
Dret … !
' Iya, langsung saja .'
' Minggu kemaren-kemaren mama bos pergi ke masion Aurel, saat pulang ekspresi nyonya Monika berubah, pas saya selediki ternyata ada kejanggalan di masa lalu atas pembunuhan berencana ….'
'Apakah Mama saya ada terlibat … cepat segera cari tahu !'
" Saya belum tahu bos, yang pasti lbunya nya Aurel atau tante Maya. Suaminya sendiri tega dibunuh akibat kesakitan, saat saya selidiki. Bos harus berhati-hati dengan keluarga mereka,'
" Saya tidak mau tahu yang jelas mama saya terlibat atau tidak dan siapa dibalik atas kejadian masa lalu, keluarga korban pasti butuh keadilan,' ujarnya langsung mematikan ponselnya.
Tut …!
Devan menghela nafas dengan kasar lalu menuduk pantatnya dikursi kerja.
Devan bangun dari tempat duduknya menuju ke tempat biasa mamanya berada saat santai di kolam. Membuka pintu secara perlahan, matanya melirik ke kiri dan kanan, lalu netranya menangkap ponsel yang ada di meja kecil.
" Ma, boleh bikin Devan nasi goreng. Karena Devan kangen dengan masakan mama ," dengan senyuman manisnya Devan berucap.
Monika melihat kearah Devan yang menghampiri nya. " Ah, anak Mama. Baiklah lah sayang di tunggu ya ?" Devan hanya mengangguk dengan matanya tak lepas dari ponsel .
Muachh.
Monika mencium pipi Devan sebelum ke dapur. Devan mengambil ponsel tersebut dan memasukkan ke dalam kantong nya. Lalu menyusul mamanya di dapur.
" Ma, maaf … Devan harus segera ke kantor ada meeting. Devan, beli disana saja ," ujar Devan memeluk Monika.
Ah . Kaget Monika saat Devan memeluk nya. " Baiklah … padahal Mama pengen masak kamu nasi goreng, hem. Kebetulan mama juga ingin pergi untuk ketemu mertua mu untuk mempercepat pernikahan kalian dengan Aurel," jelasnya membalikkan badannya untuk menatap wajah Devan tanpa ekspresi, datar. Tidak ada raut senang atau sedih.
" Iya silahkan ma, lakukanlah sesuka mama selama itu yang terbaik, bukan sebaliknya nanti."
Devan langsung pergi meninggalkan Monika yang kebingungan dengan maksud ucapan Devan. " Ah, mungkin tidak mau terulang dengan percintaan dengan Janna tidak jelas," elaknya tidak mau ambil pusing.
******
Aneh ponselnya dikunci dengan tanggal kejadian kecelakaan dan sidik jari, apa maksud nya. Dan kenapa perempuan disamping mama agak mirip dengan Janna, foto yang dia lihat di ponsel bersama Mama nya hanya berdua dengan seorang yang hampir mirip dengan Janna.
Jangan-jangan … oh tidak mungkin, aku harus memecahkan semuanya, sebelum dugaan ku benar atau salah. Batin Devan sedang menerka.
" Halo, ya. Pergi tempat asal suami Tante Maya, putuskan beberapa saham yang terikat dengan perusahaannya. Ya … biar alih nya dialihkan sebelum terbongkar semuanya. Ok !"
" Permainan di mulai. Tunggu aku Janna, aku akan menyusul mu setelah semuanya selesai," gumannya mulai mencari titik terang nya.
Baiklah jadi aku harus turun tangan langsung untuk mencari kebenaran dari mulut Mama langsung.
******
" Apa !! Kenapa bisa … mereka memutuskan saham secara tiba-tiba, ini pasti tidak beres ! Ternyata ada yang ingin bermain-main dengan ku !! " Geramnya.
__ADS_1
" Cepat cari siapa dalang dibalik semua nya, pasti 'kan pelakunya segera ketemu ! Ternyata ada yang ingin menanti mautnya ditanganku ku ," sinisnya dengan tatapan yang menghujam ke depan.
" Baiklah bos !"
Tut !
" Monika, sebaiknya kamu saja yang urus pernikahan Devan dan Aurel. Aku masih ada urusan dan harus kembali ke tempat ku dulu, aku tunggu kabar baiknya nanti !"
" Ba-iklah, kabarin saja kalau kamu butuh bantuan akan saya segera bantukan," gugup Monika.
Tawa Maya sesaat, dengan menatap kearah Monika, yang ketakutan.
