
Selama dua hari Devan tidak pernah melihat batang hidung Janna, walau pun farel pernah menanyakan kabar Janna padanya.
" Saya menyuruh kamu bekerja bukan menanyakan tentang Janna yang tidak jelas..!" Dingin Devan dengan cueknya.
Membuat Farel tidak terima dan melanjutkan pekerjaan nya. Dia tidak ingin Devan menikah dengan Aurel yang bebas atas kelakuan nya diluar sana, tidak..! Farel tidak membiarkan nya.
" Aku harus melakukan sesuatu…!" Tekad farel dalam dirinya.
" Apakah kamu mencintai Aurel..?"
" Itu bukan urusan mu…karena status Aurel lebih baik dari pada Janna, aku tidak yakin kalau Janna masih per.."
Farel geram dengan perkataan Devan langsung saja menarik baju bosnya tanpa takut.
" Jangan menilai sesuatu dari cover nya jikalau kamu belum bisa memastikan nya sendiri…! dan malah mengklaim sesuatu dari omongan angin yang tidak jelas, jangan teetipu dengan penampilan seseorang yang bisa saja menghancurkan kamu satu saat nanti…!" jelas Farel yang baru pertama kali menunjukkan rasa marahnya.
Devan menghempaskan tangan farel dari bajunya. " Ceramah kamu sangat bagus.." Devan menepuk tangan nya.
" Sampai berani melawan bos nya sendiri.. apakah kamu suka pada Janna.. kali ini saya mengampuni jikalau kamu jujur apa lagi dengan perkataan mu membuat ku ingin membuktikan nya…"sinisnya merapikan bajunya yang sudah berantakan.
" Benarkah aku mencintainya tapi, kenapa perasaan ku lebih menyayangi nya sebagai adik… dan apa maksud perkataan Devan yang ingin membuktikan sendiri" batinnya dalam hati.
" Aku tidak mencintainya tapi, karena aku peduli dengan mu yang sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri. Begitu pun dengan Janna sudah kuanggap sebagai adik sendiri, aku tidak ingin kamu egois sudah punya istri malah mengabaikan dan lebih tercengang kan lebih menikah lagi. Sebelum menikah lagi lihat seluk-beluk atas kelakuan Aurel jikalau dibandingkan dengan Janna…" Devan mengusir farel dengan tangan nya.
" Sudah cukup bicara nya sekarang silahkan pergi… masih tahu kan dimana pintu keluar nya..!"
" Semoga kau bisa melihat yang mana berlian asli dan palsu…" tepuk Farel di bahu Devan sebelum pergi.
Lalu Devan mengambil ponsel nya untuk menelpon orang bayangan.
"Halo.. apakah Janna ada di rumah, apa? Kemana perginya dan sejak kapan…ok awasi saja terus jangan lalai dan lapor ke saya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan…!" Ucapnya mematikan ponselnya.
Devan diam-diam mengirimkan orang bayangan untuk menjaga Janna jikalau kelakuan nya kelewatan, atau ada yang mengganggunya, bukannya perhatian atau khawatir hanya saja Devan tidak ingin Janna dapat musuh setelah kejadian pesta perusahaan di malam itu.
Karena rasa bersalah itu dia ingin menjaga Janna dari kejauhan itu pun kalau dia ada keinginan untuk mengetahui aktivitas Janna, karena kesibukan membuatnya tidak terlalu peduli selama bukan masalah berat.
" Kenapa anak buah ku bilang, di balik semua yang dilakukan mama ada rahasia yang disimpan kan tapi…kenapa berkaitan dengan Janna atau jangan-jangan ada hubungannya dengan kedua orang tua Janna.."
Devan terus menerka dibalik semua nya, sesekali memijit keningnya yang pusing akibat waktu nya digunakan bekerja dan kerja terus tanpa bosan sama sekali dalam hidupnya.
__ADS_1
" Nanti kupikirkan setelah urusanku selesai baru pikirkan Janna dengan Mama…"
Setelah sesaat peningnya hilang Devan menekan satu nomor anak buah bayangan yang memantau Aurel dari kejauhan.
Atas suruhan Farel yang khawatir berlebihan bahwa Aurel adalah ular, apa maksud nya coba…malah membuat Devan bingung dan mau tidak mau Devan hanya meng iyakan.
Apa salahnya coba.. asalkan jangan memberikan kabar sebelum diminta nya kecuali kabar yang bisa menghayakan perusahaan nya.
Karena dalam kesibukan nya membuat nya tidak perduli atau pun sekedar mendengar laporan anak buah nya. Karena satu bagi Devan yaitu jangan mengganggunya saat sedang konsentrasi nya digagalkan oleh berita yang tidak penting selain berita yang bisa membuat nya lega dan senang.
" Halo.. apa ada kabar tentang aurel atas kelakuannya selama ini diluar maupun disini…katakan jangan menyembunyikan meski hal kecil pun itu..baik maupun buruk… ok !"
' Awas saja kalau benar salah…jikalau benar telah menipuku..!' geram Devan dengan amarah nya.
