Cinta Setelah Kamu

Cinta Setelah Kamu
Bab_19_Kehadiran Mereka


__ADS_3

" Permisi non, ada yang menjemput non didalam," ujar bibik.


" Ah iya bik, disuruh tunggu sebentar. Bibik boleh pergi…. "Sahutku masih membereskan sedikit penampilan.


" Perfek," gumanku.


" Ehem !"


" Ada apa lagi bibik…?" Heranku kenapa balik lagi.


" Apakah sudah siap nona ?" Eh kaget ku bukan bibik rupanya.


Aku hanya mengangguk saja. " Silahkan… " ujarnya suruh aku jalan duluan.


Aku sempat melihat nya masih muda kira-kira seumuran dengan bang Aldi. Meski wajahnya tertupi dengan masker dan tak lupa pula topi di kepalanya.


" Aneh," gumanku.


Ah kenapa aku memikirkan nya, terserah dia mau menutup diri seperti apa pun. Itukan bukan urusan ku selama bukan orang jahat.


" Kenapa nona ?" Tanyanya karena aku sedikit melamun.


" Tidak ada.."jawabku.


" Apa aku pamit dulu ya sama Mama dan papa ? Kelihatannya Devan tidak ada dimeja makan apa .. ada meeting maka nya terburu-buru," heranku dalam hati.


"Tidak usah pamit lagi, saya sudah meminta izin dari mereka atas perwakilan Nenek lta, makanya mereka setuju ," ujarnya menjawab kebingungan ku.


" Lagi pula kita tidak banyak waktu… kasihan nenek menunggu kelamaan," ujarnya lagi.


Membuat ku terburu jalan duluan setelah mendengar nenek menunggu kelamaan. Tanpa menghiraukan panggilan mama lagi.. yang suka menghambat waktu orang lain.


" Kamu masih lucu dan menghargai orang lain yang menunggu mu," guman lelaki itu senang dalam hati.


" Cepat pak, takut nenek kelamaan nunggu apa lagi nenek tidak mau makan sebelum menunggu ku… !" Buruku padanya.


" Silahkan masuk duluan… " ujarnya.


" Eh kenapa kamu ikut duduk di belakang yang bawa mobil siapa…?" Bukannya menjawab malah orang yang duduk di kemudi yang sahut.


" Saya non yang bawa…" sahutnya.


" Lalu kamu apa hubungan nya sampai menyusulku tadi ke dalam," sipitku melihat kearah nya yang membuat ku curiga.


Malah membuatnya tersenyum. Membuat ku tidak sabar untuk melepaskan maskernya.


" Ett… tidak boleh dulu… " pegang tangan ku saat aku ingin menggapai maskernya.


" Tidak… pasti kamu bang Aldi kan ?" Tanyaku dengan sedikit ragu.


 " Bukan.." jawab nya.


" Bohong… tidak  ada seorang pun memperlakukan aku seperti ini kecuali bang Aldi ku…." Lirihku sedih.


Hap….

__ADS_1


Dia memeluk ku. " Kehangatan dari pelukan ini benar-benar asli dari bang Aldi…." Yakinku dalam hati.


" Iya ini aku…" ngakunya melepaskan masker.


" Bang Aldi .. hiks…hiks. Aku kangen banget sama bang Aldi…" hamburku dalam pelukannya.


Ini tidak mimpikan, aku tidak ingin pisah dengan bang Aldi. Karena kehangatan nya membuat ku nyaman dengan kelembutan yang ada.


" Ett… jangan sedih nanti aku yang disalahin nenek lta. Padahal aku tidak boleh jemput kamu tapi dengan sedikit merayunya aku dibolehin asal kan jangan membuat mu menangis…. " Ujarnya membuatku tidak bersedih lagi.


"  Kalau bang Aldi disini berarti lbu juga disini ?"  Melihat kearah nya dengan mengusap kepalaku.


" Iya dan…. " Jedanya membuatku mengeryit.


" Dan apa ?" Heranku, membuatnya tersenyum padahal kan tidak ada yang lucu.