" Kamu tenang saja Monika, lakukan saja apa yang aku suruh,dan sampai nanti kembali."
Maya langsung pergi meninggalkan Monika, menghirup udara dengan rakusnya seakan-akan tadi dia tidak bisa bernafas tenang. " Apa yang terjadi, siapa yang berurusan dengan Maya? Dan dimana ponsel ku berada ?"ucapnya baru sadar karena sedari tadi belum memasang ponsel sama sekali.
Dengan dalih tadi ponselnya lagi di chas saat Laras bertanya, karena pesann Maya belum di balas. " Cctv-nya, aku curiga dengan Devan yang mengambil -Nya, tapi untuk apa jangan-jangan …."
Monika buru-buru kembali untuk mencari Devan.
******
" Devan ."
" Mama …."
Panggil mereka bersamaan di kantornya Devan, yang sedang melamun menatap kearah pintu, sambil menunggu sosok yang akan menemuinya.
" Apa maksudmu ?" Devan masih tersenyum dengan mamanya tidak mengerti atau pura-pura tidak tahu.
"Apa yang Mama sembunyi 'kan dari Devan? Atas menyangkut meninggalnya kedua orang tua, Janna ," santai Devan memutar pulpen di tangan nya dengan matanya tidak lepas dari ekspresi Monika.
" A-pa maksud mu Devan, mama. Sungguh tak mengerti, jangan ngacau deh ! Sebaiknya kembali kan ponsel mama." Pinta Monika dengan harap . Tiba-tiba melintas sesuatu dalam pikirannya tentang Maya yang tiba-tiba balik .
" Apa ada sangkut pautnya kamu dengan perusahaan tante Maya?" Devan hanya tersenyum saja.
Membuat Monika, mengerti dan seketika badannya luruh dengan air mata mulai mengalir. " Kenapa kamu ikut campur, Maya itu berbahaya dan licik. Mama hanya melindungi kalian terutama Janna, anak sahabat mama. Kamu pasti sudah tahu 'kan dengan kejinya Maya, membunuh suaminya sendiri…." Lirihnya, Devan membantu Monika berdiri dan menudukannya di sofa sambil memenangkan Monika.
" Aku sudah tahu oleh karena itu, Devan. Ingin mencari keadilan ma, kita jangan membiarkan orang jahat berkeliaran sebelum orang lain jadi korbannya, dulu kedua orang tua Janna, dan suaminya sendiri, besok bisa jadi aku yang tentu menikah dengan Aurel. "
Tangis Monika semakin pecah, dia tidak mau mengorbankan anaknya apa lagi sampai kehilangan, Monika tidak membiarkan itu, gelengnya, tidak !.
" Maka biarkan Devan, untuk mengakhiri semuanya demi kebaikan bersama, aku tahu mama sayang dengan Janna, tapi cara mama melindungi nya salah jikalau harus berpisah dengan ku…." Jelasnya dengan lembut untuk mengerti dengan keadaan yang sekarang.
" Tapi, bagaimana caranya? Mama tidak ingin kehilanganmu atau pun Janna dan mama tidak ingin kamu menikah dengan Aurel, dan mama –"
Devan meletakkan jari telunjuk di bibir Monika, untuk tenang dan pikirkan yang positif. " Mama, tenang saja. Jikalau kita dukung bersama pasti bisa melewati semuanya, ada jalan keluarnya. Tentang pernikahan ku dengan Aurel biarkan jadi urusan Devan saja, mama fokus ke Janna, saja dulu ," Monika memeluk Devan, dengan isakan lirih .
*****
__ADS_1
Beberapa tahun yang lalu.
Rencana pembunuhan yang dilakukan oleh adik tiri pada kakaknya yang bernama Laras dan Aris yang tak lain adalah kedua orang tua Janna.
Laras adalah kakak tiri Maya, dengan pembunuhan berencana nya pada orang tua Janna, dengan ambisi untuk menguasai semua harta. Alasannya tidak ingin harta nya berkurang atau dipakai orang lain, meski dengan cara merebutnya dengan cara keji walaupun bukan milik haknya sepenuh.
Monika adalah sahabat Laras lbunya Janna, karena akibat masalah percintaan di masa remajanya membuat Monika benci, karena Laras mau merebut calon yang ia cintai. Padahal itu tidak benar sama sekali, itu hanya adu dombakan oleh Maya sendiri.
Karena pada malam itu, dimana Monika pergi ke rumah Maya dengan tanpa sengaja Monika, mendengar pembicaraan Maya, dengan suruhannya untuk mencelakai mobil Laras, dengan cara memotong rem mobil.
