa-apa, aku butuh istirahat, tidur dulu yah." Aku langsung masuk kamar tanpa menjawab pertanyaan Fany.


Melepas baju dan menjatuhkan badanku di ranjang, tidur tengkurap, aku berasa gerah dan lelah!


Ntah berapa lama aku terpejam, aku merasa ada bunyi kran air di kamar mandi.


Aku mengerjapkan mata, meraih gawai di atas nakas, kuusap layarnya, terlihat angka 16.30 di sana.


Bunyi kran mati, berganti dengan suara gagang pintu yang ditarik. Aku pura-pura terpejam lagi. Sedang di sana kulihat Fany keluar dengan hanya melilitkan handuk putih sedada di atas lutut.


Waw! jiwa kejantananku melonjak! Aku masih tengkurap dan mengintip, kurasa ini tidaklah dosa!


Fany berdiri membelakangiku, membuka lemari besar dan mengeluarkan satu stel baju, mungkin akan memakainya di sini.


Aku sudah siap akan sesuatu keindahan yang sebentar lagi kulihat! aku menelan saliva dan tak berkedip. Fany mulai menurunkan handuk dan berbalik.


"Bugh ...!" Satu bantal dilempar tepat ke arahku.


"Dikira aku gak tau Mas! awas ya nanti bintitan!" seru Fany.


Aku bangkit dan duduk, karna tertangkap basah!


Duh sial! bukan rejeki hari ini!


Sedang Fany masuk ke kamar mandi lagi, dengan baju yang dibawanya.


***


Aku menaiki anak tangga ke atas balkon dengan membawa secangkir kopi.


Aromanya membuat badan ini segar kembali.


Aku duduk di kursi panjang, menyalakan sepuntung rokok lalu mendongak ke atas nampak bulan sabit yang ditemani banyak gugusan bintang. Aku menunjuk dengan tangan membentuk rasi bintang Scorpio, yah itu adalah zodiakku.


Aku tak sadar akan kedatangan Fany yang tiba-tiba berdiri di depan dan menangkupkan kedua tanganya di jariku.


"Hap ... ." Seolah-olah dia menangkapnya, lalu tersenyum.


Aku membalas senyumnya lalu dengan memberi aba agar dia duduk di samping.


"Aku membawa kota P3K, sini perban Mas aku ganti," pintanya sambil menyingsingkan lengan bajuku.


"Emang bisa Fan?" gurauku.


Fany tak membalas, dia langsung memulainya, sedang aku memperhatikan wajahnya dari dekat. Dan membuang puntung rokok yang sudah mati.


"Jadi Mas habis dipukul atau memukul?"


"Aku rasa dua-duanya."


"Oh Mas Ben dipukuli dan memukuli, teman atau musuh?" tanyanya lagi.


"Musuh yang ku anggap teman!"


"Mm yaya ... Mas Ben dipukul musuh yang dikira temen gitu ya?"


"Ish ... Apaan kamu Fan, nggak jelas deh, yang bener tuh Mas Ben me-mu-kul temen yang jadi musuh!"

__ADS_1


"Itu lebih nggak jelas lagi! nyatanya yang babak belur Mas Ben kok!"


Aku menggaruk kepala yang tak gatal, emang bener sih, tapi nyatanya kita berdua sama-sama babak belur!


Tapi untung lah Fany tidak banyak tanya, dia memang begitu, tidak terlalu kepo kalo aku gak crita dulu.


***


"Mas minta duit!" Fany menyodorkan tangannya ke arahku yang masih berdiri di pintu kamar.


"Tumbenan, buat apa Fan?"


"Buat beli beras Mas"


"Beras? Masih banyak stok kok," kataku heran dengan sikap Fany.


"Mmm ... Anu aku pen beli roti tawar."


"Roti tawar? kebetulan aku habis belanja, cari ajah di dapur," tangannku menunjuk ke arah dapur.


"Ihh bukan yang itu ... Aku pengen yang bersayap!"


"Ohh ya udah nih!" Aku menyodorkan beberapa lembar uang, meski masih bingung roti tawar bersayap tuh kek apa ya? Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Sedang Fany melangkah pergi.


"Fan tunggu!" Aku mencegahnya menujuk bagian bawah, tampak ada bercak merah di rok Fany.


Fany menoleh dan melihat ke arah yang ku tunjuk, dia langsung menutupi dengan tangan dan berjalan mundur.


"Tuh kan Mas ... keburu bocor!" Bibirnya mengerucut, pipinya memerah, lalu masuk ke kamar mandi.


