
Meski ada yang melihat kearah kami akibat suara pintu mobil yang keras.
Farel sudah keluar duluan, karena ada sesuatu yang harus dia lakukan dengan Devan katanya.
Tinggal aku sendiri bingung harus bersikap gimana apa lagi dengan tatapan mereka menuju kearah ku yang kebetulan baru ini datang pesta yang begitu megah, membuatku agak minder dalam berbaur dengan mereka.
" Tenang Janna, kamu pasti bisa melewati mereka yang melihat kearah mu tetap elegan dan pertahankan senyuman manis mu , semangat," semangat diri ku berjalan melangkah ke aula yang sudah digelar kan warna merah.
" Seandainya aku punya pendamping di samping pasti aku lebih pede lagi," hush gugup ku.
" Aduhh .. apakah aku harus mundur lagi, aku tidak terbiasa dengan situasi ini bagiku ini menyeramkan," sebelku dalam hati.
" Wahh.. siapa dia cantik sekali ."
" Baru kali ini melihatnya di pesta besar ini." Sahut yang lain. Membuat ku tersenyum kearah mereka, setidaknya aku tidak kelihatan sombong dimata mereka.
" Bidadari dari tayangan… indah seindah sinar rembulan," gombal diantara mereka.
Membuat ku cepat melangkah kedalam dari pada digoda, oleh orang yang tidak jelas oh tidak! Aku tidak ingin mencari masalah.
Kriuuk…
" Ah perut aku lapar lagi, sebaiknya aku makan dulu terserah tanggapan mereka apa, yang penting perut ku ter-isi," gumanku.
Menikah dengan orang kaya sampai dipesta lapar melihat makanan ini, cek…cek, sungguh miris. Makan yang banyak apa lagi makannya enak-enak, gerutuku senang dengan semua hidangan yang ada.
Kapan lagi coba aku bisa makan banyak seperti ini, rezeki nomplok mah dan yang penting makanan mahal, hehe…
Waduhh… air liur ku hampir keluar tanpa sadar aku memakan sekali dua tangan sangking bingung mau ambil yang mana, sekaligus aku ambil banyak.
" Ihs.. cantik-cantik tapi makannya seperti orang kelaparan… "
" Iya seperti tidak makan satu tahun saja…"
" Dari lapar menjadi kenyang melihat dia makan ihh… menjijikkan cara makannya…"
" Lihat lah seperti tidak pernah makan kue enak saja."
" Mungkin dia kebetulan dibawa bosnya kali atau seorang sugar Daddy. Dari tampilan dia kelihatan orang biasa meski tampilan mewah dan bermerek mungkin bisa jadi itu pemberian sugar Daddy nya kali…. " Ucap seorang yang membuat ku teralih kearah nya.
Deg… deg !
Aku baru sadar, ini adalah pesta yang berarti bukan sembarang orang ditempat ini, membuat ku berhenti memakan dan meletakkan kembali kuenya.
__ADS_1
Tanpa sadar aku malu sendiri, akibat makan tidak tahu tempat membuat ku ingin hilang kalau ada kekuatan.
Apa yang harus aku lakukan, perhatian mereka menuju ke arah ku semua nya, membuat ku gelisah akan tatapan menghina dan tatapan rendah mereka.
" Wow benarkah kamu adalah peliharaan sugar Daddy… kamu terlalu cantik untuk itu gimana kalau kita ke hotel kami bisa makan sepuasnya dan lakukan apa saja itulah pekerjaan ****** kecil, menjual harga diri…." Aku mendorong nya karena telah berani merendahkan harga diri ku, apa lagi sedikit mencolek daguku.
Deg. " Aku bukan wanita murahan…" bantahku.
" Dan saya bukan penglihara sugar Daddy atau semacam lainnya. Harga diri saya tidak dijual sampai kapan pun itu, dan anda jangan pernah beraninya menilai sesuatu dari perkataan orang lain, jikalau anda itu tidak bodoh," tunjukku padanya. Membuat orang lain tertawa mendengar nya.
" Kamu berani…. ," Belum selesai bicara .
Tiba-tiba kejadian tidak terduga datang padaku.
Burrr..
Seseorang menyiram aku dengan air warna merah, membuat mereka semakin senang melihat keadaan ku.
Aku kalah sendirian dan dipermalukan ditempat yang tidak aku kenal sama sekali.
" Lancang sekali kamu menggoda adik saya, gak usah sok suci jadi orang padahal udah kotor sekotor air yang sudah kusiramkan di wajahmu…," sinisnya .
Membuat ku tidak terlalu peduli dengan perkataan nya.
" Dimana Mama, dan Devan . Tolong aku… ku mohon dimana kalian… Farel… dimana kalian," gelisahku dengan keadaan ini.
" Apa yang kau cari hah ..! Lihat kearah ku ****** … " bentaknya meludah disampingku.