" Ini ti-dak mungkin … pasti hanya haluanku atau salah dengar ," dengan gemetaran Monika keluar untuk menghubungi Laras atau suaminya.
" Angkat Laras … plis, aku mohon. Jangan membuat ku bersalah, ternyata benar curigaanku kamu tidak bersalah di hati kecilku, tapi karena ego ku dengan hasutan Maya, membuat ku gelap mata. " Ringis Monika dengan mata sudah berkaca-kaca.
Dengan nomor sibuk, di luar jangkauan. Monika mengendarai mobil nya ke rumah Laras. " Maafin aku Laras, tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku selama ini, seharusnya aku tidak perlu marah dengan mu apa lagi kita sudah memiliki keluarga masing-masing, dengan aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai…." Lirihnya sampai juga, dengan terburu-buru ia masuk.
" Laras … Laras dimana kamu ?" Baru saja mau naik keatas.
" Nyonya Laras, baru saj–". Bibi heran melihat tingkah Monika, tiba-tiba datang kesini dengan keadaan yang panik, membuat nya merasa firasat tidak enak di dalam hati nya.
" Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan keluarga Laras …."
" Oh, tidak … ku mohon angkat telpon ku , sekali saja !" panik Laras berkemudi mobil dengan cepat
" Sial !" Monika melempar ponselnya sembarangan arah dengan mata masih sibuk mencari-cari mobil Laras.
" Itu dia mobil mereka," senang Monika sesaat.
Namun naas di dalam perjalanan dengan gelapnya malam disertai hujan dan kilat, membuat mobil Aris, mulai oleng dengan adanya truk di depan. Mobil yang tidak bisa di rem lagi. Banting setir ke arah samping untuk mennghiar dari truk, membuat mobilnya jatuh ke jurang setengahnya .
Melihat itu Monika, histeris sendiri apa lagi di depan matanya. Monika menyusul mereka untuk melihat kondisi mereka, keluar dari mobil dengan cepat berlari ke arah mobil yang hampir masuk ke jurang. " Tidak-tidak Laras, kamu pasti kuat, Aris , Janna …? Hei, bangun kalian cepat !" Teriaknya dari luar, dengan tangisan Janna, yang pilu .
" To-long ba..wa, Janna, pergi dari sini. Hanya kamu harapan ku satu-satunya …." Lirih Laras menghembuskan nafas terakhir nya .
Masih terngiang dengan keadaan Laras dengan suaminya yang miris, dengan bayi bungil berumur satu tahun, yang tak hentinya menangis. Setelah mengambil Janna, dalam pangkuan Laras, mobil nya langsung jatuh ke jurang.
Dengan keadaan sepi, sebelum mencari bantuan Monika, membawa Janna. Ke rumah sakit terdekat dengan menelpon polisi di ponsel nya.
Dengan pikiran kosong serta penyesalan di dalam dirinya. " Aku tidak bisa memaafkan diriku Laras, dan terpaksa membawa Janna, ke panti dan terjamin dengan didikan disana," gumannya.
" Maaf aku hanya bisa menjaga Janna, dari jauh."
Setelah kondisi Janna, sudah baik. Monika melakukan tugasnya untuk terakhir kalinya. Tempat tinggal baru Janna, sampai tumbuh dewasa selama disana.
" Maafkan tante sayang, tante akan menjaga mu dari jauh, meski suatu saat nanti kamu akan menggapku tidak menyukai mu, dengan sikap ku akan melindungi mu dari tante Maya, mu yang kejam, nama mu akan tetap Janna." Dengan tangan gemetar Monika, menulis nama diatas kertas serta beberapa uang tebal dalam amplop besar yang sudah disiapkan.
Lalu melajukan mobil ke tempat, yang dimana adalah tempat tinggal baru Janna, sampai dewasa nanti.
Maya, marah karena Monika sudah tahu rahasia nya. Karena merasa mendengar deru suara mobil saat dia selesai bicara, melihat kearah cctv-nya. Membuat nya mengancam Monika, dan menekan dirinya secara perlahan.
__ADS_1
" Tidak kubiarkan kamu menyesal atas ketidak sukaan kamu pada Laras, sebelumnya. Maka kamu akan tetap seperti itu Monika, atau dihantui rasa bersalah aku akan menekan mu secara perlahan-lahan," senyum picik Laras, dengan mematikan televisi, mari berakting dengan berita kematian saudari tiriku. Senangnya dalam hati.
Bersambung.