"Oalah maksudnya pembalut toh, bilang dari tadi dong ... Biar tak beliin!" seru aku sambil menahan tawa, emang sekarang nama pembalut ganti jadi roti tawar bersayap yah? aku baru tau!


Aku langsung mangambil sepeda yang terparkir di garasi, karna jarak ****mart tidak terlalu jauh dari sini. Sampe sana aku langsung mendorong pintu, masuk dan mengamati, tapi terlalu banyak barang di sini kalo harus berkeliling sendiri untuk mencari mungkin lama!


Aku bertanya pada Mbak kasir di depan.


"Mbak ada roti tawar?"


"Ada Mas, silahkan di sebelah sana." Dia menunjuk ke bagian depan di mana banyak aneka roti berjejer di sana.


"Bukan itu Mbak, maksudnya yang bersayap," Aku mengepakan tangan seolah meniru gaya burung.


Sedang Mbak kasir menutup mulut seolah menahan tawa,


"Oh yang itu, silahkan Masnya jalan lurus nanti di bagian paling belakang ada banyak pembalut, ehh maksudnya roti tawar yang bersayap," terang si Mbak kasir.


Aku melangkah mencari, nah ketemu!


Tapi banyak banget, ngomong-ngomong yang mana ya? Aku bingung karna terlalu banyak merk dan berbeda ukuran.


Aku bingung, mencoba membaca satu per satu ada tulisan bersayap di kemasan, tapi Fany pake yang mana ya?


Ah udah lah aku masukin semuanya ajah.


Aku membawa keranjang belanja penuh dengan roti tawar bersayap, dan menyerahkannya ke kasir. Mbak tadi masih tampak menutup mulut, ntah lah sebenarnya aku juga agak malu.


"Udah Mas?" tanya Mbak tadi sambil memasukan satu per satu ke dalam kantong kresek, dan bertanya klasik seputar card member, promo dan sebagainya aku hanya menggeleng.


Satu kantong besar berwarna putih kubawa. Aku langsung mengayuh dengan kencang, sampe depan rumah, aku berasa ngos-ngosan, udah jarang banget naik peda, rasanya tuh langsung pegel nih kaki.


Aku masuk, nampak Fany sedang menunggu memakai kaos yang tadi, sedang bawahnya hanya terlilit handuk.


"Mana Mas?" Dia datang menghampiri.


"Nih!" Aku mengacungkan kresek tadi ke arahnya, dan langsung duduk di sofa.


"Ya ampun banyak banget!" Fany melihat isi kresek.


"Aku bingung kamu pake yang mana, jadi aku ambil semua."


"Oiya tadi gak tanya dulu sih, aku pake yang item panjang, Mas gak malu emang?" Dia berkata sambil berlalu ke kamar, tanpa menunggu balasanku.


Ya malu banget atuh, tapi asudahlah ... udah biasa bikin malu akumah!


***


"Kita makan di luar ajah yuk," ajakku malam ini.


"Mmm ... boleh, sekarang? Aku ganti baju dulu yah." Fany berbalik, sedang aku langsung menunggu di depan.


Fany keluar dengan memakai kaos dan di luarnya kemeja panjang kotak-kotak, bawahnya celana jeans, keningku berkerut saat Fany datang mendekat.


"Kenapa? Mas gak suka gaya aku?"


"Mm ... Nggak juga," Aku langsung membuka kancing kemeja yang kupakai agar sama seperti gaya Fany, lalu masuk ke mobil.


"Mau langsung makan?"


"Belum laper banget sih, terserah ajah deh," balas Fany.


"Ya udah jalan dulu ya," ajakku keliling memutari kota, lalu berhenti di gedung bioskop.


Aku memutuskan untuk mengajaknya nonton dulu, kita memilih film dengan genre komedi romantis, sebenernya Fany maksa buat nonton film action tapi aku ogah-ogahan, lagi pengen yang sweet soalnya!


Kita duduk di kursi agak belakang. Setiap adegan di film membuatku tertawa karna memang lucu, juga karna suasana hati lagi baik, aku menoleh ke Fany yang nampak bosan.


Aku menyodorkan popcorn, Fany langsung menyahutnya dan memasukan ke mulut.


Aku agak geli, sepertinya Fany bener-bener bosan, aku mulai jail, tanganku mendekati dan menyentuh tangan Fany yang berada di atas paha, sontak dia langsung menepis, lalu mengambil popcorn dan menjejelnya ke mulutku.

__ADS_1


Acara nonton selese Fany nampak lega wajahnya tak sekisut tadi saat di dalam.


Aku merangkul pundaknya, dia menoleh tapi tak menolak, kita berjalan sampe pintu keluar.


