Cinta Setelah Kamu

Cinta Setelah Kamu
Bab_16_Farel


__ADS_3

" Permainan sudah dimulai tinggal aku kuat diri…."


Hush … Sudah cukup jauh aku berjalan membuat ku istirahat sejenak duduk di pinggir jalan.


Baru sadar ternyata tidak ada siapapun disini selain cahaya yang remang, membuat merasa takuk jikalau ada bahaya datang.


Dalam cahaya remang didepan aku melihat siluet cahaya mobil menuju ke arah sini dari kejauhan.


" Mudah-mudahan itu bukan orang jahat," was-was ku.


Membuat ku tidak tenang saat mobil itu mulai mendekati ku apa lagi dari cahaya mobil merosot ke arah ku seperti memastikan seseorang.


Lalu aku bangun dari tempat duduk mulai berjalan secara perlahan, pas melihat kebelakang mobil itu masih menuju ke arah sini.


" Sebaiknya aku mencoba lari, karena perasaan ku tidak enak," gumanku berlari sambil lihat kebelakang.


" Tuh kan mobilnya tambah kencang kesini, atau jangan-jangan mau nabrak ku atau diculik lalu diperkosa dipermalukan oh tidak… tidak ," gumanku menggeleng tidak bisa dibiarkan itu terjadi, membayang saja membuatku bergedik ngeri kalau sampai terjadi.


Gara-gara melihat kebelakang terus membuat ku tidak berhati akan ada mobil di depan.


" Aaaa… !" Teriakku menutup mata.


" Apakah aku sudah tertabrak tapi kenapa tidak ada rasa ya ?" Bingungku membuka mata secara perlahan.


Aku merasa orang didalam mobil sudah mendekati ku.


" Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya.


" Jangan… ku mohon jangan culik aku… ," takutku menepis tangan nya.


"Aneh kamu siapa juga yang mau culik orang tidak jelas, kalau mau bunuh diri jangan disini… ini mengganggu orang lain lewat eh tunggu dulu .. dari pakaiannya aku seperti kenal," selidiknya semakin mendekat.


" Farel… itu kam-u…" refleks ku memeluknya setelah melihat nya.


" Janna… kenapa…"


" Cepat bawa aku pergi … mereka mengejar aku cepat… cepat masuk ! " potongku masuk duluan.


Dengan jantung ku sedikit olahraga akibat rasa takut dan hampir menemu maut.


" Kenapa kamu bisa ada disini dan pakaian mu basah ? ,"bingungnya heran.


" Plis farel bukan waktunya kamu bertanya, orang itu mengejar kita …," panikku menunjuk kearah depan. Membuat Farel mengerti dengan situasi.

__ADS_1


" Jangan lupa pake set bel…," aku hanya mengangguk saja.


" Ada hubungan apa Janna dengan orang itu dan apa yang terjadi padanya sampai seperti itu apakah ini ada hubungannya dengan Tante Monika… ?" Batin Farel menerka.


" Aku masih ingin hidup perjalanan ku masih panjang… jangan terlalu kencang bawa mobilnya!" Teriakku.


" Ini bukan waktunya kencang atau lambat ini darurat meski nyawa taruhannya…" ujarnya fokus dengan membawa mobil.


" Hush… mereka tidak mengejar kita lagi, kamu gak perlu khawatir semuanya aman … " katanya menghela nafas.


Lalu dia melihat kearah ku masih diam. " Rileks kan pikiran, sebaiknya kamu minum dulu…," aku mengambil air mineral yang disodorkan nya.


Sebelum itu aku menoleh ke belakang, baru meminumnya.


Gluk…gluk…gluk…. !


" Makasih untuk minumnya, tapi maaf minumnya sudah habis…," sedikit aku merasa bersalah.


" Haha… kamu lucu sekali, tidak apa santai saja aku masih ada stok air mineral kok," ujarnya dengan senyuman yang merekah.


" Tapi kok gak minum ?" Heranku melihat kearah nya tidak memegang air mineral lagi.


" Gak ada disini…" jawabnya enteng.


" Di apartemen," nyengir nya membuat ku melongo sekaligus kesal dan merasa bersalah.


" Haisy… aku serius kamu malah bencadain aku…" keselku memukulnya.


Malah membuat nya tertawa. " Eh sudah ditolong, dikasih minum dihabiskan sendiri malah dipukulin bukannya berterima kasih… " pura-pura sedihnya.


Membuat diam ." Maaf … maafkan aku memukul kamu dan terima kasih atas pertolongan mu malam ini, aku janji akan membalas kebaikan mu. Dan mengganti air minumnya ," nundukku tidak berani melihat kearah nya.