" Nanti kamu tahu sendiri…. " Jawabnya dengan senyuman manis nya.


" Haisy… bearti sudah main rahasia an ya…dengan ku ?" Malah membuatnya tertawa.


" Aku tidak berani main rahasiaan dengan kamu…." Ujarnya mencubit gemas hidungku.


" Sakit tahu.. lalu apa juga," membuat ku semakin memeluknya 


Membuat nya terkekeh melihat sikap ku kalau bersama dengan nya. Yaitu selalu manja dengan bang Aldi tanpa mengenal tempat kalau sudah nyaman.


" Nanti tidak jadi suprasy lagi dong…."


Membuat ku tidak tidak bertanya lagi, sangking nyaman nya membuat ku tertidur sesaat.


" Ternyata kamu masih ingat dengan Abang Jan, meski kamu sudah menikah dengan orang lain. Kamu tetap manja dengan Abang," leganya karena Janna masih sama belum berubah.


" Kamu tetap adik Abang yang manja…" batinnya mencium kening Janna.


Eugg….


" Padahal hampir saja aku mau gendongmu Jan, eh malah kebangun…." Lesunya.


" Apaan sih bang…! Rupanya udah sampai, gak usah aneh deh kalau nenek tahu, pasti jadi penyek kamu…." Ujarku mengelap sudut bibir takut ada air liur nanti.


Aku lihat bang Aldi menggaruk kepala. " Gak papa.. nenek ngerti kok, kapan lagi coba kalau bukan sekarang Abang gendong…." Rayunya.


" Beraninya kamu merayu adek sendiri…. Huh ."


Membuat ku tertawa melihat bang Aldi dijewer oleh lbu. " Aw… sakit Bu, kenapa lbu suka zolim sama anaknya. Apa salah ku Bu, aku ini kan Abang Janna," sedikit drama nya membuat ku gelang kepala.


" Kamu… !" Geram lbu membuat ku langsung memeluk nya, karena kasihan melihat bang Aldi dijewer, karena aku tidak tegaan kalau lihat bang Aldi kesakitan.


" Ibu… apa kabar .. sehat kan? lbu tidak sakit kan selama tidak ada Janna disamping lbu…. Dan gimna yang lainnya Bu.. ada kemajuan dan…."


" Stop…. Tanya satu-satunya Janna… sekarang bukan waktunya kita bicara nenek lta sudah menunggu mu dari tadi…." Akhirnya kami setuju masuk duluan, untuk makan bersama.


" Sudah puas kamu membuat nenek menunggu dan malah melepaskan rindu sebelum kamu ingat nenek…" ah nenek ngambek lagi.


Aku melirik lbu, malah menyuruh ku menyusul nenek untuk minta maaf.

__ADS_1


" Makan… nanti kita bahas, lagi pula lebaran masih lama…." Ujarnya mengambil beberapa menu untuk taruh di piringnya.


Padahal aku mencoba menawar diri untuk melayani nya tapi, nenek tidak mau katanya bisa sendiri.


" Tidak perlu… nenek masih punya dua tangan yang sehat…" sedikit ketus nenek, membuat ku harus bersabar dengan kode lbu dan bang Aldi tersenyum.


Baru satu suap aku makan, membuat ku melongo saat melihat seorang yang kenal.


" Maaf nek dan yang lainnya menunggu lama, karena habi…"


" Sudah tahu dari toilet, makan saja.. jangan banyak tanya…. Dan kamu Janna, tutup mulut mu sebelum masuk taik cicak…." Ketusnya.


Membuat ku cemberut, apa lagi mereka tawain aku dalam hati.


" Nita… juga ikutan kesini. Ada apa sebenarnya kok bisa kebetulan Nita dibawa oleh mereka…. Tapi syukurlah dia masih sehat aku pikir gila akibat tidak jadi nikah dengan Devan." Tawaku dalam hati.


Hanya ada keheningan selama makan. Masing-masing sibuk dengan pemikiran sendiri.


