
Menteri yang indah awali hari dengan kebahagiaan yang ada, menikmati suasana dalam kesejukan akan kedamaian di hati.
Tok .. tok….
" Iya masuk," suruh ku. Masih asyik dengan menonton.
" Permisi Janna, ada Nenek dibawah menunggu mu ," katanya mempersilahkan aku keluar.
" Mari Janna."
" Benarkah nenek ada dibawah ?" angguknya membuatku turun untuk menemui nenek.
" Pasti ada sesuatu makanya nenek datang kesini," gumanku.
Aku terus berjalan dengan senyuman yang tidak luntur, aku melihat nenek disofa.
" Nenek… aku kangen , "ucapku menghampiri dan memeluknya.
" Jangan lari-lari Janna."
" Hehe.. iya Nek, ada apa nenek mau nemui aku, pasti ada hal penting yang ingin nenek bicarakan ?" Tebakku.
" Apakah ini ada hubungannya dengan panti ?" Tanyaku dalam hati.
" Kamu bisa saja cucuku, tenang saja… ini tidak ada hubungannya dengan masalah panti," aku lega mendengar nya.
" Lalu Nek," lanjut ku tidak sabar, lalu duduk di sampingnya.
" Nenek hanya ingin mengundang kamu datang di acara pesta perusahaan nanti malam, semua nya sudah Nenek persiapkan nanti baju kamu akan diantar dengan orang yang akan mengrias kamu nanti nya juga." Katanya sambil mengelus kepala ku.
" Nenek tidak yakin kalau Devan mau ngajakin kamu, dia sangat sibuk membuat nenek kesal dengan sikap acuhnya. Nanti kamu diantar oleh Farel asisten Devan, jadi kamu tidak perlu khawatir. "
" Iya Nek, gak papa kalau Devan sibuk, mungkin dia ingin menyelesaikan tugas nya dulu, tapi nek kalau seandainya aku tidak datang gima…. "
Nenek melotot kearah ku dan memotong ucapan ku " pokoknya kamu harus datang Nenek, gak mau tahu …!" Tegasnya membuat ku mengangguk.
" I-ya Nek.."
" Awas kalau kamu gak datang.. Nenek tunggu kamu disana nanti malam ."
" Apa nenek gak makan dulu atau…. "
" Tidak perlu nenek masih ada keperluan yang harus diselesaikan, persiapkan dirimu saja nanti malam ,"
" Iya Nek," aku mengantar nya kedepan dan menyalami tangannya.
" Hati-hati nek, dijalan dan jaga kesehatan. Pak jangan ngebut ya ? Bawa mobilnya pelan-pelan saya titipkan nenekku."
" Siap non," sahutnya.
" Jangan lupa nanti malam," ingat nenek.
" Iya Nek, aku pasti datang."jawabku.
********
__ADS_1
Dihari kedua di rumah ini, aku memulai tugasku dalam mengepel lantai. Walau pun begitu aku tetap menjalankan tugas yang diberikan oleh Mama mertua.
Pekerjaan ini aku anggap sambil olahraga, diantara sekian banyak pelayan ada yang tidak menyukai kehadiran ku di rumah ini.
" Aku pasti bisa melewati semuanya, semangat Janna kamu pasti bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh Mama mertua, dan demi panti juga," semangat ku menyemangati diri sendiri.
Hush. " Capeknya," aku menghapus kan keringat di dahi.
" Devan… kamu masih dimana ?"
Tanpa sengaja aku mendengar Mama bicara dengan Devan, kalau tidak salah," batinku sambil aku minum air, membuat tenggorokan ku mendingan.
Membuat ku penasaran akan pembicaraan mereka.
" Cepat kamu jemput Aurel, calon tunangan kamu sendiri dibandara. Katanya dia tidak sabar menunggu kamu disana…."
" Iya Ma, aku lagi dijalan nih menjemput Aurel," jawab diseberang sana.
" Pokoknya kalian harus tampil serasi di pesta perusahaan nanti, Mama nanti akan menyusul kalian nanti," katanya dengan bahagia, akan dibalik sesuatu yang direncanakan.
" Hem iya Ma, udah dulu ya Devan, lagi dijalan bye Ma, see you… "
" Iya sayang hati-hati, see you to…"
" Bukankah nenek bilang Devan, sibuk dikantor tapi, kenapa dia menjemput wanita lain tidak sibuk ?" Tanya ku dalam hati
" Dan apa maksud perkataan Mama, bahwa perempuan yang bernama Aurel adalah calon tunangan Devan, lantas aku dianggap apa ?" Bingungku dengan banyak pertanyaan dikepala .
Membuat ku menerka-nerka apa maksud atas pembicaraan mereka berdua tadi.
Tap !
"Auw… Ma-ma, " kagetku melihat kearah ku dengan tatapan yang merendahkan.
" Apa yang kamu lakukan disini hah ..! Atau jangan-jangan kamu ngintip saya bicara ya ….," Geramnya melipat kedua tangannya di dada.
" Bukan begitu Ma, kebetulan aku di dapur karena haus… tanpa sengaja aku mendengar percakapan Mama….," Lirihku harap-harap tidak dihukum, apa lagi dengan ancaman panti. Membuat ku pasrah akan tugas diberikan di rumah ini.
" Apa kamu mendengar semuanya ?" Aku hanya mengangguk.
" A-pa itu benar Ma, dengan semuanya yang aku dengar dan calon De-van…. "
" Benar sekali, dan jangan berharap lebih kamu dalam status di rumah ini, bagi saya kamu tidak lebih dari pembantu di rumah ini. Jangan harap kamu dapat membela diri dari lbu saya, karena beliau sudah janji dengan menikah nya kamu dengan anak saya lebih dari cukup katanya." Ujarnya.
