Cinta Setelah Kamu

Cinta Setelah Kamu
Bab_20


__ADS_3

Hari ini sudah diputuskan oleh Nek lta, bahwa mulai hari ini dan seterusnya aku sudah bisa bekerja di perusahaan Devan, belum diberitahu kan posisi ku disana.


Aku masih mengingat gimana ekspresi tidak kesetujuan Devan saat nenek ingin aku kerja di tempat nya.


" Kenapa lesu… begini hem, kan kecantikannya jadi redup…" canda bang Aldi, membuat ku tersenyum mendengar katanya.


Entah kenapa dia mau menjadi supir nenek, padahal jabatannya bagus kalau dia mau, lagi pula bang Aldi orang nya pintar. Katanya dia ingin jadi supir untuk bisa antar jemput ku dan memastikan aku bahagia atau tidak dengan pernikahan ku dan Devan.


Tidak ingin terjadi apa-apa, lagi pula belum tentu setiap hari bisa jemput ku, katanya setidaknya bisa memantau.


 Untung aku ada minta tolong sama nenek untuk memberikan pekerjaan yang layak untuk bang Aldi, sesuai dengan kemampuan nya selain jadi supir.


" Itu…kan sudah cantik kalau senyum ada sinarnya, jangan redup lebih baik bersinar demi kebaikan diri dan orang lain yang melihat nya…" ujar Aldi.


" Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Mama bang…?" 


" Aneh gimana…? Kelakuan nyan yang tidak suka sama kamu…? "


" Bukan itu maksud ku… ah sudahlah bang Aldi mana tahu," keselku. Membuat bang Al menggaruk kepalanya.


" Emang ada yang salah…" bingung bang Al.


" Ya udah ga usah pikir, yuk turun aku antar sampai kedalam…" ujarnya membuka pintu mobilnya.


" Ayo…" kami terus berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


Membuat ku risih, cuma bang Aldi tidak memperdulikan kerisihanku.


" Nenek bilang langsung menuju lantai 10 saja jangan bertanya-tanya lagi, mereka sudah diberi tahu nenek kedatangan kita jadi jangan perlu khawatir ditanya atau diusir seperti di novel-novel. Tenang saja..nenek pasti sudah memperlihatkan foto kita mungkin….," Jelas bang Aldi sudah menjawab dari arti ketidak tahu-an ku.


Lalu bang Aldi langsung saja tekan tombol lift.


Hem sebenarnya aku pengen kerja seperti biasa saja, yang simpel saja karena gak mau ribet.


Ting.


Lift terbuka, aku langsung berjalan dan berhenti sesaat karena melihat seseorang.. itu kan….


" Kenapa bengong Jan, padahal aku capek-capek berbicara dengan mu, eh malah kamu diam dari tadi," ujarnya dengan sedikit cemberut.


Aku menarik tangan bang Aldi untuk bersembunyi dilorong. " Diam dulu… itu ada Mama dan nenek seperti nya mereka sedang berbicara masalah serius…" tunjuk ku dibibir untuk diam .


" Ya mungkin seputar masalah kerjaan kali Jan," gerutu nya.


" Setidaknya diam dulu, kalau itu masalah pekerjaan menurut mu aku janji akan mengikuti permintaan mu bang, tapi jikalau sebaliknya maka bang Aldi harus mengikuti permintaan ku," ujarku membuat nya tersenyum dan mengangguk tanda iya.


" Ok, baiklah siapa takut…"


Aku sedikit mengintip ternyata mereka mau kesini, mungkin ke lift.


" Tunggu dulu Monika…"Mama berhenti dan berbalik melihat nenek mengejar nya.

__ADS_1


" Apa lagi sih Bu… kata lbu Janna, sudah sampai di sini. Aku tidak mau gadis kampungan itu melihat ku disini dengan lbu…" ujarnya, terus berjalan menuju ke lift.


"Tapi jawab dulu pertanyaan lbu… kenapa alasan kamu agar Janna, bekerja di sini. Entah kenapa lbu merasa dibalik kamu tidak menyetujui pernikahan mereka ada maksud tertentu….!" Ujar nenek kepada mama.


Sebelum Mama masuk ke lift, mama sempat lihat Nenek. " Itu karena status, asal-usul nya yang tidak jelas, aku tidak suka melihat nya santai di rumah membuat ku jengah melihat nya…." Jelas mama, masuk ke dalam lift. Membuat nenek kesal atas penurutan Mama.


" Tapi kenapa kamu tidak bisa menyakiti Janna, saat lbu tidak sengaja mendengar kamu gelisah sendiri di kamar," guman nenek hampir tidak kedengaran.


Tapi aku bisa mendengar, tidak dengan bang Aldi yang tidak terlalu peduli saat mengetahui bukan pembahasan kerja yang dibahas. Malah membuat nya marah ketika mendengar perkataan mama.


Dan aku mengusap tangan nya agar tidak mengendalikan kemarahan nya. Aku masih fokus melihat nenek yang sudah pergi ke dalam, sebelum itu nenek melihat hp. " Mungkin melihat pesan yang dikirim kan oleh bang Aldi barusan bahwa kami sudah sampai," batinku dalam hati.


" Akan ku buktikan maksud di balik guman nenek yang katanya Mama tidak bisa menyakiti ku terlalu dalam," tekadku dalam hati.


" Sebaiknya bang Aldi pulang saja," usirku membuat nya tidak terlalu suka.


" Aku tidak ingin pulang, karena abang  ingin pulang dengan Nenek," ujarnya dengan senyuman nya.


"Ah terserah saja lah…" ketus ku berjalan duluan mengikuti arah nenek tadi.


Lalu aku mengetuk pintu. " Masuk..!" Sahut dari dalam.


