
Suasana yang sejuk, membuat ku tenang menikmati semilir angin dari balkon, dengan rintik air hujan.
Bibik masuk melihat ku sedang menutup mata, membiarkan angin mengenai ragaku.
" Diminum teh, Non … biar anget .."ujar nya memberikan kepada ku.
Secara perlahan aku meminumnya … dengan pikiran ku melayang kemana-mana, memandang kedepan jendela yang sudah kabur oleh hujan.
Secara perlahan-lahan suhu merasa panas, bukan suhu ruangan melainkan suhu badan ku yang terasa aneh ….
"Rupanya kamu disini bersembunyi … asik dengan pikiran mu sendiri, pergi dengan diam tanpa bilang padaku .…" kata seseorang memelukku membuat jantung ku berirama dengan rasa yang menggelayar di seluruh badan ku.
Suara itu yang membuat ku untuk menghindar.
Deg… !
" De-van .. apa yang kau lakukan ?" Mencoba melepaskan diri dari nya. Malah membuat nya mempererat pelukannya.
" Salakah jika seorang suami memeluk dan mau menjemput istrinya …" ngedus nya di leherku, membuat geleran aneh dalam diriku. Tak kuasa menahan debaran yang ada semakin menjadi.
Dengan Devan meniup telinga ku sekali-kali menjilat demi sapuan yang ada.
Rasa kesal dan sakit hati, aku menginjak kakinya dengan nafasku yang memburu. Obat yang menjalar sudah beraksi dalam diri ini.
" Apakah rencana mu yang telah memasuki obat terangsang tadi ?" delikku, dia hanya tersenyum merekah berjalan mendekati ku.
Aku merasa was-was dengan tatapan nya yang ingin menelan aku hidup-hidup.
Aku terus mundur sesekali melihat sekitar nya untuk melindungi diri. Tapi, sayang dengan matanya terus mengawasi gerak-gerik ku tertangkap oleh nya.
Aduh .. !
Ringisku karena sudah terpentok dengan dinding .…
Aku memalingkan muka darinya. Dia mengulurkan tangannya secara perlahan mengusap telinga hingga ke wajah. " Jangan takut …" bisiknya membuat ku merinding dengan reaksi tubuhku yang tidak bisa aku kendalikan akibat obat perangsang yang diberikan melalui teh tadi.
Dia terus melihat ku bagai makanan yang siap disantap, dengan sedikit tidak sabaran serta secara perlahan kendali ku hilang .…
__ADS_1
Sampai sadari diri ini sudah diatas kasur dengan nya.
" Aku akan melakukannya perlahan-lahan, rileks dan tenang saja .…" bisiknya terus menciptakan karya yang ingin dicapkan.
Setiap inci yang ada … dengan debaran jantung yang berirama mengikuti ritme yang ada, sampai semua selesai ….
******
Harus kah aku marah apa yang terjadi, atau malu … mengingat semua yang terjadi.
" Terima kasih …," ucapnya dengan telus dan mencium keningku disaat terakhir.
Devan bilang tidak akan pernah menikah dengan Aurel … pernikahan pesta yang tinggal hitungan hari karena sudah dimajukan. Niatnya datang ke sini untuk menjemput ku, karena ada masalah yang harus diselesaikan.
Sungguh aku bingung … apakah aku senang atau sedih dengan apa yang dikatakan oleh nya.
Susah satu Minggu aku kesini dengan Devan datang secara tiba-tiba dengan iming-iming untuk meminta haknya sebagai suaminya yang telah aku abaikan katanya.
Iya .. emang sudah kewajiban ku untuk melayani nya, ingin marah atau sedih dengan cara dia mengambil kesucian yang aku jaga selama ini … obat terangsang.
Entahlah! Selama itu suami sendiri yang sudah halal tidak salah kecuali bukan mahram nya. Yang bisa kulakukan hanya diam sambil sesekali melihat Devan yang sibuk dengan laptopnya di sofa.
Membuat gemeruh didadaku sesak jikalau seperti iya … apakah dia akan mencampakkan ku setelah apa yang terjadi.