"Mau makan apa?" tanyaku.


"Aku pengen buryam yang tadi mangkal deket taman Mas," jawab Fany, seolah sangat ingin.


"Ohh oke." Kita langsung meluncur ke sana. Tempat buryam berada di pinggir jalan dekat taman kota.


Fany nampak menikmatinya, sebenernya aku jarang makan di pinggir jalan kekgini, tapi ya sudahlah, nyatanya makanan tetep makanan! rasanya enak juga.


Selese makan kita berjalan ke arah taman, sambil menikmati udara malam yang segar.


Duduk di kursi panjang di terangi lampu temaram.


Memandang langit, sayang sekali tidak ada bintang.


"Keknya mau turun hujan deh Mas." Fany mendongak ke atas, seolah menerawang.


"Iya, langit gelap, mungkin bentar lagi nangis Fan," gurauku.


"Ish ... apaan sih, ya udah kita nunggu ujan ajah ya Mas, aku seneng kalo ujan-ujanan."


Aku pergi sebentar untuk membeli dua jagung bakar, lalu menyerahkan yang satu ke Fany.


Fany makan nggak digigit tapi pake tangan dicongkelin satu satu, kurang kerjaan emang ni anak!


Aku yang tertawa melihat tingkahnya.


"Fan lihat itu ada bintang jatuh," Aku menunjuk ke atas padahal nggak ada apa-apa, Fany langsung mendongak dan aku langsung menyahut biji jagung yang ada di tanganngya.


"Mm ... Enak juga," gumamku.


"Ishh ... dasar Mas nih!" Fany cemberut dan memukul pundakku, aku berdiri dan lari. Fany mengejar.


"Aduh ... " Fany jatuh karna tersandung.


Aku memghampiri.


"Kenapa Fan?"


"Nih Mas!" Dia menunjukan sandal jepit yang talinya putus.


"Dih kok bisa pake sendal jepit?" Aku tertawa di buatnya, mana sendal jepit buluk banget lagi!


"Hee ... Nggak sadar aku juga Mas, tadi buru-buru sih." Fany meraih tanganku dan bangkit.


"Coba liat, sandal siapa Fan?"


"Nggak tau!"


"Jangan-jangan punya bi Ratmi!" Kita saling pandang dan tertawa.


"Pantesan dari tadi tuh, aku berasa kek diperhatiin mulu sama orang."


"Udah buang ajah, nih pake!" Aku melepas sepatu dan menyodorkannya ke Fany.


Fany menggeleng, "Nggah ahh ... gede banget tau Mas, aku nyeker ajah!"


Dia langsung melenggang pergi. Aku mensejajarkan lalu melangkah ke depan dan berjongkok.


"Ayo naik!" perintahku agar Fany naik ke punggung.


"Bener nih? Jangan bilang berat ya!" Fany langsung naik ke gendonganku.


Aku merasakan dua gundukan empuk menempel di punggung.


"Fan ... kamu tidur?"


"Nggak kok!"


"Oh kirain, diem ajah si ... besok kalo makan yang banyak Fan!"


"Kenapa emang?"


"Nggak pa-pa biar empuk!"


"Ih ... Dasar omes!" Fany menoyor kepalaku.


Kita pulang, karna nunggu hujan tak kunjujung turun!


Sampe rumah barulah rintik hujan mulai menetes, Fany langsung melepas kemejanya, berlari keluar dan berputar-putar merentangkan tangannya di halaman rumah.


"Udah malem jangan ujan-ujanan Fan nanti sakit!" seruku di teras rumah.


Fany tak menggubris malah makin menikmati.


"Aku udah lama banget gak ujan-ujanan kekgini, aku kangen! ... ayo Mas!" teriak Fany menghampiri dan menarik tanganku.


Aku ikut ke dalam permainannya, berdiri di bawah guyuran air hujan, aku sih berasa dingin banget, tapi Fany begitu antusias.


Aku mematung memandangnya setiap bulir yang jatuh ke wajahnya, menetes ke hidungnya yang kecil lancip, mengalir lagi ke bibir merah tipis, lalu ke lehernya yang menggoda dan membasahi seluruh tubuhnya.


Kaos putih tipis yang dipake semakin menempel ketubuhnya yang basah, membuat lekukan-lekukan dan tampak garis BH warna item!


Seolah ada yang bergejolak di dalam sini!


"Jederrrr ... ." Tiba-tiba suara petir menyadarkan lamunan nakalku, sedang Fany langsung berlari memelukku.

__ADS_1


__ADS_2