Cinta Setelah Kamu

Cinta Setelah Kamu
Bab_11_ Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Hush.


" Akhirnya selesai juga aku pup, bay toilet sampai jumpa nanti," ucapku pelan.


Ternyata benar penjaga berdiri didepan toilet, kasihan .


" Silahkan kalau sudah selesai," katanya saat melihat ku.


Membuat ku mengangguk, hingga sesaat.


" Bentar dulu, karena saya harus mengambil pembalut di kamar, dari pada tembus nanti di mo… "


" Cepat lah, sebelum bos marah," potongnya sedikit ngeri kalau benar aku tembus di mobil.


Tapi kan bohong, tawaku senang dalam hati.


Habisnya mendadak pulang, kayak orang yang tidak sabaran bulan madu saja, hihihi.


Akhirnya aku sudah ada waktu sedikit meski tidak banyak, yang penting aku ada pamit pada lbu, sebagai perpisahan untuk sementara atau sedikit lama, membuat ku sedih.


Aku menoleh kebelakang. " Gak percaya amat sampai ikutin aku, cek cek." Membuat ku kesel melihatnya.


" Benar-benar anak buah penurut," gumanku pelan.


Aku terus berjalan sampai aku ketemu lbu, dilorong bersama bang Al, yang sedang menenangkan lbu, aku memanggil mereka secepat mungkin aku menghampiri mereka dan langsung memeluk nya begitu juga bang Al, meski kebanyakan diam saat aku lihat.


" Ibu, bang Al. Masuk ke kamar sebentar yuk …. " bisikku pelan biar tidak kedengaran oleh anak buahnya suamiku.


Meski mereka bingung, aku menyakinkannya.


Sampai ditempat kamarku.


" Biar lbu, saja yang masuk aku diluar saja. Dari pada curiga nanti," ucap bang Al, membuat kami mengangguk.


" Apakah pak sopir ingin masuk juga, untuk melihat pe… "


" Tidak, saya diluar saja !" Tegasnya sedikit malu, membuat lbu mengeryit.


" Haha… bagus, kalau gitu aku masuk dulu." 


Belum berapa lama, aku dipanggil oleh pak tua Devan langsung. Sebelum aku pamit pada lbu, aku sempat kasih uang tabungan ku padanya, meski mulanya ditolak ,aku tetap memaksa nya untuk menerimanya sampai  Devan, datang.


Dan lbu, terpaksa menerimanya. Setidaknya aku sedikit lega, walaupun pamit secara mendadak, setidaknya aku tidak perlu terlalu khawatir selama lbu, baik-baik saja.


" Cepat masuk ! Simpan saja air matamu di rumah jangan dimobil saya, membuat saya jijik lihat dramamu itu !" Tegasnya, membuat ku geram ingin makannya hidup-hidup.


" Kenapa melihatku seperti itu !"  Ketusnya.


Brak !


Suara pintu mobil yang ditutupi dengan keras.


Membuat ku melotot padanya, dari sedih menjadi kesel . Oh baiklah aku lelah untuk bertengkar, seperti katanya sebaiknya aku simpan tenaga ku di rumah.


Padahal aku ingin melihat mereka lewat kaca mobil samping, karena ketahuan oleh Devan. Membuat nya menukar posisi dengan ku.


Meski begitu aku bisa melihat dari belakang kaca mobil meski gelap aku tetap melambaikan tanganku pada mereka.


" Sampai jumpa semuanya…. " Ucapku sebelum mobil melaju.


" Cepat berangkat sebelum drama dimulai lagi !"


" Baik  bos," hingga berjalan lah mobil dengan cepatan sedang.

__ADS_1


" Kenapa dia diam saja dari tadi ? Apakah dia takut dengan ku bagus kalau benar ." Senang Devan didalam hati.


" Entah kemana keberanian yang dulu, atau takut dengan kekuasaan ku apa lagi menyangkut tentang panti itu, huh. Membuat ku tidak sabaran untuk menyiksanya, oh cepat lah sampai di masion," senang Devan dengan sedikit senyum yang memiliki maknanya tersendiri.


' hemm, sebaiknya aku tidur saja.' 


' aku yakin, pasti pak tua Devan tidak sabaran dalam menyiksaku nanti, apa lagi dengan mamanya sama juga akan mendukung anaknya.'


' Siap-siap mulai hari ini masalah sudah menunggu di depan mata, mari kita beraksi.' batinku, rencana apa yang akan mereka lakukan pada ku nanti.


Tanpa terasa terbawa mimpi indah bersama keluarga yang lengkap akan kebahagiaan bersama bang Al, ingin rasanya aku tidak bangun. 


Ku mohon jangan ada yang mengganggu keindahan yang ada, sebelum melihat kesedihan dari kejauhan yang akan ada atau tidak.


Suasana mulai meredup dalam keindahan yang akan berganti nya rembulan malam sebentar lagi, membuat ku nyaman dan hancur disaat….


 Tit.. !  Tit.. !


Membuat ku terkejut dalam nyamannya tidur.


" Bangun ! Kita sudah sampai, jangan berharap saya akan menggendong kamu seperti di novel, apa lagi air liur mu membuat mobilku kotor !" Ketusnya.


Membuat ku sedikit sempoyong karena masih pusing, dari Bogor ke Jakarta. Membuat ku ketiduran selama dua jam, menanti dalam mimpi satu jam.


Seperti orang singgah dari satu tempat ke tempat lain.


" Gak ada lembut-lembutnya pada perempuan," gerutu kesal.


Membuat ku bingung, dimana ini?.


" Masuk mbak," suruh anak buah Devan, yang mengerti akan kebingungan ku.