" Jangan pikirkan yang negatif jikalau hanya membuat mu sakit hati dan sedih … aku bicarakan yang benar, kamu bisa lihat sendiri nanti … jangan melihat atau mendengar berita yang belum tentu terjadi … satu hal yang kamu perlu tahu kamu lah satu-satunya istri ku dan selamanya akan begitu …" yakinnya menutup laptopnya, menuju ke arah ku.
" Dan maafkan aku … dengan cara aku mengambil hak ku ...." maafnya dengan tulus.
" Iya tidak apa-apa, itu sudah kewajiban ku sebagai seorang istri…"
' Meski dengan cara yang salah, dan penuh drama,' lanjut ku didalam hati.
******
Hari yang dinanti-nantikan apa yang terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan Devan tempo lalu…Dia benar-benar tidak menikah dengan Aurel melainkan dengan memperkenalkan aku sebagai istri nya, di pesta yang meriah nan megah.
Meski aku merasa takut … takut melihat Devan benar-benar menikah dengan Aurel dan.
__ADS_1
Aku menggeleng tidak mau pikir apa yang tidak terjadi dengan pikiran negatif. Semua orang terkejut apa lagi dengan beredarnya video Aurel dengan lelaki asing yang tidak aku ketahui diatas layar yang ada di depan.
Meski di awal aku bingung, karena sesudah sampai di sini aku disambut oleh orang-orang yang tidak aku kenal. Rupanya adalah suruhan Devan untuk mengriaskan ku, dan perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Aku bisa mendengar bisikan-bisikan dari mereka … aku pikir semua nya berakhir Ternyata ada satu Vidio lagi yang membuat ku syok dan terkejut.
Pembunuhan berencana kedua orang tua ku … biang nya adalah keluarga Aurel lbunya, lbuku dengan lbunya Aurel adalah saudara tiri dengan ambisi untuk menguasai semua harta mendiang kedua orang tua ku.
Dan lebih sedih lagi ternyata Mama Devan adalah temannya lbuku sekaligus telah menolong nyawaku saat mobil hampir meledak … meski kedua orang tua ku tidak selamat.
Mama mertua lah yang telah membawaku ke panti…dia hanya pura-pura membenci untuk melindungi ku dari lbunya Aurel yang keji ltu.
Devan yang telah melakukan penyelidikan selama ini meski nyawanya nya hampir jadi taruhannya. Sedih antara senang dalam kebahagiaan, atas semua yang terjadi dan tak kusangka terbongkar setelah sekian lama.
Dan aku sangat berterima kasih kepada Devan sekaligus suamiku yang menjadi pahlawan di siang bolong … akan sikapnya yang tiba-tiba berubah membawa kepada kenyataan dan kebahagiaan yang ada.
Kebenaran akan dikalahkan dengan kebohongan. Dan kembali bersatu setelah perpecahan yang terjadi, serta mengawali hari dengan lebaran baru.
" Terima apa yang kamu lakukan, kamu telah melakukan keadilan terhadap ku Devan, aku janji akan selalu bersama mu sampai kita menua .…" aku menatapnya dengan tatapan rasa yang berbeda dari sebelumnya.
" Iya sama-sama dan maafkan aku atas kesalahan aku selama ini yang sombong dan akuh …" aku mengangguk dengan tatapan tidak lepas dari wajahnya.
" Ehem..! Maaf mengganggu aku menghampiri kalian karena aku ingin minta maaf padamu Janna .…" Nunduk Nita dengan memilih tangannya takut aku tidak memaafkan nya.
" Gimana ya …?" Pikir-pikir ku, dengan sedikit senyum.
" Aku mohon Jan .. aku benar-benar minta maaf dan sungguh .…" ucapannya tidak ada kebohongan yang aku lihat di matanya.
" Baik … asalkan jangan pernah ulang lagi."
" Benarkah … makasih Janna sayang.." antusias nya memeluk ku.
" Sekarang udah kan, memeluk nya. Silahkan pergi," usir Devan kepada Nita, membuat nya cemberut. Aku hanya menahan senyum melihat nya.
" Apakah kamu tahu Janna, Farel dengan Nita akan menyusul kita ?"
"Benarkah…"
__ADS_1
" Iya benar .. mungkin karena kamu sibuk sendiri saat pergi libur … jadi mereka banyak waktu berdua dan," dengan mengeril matanya Devan langsung menggendong ku membuat ku terpekik.
Tamat