
Setelah pergi ke pasar,Cia langsung pulang mengendarai sepeda motornya. Sementara Agam dan ibunya masih berada di pasar membeli bahan-bahan keperluan dapur mereka.
20 menit berlalu, akhirnya harapan Agam terpenuhi, yaitu untuk pulang ke rumahnya. karena Agam tidak suka berada lama-lama di pasar apalagi cuaca saat itu sedang panas-panasnya.
"Ayo nak, kita pulang,"ajak mamanya dan diangguki Agam.
Mereka pun keluar dari pasar, menghampiri mobil mereka dan memasukinya lalu Agam melajukan mobilnya menjauhi pasar sampai akhirnya ia dan mamanya sampai di kediaman mereka tercinta.
"Bun, Agam ke kamar dulu mau mandi gerah,"pamit Agam dan diangguki mamanya.
Setelah sampai di kamarnya, Agam merebahkan tubuhnya di atas kasur besar kesayangannya dan bermain ponsel. Terdengar banyak notifikasi di sana dan salah satunya dari notifikasi itu berhasil membuatnya terkejut bukan main.
+*6282********
Save ya Izilicia Ansyafa Endarson
Agam
hmmm....
+6282*********
ish.....cuek amat mas nya😂awas lo nanti
jomblo seumur hidup tahu rasa hmmm...
Agam
Dari mana ?
+6282*********
Apanya ?
Agam
nomer gue
+6282*********
Ciee.....udah berani manggil 'ello-gue' sekarang😉
Agam
hmmmm.......
+6282*********
__ADS_1
yang jelas gue dapetnya dari orang bermata dua,hidung dua punya mulut,telinga,tangan dan kaki😂
Agam
terserah.....
+6282*********
udah dulu ya chatigannya, gue ada urusan byby....oh ya jangan lupa save nomer gue 'Cia yang cantik' gitu😆
Read**
Setelah itu Agam ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya dan tak lupa ia menyimpan nomer Cia dengan nama 'syafa bandel' sambil tersenyum sebelum akhirnya ke kamar mandi.
Sementara di tempat lain , tepatnya di kediaman Endarson terdapat seorang gadis di dapur yang tengah diam layaknya patung sambil memandang bahan-bahan makanan di meja yang ada di hadapannya.
"Haduhhh.....gue masak apa ya ? gue kan gak tahu caranya masak,"gumam Cia dengan wajah malasnya. "Boro-boro masak, ke dapur aja jarang jangankan ke dapur megang sapu aja gak pernah gue,"lanjutnya.
Kemudian dia tersenyum lalu mengambil ponsel dari celana pendek di atas lutut dan menelpon seseorang. Kemudian dia keluar dari dapur menuju teras depan rumahnya yang menandakan bahwa ia sedang menunggu seseorang.
Tak berapa lama, sebuah motor sport berwarna hijau memasuki halaman depan rumah Cia.
"Heh....syukur lo pada udah dateng, kalau enggak bisa mati kelaparan gue,"ujar Cia.
"Syukur lo mati, kan enak gak bakal ada yang repotin kita. ya gak Do,"ujar salah pria yang memakai kaos dan celana diatas lutut.
"Dosa gak ngebunuh sahabat sendiri ?"tanya Cia.
"Udah udah udah kalian berantem aja. udah kayak tom and jerry gak sekalian ke ring tinju biar kelar lo pada,"tegas Aldo sambil memandang Agam dan Cia bergantian.
Cia menelpon Aldo dan Agam untuk kerumahnya dengan membawa makanan, karena dia tidak mau mati kelaparan di rumahnya sediri.
"Yaudah, ayo masuk kita makan sama-sama,"ajak Cia.
mereka pun memasuki rumah Cia dan langsung menuju ruang makan.
"Lo pada duduk sini dulu, gue mau ambil mangkok."Cia meninggalkan Aldo dan Agam yang sudah duduk di kursi meja makan.
Tak butuh waktu lama, Cia kembali membawa tiga mangkuk beserta sumpit ke meja makan dan memberikannya pada Adam dan Aldo.
"Selamat makannnnnnn,"ujar Cia dengan keras lalu menyantap mie ayam dengan cepat seperti anak yang tidak di beri makan selama setahun.
"Papa lo kemana Ci ? kok gak nongol dari tadi,"tanya Adam di sela makannya.
"Tahu, hilang kalik,"jawab Cia lalu sebelum akhirnya menyantap makanannya kembali.
Sudah 3 hari papa Cia tidak pulang ke rumahnya walau untuk sekedar menemui putri semata wayangnnya. Papanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga lupa kalau ia memiliki seseorang yang sangat berharga dari apapun yang ia miliki sekarang. Cia yang sudah tahu kebiasaan papanya mencoba untuk acuh walau sering sedih ketika mengingat kelakuan papanya.
__ADS_1
Adam menatap Cia dengan tatapan kasihan terhadap nasib sahabat perempuannya ini. Walau Cia sama sekali tidak menampakkan kesedihannya, ia tahu bahwa Cia sering menangis karena sikap papanya yang seakan tidak peduli dengan Cia.
awalnya dia mengira bahwa kehidupan Cia sangat bahagia dan jauh dari kata kesedihan. Tapi kemudian dia tahu bahwa di balik senyuman dan tingkah konyol Cia terdapat banyak kesedihan yang belum tentu orang lain bisa menghadapinya.
dari kehidupan Cia ia belajar bahwa tidak semua yang kita miliki akan membuat hidup kita bahagia dan apa yang kita lihat belum benar dan yang tidak terlihat itulah yang benar.
"Heh...kenapa lo natap gue kayak gitu ? lo naksir ya sama gue,"goda Cia saat ia menyadari bahwa Adam mempertihakannya sejak tadi.
"Ah...enggak. siapa juga yang naksir sama lo. udah jelek, bandel, suka keluyuran hihh....gak ya,"jawab Agam.
"moso seh... ,"kekeh Cia.
Aldo hanya memperhatikan tingkah sahabatnya yang konyol tanpa mau ikut bergabung dan lebih memilih menghabiskan makanannya.
"Eh...Do. Diem-diem baek lo dari tadi. Kesambet lo ya ,"ujar Cia saat menyadari bahwa sedari tadi sepupunya hanya diam.
"Mungkin karena tadi dia.....aduhh........,"ringis Adam saat kakinya di injak Aldo.
"Lo kenapa ? tiba-tiba kesakitan gitu, jangan lo juga kesambet kayak Aldo.
"Enak aja. itu tadi gue tiba-tiba perut mules. gue ijin ke toilet dulu ya."Adam melenggang pergi meninggalkan Aldo dan Cia.
"Ada-ada aja tuh anak. untung sahabat kalau enggam udab gue makan kalik tuh anak,"kekeh Cia sambil memandang punggung Adam yang mulai menghilang lalu beralih menatap Aldo.
"Lo belum jawab pertanyaan gue,"ujar Cia.
"Gue gak pa-pa kok. cuma males aja ngomong sama orang gak jelas kayak kalian,"kekeh Aldo.
"Asem lo."Cia kemudian pergi dengan membawa mangkok ke dapur.
"maafin gue Ci," batin Aldo sambil menatap Cia yang pergi ke dapur.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hai hai aku kembali lagi. maaf ya kalau pendek soalnya aku lagi gak mood buat nulis😆 semoga kalian terhibur ya dengan cerita ini☺ dan jangan lupa like dan komen supaya author tahu bisa lebih baik lagi menulisnya.