
Setelah mengantar Cia pulang, Agam langsung bergegas pergi meninggalkan rumah Cia. Di sepanjang jalan, Agam tidak berhenti memikirkan Cia, gadis yang selalu bertengkar dengannya, dan dengan semua tingkah konyol yang ia perlihatkan.
Apakah Agam mulai menyukainya atau hanya sekedar rasa kasihan semata ? hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Kini Agam sudah sampai di halaman depan rumahnya, lalu langsung memasuki rumahnya.
"Eh....putra umi sudah datang,"sapa mama Agam sambil tersenyum lembut pada putra kesayangannya. Agam menyalami punggung tangan mamanya dan tersenyum.
"Iya mi,"jawab Agam.
"Ayo duduk dulu,"Ajak mama Agam lalu mereka duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.
"Pasti kamu capek ya pulang malem begini. Dari mana kamu ?"tanya mama Agam yang berada di samping Agam sambil mengelus kepala putranya.
"Mmmm....habis nganter temen mi,"jawab Agam.
"Temen apa temen ?"goda mama Agam yang membuat Agam tersenyum kikuk mendengar ucapan uminya.
"Ingat ya nak. Kamu tidak boleh berpacaran sama siapa-pun, karena di dalam agama kita tidak ada yang namanya pacaran,"jelas mama Agam.
"Iya mi. Agam tahu kok,"balas Agam,"Agam ke kamar dulu umi, mau istirahat sebentar umi, capek."Agam melenggang pergi meninggalkan uminya yang masih duduk di sofa.
"Umi harap kamu tidak akan pernah mengecewakan umi sama abi nak,"gumam mama Agam sambil memandang punggung putranya yang mulai menghilang.
Tibanya di kamar, Agam merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya.
"Gue gak boleh suka sama lo Cia. Gak boleh,"gumam Agam.
Sejujurnya Agam mulai suka pada Cia. Sejak kapan perasaan suka itu datang ? Agam pun tidak tahu. Rasa itu datang tanpa aba-aba dan merasuki jiwa manusia yang ia datangi. Entah berpengaruh buruk atau tidak, tergantung manusia itu sendiri.
Sedangkan di tempat Cia, kini gadis itu sedang bermain dengan para kucingnya yang ia tadi sore bersama Agam di kamarnya, ia memutuskan untuk menempatkan kucingnya di kamarnya. Hari ini papa Cia pulang, namun pergi lagi karena urusan pekerjaan. Papanya pun tidak tahu kalau Cia memelihara dua ekor kucing berjenis kelamin laki-laki itu. Ia bahkan tak sempat menemui putrinya.
"Jeje,Jojo kalian imut banget sih dan lucu sama seperti pemiliknya yang juga imut dan lucu,"kekeh Cia sambil memainkan kucing-kucing kesanyangannya.
"Oke sekarang kalian masuk ke kandang dan tidur karena udah malem. Gak baik begadang oke kucing-kucingku."Cia memasukkannya kembali ke dalam kandang yang sudah ia beli.
"Bobok yang nyenyak ya Jejen Jojo dan gak boleh nakal-nakal,"ucapnya lalu menaiki kasur dan memainkan handphonennya.
Ada banyak notifikasi di sana dan membuat Cia malas memainkan handphonennya. Tapi ia tetap memainkan handphonennya. Ia membuka chat satu persatu dari temannya.
**Aldo sepupu laknat😑
Ci besok gue berangkat
bareng ello ya. Soalnya
mobil gue lagi di servis🙏
Oke, tapi ada
syaratnya!!!😉
Cielah pakek syarat
segalak. Emangnnya mau
nikah harus syarat-syarat
segalak😑
Yaudah kalau gitu
jangan ngarep
dapet tumpangan
dari Cia yang
cantiknya tiada
__ADS_1
tara
Buset ngancem bos
Bisa di bilang
seperti itu.
Oke gue bakal penuhin
syarat lo
Oke lah kalau gitu
y**
Cia terkekeh mendengar jawaban dari sepupu laknatnya itu.
**Adam gesrek
Ci besok Aldo mau nebeng
sama lo dan gue juga😂
Udah tahu. Tapi ada
syaratnya.Jaman
now gak ada yang
gratis bossqu😂😉
Heh...emang lo ya heh...
temen laknat lo
Bomat
lo
Makanya kerja biar
gak kere😂
kayak yang lo udah
kerja aja
Gue kan anak sultan
jadi bebas dong. Mau
kerja kek mau enggak
bebas.
yayayaya....anak sultan
mah bebas
hahhahh....😂**
Setelah membalas chat dari teman-temannya, Cia memutuskan untuk pergi ke club karena hari ini Cia tidak ada balapan. Cia memang suka sekali pergi ke club untuk bersenang-senang dan tidak ada yang tahu kalau termasuk kedua sahabatnya Adam dan Aldo kalau Cia suka pergi ke club. Karena Cia tahu kalau Adam dan Aldo akan menghalanginya. Celana jins berwarna hitam agak ketat dipadukan dengan kaos putih polos yang di balut jaket kulit berwarna hitam di luarnya dan rambut yang terurai.