Deg'.
Menatap wajah ku dengan sinis, membuat diriku hampir lemas akan perkataan yang tidak ada artinya aku dimatanya.
Sepantas itukah kehadiran aku dengan pembantu dan sejijiknya kah kehadiran yang tidak dianggap….
" Apa salah ku terhadap mereka, apa karena mereka berjasa dengan panti, ya tuhan takdir seperti apa yang aku jalani ini," sedihku dalam hati.
" Lakukan tugas mu kembali dan jangan sok pura-pura sedih didepan saya. Sebelum kamu selesai mengepel jangan berharap bisa duduk dan jangan sampai ada kotoran yang menempel sedikit pun itu …! Membuat saya jengah melihat muka mu itu ," ujarnya sedikit mendorong aku kedepan.
__ADS_1
" Minggir… ," ketusnya lagi.
Apa yang terjadi pada diriku, tidak pantas nya aku bersedih untuk mereka ingat ! Aku bukan siapa mereka walaupun aku istri Devan, jangan sampai aku berharap lebih itu tidak mungkin. Sanggahku.
Jangan sampai aku mengharap lebih seperti yang dikatakan mama, ini bukan novel atau dongeng ini real kehidupan yang aku jalani sendiri.
Sebaiknya aku selesaikan cepat tugas ini, sebelum menjelang malam.
Mungkin karena terlanjur janji dengan lbu panti untuk berbakti kepada keluarga ini, sebagaimana mereka berjasa di panti.
Meski sulit untuk ku menjalani tapi, teringat dengan kesedihan lbu membuat ku mau tidak mau aku harus melakukan apa yang diperintahkan oleh keluarga baru ku.
" Apa kalian tidak ada pekerjaan ?" Ucapku kesal kearah mereka yang asik ngomongin diriku dari tadi .
" Gak usah belagu kamu, cepat kerjakan tugas mu yang bersih… jangan ganggu kami."
Membuat kesel akibat keacuhan mereka.
Gimana tidak kesel disaat aku sudah selesai mengepel mereka malah kotorin lagi. Membuat kesabaran aku habis kalau seperti ini terus.
" Kasihan Janna, tolong dibantuin jangan mengerjainya lagi nanti dia terlambat pergi ke pesta…. " Khawatir bibi Sumi.
Bik sumi, yang menerima kehadiran ku dari pertama aku masuk ke rumah ini, bukan seperti yang lain mencari masalah dengan ku.
" Bik Sumi, gak usah ikut campur kalau tidak mau ikutan kena hukuman dari nyonya Monika, biarkan perempuan gatal itu yang selesaikan sendiri tugasnya karena sudah berani menggoda tuan Devan. Tuan Devan terlalu sempurna kalau untuk dia yang tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan nya," sahut diantara mereka.
Membuat telinga ku gatal saat mereka mengatai aku seperti itu.
" Benar tuh, wanita penggoda udah itu miskin lagi, sampai menjerat tuan Devan untuk menikah dengan cara kotor nya lagi…. " Sinis nya.
" Cukup… !" Teriakku kesel dan melepar mereka dengan air dan pel kearah mereka.
" Kurang ajar kau…. !" Melangkah mereka mau hajar aku.
" Berani mendekat aku telpon nenek lta, atas kelakuan rendah kalian terhadap saya dan saya akui bahwa saya hanya orang miskin dengan status tidak jelas asal usulnya tapi saya tidak sepicik seperti pikiran kotor kalian atas penilaian saya terhadap kalian,
Dan kalian tidak perlu tahu dibalik alasan saya menikah dengan Devan, itu bukan urusan kalian dan saya bukan wanita penggoda atau semacam lain. Lagi pula tidak ada untungnya kalian membicarakan tentang kejelekan saya yang membuat kalian benci akan tuduhan murahan yang tidak jelas… ! "
Aku melihat mereka dengan tatapan yang kesal dan sakit atas ucapannya yang membuat ku tidak tahan mengeluarkan unek-unek ku.
Terserah mereka semakin membeci aku atau ingin membalas perbuatan ku pada mereka hari ini.
" Cihh, gak usah pura-pura merasa tersakiti kamu ..padahal nyonya Monika, sendiri yang bilang seperti itu i, dan kenapa kami harus percaya orang asing yang baru hadir kemaren… ," ejeknya dan ikuti oleh mereka yang tidak menyukai kehadiran ku.
" Dan kami tidak taku ….."
" Bersihkan sisanya saya mau mandi, karena sangking panasnya mendengar ucapan kotor kalian, terserah kalian percaya atau tidak atas perkataan ku … yang jelas aku sudah bicara sejujurnya pada kalian. Lagi pula kalian tahu sendiri gimna sikap nyonya kalian Monika, jikalau tidak menyukai seseorang."
Membuat sebagian dari mereka membenarkan apa yang aku bilang tadi.
" Dan kamu diam jangan bicara lagi…," tunjuk ku diantara salah satu dari mereka yang suka memanasi keadaan dan mempuruk keadaan olehnya.
" Aku yakin pasti dia disogok oleh Mama, untuk menjatuhkan aku dan menghina diriku." Batinku, memadai nya.
" Bersihkan sisanya atau tidak saya laporkan pada nek lta, untuk memecat kalian terutama kamu yang berani menantang saya…." Membuatnya sedikit menciut.
__ADS_1
Rupanya masih taguh dengan pendirian nya.