" Ah iya, " 


" Tapi.. bos,"


" Tidak terima penolakan!" 


" Sini biar saya membawa sendiri, lagi pula barangnya tidak banyak kok," benar aku tidak banyak membawa baju, atas perintah Devan sendiri.


" Sayang akhirnya kamu sampai juga, mama udah dari tadi menunggu kedatangan mu, apakah ia menyusahkan kamu didalam perjalanan ? " Tanya nya dengan ujung mata.


 


Apakah lbu mertua tidak bisa melihat orang lain dengan benar .


" Hem, iya begitu lah Ma," jawabnya membalas pelukan Mamanya.


" Kau, jangan berani terhadap keluarga saya. Jangan mentang kamu menikah dengan keluarga kaya raya, kehidupan mu bisa berubah dratis, mimpi !" Ketusnya dengan nada jijik melihat ku.


" Ma, aku masuk duluan ya."


" Iya sayang, istirahat sana. Pasti capek dalam perjalanan tadi kan ?" Angguk Devan, berlalu dari sini tanpa mempedulikan aku ada dibelakang nya.


Membuat ku mengikuti nya dari belakang tapi..


"Kamu, jangan berani melangkah satu kaki sebelum saya perintah !" Tunjuknya membuat ku terpaksa berhenti.


Alamak apa lagi yang lbu mertua mau, masak mau ceramahiin aku. Padahal ingin rasanya aku cepat mandi.


" Ah iya, kita kan belum salam dan berpelukan," kataku mengulurkan tangan untuk salam.


 Lalu ia mundur  . " Cihh, apa lagi pelukan salam saja saya tidak sudi dengan mu, bikin perawatan saya rusak jikalau bersentuhan dengan mu !" Ketus mertua sedikit jijik melihat ke arah ku.

__ADS_1


" Aha, Ibu bisa saja. Gak usah malu-malu Bu," godaku .


" Jangan panggil saya lbu, karena saya bukan lbu panti mu."


" Ah, maksud ku Mama," ralat ku.


" Dan saya bukan juga Mama mu, mentang-mentang kau menikah dengan anak saya, bukan berarti kamu menantuku …."


" Biasanya kan begitu, biar menghormati keluarga da…."


" Berani sekali kau memotong pembicaraan saya !" marahnya membuat diam.


" Oho, ternyata Mama mertua ingin mengajak perang sedikit sebelum masuk kedalam", gumanku.


" Dan kau, bukan tipe menantu saya. Selamanya kau bukan menantu saya, karena status mu tidak dianggap di sini ." 


" Apa yang kamu katakan, Monika ?" Tanya seseorang dari belakang.


Lalu aku menoleh nya karena suaranya tidak asing.


What ! Gawat nenek ada disini.


" Bu, kapan lbu sampai di sini, bukannya lbu masih ada keperluan ?" Tanya Monika heran.


" Apa yang kamu barusan katakan pada, Janna tadi ?" Bukannya menjawab pertanyaan Monika, malah mengulang lagi pertanyaan yang tadi.


Membuat Monika, melihat kearah ku dengan tatapan sedikit mengancam jikalau membuka suara.


" Ti-dak kok, Bu. Tadi hanya …."


" Nenek kapan sampai nya, aku kangen." Kataku menghampiri nya dan menyalami tangannya.


" Mama tadi hanya mengatakan padaku, tentang baik-baik saja, agar aku bisa mengambil hatinya dan papa bahwa aku pantas atau tidak untuk De-van, dan bisa menjadi istri yang baik, agar aku bisa masuk dalam tipe Mama mertua," ucapku senang membuat nenek, percaya dan melihat ke arah Mama.


" Apakah itu benar yang dikatakan, Janna. Monika..?"


" Iya lbu, aku harus melihat dulu kelakuan nya gimana ? Meski aku tidak menyukai nya apa lagi dengan asal-usul nya yang tidak jelas, membuat ku mengatakannya sedikit tegas pantasnya atau tidak ," jawabnya, sambil melirik ke arahku. Seakan-akan ingin menyiksaku di lain waktu tanpa ada yang mengganggunya.


' Huhs, hari ini selamat tapi entah besok.'


Akhirnya nenek, percaya juga dengan aku katakan tadi, meski ada sedikit nasehat untuk lbu mertua yang tidak boleh membedakan kasta atau status.


Dan menyuruh ku untuk istirahat dikamar, membuat ku lega karena ini yang aku tunggu dari tadi.


Meski sebelumnya nenek heran melihat ke tangan ku masih memegang tas.


" Karena aku sanggup membawanya Nek, dan sedikit berbicara tadi dengan Mama dan nenek yang baru sampai ." Kataku.


" Seharusnya kamu tidak perlu bawa baju dari rumah kesini, karena kita bisa membelinya di sini yang baru atau nanti akan dipersiapkan di rumah."


" Ah, tidak apa-apa Nek, karena baju yang aku bawa mempunyai kenangan tersendiri saat aku rindu dengan panti asuhan tempat aku berasal," jelasku membuat nya paham, dan menyuruh ku segera mandi, sebelum azan magrib berkumandang.


Aku terus berjalan menuju tetangga, sampai atas.


Hingga sesaat aku baru ingat dan terpaksa aku turun lagi.


" Lohh, kenapa turun lagi?" Tanya Nenek heran, membuat mertua mencibir melihat ku.


" Hehe.. Nenek, Janna. Tidak tahu kamarnya berada dimana," jawab ku, membuat ku malu.


" Ya.. ampun, pelayan…"


 

__ADS_1


__ADS_2