" Apa aku terlihat miskin… masak air mineral harus diganti cek…cek," melongo Farel tidak percaya.


" Sampai kapan kamu menunduk, seperti ini kah yang diajarkan dipanti…." Belum selesai Farel bicara aku memotong nya. Aku tidak mau ada yang menjelekkan tempat aku berasal dulu.


" Apa maksud mu, adakah yang salah dariku berbicara lagi pula aku sudah meminta maaf. Dan aku akan membayar jasa tolonganmu serta bonus untuk mu… ," menatap nya kesel.


Dan malah membuat nya tersenyum. " Apakah ada yang lucu dengan kataan ku ?" Tanya ku dalam hati.


" Hei… nona apakah aku kelihatan miskin dan tidak punya uang dari penampilan ku. Dan apakah aku pernah meminta bayar pakek uang apa lagi dengan sebotol air mineral… itu tidak perlu !" Tegasku. Melihat kearahnya yang cemberut.


" Apa maksud perkataan nya apakah diminta bayar dengan cara lain selain dengan uang ?" Pikirku bingung.

__ADS_1


Aku tahu dia orang kaya dan pasti tidak membutuhkan uang dari orang seperti aku lagi yang tidak seberapa dari mereka para orang kaya raya.


" Dan ini baru bener saat bicara tatap lawan jenis nya bukan malah menunduk, lagi pula tidak ada yang salah dengan perkataan mu atau mau menghinamu cara pikiran mu yang berlebihan…" sedikit ketusnya.


' Kan tidak salah nya aku berpikir salah dengan orang asing ?' iya ku dalam hati.


Aku merasa malu sendiri mendengar ucapannya. " Kenapa bisa aku berpikir begitu padahal Farel baru saja menolong ku."


Aku memalingkan muka dari tatapan nya dan pura-pura melihat jalanan.


" Hei… kenapa dengan bibir mu, siapa yang melukai nya dan pipimu habis kena tamparan seseorang…. Ini pasti terasa sakit," Farel menelisik kearah muka.


"Pasti sakitlah, emang terasi enak karena disambal," batinku.


Aku menepis tangan saat menyentuh luka dibibir. " Aku mau pulang…" palingku karena mukanya sangat dekat dengan ku. Membuat ku malu dengan perhatian nya.


" Lukanya harus segera diobati sebelum infeksi," ujarnya menjauh dariku karena merasa aku tidak nyaman dalam situasi ini.


" Makasih atas perhatian nya tapi aku ingin pulang sekarang juga sebelum keluarga ku khawatir nanti," tolakku.


" Maafkan aku… tidak maksud aku menolak penawaran mu tapi aku tidak mau di cap sebagai perempuan tidak benar jikalau terlalu lama lagi dengan orang yang bukan mahram ku," batin ku dalam hati.


Farel menghela nafas. Sebelum itu dia mencari sesuatu dari mobil. Lalu melihat kearah ku. " Kali ini jangan menolaknya lagi, jangan pulang dengan lukisan di muka, obati luka mu dengan salap ini sendiri atau aku yang olesin," sodornya menaikkan sebelah alisnya tanda gimna.


" Aku bisa sendiri, kedua tangan ku tidak sakit selain muka ku," cepat aku mengambil nya sebelum Farel berubah pikiran.


" Oh aku pikir perlu bantu tangan ku biar cepat sembuh…"


Aku melihat kearah nya dengan kesal, dengan tampang tidak berdosa nya itu. " Makasih tidak perlu !"


" Ok, anak pintar," pujinya.


" Meski sedikit jelek adanya cap lukisan di muka," nyengirnya. Membuat ku jengkel dengan sikap nya.


" Terserah lagi pula ini cap bersejarah," balasku membuatnya menggeleng kepala


Selama dalam perjalanan tidak ada bersuara lagi. Aku sibuk dengan pemikiran sendiri dan hp ketinggalan di rumah Mama.


Ada terbesit dalam hati untuk tidak pulang ke rumah, cuma aku takut dengan orang yang aku sayangi khawatir dengan kondisi ku jika tidak pulang.


Dan aku tidak mau Mama anggap aku tukang ngadu, biarkan aku memaafkan perlakuannya malam ini. Mungkin ini pengampunan dosaku dimasa lalu. Bagaimana pun mereka adalah keluarga baru ku yang harus aku berbakti seperti keluarga sendiri.


Aku tidak ingin menyerah sebelum berusaha untuk memperbaikinya, karena permainan baru saja dimulai tidak mungkin aku langsung mundur, Ini baru permulaan .

__ADS_1


__ADS_2