Setelah itu Cia melangkah pergi dari kamarnya kemudian mengeluarkan motornya dari bagasi dan pergi tanpa bermitan pada mbok Surti ART-nya.
Sesampainya di club, Cia melangkah memasuki tempat itu lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Vodkat satu ya,"pinta Cia yang diangguki oleh penjaga bar itu.
__ADS_1
Dentuman musik dj memenuhi ruangan itu dan terlihat banyak orang yang menikmatinya termasuk Cia. Penjaga bar itu menyodorkan segelas minuman pada Cia, dengan cepat Cia meneguk habis minuman itu tanpa tersisa setetespun.
"Hai Cia,"sapa seorang perempuan yang baru saja menghampiri Cia.
Cia tersenyum miring saat melihat orang yang sudah berada di depannya.
"Mau apa lo ke sini ? kangen lo sama gue,"ucap Cia menatap sinis wanita di depannya itu.
"Gue pikir lo gak ke club lagi semenjak kejadian itu,"jawab perempuan itu sambil tersenyum miring menatap Cia.
"Itu hanya masalalu yang hanya diingat dan menjadi pelajaran untuk kehidupan kita tanpa bisa diulang, Maurin,"balas Cia.
"Lo bener, tapi gimana kalau itu terulang lagi," kata maurin.
Perempuan yang menghampiri Cia adalah Maurin. Maurin tahu betul kalau Cia suka pergi ke club.
"Gue gak akan biarin." Cia melengnggang pergi dari tempat itu, Namun langkahnya terhenti saat maurin mencekal tangannya kuat.
"Lepasin,"tegas Cia.
"Kalau gue gak mau. Ello mau apa ?"tanya Maurin dengan nada menantang.
"Gue gak mau nyarih masalah di sini. Jadi lepasin gue atau lo bakal nyesel,"ancam Cia.
"Oh ya."
Cia mendorong tubuh maurin dengan keras hingga tersungkur ke lantai dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Awww....,"ringis Maurin memegang sikunya yang sakit.
Cia tersenyum miring melihat Maurin kesakitan lalu menghampirinya.
"Gue gak akan main-main sama apa yang gue ucapin dan lo udah tahu itu kan. Sekali Cia berucap, dia pasti akan memenuhinya walau apapun itu,"tegas Cia lalu keluar dari club dam membuat Maurin mengepalkan tangannya sambil melihat kepergian Cia.
"Gue bakal hancurin hidup lo Izilicia Ansyafa Endarson,"gumam Maurin dengan penuh penekanan.
Cia memarkirkan motornya di pinggir jalan lalu memasuki Area taman yang sudah tampak sepi karena malam juga sudah larut.
"Argghhhhhhhhh,"teriak Cia lalu duduk di salah kursi yang ada di taman itu.
"Hiks.......hiks....hiks....Cia kangen mama, Cia pengen ketemu mama. Di sini gak ada yang sayang sama Cia semuanya benci sama Cia hiks....,"ucap Cia di sela-sela tangisannya dengan salah satu tangan memegang bagian samping kepala.
"Kenapa dia harus kembali, kenapa ? "teriak Cia.
"Hiks.....Masalalu yang udah gue lupain, kini kembali lagi. Apa yang harus gue lakuin lagi ? supaya masalalu gue pergi dan gak kembali lagi. Gue gak sanggup hidup gini terus. Cia gak sanggup lagi tuhan, Cia gak sanggup,"lanjut Cia sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Cia terus menangis, menumpahkan seluruh kesedihannya di tempat itu. Kesedihan yang selama ini berusaha ia pendam dan lupakan. Kesedihan yang membuat-nya seperti sekarang. Cia menyembunyikan semua kesedihannya dengan selalu tersenyum dan bersikap konyol di depan orang lain. Karena ia tidak mau orang lain menyebutnya wanita lemah yang bisanya hanya menangis.
"Cia,"ucap seseorang dari belakang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Siapakah dia ? bisakah kalian menebaknya😆
__ADS_1
jangan lupa buat sukai dan komen cerita ini supaya author bisa perbaiki kesalahan yang ada dalam cerita ini🙏🙏