Membuat darah ku mendidih dengan segala cacian yang keluar meruntuhkan harga diri ku membuatku tidak berdaya tajamnya dengan hinaan dan cacian . Ingin rasanya aku mencabik mukanya yang penuh dengan perawatan mahal.
Aku tetap mengabaikan nya… aku masih sabar untuk tidak meladeni nya.
" Iya aku seperti melihat Mama, tapi malah pergi ingin …aku teriaknya tapi sudah keduluan hilang dari pandangan, lalu netraku tertuju dengan Devan yang sedang berbicara sesekali ia melihat kearah sini, saat Farel mau datang kesini Devan malah menyuruh Farel pergi menemani client," batinku sedikit lega ku sudah melihat Devan.
Aku seperti punya sedikit harapan untuk meminta tolong pada nya, bagaimana pun aku adalah istri nya yang harus dijaga dan melindungi walau tanpa cinta.
Tapi dia malah cuek dan pura-pura tidak kenal dengan ku. Belum aku mau menghampiri nya aku malah ditarik….
" Beraninya kamu senyum sendiri …. Dan kamu malah mengacuhkan aku jala…. "
" Stop.. ! Aku buka- - "
Plak … !
__ADS_1
Suara keras begitu nyaring… senyaring tamparan yang dilayangkan. Membuat sudut bibir ku mengeluar sedikit darah tanda tamparan yang kuat. Terasa denyut cap jari tangan di muka ku terlihat merah.
Aku melihat kearah orang yang telah menampar aku.
Membuat aku tersenyum prihatin dengan orang yang hormati dan kusayangi … telah tega melakukan itu padaku.
" Mama… ," lirihku yang tidak kedengaran.
" Beraninya kamu membentak calon tunangan anak saya ! Dan siapa kamu beraninya mencari gara-gara dengan keluarga kami, kamu memang tidak pantas hadir ditempat ini…. Tempat mu bukan disini tapi di club' sana… !" Ucapnya dengan sinis.
Devan menikmati apa yang terjadi pada ku malam ini.
Sebisa mungkin aku menguatkan diri untuk tidak menangis, sebisa mungkin aku menahan rasa sesak didada.
Hush… aku menghela nafas dengan kasar.
" Begini Tante, saya tidak maksud untuk membetaknya jikalau dia tidak mencari masalah dengan saya duluan…. Dalam menghina saya sesuka nya sebelum mencari kebenaran…. Dan saya bukan wanita murahan," rekanku diakhir kalimat.
Sekuat apapun aku bertahan untuk tidak mengeluarkan air mata, tetap saja tumpah sendiri….
" Halah gak usah pura-pura tidak salah, jangan munafik jadi orang…."
" Saya tidak munafi…. "
" Cukup.. ! Gara-gara kamu pesta perusahaan jadi kacau dengan kehadiran mu, siapa sih mengundang orang setres ketempat ini. Sebaiknya kamu pergi dari tempat ini…. Sebelum Saya seret kamu ….," Usirnya
" Sebelum anda suruh saya juga akan keluar dari tempat terkutuk yang tidak jelas… dalam menghina, merendahkan kalian nomor satu menunjukkan muka kecuali dalam bisnis baru muka seperti kucing …. Asal kalian tau saya datang kesini atas perwakilan Nenek lta, karena saya adalah anak asisten beliau…. Dan saya minta maaf atas kekacauan yang terjadi di malam ini….!" Tegasku mulai melangkah kaki keluar.
Aku terpaksa berbohong meski mama sedikit terkejut mendengar nya. Karena Nek lta pernah bilang jikalau keadaan ku tidak memungkinkan dan tidak ada yang menolong disaat orang merendahkan ku. Maka aku disuruh mengaku anak asisten beliau sendiri.
Aku mengucapkan sebuah kata. " Dan Tante dengan calon menantunya terima kasih atas tamparan, dan penghinaan yang terjadi pada saya malah ini," setelah itu langsung meninggalkan tempat itu.
Secepat mungkin aku lari dari sana. Sakit sekali rasanya seumur hidup baru ini ada yang merendahkan harga diri ku.
Hiks… hiks…
" Aku tidak boleh menangis, aku sudah janji dengan lbu seberat apapun masalah dan rintangan aku harus kuat untuk menghadapinya, mungkin ini baru permulaan belum lagi nanti," semangat ku dalam hati.
Aku terus berjalan tanpa berhenti, tidak tahu kemana arah tujuan.
" Kenapa Devan diam saja seperti tidak mengenal dengan ku, sangat santai sambil minum seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Malah dia anggap kalau penghinaan aku dijadikan tontonan gratis," cih… miris sekali nasibku.
" Aku tahu Devan menikahiku dengan terpaksa dan ingin balas dendam atas kesalahan aku di masa lalu…. ," Seperti anak kecil saja. Bukan nya diselesaikan dengan jantan.
__ADS_1
" Permainan sudah dimulai tinggal aku kuat diri….,"
Hush… sudah cukup jauh aku berjalan. Membuat ku istirahat sejenak duduk dipinggir jalan.