
Kini Aldo dan Adam sudah berada di rumah Cia tepatnya di taman depan milik keluarga Cia. Setelah pulang dari sekolah di sore hari, mereka langsung pergi ke rumah Cia untuk berkumpul.
"Nih minumannya," ujar Cia, meletakkan nampan yang berisi minuman untuk mereka.
"Tauh aja lo kalok kita haus," balas Adam, lalu mengambil jus dan meminumnya. sementara Aldo dan Cia hanya menggelengkan kepala mereka.
"oh ya ci, tadi lo kenapa sampek lari-lari kayak gitu ?" tanya Aldo, sembari menatap Cia yang sedang fokus dengan handphonennya.
"Huh....seger," celetuk Adam, setelah menghabiskan minumannya.
Adam menepuk bahu Cia pelan yang membuat sang empu tersulut emosi.
"Ihh.....apa sih dam. lagi seru nih," dengus Cia tetap fokus pada handphonennya.
"Noh...di tanya sama Aldo. game muluk," balas Adam tak kalah sengit.
"Tuh kan jadi kalah gue, ihhh....." Cia membanting handphonennya di meja dengan keras yang membuat Adam dan Aldo menatapnya jenah. "Ini gara-gara lo. Coba aja tadi lo enggak ganggu gue, mungkin gue enggak akan kalah." Cia menatap tajam Adam hingga membuat yang di tatap bergidik ngeri.
"Itu cuma game. Lo kan bisa main lagi nanti," sahut Aldo, "sekarang lo harus jawab pertanyaan gue tadi !!" pinta Aldo dengan memandang Cia yang masih tersulut emosi.
"Iya. jawab tuh pertanyaan Aldo, Jangan marah-marah muluk, nanti cepet tua tahu rasa hmmm......," pungkas Adam seraya menunjuk Cia yang masih menggerutu kesal padanya.
"Gue les," ucap Cia sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. sedangkan Adam dan Aldo mengerutkan dahinya bingung setelah mendengar ucapan Cia.
"Les ? Les mapel apa lo ?" tanya Aldo, ingin tahu.
"Yaelah Do lo kayak enggak tahu Cia aja. apa lagi kalau bukan matematika," jawab Adam, sembari menatap Cia di sampingnnya.
"Bener Ci ?" tanya Aldo, lagi pada Cia dan mendapat anggukan darinya.
"Lo tahu guru les private gue siapa ? manusia es itu noh yang di banyak di sukai cewek-cewek di sekolah," jelas Cia, dan membuat Aldo dan Adam melongo mendengar ucapannya.
"serius lo ?" tanya Adam memastikan ucapan Cia dan mendapat anggukan dari Cia.
☆☆☆☆☆☆
"CIA TANGKAPPP........," teriak Aisyah saat akan melempar bola basket pada Cia, Cia yang mendengar instruksi langsung siap menerima bola basket yang melambung di udara.
Aisyah Dwi Savitri adalas gadis cantik berjilbab, hidung mancung, mata lebar dan berkulit putih yang mampu menghipnotis para kaum adam yang melihatnya. Dia adalah teman sebangku dari Cia yang mulai masuk sekolah kemarin karena sakit.
"Yeyyy.....," pekik Cia saat bola basket yang ia lempar memasuki ring. Aisyah menghampiri Cia lalu memeluknya.
"Bagus sekali," puji Aisyah di balik pelukan mereka.
__ADS_1
setelah itu pertandingan pun selesai dan di menangkan oleh Cia dan teman-temannya yang sedari tadi bertanding.
"Sesuai perjanjian, lo harus minta maaf sama Aisyah di depan umum. Se.ka.rang. ," titah Cia menatap gadis berambut panjang di depannya.
"Gue minta maaf," ketus gadis berambut panjang sembari menjulurkan tangannya pada Aisyah. Aisyah tersenyum pada gadis di depannya.
"Gue udah maafin lo kok, sebelum lo minta maaf," ucap Aisyah lalu melepas tangan dari gadis itu. sedangkan Cia tersenyum miring melihat kejadian itu.
Sementara di pinggir lapangan Agam dan teman-temannya yang menyaksikan peristiwa itu tersenyum kecuali Agam dengan wajah datarnya.
"Hebat juga ya si Cia sama Aisyah heh....," puji Noval sambil memandang Cia dan Aisyah yang masih ada di tengah lapangan.
"Bener kata lo. gue pikir mereka enggak bisa apa-apa khususnya si Cia bisanya cuma buat masalah," kata Tio di selingi kekehan olehnya.
Sementara Cia dan Aisyah pergi dari tengah lapangan itu menghampiri Aldo dan Adam yang sedang duduk di pinggir lapangan sambil tersenyum.
"Wihh...hebat bener sahabat gue," kata Adam sambil merangkul Cia sementara Aisyah hanya tersenyum.
"Iya dong, sepupu gue gitu loh...," timpal Aldo tersenyum pada Cia di depannya.