Kaki ku melangkah perlahan ke dalam disusul oleh bang Aldi di belakang.


Aku duduk di sofa dengan kode nenek, aku lihat di ruang ini hanya ada Devan, Farel dan nenek.


" Ternyata Farel satu ruangan dengan Devan," gumanku dalam hati.


Lalu mata nenek tertuju kearah bang Aldi. " Kenapa kamu belum pulang… kehadiran kamu tidak diundang disini ?!" Tunjuk nenek padanya.


" Alasan saja… bilang saja jaga Janna !" Ketus nenek.


" Nenek tahu saja," jawabnya dalam hati.


" Mana ada nek, kan Aldi pengen makan sama nenek sambil jalan-jalan…." Tawar nya.


" Hem boleh juga, nenek merasa bosan di rumah terus," jawab nenek dengan pikir-pikir.


" Seakan-akan hanya ada kami bertiga aku, bang Aldi dan nenek di ruang ini," batinku melihat Devan masih fokus dengan laptopnya, sedangkan Farel sekali-kali lihat kesini dan sedikit menggaruk kepalanya.


" Kalian sudah selesai bicara nya… kalau sudah silahkan keluar bagi tidak ada kepentingan lagi…!" Sahut sang empedu baru buka suaranya.


" Kamu usir nenek Devan…. "


Devan menghela nafas dengan kasar. " Nenek sebaiknya pulang saja.. Devan sedang sibuk, biar Farel yang urus Janna dan mulai bekerja hari ini. Jadi nenek tidak perlu khawatir lagi…." Ujar Devan melanjutkan pekerjaan nya.


" Dasar cucu tidak ada sopan-santunnya main usir saja," gerutu Nenek keluar dari sini dan tidak lupa menarik tangan bang Aldi.


Aku sempat melihat bang Aldi mengepalkan tangannya tidak suka dengan sikap Devan yang dingin.


Aku yakin pasti bang Aldi, memikirkan gimana rumah tangga kami yang jalani sesungguhnya.

__ADS_1


" Farel urus dia, terserah kamu tempat kan dimana posisi nya." Dingin Devan.


"Aku baru ingat, dimana Nita." Sadarku.


" Baiklah pak…" jawab Farel.


" Cari apa, kenapa bengong ?" Aku hanya menggeleng saat ditanya Farel.


Farel melangkah keluar, aku mengikutinya dengan kodenya, lalu dia berhenti dan melihat ke arah ku.


" Kamu mau tempat kan diposisi apa ?" Tanya nya, membuat ku bingung ditempat kan dimana.


" Aku tidak tahu karena aku  belum berpengalaman dalam bekerja…" jawabku seadanya.


Dan Farel berpikir sesaat. " Gini… aku tidak mau menempatkan kamu diposisi yang rendah, karena aku tidak ingin membuat mu sedih dalam bekerja…." Jedanya.


Apa maksudnya kenapa aku merasa Farel, peduli dengan ku, entahlah yang jelas aku bingung dengan perkataan nya, batinku dalam hati.


" Maaf bukan maksud apa-apa, ini adalah perintah nek lta," ujarnya, membuat ku iya.


" Syukurlah dia percaya," guman Farel, karena kelihatan dari raut muka ku dengan maksud nya tadi.


" Bagaimana kamu menjadi asisten ku saja, karena aku adalah sekretaris Devan…" membuat ku menimbang.


" Tapi aku tidak ada pengalaman…" ujarku.


" Tidak apa-apa, coba dulu sebelum berpengalaman ya kan ?" 


" Hem baiklah…" jawabku.


" Ok, mulai sekarang kamu bisa bekerja dan selamat," Farel menyodorkan tangan nya dengan senyum tipisnya.


Dengan baik aku menyambut tangannya. " Iya makasih pak Farel".


" Untuk hari ini terserah kamu … mau langsung kerja atau lihat-lihat dulu juga boleh…" katanya. Membuat ku menggeleng.


" Sebaiknya aku harus kerja dan mempelajari banyak hal untuk membantu pekerjaan pak Farel, nantinya…," ujarki membuat nya mengangguk.


" Temanmu Nita, ditempat untuk membersihkan ruangan Devan dan membuat minuman khusus pribadi Devan, walau Devan tolak mentah-mentah. Tapi Nita tetap mau ditempat diposisi yang diinginkan nya, karena ada Nenek membuat Devan terpaksa setuju."  Ujarnya saat aku tanya apakah ada lagi selain aku.


Membuat ku ber oh saja.


" Sekarang kalau gak salah .. dia sedang makan dari tadi ..sampai sekarang belum balik, atau bisa jadi tersesat pas lihat kesana kemari….," Lanjut nya membuat ku tersenyum jikalau itu benar.


Oh ya aku kan baru tahu kalau Nita tidak bisa jauh dari pesona Devan… cek…cek.


Aku yakin pasti Nita ada membuat perjanjian dengan Nenek … kalau tidak mana mungkin nenek membiarkan Nita kerja disini begitu saja, apa lagi dengan posisi yang tidak masuk akal.


 Membuatku menggaruk kening." Kenapa kamu garuk kening, lihat tuh… ditangan mu ada taik cicak…" tunjuk Farel membuat ku malu saat benar adanya taik cicak dan…


" Hehe…. Pantasan tadi ada bau-baunya gitu, aku kira dimana baunya eh rupanya disini…" nyengir ku malu menutup muka.

__ADS_1


" Jangan tutup muka…. Cuci dulu sana…" seketika membuat ku lari dari sana.


" Dasar jorok…. Membuat ku ifeil melihat nya…! " ketus Devan di pintu, mungkin sebelum masuk Devan sempat mendengar percakapan ku dengan Farel. Dan sudut bibir nya terangkat saat melihat tingkah ku.


__ADS_2