Cinta Sang Mualaf

Cinta Sang Mualaf
MENYEMBUNYIKAN


__ADS_3

"Cia,"ucap seseorang dari belakang.


Cia buru-buru menghapus air mata dan menghentikan tangisannya kala mendengar suara panggilan seseorang dari belakangnnya.


Cia berdiri lalu berbalik dan tersenyum merekah pada seorang pria yang tengah menghampirinya dengan wajah penuh pertanyaan.


"Ngapain lo malem-malem di taman sendiria? terus tadi gue sempet denger lo nangis?"cerocos Aldo yang kini sudah berada di hadapan Cia.


Cia kebingungan dan wajahnya tampak berfikir apa yang akan dia katakan pada Aldo, tidak mungkin kalau dia harus menceritakan kejadian di clubb, bisa-bisa ia akan mendapat hadiah berupa ocehan dari sepupunya itu.


"Heh....jawab, malah bengong aja,"timpal Aldo saat melihat Cia melamun.


"Hah..ah...iya.,"jawab Cia dengan gugup.


"Kok lo gugup gitu sih. Biasanya lo petakilan,"kekeh Aldo.


"Yeah...itu mah kata lo aja. Tapi bener juga sih,"balas Cia sambil menyengir kuda. "Duduk dulu napa!! kayak orang-orangan yang ada di tengah sawah aja berdiri muluk,"ajak Cia dan diangguki Aldo.


Mereka berdua duduk di bangku panjang yang ada di taman itu.


"Ello belum jawab pertanyaan gue tadi. Kenapa malem-malem lo di sini ? terus kenapa tadi lo nangis?"tanya Aldo lagi.


Cia tersenyum lebar saat menatap Aldo di sampingnnya. "Ya jalan-jalan lahh...bosen tahu di rumah muluk sekalian nyari cogan, kalik aja ada nyantol sama gue yang cantik dan imut tiada tara seantero galaksi,"ujar Cia sambil menaik turunkan kedua alisnya memandang Aldo.


Aldo menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Cia. "Iya awalnya mereka mau sama lo tapi habis liat kelakuan lo yang mirip monyet, mereka bakal buang lo kayak sampah,"sarkas Aldo tanpa menatap Cia yang kini mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan pedas dan menusuk dari sepupu laknatnya itu.


"Bomat,"ketus Cia.


"Terus kenapa tadi lo nangis?"tanya Aldo yang menatap Cia di sampingnnya.


"Siapa yang nangis. Dalam kamus kehidupan seorang Izilicia Ansyafa Endarson tidak ada kata menangis. You know that,"Bantah Cia.


"Ello pikir gue budek dan buta gitu. Gue denger dan lihat secara jelas kalau lo itu nangis dan percuma aja lo ssmbunyiin, orang mata lo sembab gitu dan hidung lo merah itu pertanda kalau lo habis nangis,"jelas Aldo sambil memandang Cia namun Cia tidak memandangnnya.


"Terserah lo aja. Ini udah hampir tengah malem lo mau tidur di sini atau mau ikut gue pulang?"tanya Cia mencoba mengalihkan pembicaraan.


Cia tidak akan memberi tahu atau memperlihatkan kesedihannya pada orang lain. Biarlah dia yang menanggung sendiri kesedihannya dari pada harus melibatkan orang lain dan membawa masalah pada mereka.


"Kalau lo gak mau cerita sekarang gak pa-pa, tapi satu hal yang perlu lo ingat Ci, gue bakal selalu ada buat lo di situasi apapun dan jadi orang pertama yang bakal lindungin dan bantu ello nyelesain semua masalah di hidup lo,"kata Aldo lalu berdiri dan melenggang pergi meninggalkan Cia yang masih duduk diam setelah mendengar ucapan Aldo.


"maafin gue Do,"lirih Cia sambil memandang punggung Aldo yang mulai mnghilang.

__ADS_1


Mentari mulai menampakkan sinarnya, menembus celah jendela dari kamar seorang pria yang tengah tertidur pulas.


"Agam,"panggil seseorang dari balik pintu. "Bangun sayang, ini udah pagi loh,"timpalnya sambil mengedor-ngedor kamar Agam.


Agam mengerjapkan matanya berkali-kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupil matanya. Lalu turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.


"Iya bun,"jawab Agam sambil tersenyum manis pada mamanya begitupun dengan mamanya.