" Akhirnya kita bersama lagi Janna, aku tidak membiarkan kamu hidup bahagia dengan Devan, aku akan merebut nya dari kamu. Seharusnya menjadi istri Devan itu aku bukan kamu, entah pelet apa yang kamu gunakan bisa mengambil hati nek lta… sekarang giliran aku yang bertindak." Guman Nita, dengan rencana sendirinya.


" Ibu senang melihat kamu sehat-sehat saja Nak, kamu kelihatan bahagia meski menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, dengan perbedaan status membuat mu sedikit sulit diterima di keluarga kaya raya dan terpandang. Ibu harap kamu bisa hidup bahagia…." Doa lbu panti dalam hati.


Meski Nita tidak gila tapi dia masih gila dengan ketidak sukaan padaku. Kelihatan dari dia.. menatap kearah ku, tapi auranya sangat dendam padaku cek…cek, ternyata aku mendapatkan musuh lagi.


" Ehem… baiklah kalau begitu, karena kita sudah selesai acara makan nya….," ucap nenek memulai omongan nya, dan melihat ke arah kami satu persatu.


" Nenek mengundang kamu kesini Janna, salah satunya karena kehadiran keluarga mu.." jedanya sesaat, menatap intens kearah ku dan bang Aldi serta Nita.


" Atas keinginan Aldi.. yang ingin bekerja disini sebagai supir nenek sambil menjangkau kamu apa bila ada.. hal buruk yang terjadi… karena nenek  merasa semalam ada hal buruk terjadi padamu walau kamu tidak beritahukannya pada nenek…" ujarnya.


Deg….


Apakah nenek tahu, seakan-akan nenek seperti menyindir ku, batinku bingung.


" Maafkan nenek Janna, karena tidak bisa menolong mu akibat alih seseorang membuat nenek sibuk … seandainya nenek punya bukti tapi, semuanya dihilangkan tanpa jejak," batin nenek lta menghela nafas dengan kasar.


" Begitu juga dengan Nita, dia akan bekerja di perusahaan Devan. Dan nenek tau kamu ingin mencari pekerjaan juga kan…?" Tanya nenek kepada ku.


" Kok nenek bisa tahu aku ingin cari kerja, ? Nita, sesuai dengan dugaan ku dia pasti akan mengganggu ku," batinku dalam hati.


" Kamu tidak perlu tahu, dimana nenek bisa mengetahui kamu mencari pekerjaan… oleh karena itu nenek ingin kamu kerja di perusahaan Devan dan Nita…"


" Tapi Nek, aku tidak mau kerja di perusahaan Devan, aku ingin mandiri dengan hasil kerja keras ku tanpa ada hubungannya dengan Devan…" ujarku tidak suka kalau bekerja di perusahaan Devan selain di tempat orang lain.


" Kenapa kamu bilang seperti itu dan nenek tidak menerima penolakan atau bantahan. Kerja atau tidak kerja .. sama sekali…" 


Membuat ku bungkam tidak bisa menjawab lagi.


Lebih baik aku kerja di perusahaan Devan daripada duduk di rumah, sama saja diberi hukuman oleh mama.


 Membuat ku menghela nafas sesaat. " Baiklah nek, aku mau bekerja di perusahaan Devan," ujarku tidak semangat.


" Bagus… dan satu lagi aku membiarkan Nita dekat dengan Devan saat dia bekerja. Nenek ingin memastikan apakah Devan cepat tergoda atau tidak dengan status nya menikah. Dan melihat seberapa ada rasa padamu." Ujarnya.


Aku tidak tahu menahu urusan Devan atau Nita ingin menggoda Devan. Karena aku tidak mengharapkan lebih jikalau ujungnya sakit tanpa terbalaskan. Tapi akan aku coba berusaha sebaik-baiknya mengambil hatinya, itupun kalau Devan benar-benar jodoh ku lama atau sesaat.

__ADS_1


" Gimana apa kamu setuju Janna…?"


" Iya Nek aku setuju dengan rencana nenek," jawabku, begitu pun dengan Nita tersenyum dengan kemenangan.


__ADS_2