Ting, Ting…!
Vidio yang dikirim oleh anaknya buahnya. Devan segera melihat nya. Bukan hanya satu tapi ada beberapa.
Membuat matanya nya panas, saat melihat Vidio syur beberapa detik. Dia sangat mengenal orang itu, orang terdekat nya yang berani menipunya dan memanfaatkan dirinya atas kebodohan Devan yang terlalu memanjakan dengan fasilitas yang diberikan nya.
" Brengsek jalang…! Beraninya kau mau menipuku…tunggu pembalasan ku dimana harga diri mu jatuh dari tingginya hayalan mu…" Devan menelpon anak buah nya lagi.
" Halo b…."
" Ma-af bos, saya pikir bos sudah tahu makanya tidak terlalu peduli kan…sa-ya pikir bos mau rencana sesua-tu…"
" Dasar bodoh ! Awasi saja apa yang dilakukan selama 24 jam. Jangan lupa kirim kan ke saya…!" Devan mematikan ponselnya, dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Ponselnya di taruh di meja dengan kasar.
" Sial…! Berani-beraninya kamu Aurel…tunggu pembalasan ku." Gumannya dengan senyuman misteri.
" Dan kau Janna tunggu aku disana…akan ku buktikan kamu seperti apa.." decihnya dengan rencananya.
" Farel.. siapkan pesawat. Selama saya tidak ada dikantor kamu yang handle semuanya. Jika ada yang tanya, bilang saja saya pergi mengurus bisnis. Jangan bilang saya bisnis di kota B…!"
" Baik bos.."
' apakah Devan mau menyusul Janna.. mudah-mudahan hubungan mereka bisa akrab dan tahu kebenaran kemana hati mereka berlabuh satu sama lain dalam ikatan pernikahan..' senyum Farel penuh harapan pada hubungan mereka.
__ADS_1
Sejak Janna tidak ada, Farel sudah dekat dengan Nita sekedar basa-basi untuk mendengarkan cerita atau kabar Janna.
" Kemana kamu senyum-senyum sendiri…?"
" Hah …tidak ada kamu kelihatan cantik.." jawab Farel membuat muka Nita merah seperti tomat.
Farel yang melihat hanya tersenyum kecil.
" Menurut mu gimana kalau Devan sama Janna, apakah kamu berharap hubungan mereka baik atau hancur..?"
Nita yang mendengar pun antara geleng dan mengangguk. " Atau kamu masih berharap sama Devan..?"
" Ah tidak kok.. walaupun aku masih suka padanya maksudnya tidak terlalu suka lagi tapi, aku tidak mau bersaing dengan suami orang yang sudah punya istri…apa lagi sudah ada pelakor. Aku yakin Janna pasti tidak membiarkan orang lain merebut apa yang sudah menjadi miliknya. Dia hanya butuh waktu sendiri bukan mundur akan saingan yang tidak seberapa bagi Janna.." jelas Nita membuat farel ketawa, Nita malah heran melihat farel ketawa.
" Iya kamu benar seharusnya orang seperti itu dibasmi secepatnya sebelum membahayakan orang lain.." akhirnya mereka ketawa bersama.
" Sungguh mengresahkan saja…" lanjut Nita.
Hingga sesaat orang yang sedang diomongin mau menghampiri mereka, Nita yang dikode oleh farel untuk diam dan melihat kemana arah matanya.
" Sungguh menyebalkan..," kesel Nita meng-lihat Aurel mendatangi mereka.
Sesampainya di hadapan Farel, Aurel memutar bola matanya dengan malas kearah Nita. Nita tidak kalah kesal dan dendam atas kejadian hari yang lalu dengan sedikit amarah nya melihat kearah Aurel.
" Rel.. lihat Devan gak dimana ?Aku sudah cari kemana-mana kok gak ada?" tanyanya sedikit manja untuk memanaskan Nita.
" Aku tahu dari kalian bicara Nita, kamu penyimpan rasa suka pada Farel." Batin Aurel senang.
" Devan tidak ada untuk beberapa hari…karena Devan sedang menstabilkan bisnis nya di suatu tempat."
" Ihh tiba-tiba panasnya seperti hawa perusak rumah orang…ini harus dibasmi sebelum menular ke orang lain..!" Ketus Nita menepis debu seakan-akan virus itu mengenai bajunya.
Aurel yang mendengar pun terpancing, baru saja hendak mencakar wajah sok cantik Nita.
" Kami duluan, ada pekerjaan yang harus diselesaikan..," farel menarik tangan Nita, karena keadaan sedang tidak memungkinkan.
Nita yang senang pun, membalikkan badannya lalu menjulur lidah kearah Aurel.
" Farel…Nita..! Awas kalian sudah berani meninggalkan aku !" Geramnya merasa tersinggung dengan kelakuan mereka.
__ADS_1
" Hari ini kamu menghindar Nita, awas saja dilain waktu…" ujarnya meninggalkan tempat itu
Bersambung.