"Sayang sekarang kamu mandi terus anterin bunda ke pasar buat beli bahan-bahan makanan di dapur, udah pada abis soalnya,"ujar mamanya dan dia angguki Agam.


"Bunda tunggu di halaman depan ya."Lalu mama Agam pergi dari kamar putra tercintanya.


Setelah 15 menit bersiap, Agam bergegas turun dan menghampiri mamanya yang sudah menunggunya di halaman depan.


"Maaf bun, Agam lama,"ujar Agam.


"Gak pa-pa. Ayo berangkat keburu siang,"ajak mamanya lalu mereka masuk ke dalam mobil menuju pasar.


Di dalam mobil hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka, sampai akhirnya mama Agam memulai perbicaraan.


"Oh ya nak, bagaimana kabar temen kamu ? kalau gak salah namanya Cia,"tanya mama Agam dan membuat Agam terkejut dengan pertanyaan mamanya.


"Enggak bunda pengen tahu aja kabar dia. Dia kelihatannya gadis yang baik,"jawab mamanya sambil tersenyum.


Sementara Agam hanya bisa tersenyum mendengar jawaban mamanya. Entah kenapa mamanya tiba-tiba menanyakan kabar nya ? Entahlah hanya mamanya dan tuhan yang tahu.


Sekitar 25 menit perjalanan, akhirnya Agam dan mamanya sampai di tempat tujuan. Mereka berdua turun dari mobil lalu masuk ke area pasar membeli kebutuhan dapur mereka. Meskipun mereka mempunyai ART tapi mama Agam tetap belanja sendiri untuk kebutuhan dapurnya.


Mereka menghampiri setiap pedagang yang ada di dalam pasar itu untuk memilih sayur atau bahan makanan lainnya. Agam mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pasar yang saat itu tengah ramai karena hari minggu. Agam terus mengekori bundanya yang saat ini mereka tengah berada di salah satu lapak pedagang rempah-rempah.


"Pak kurangin dong harga bawang merahnya, masa jadi mahal, kemarin mbok Surti beli di sini murah kok, sekarang kok jadi mahal. jangan-jangan bapak mau korupsi ya,"ujar seorang gadis yang tengah berdebat dengan salah satu pedagang rempah-rempah di pasar itu.


"Sekarang udah naik harga neng, kemarin masih enggak. Lagian neng ini keliatannya kaya, duit segitu mah gak ada apa-apanya buat neng,"sanggah pedagang itu.


Mama Agam dan Agam yang mendengar perdebatan antara dua orang itu, memutuskan untuk menghampirinya.


"Yaelah pak yang kaya itu bukan saya tapi ayah saya, kalau saya mah gak punya apa-apa gimana sih bapak,"jawab gadis itu.


mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi sepasang mata memperhatikan interaksi mereka dan hanya bisa tersenyum melihat gadis dan pedagang yang masih berdebat.


"Udahlah pak, kayak kemarin aja ya,"pinta gadis itu lagi.

__ADS_1


"Nak Cia,"panggil mama Agam dan membuat Cia menoleh ke samping dan membulatkan matanya menatap dua orang di sampingnnya lalu tersenyum.


"Ehhh....tante, Agam,"ujar Cia.


"Gimana neng jadi beli gak ?"tanya pedagang sayur itu.


Cia menoleh dan menatap pedagang itu lalu menghela nafasnya kasar.


"Iya jadi kok pak, tenang aja."Cia mengambil beberapa lembar uang dari saku celananya lalu memberikannya pada pedagang itu.


"Saya capek debat sama bapak, makanya saya setuju dengan harga yang sekarang,"timpal Cia.


"Gitu dong neng, jadi gak perlu debat kita dari tadi,"balas pedagang itu.


"Kamu belanja ke pasar sama siapa ?"tanya mama Agam.


"Sendiri tan, soalnya mbok Surti lagi sakit, kepalanya pusing jadi saya deh yang belanja,"jawab Cia dan mendapat anggukan dari mama Agam.


"Yaudah tante, ini udah mau siang. Saya permisi dulu ya,"ujar Cia, "By by Agam,"timpal Cia lalu pergi dari hadapan Agam dan mamanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


hai hai I'am come back guys...maaf🙏baru update ya....mudah-mudahan kalian suka..😉

__ADS_1


__ADS_2