"Biasa aja kalik. ini juga karena Aisyah, kalau dia enggak ngasih bolanya ke gue, enggak akan masuk kan tuh bola." Cia beralih menatap Aisyah di sampingnnya.
"sekarang gue jamin tuh si nenek lampir enggak bakal gangguin kalian khususnya lo Aisyah," ucap Aldo memandang Aisyah dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Jam 3 di perpus," ucap seseorang siswa yangbaru saja menghampiri Cia,Aldo,Adam dan Aisyah.
"Hah....." Cia melongo tak percaya mendengar perkataan Agam barusan. jam 3 waktunya Cia bermain game, mana mungkin dia melewatkan permainan gamenya. setiap pulang sekolah Cia langsung bermain game hingga tidak mengerjakan tugas yang gurunya berikan.
"kalau gue enggak mau?" tanya Cia mengangkat sebelah alisnya.
"Bakal gue aduin," ketus Adam, Cia hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar jawaban Agam.
Lalu Agam melenggang pergi dari tempat itu diikuti Noval dan Tio. sementara teman- teman Cia tertawa kecil setelah melihat kejadian yang baru saja mereka saksikan.
"Udah terima aja. ini semua demi kebaikan ello," ucap Aisyah lembut.
☆☆☆☆☆
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Cia buru-buru pergi dari kelasnya menuju ke perpustakaan untuk memulai les. tetapi sebelum pergi ke perpus, Cia terlebih dahulu menghampiri Aldo dan Adam yang masih berada di kelasnya.
"Eh...Cia lo ngapain kesini ?" tanya Aldo sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya nemuin kalian lah," jawab Cia dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Santuy bro," balas Adam.
"Kalian pulang duluan aja ya, soalnya gue mau les dulu. nanti kalau kalian nunggu gue, takutnya lama," cerocos Cia pada Aldo dan Adam di depannya.
"Yakin lo enggak mau di tunggu?" tanya Adam, "takutnya lo ngilang lagi," kekeh Adam.
"enaknya lo kira gue barang apa, pakek ngilang segala," gerutu Cia, "yaudah ya gue perpus dulu by.....," pamit Cia, lalu pergi dari hadapan Aldo dan Adam.
"SEMANGAT CIA," teriak Aldo.
"SEMOGA SELAMAT," timpal Adam lalu tertawa kecil.
"Lo kira dia mau perang." Aldo kemudian pergi diikuti Adam di belakangnnya.
sementara itu, sekarang Cia sudah berada di depan ruang perpus dan melangkah memasukinya. saat berada di dalam perpus pandangannya langsung tertuju pada seorang pria yang sedang duduk sambil membaca buku. Cia memutuskan untuk menghampirinya.
"Telat," kata Agam yang terkesan dingin.
"Gue baru telat 5 detik aja dan lo marahin gue," balas Cia sambil menatapnya tak percaya. gadis itu hanya telat 5 detik saja tetapi pria itu memarahinya seakan-akan dia sudah telat 5 jam saja.
"Duduk," titahnya pada Cia. Cia pun menurutinya. "kerjain ini," lanjutnya, memberikan buku tulis pada Cia.
"Heh...yayaya." Cia pun mengerjakannya asal, ya tentu saja karena Cia memang tidak ahli dalam bidang mapel ini. dengan cekatan dan cepat Cia menyelesaikan setiap soal itu, entah benar atau tidak. Sedangkan Agam meliriknya sekilas lalu kembali membaca buku di depannya.
"Ini," kata Cia sambil memberikan buku tulis pada Agam dan memainkan game yang ada di handphonennya.
Sedangkan Agam yang melihat jawaban Cia hanya menggelengkan kepalanya. mungkin salah semua kalik ya.
"Gue bakal jelasin ke ello," ucap Agam melirik Cia yang fokus memainkan game nya. karena tidak ada respon apapun dari Cia, Agam merebut handphone Cia dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Ini waktunya belajar bukan ngegame," jelas Agam ketus pada Cia yang melihatnya jenah.
"Ello tuh ya bisa enggak bicara enggak ketus gitu ke orang. pantesan masih jomblo sampek sekarang, lo nya kayak gitu. awas lo nanti enggak ada cewek yang bakal mau sama lo. tahu rasa," cerocos Cia sembari memandang Agam dengan penuh peringatan.
"Jodoh ada di tangan Allah, jadi yang pantas nentuin saya punya cewek atau enggak hanya Allah dan dalam islam pacaran itu di larang," jelas Agam sembari menatap Cia dengan manik hitamnya. Sedangkan Cia di buat salah tingkah terhadap tatapan dan ucapan dari Agam.
"haduh...kok dia liatin gue sampek segitunya sih," runtuk Cia dalam hati.
"ya..ttterserah lo deh. katanya mau jelasin, ayo jelasin," ujar Cia gugup dan memandang buku tulis di hadapannya.
Akhirnya Agam pun menjelaskan setiap kesalahan dari jawaban matematika yang Cia kerjakan dan dengan terpaksa Cia harus mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Agam. mereka duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas antara mereka.
////////////////////////////////////
__ADS_1